Langsung ke konten utama

Koas dan Lima Kebahagiaan di Dalamnya

Sudah hampir dua tahun aku dan teman-teman mengenyam pendidikan dokter muda (koas). Cukup sering juga cerita dibagikan di blog ini karena koas sangat berbeda dengan sarjana kedokteran. Kalau S.ked ikuti alur saja sudah cukup, namun tidak dengan koas. Di koas perlu tahu tips dan trik yang tidak tertulis jika tak mau waktu terbuang sia-sia.

Tiada padahal Ada
Seperti fase hidup pada umumnya, suka duka itu selalu silih berganti. Kali ini aku ingin bercerita tentang 1 tahun yang lalu. Bertempat di RSUD Banyumas dan RSUP DR. Sardjito. Uniknya, draft artikel ini aku buat sebelum hari pertama stase radiologi, namun ketika hari pertama stase radiologi, apa yang ingin aku tuliskan di sini seperti bocor dan disampaikan oleh dr. Lina dan mba Dian.

Asiknya stase saraf Banyumas zamanku dulu (seharusnya belum berubah), kita memiliki cukup waktu untuk belajar. Kadang, koas lain mengartikannya sebagai jalan-jalan ke Purwokerto. Namun jangan dipikir banyak waktu tersebut membuat kita bodoh. Karena ketika jam kerja, dokter Laksmi sudah siap membombardir kami dengan pertanyaan yang kalau dihitung tak cukup jari tangan dan kaki.

Jam koas kami jelas, berangkat pukul sekian untuk visite bareng residen, lanjut visite dokter Laksmi, dan terakhir antara poli atau bimbingan. Setelahnya? Mandiri, seringkali mandiri tersebut dimulai pukul 13.00, kadang 14.00, kalau "beruntung" 14.30/15.00 namun sangat jarang. Kejelasan waktu tersebut membuat kami efektif dalam belajar, tidak ada waktu yang terbuang dalam penantian panjang tanpa kepastian.

Banyak ilmu kami dapatkan dari pengeboman dokter laksmi selama visite beliau. Kami bertiga sepakat bahwa dr. Laksmi bukan spesialis saraf. Maksud kami, penguasaan beliau tentang disiplin ilmu lain yang berkaitan dengan saraf sangat luar biasa. Kalau beliau tahu kami paham, biasanya beliau tidak melanjutkan pertanyaan. Tetapi kalau kami kelihatan tidak tahu, pertanyaan tersebut terus berlanjut seperti machine gun.
 
Ilustrasi Machine Gun

 Trik tidak tahu jawaban: buka browser dan cari jawabannya. Beliau mengizinkan.
Stase mandiri kami di Banyumas sangat bahagia. Kami diberikan pilihan bebas untuk menimba ilmu di sana. Diberikan PR-PR selama bimbingan, lalu silahkan cari dan gali ilmu sesuka kalian dengan cara kalian sendiri. Pembagian waktu yang jelas, waktu mandiri yang cukup, dan "kebebasan" adalah harta karun kami di dalam sistem pendidikan kedokteran.

RSUP DR. Sardjito, minimal ada dua kelebihan stase saraf Sardjito.  Pertama adalah pembagian jam "kerja" jaga yang jelas (karena jobdesk jelas) dan kedua adalah hubungan senior-junior di dalam pendidikan spesialis. Mari kita bahas satu per satu dimulai dari "Demi Masa"

Demi Masa.
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian (QS Al Ashr 1-2)
 Di dalam surah tersebut Rabb kita -- Allah -- berfirman bahwa sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Pada hakikatnya, dasarnya, prinsipnya manusia itu merugi. Tuhan yang berfirman, bukan aku, bukan manusia lain, tidak ada keraguan di dalamnya. Namun di dalam ayat selanjutnya Allah berfirman

kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran (QS Al Ashr 3)
Lantas apa hubungannya dengan jaga saraf sarjito? Pengalamanku jaga saraf sangat memfasilitasi kita untuk mengerjakan amal saleh yang nikmat. Ada amal saleh yang nikmat (ibadah contohnya) ada amal saleh yang -- hm, tidak nikmat? menantang? -- merupakan mengatasi kemungkaran supaya datang kebenaran (contoh: ada orang marah-marah, amal saleh kita kalau sabar. Susah bukan untuk sabar? lebih enak marah balik atau mengeluh di belakang). Nah saraf bisa banget ibadah karena jobdesk jelas, jam A-B-C-D cek ini itu, di antaranya bebas mau ngapain, istirahat jam sekian, bangun jam sekian, kerjain ini itu lagi terus bisa solat tahajjud lalu lanjut istirahat. Selamat beribadah :)

Lanjut ke hubungan senior-junior residen. Sejauh yang aku amati, senior-junior di sini sangat saling asah-asih-asuh. Kalau salah ya ditegur, kalau benar diberikan penghargaan, dan dalam menegur ada etikanya. Kerja sama antar-residen dipupuk dari kebersamaan bukan dipupuk oleh keterpaksaan. Sebuah lingkungan yang sangat bernilai jika memang itu yang terjadi di lapangan. WAW adalah tiga huruf yang cukup menggambarkan perbedaan antara sistem tersebut dengan feodalisme yang mengatasnamakan kehormatan.

