Mengenai Saya

Foto Saya
Amgah.blogspot.com yang dulunya adalah kumpulan kisah inspiratif, kini berganti menjadi buku harian dan tempat refleksi. Peran kumpulan kisah inspiratif dan artikel kesehatan pindah ke alamat http://legowo.com Legowo itu Sehat

08 Februari 2016

Telaah Atensi, Emosi dan Sosial di buku Daniel Goleman

 

Intermezzo 

5-8 Februari 2016, Hari terlewat begitu saja, ada yang berarti ada yang tidak. Definisi dari berarti pun beragam. Ada yang menganggap hari yang berarti adalah hari yang ada pestanya. Ada juga yang menganggap hari yang berarti yang banyak ibadahnya. Namun ku rasa jauh di dalam hati dan alam bawah sadar seseorang, hari yang berarti adalah hari dimana kita dapat memberikan manfaat positif ke orang lain. Aku rasa hanya orang-orang yang hatinya sudah membatu yang tidak setuju. Oleh karena itu, setiap hari selalu ingat untuk memberikan manfaat positif ke orang lain 

Tanggal 5-7 adalah harinya keluarga – Family Time – sudah lama aku tak berkumpul dengan keluarga. Merantau adalah pilihan tepat bagi beberapa orang. Bagi beberapa yang lain, merantau adalah hal yang dilarang. Bagi sebagian kecil, merantau adalah hal yang menakutkan. Sedikit kubahas tentang rantauan di paragraf ini, satu kalimat yang tak dijelaskan lagi di paragraf-paragraf selanjutnya; “Merantaulah! Baru kau akan mengerti apa itu kehidupan. Untuk apa kau hidup, bagaimana kau hidup, dan apa yang perlu dilakukan untuk menggapai makna hidup”

Pembelajaran tentang Atensi, serta Kemampuan Emosional dan Sosial di buku Daniel Goleman

Kali ini aku hanya akan membahas tanggal 8 Februari. Oiya! Selamat Shin Chia! Selamat tahun baru bagi yang merayakan. Tanggal 8 Februari aku merayakan rampungnya satu buku keren karangan Daniel Goleman. Buku berjudul “Focus” sebenarnya menjelaskan lebih dari sekadar fokus.

Selayang pandang tentang penulis; Daniel Goleman adalah pengarang dari 3 buku Best Seller yaitu “Emotional Intelligence” “Social Intelligence” dan “Focus”. Beliau merupakan seorang jurnalis ilmiah – penulis yang menggunakan sumber ilmiah sebagai referensi tulisan yang dibuatnya – yang hebat versiku. Mengapa? Karena di dalam bukunya, Daniel Goleman selalu menekankan makna Generousity. Pikirkanlah orang lain juga jangan hanya memikirkan dirimu sendiri! Akan tetapi, aku tidak mengetahui latar belakang dan kehidupan sehari-hari Daniel Goleman.

Kedua buku yang telah kubaca – Focus dan Social Intelligence – bahasanya lugas, mudah dimengerti oleh orang awam, vocabularynya pun tidak terlalu sulit. Hanya saja memang pemaknaannya cukup berat, perlu berpikir untuk dapat mengerti apa yang sedang dibaca, berbeda dengan novel yang dapat dibaca tanpa berpikir keras. Harganya tidak terlalu mahal jika dibandingkan dengan buku sejenisnya. Aku sangat merekomendasikan buku ini, terutama untuk orang-orang yang ingin mengetahui mengapa Indonesia masih tidak dapat semaju Negara barat, terutama bidang pendidikan.

“Sedikit komentar tentang kemajuan tanah air. Sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya manusia dan alam yang mumpuni untuk membuatnya sejajar dengan Negara-negara Eropa. Hanya saja sistem yang telah dibentuk sekarang sangat kompleks, membuat orang-orang hebat tidak dapat membentuk sistem baru. Di buku Daniel Goleman, kita akan diajak berpikir beberapa langkah ke depan. Lalu bagi siapa yang mampu menyadarinya, Indonesia telah terjerat/terjebak pada pemikiran-pemikiran yang menghambat kemajuan.”

Kembali kepada buku Focus. Di akhir artikel, aku akan memberikan tautan (link) yang dapat diunduh dan berisi rangkuman yang kubuat sendiri. Buku yang berisi ratusan halaman berhasil aku peras menjadi 9 halaman. Semoga rangkuman yang kubuat dapat bermanfaat.

Jika kita ambil benang merah dari buku Focus. Pertama-tama buku tersebut membahas secara keseluruhan (overview). Apa sih yang buku itu bahas? Apa yang akan kita temui di beberapa lembar ke depan? Memudahkan pemetaan pikiran dan gambaran besar dari suatu pelajaran. Bab tersebut bernama Anatomi Atensi. Dijelaskan apa itu atensi, apa itu fokus, apa saja bentuk atensi, apa saja dasar dari kecerdasan emosi.
kecerdasan emosi

Pada bab tersebut dijelaskan macam-macam fokus. Ada fokus ke dalam, fokus ke luar, dan fokus ke pihak lain. Ketiga fokus tersebut harus berjalan bersama jika ingin menjadi pribadi yang diperhitungkan. Lalu ada tentang bagaimana dewasa ini banyak sekali pengalih perhatian, si iblis yang mengganggu fokus kita. Lalu iblis terkuat dari fokus diri sebenarnya adalah emosi. Plus tips-tips mengendalikan emosi, menghadapi iblis pengganggu fokus.

Hal unik lainnya adalah ternyata ada berbagai macam atensi. Ada atensi eksekutif, atensi selektif, dan atensi terbuka. Atensi eksekutif adalah bagaimana kita sebagai manusia memiliki kemampuan mengendalikan diri kita sendiri. Atensi selektif adalah bagaimana menyaring apa yang perlu diperhatikan dan apa yang tidak perlu diperhatikan. Atensi terbuka adalah bagaimana memerhatikan sinyal-sinyal samar dari suatu gambaran besar, mengambil intisarinya, berpikir kreatif, dan mampu menempatkan memori-memori dalam kelompok ingatan.

Sangat menarik bukan? Di bagian ke-2, Daniel Goleman menjelaskan tentang kesadaran diri, salah satu dari dasar kecerdasan emosi. Bagaimana manusia yang baik dapat mengendalikan dan mengenali dirinya. Sekaligus dapat mengenali orang lain dan menempatkan diri dalam suatu kelompok sosial. Manusia yang dipandang di lingkungannya adalah manusia yang memiliki empati dan simpati yang berada pada kadar yang pas.

Di bagian ke-3, giliran diajarkan cara untuk membaca orang lain. Bagian ke-4 tentang konteks yang lebih besar, berpikir secara sistem dan jangka panjang. Jika kita melakukan A, apa yang terjadi di dalam sistem dan apa yang akan terjadi secara jangka panjang? Pada bagian ke-5 diceritakan tentang penerapannya yaitu praktik cerdas. Pada bagian ke-6 dapat diibaratkan pengaplikasian ilmu di bidang kepemimpinan. Sedangkan pada bagian ke-7 adalah aplikasi ilmu di keseharian

Social and Emotional Learning

Apa lagi yang unik dari buku ini? Sedikit banyak buku ini bercerita tentang bagaimana sistem pendidikan. Sistem pendidikan yang baik (dan aku pun setuju) berfokus pada Social and Emotional Learning (SEL). Contoh; bagaimana mengendalikan diri adalah kunci untuk membuka gerbang ilmu pengetahuan. Orang-orang yang mampu mengendalikan dirinya dapat belajar dengan fokus dibandingkan orang dengan pengendalian diri yang rendah yang mudah terdistraksi.

Buku ini sebenarnya menyentil kehidupan di banyak titik Indonesia. Di mana fokus pendidikan adalah nilai, IQ, kecerdasan kognitif. Buku ini menyentil “apakah kalian tahu bahwa SEL pada akhirnya akan menghasilkan IQ yang baik?” pernahkah berpikir “IQ yang baik menghasilkan SQ-EQ yang baik atau SQ-EQ yang baik justru yang menghasilkan IQ yang baik?”