Ilustrasi feodalisme
Epilog, bagiku merupakan keajaiban tersendiri ketika apa yang ingin kusampaikan ternyata disampaikan oleh banyak orang lain. Terlebih, banyak orang lain di situ merupakan orang-orang yang dihormati yang menunjukkan kebaikan di setiap langkah hidupnya. Salah duanya adalah dokter Lina dan Mba Dian yang memberikan pengarahan awal di Radiologi. Singkatnya:
- Radiologi itu jelas pembagian waktunya dan jelas kalian ngapain aja selama koas radiologi
- Banyak tugas tapi banyak pula waktu bebas. Kami sudah prediksi pasti kalian cukup waktu
- Kalau butuh sesuatu tanya saja, tanya dengan etika nanti kita fasilitasi. Kami terbuka, silahkan kalian aktif. Kalau perlu apa-apa kami siap
 
sumber gambar:
https://i.ytimg.com/vi/Q_p4utSzYtM/maxresdefault.jpg
https://mysosiologi1.blogspot.co.id/2016/12/pengertian-feodalisme-dan-keruntuhannya.html

 copyright to amgah.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koas Mata di FK UGM

15 April 2016, stase THT resmi berakhir. Senang karena telah rampung 1 stase, senang karena semakin dekat dengan kelulusan, senang THT dapat berakhir bahagia. Yeyeyeyeyey akhirnya selesai juga. Namun di saat yang sama, tiba-tiba rindu datang bersama langkah kaki yang menjauhi THT.                 Mata adala stase ke-2ku setelah THT. Jadwal kelompokku adalah jadwal yang terbilang “unik”. Stase-stase kecil (stase 4 minggu) ditaruh di awal, lalu stase besar (10 minggu) semua berderet di akhir. Pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian sama sekali tidak dapat diterapkan pada kasus kami. Peribahasa kami adalah bersenang-senang dahulu lalu berenang tergopoh-gopoh kemudian. Sekarang kita akan masuk ke dalam dunia mata, dunia yang terdiri dari sebuah bola dengan berbagai macam struktur di dalamnya. Tahukah kamu bahwa salah satu struktur di mata bernama iris, iris merupakan bahasa latin yang berarti pelangi. Apakah Jamrud ketika membuat lagu pelangi di matamu dia belajar kedokteran?…

Mengapa Aku Menikah Part 1

Prolog
Berulang kali tulisan ini aku biarkan terkatung dalam daftar draftKenapa harus aku post? orang yang tidak percaya akan menghina minimal mengingkari. Orang yang percaya tak perlu repot-repot baca ini karna sudah percaya. Orang yang bingung? hm. Karena terhenti pada kalimat tanya itu akhirnya memberanikan diri untuk merampungkan Mengapa Aku Menikah.
Cukup banyak yang bertanya "kok bisa sih? gimana ceritanya?" tak sedikit pula yang meminta "di post dong di blog" Pertanyaan bisa kujawab namun postingan blog kadang kutolak.  Modal dari membaca ini mungkin sebuah keraguan. Aku pun menikah berawal dari keraguan, dulu aku ragu karena sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang mainstream aku tak punya penghasilan. Namun waktu berjalan akhirnya menyadari bahwa keraguanku bukan semata-mata karena penghasilan. Keraguanku muncul akibat aku lemah ilmu, tak punya ilmu mengenai pernikahan.
Tak perlu aku jelaskan panjang lebar mengenai pencarian orang, siapa jodohku?. Kare…

Intermezzo Metafisis, Struktur Tulang dan Analoginya

1. Diafisis: bagian tengah, yang panjang
2. Epifisis: bagian ujung ujung, proximal dan distal (pangkal dan akhir)  3. Metafisis: di antara. Saat tulang masih tumbuh terbentuk metafisis di antara epifisis (ujung) dan diafisis (tengah). Seperti ada celah agar tulang bisa menambah panjangnya. Kalau tidak ada celah tersebut tulang seperti tidak bisa bergerak karena sudah tak ada ruang kosong. “Celah” / ruang di antar tersebut terisi oleh epifisial growth plate. 

Saat tulang sudah berhenti tumbuh, epifisal growth plate akan hilang terganti oleh epifisial line. Lucu ya, epifisial growth plate seperti “memberikan” ruang pada tulang agar ia dapat tumbuh. Namun ketika ia sudah tumbuh, tulang “menggantikan”nya dengan yang lain, yaitu epifisial line. 
Jika dianalogikan dengan kehidupan seperti tak tahu diuntung. Namun jika dilihat dari sisi yang lain, mungkin saja si epifisial growth plate tidak ikut tumbuh bersama tulang. Sehingga tulang menjadi “terlalu baik” unt…