Lebih lengkap tentang buku ini, dapat diunduh di sini (klik). Password filenya; legowodotcom

oleh Abdi Marang Gusti Alhaq
copyright to amgah.blogspot.co.id
shared article ke http://www.legowo.com
sumber gambar:
forbes.com
abchome.com
cyberschoolgroup.com
casel.org

04 Februari 2016

Usaha Kami Sia-sia

4 februari 2016
Apa yang kamu lakukan sia-sia

Aku lewatkan artikel tanggal 2 dan 3 dan kusimpan mereka untuk menjadi tulisan yang bahagia. Lalu kubuka tanggal 4 Februari dengan sebuah perenungan dan pencarian celah cahaya. Bak pelancong yang terjebak di sebuah kota yang padat, aku (dan teman-temanku) kehilangan arah. Jika dilagukan mungkin salah satu lagu yang cocok untuk kami adalah Fix you – Coldplay.


Namun di sini, aku (kami) tidak akan melantunkan nada menyedihkan. Hal yang kami inginkan adalah membaca tanda, tanda yang dipasang oleh dinas perhubungan agar kami tahu ke mana kami harus melangkah. Di sini kami menuliskan bagaimana cara menghadapi suatu persimpangan. Ibarat tanda yang ada di persimpangan semuanya berbahasa asing, kami mencoba mengartikannya.

Tentu akan banyak sekali persimpangan yang akan dijumpai dalam hidup. Jika pembaca ingin bertukar pendapat tentang persimpangan yang dihadapi atau ingin persimpangannya dibahas oleh kami, silahkan kirimkan email kepada kami di amgah01@yahoo.com


Persimpangan yang dibahas saat ini;
Apa yang kamu lakukan sia-sia!
Usaha Kami Sia-sia

Persimpangan ini baru saja kami rasakan. Tentang identitas dari kami, siapa saja kami, itu dirahasiakan. Kami pun merahasiakan detail dari kejadian, loh terus apa dong yang gak dirahasiain. Kami telah membuat skenario khusus untuk para pembaca. Semoga dapat membantu ketika pembaca sedang mengalami persimpangannya sendiri.

Jalan yang kami tempuh adalah jalan yang cukup rumit. Siapa pun yang sedang berusaha mengejar impiannya, 99,99% ingin diakui bahwa jalan yang ditempuhnya adalah jalan yang menantang. Tidak mau diremehkan, tidak mau dianggap loyo. Jika diibaratkan sebagai lagu, lagu kami akan seperti ini “mendaki gunung, lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang.”

Lalu tiba-tiba di tengah (atau akhir) perjalanan, lagu kami berubah menjadi “yesterday, all my troubles seemed so far away! Now it looks they’re here to stay, oh yesterday, oh yesterday”. Jika kami semua masih duduk di bangku SD, guru kami akan berkata seperti ini “Kalian sekarang merasakan pelajaran yang ibu ajarkan kemarin! Masih ingat? Ibu mengajarkan peribahasa ‘karena nila setitik, rusak susu sebelanga’” Lalu respon kami dalam hati “Well said, bu guru. Otak kami mengerti, tapi hati kami hancur”

Kami kecewa, jika diibaratkan seperti lagu (ah janganlah diibarat-ibaratkan lagi dengan lagu). Kami kecewa terhadap diri kami sendiri.  Apa yang sudah kami kerjakan selama ini, menghilang bersama kesalahan yang kami buat. Ibarat masakan, apa yang kami goreng kini gosong. Ibarat ngeteh, air yang kami rebus semua menguap. Lantas apa lagi yang bisa kami lakukan? Ketika semua pintu usaha telah tertutup dan yang tertinggal hanyalah penyesalan.

(Pernah merasa seperti demikian? Sama! Jika tidak sekarang, mungkin nanti. Bukan bermaksud untuk mendoakan, tetapi masalah seperti di atas sangat lumrah.)

Tibalah kami di suatu persimpangan besar di mana lurus, kanan, kiri, belakang semua tak terlihat. Kami disibukkan oleh batu yang dipasung oleh kami sendiri di kaki kami. Ke mana kami melangkah, batu itu akan terus kami seret, memberatkan langkah kami, membutakan mata kami. Tak ada kemauan untuk berpindah, diam adalah pilihan yang lebih masuk akal.


Akan tetapi jika keadaan terus dibiarkan seperti ini, kami hanya akan menjadi tengkorak di perempatan jalanan. Tak jelas, tak bertuan, tak berarti, tak berdampak. Tidak akan ada orang yang mau melayat kami, karena kami tak memiliki apa pun. Bahkan berjalan pun enggan, bagaimana mau memberikan manfaat. Beratnya batu yang dipasung dan menghilangnya jalan yang pernah dilalui, membuat kami lupa bahwa kami masih bisa berjalan ke salah satu jalan lain di persimpangan.

Setidaknya masih ada 4 jalan; depan, kanan, kiri, belakang, meskipun rumah/jalan yang sebelumnya kami tempati telah mengeluarkan kami dari situ. Pesan yang ingin kami sampaikan dan jika kami berhenti mengibarat-ibaratkan, simpelnya seperti ini;
  • Akan ada satu titik kehidupan di mana manusia merasakan bahwa masalah yang dihadapinya adalah masalah terbesar yang pernah dia hadapi
  • Beberapa orang ingin bunuh diri karena jalan tersebut adalah jalan keluar yang mudah. Mengapa orang ingin bunuh diri? (Atau merasa masalahnya sangat hebat). Karena manusia berfokus pada apa yang manusia pasungkan di tubuhnya. Manusia berfokus pada beban yang sedang ia emban.
  • Manusia seringkali terlupa bahwa manusia memiliki Tuhan, yang Maha Besar, lebih besar daripada beban yang dipasung, lebih kuat, lebih kuasa
  • Manusia harus mengingat, bahwa masih ada jalan lain sekalipun jalan yang ditempuhnya tak mau lagi menerimanya. Lalu mengingat bahwa Tuhan hanya memberikan beban melainkan hambaNya sanggup memikulnya. Lalu mengingat bahwa Tuhan Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Perkasa, Maha membolak-balikkan hati manusia.
Persimpangan; banyak jalan, tapi seperti berkabut dan tak terlihat karena manusia berfokus hanya pada beban yang sedang dipikulnya. Padahal masih ada jalan lain asalkan manusia memaafkan dirinya sendiri, belajar dari kesalahan, dan meningkatkan kualitas diri. Ketika manusia legowo, satu per satu jalan baru mulai terlihat.

Satu masalah selesai, bagaimana melihat adanya jalan lain. Lalu timbul masalah baru, jalan mana yang harus ditempuh? Tanda-tanda yang disediakan oleh dinas perhubungan akan sia-sia jika manusia masih berfokus hanya pada batu yang dipasung di kakinya. Tanda-tanda akan mulai terlihat jika manusia mau berubah, membawa bebannya hingga beban tersebut hilang dikarenakan manusia telah berhasil menebus kesalahannya.

Bagaimana menginterpretasi tanda ketika tandanya sudah terlihat? Gunakan tujuan awal, motivasi, kemampuan, keinginan, insting, banyak hal yang diintegrasikan pada beberapa buku bacaan. Kami merekomendasikan buku karangan Daniel Goleman – Focus dan buku karangan John C Maxwell – Roadmap for Success. Intisari buku “Focus” seperti ini;

Jika ingin sukses, gunakanlah 3 fokus utama yaitu fokus ke dalam, fokus ke luar, dan fokus ke pihak lain. Fokus ke dalam; ke diri sendiri. Fokus ke luar; cara bersosialisasi/intelegensia sosial bagaimana memahami diri sendiri dan memahami orang lain. Fokus ke pihak lain; berpikir secara sistem (luas), apa yang dilakukan akan berdampak luas dan jangka panjang (tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain).

Semoga orang-orang seperti kami, yang merasa terdepak dari jalannya dapat segera menemukan jalan baru. Walaupun nila setitik rusak susu sebelanga, kami dapat membuat susu yang baru, bahkan susu yang lebih nikmat dan manis. Walaupun semua usaha seperti sia-sia, semoga dapat memulai yang baru dan belajar dari yang lalu. Pada akhirnya kami tidak tersesat dan mati di persimpangan, tapi berhasil melangkahkan kaki dan menjadi sebaik-baiknya manusia di jalan baru yang ditempuh. Aamiin

shared article dari http://www.legowo.com

sumber gambar;
free wix pictures
palembang.tribunnews.com

02 Februari 2016

Kisah Sukses; Mandiri Materiil dan Immateriil di Usia Belia

30 Januari 2016
Pengumuman Lomba ATMACORDIS dan Seminar Kesehatan. Sebenarnya untuk tanggal ini, aku tak berutang. Karena 500 kata terwakili dengan artikel kesehatan yang aku tuliskan di legowo.com mengenai pneumonia anak dan demam (berdarah) dengue. cekidot (yang penasaran bisa dicek) di http://www.legowo.com bagian artikel kesehatan. 

31 Januari 2016
Hari ini adalah hari rumah, ketika rumah adalah sumber penghidupan. Banyak cara untuk menghabiskan liburan; bermain, belajar, B-O-B-O BOBO (dengan nada jingle majalah BOBO). #jayus. Akan tetapi ada satu hal yang ingin kusampaikan. Aku sedikit menyesal karena dulu saat kecil menggunakan masa liburanku hanya untuk bermain. Hasil dari hal itu adalah saat ini kehidupanku masih bergantung pada orang tua. Coba lihat temanku dengan inisial A, dia sekarang sudah mempunyai penghasilan sendiri dengan memanfaatkan liburannya secara cerdas. Si A sudah membuat bukunya sendiri dan mendapat royalti dari buku yang dibuatnya!

Sejujurnya aku ingin sekali dapat BERDIKARI, tapi jalur pendidikan yang kujalani saat ini memiliki jalan yang panjang sampai mencapai gaji pertama. Teman-temanku yang ada di fakultas non-kedokteran ada yang sudah mendapatkan gaji pertama, mendapatkan pekerjaan permanen, bahkan ada yang sudah menikah. Hm, memang selimut tetangga selalu lebih hangat, rumput tetangga selalu lebih hijau. Semoga ada editor/penerbit yang tertarik dengan tulisanku

Bagaimana jika renungan hari ini aku pakai untuk membagikan kisah sukses dari orang-orang di sekitarku. Bagaimana remaja-remaja yang punya daya juang tinggi berhasil meraup pundi-pundi uang melalui keringatnya sendiri. Tak jarang temanku yang cerdas mengarungi derasnya kehidupan, pintar mencari gua dan menemukan harta karun yang terpendam.

Teman pertama yang kuangkat adalah Azka Asifa, Jogja Tulen, seumuran denganku, tetapi punya bisnis dimana-mana. Pertama kali kukenal karena dia mengisi acara di organisasiku, duduk sebagai narasumber entrepreneur, berjuang dengan jalur kehidupan yang sulit tetapi berhasil mencapai kemandirian ekonomi di usia yang cukup muda. Tak perlu jauh-jauh menengok dr. Gamal yang sangat sukses, jalan berapa meter ke fakultas ekonomi saja sudah disuguhi orang-orang inspiratif yang berhasil tidak merepotkan orangtua! Setidaknya dari segi biaya.

Teman kedua adalah temannya Azka, namanya Santi. Aku mengenal Santi karena dikenalkan oleh Laily. Sejujurnya aku tak terlalu mengenal Santi, aku ingin mengangkatnya karena dia berhasil menghasilkan uang dari menulis! Sedangkan aku tidak. Sejauh yang kutau, Santi termasuk salah satu penulis di dalam proyek Hanum Salsabiela Rais. Selain menulis, Santi dikalungi berbagai macam prestasi dari Mahasiswa Berprestasi hingga penghargaan dunia tingkat ASEAN. Lebih lengkapnya bisa dilihat di Instagram Santi Wibowo (?) atau Santika Wibowo.

Teman ketiga adalah orang yang mengenalkanku pada Santi, Laily. Laily adalah seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran dengan segudang cerita non-kedokteran plus kedokteran. Kali ini yang kuangkat adalah cerita non-kedokterannya. Laily berhasil mengantongi sejumlah uang dari hasil kerja kerasnya sebagai MC, pembawa berita, vocal group, dan berbagai olah suara lainnya. Karena saya mengenal Laily cukup baik, saya sedikit tahu bagaimana ombak kehidupan yang menerjang Laily. Dia tidak main-main dalam menyetir perahunya hingga akhirnya mendapatkan ilmu untuk menyulap keringat dan air mata menjadi kesuksesan (baik kebahagiaan berkarya atau kemandirian uang).

Teman keempat sebagai pengingat bahwa uang bukanlah segalanya, meskipun di artikel ini aku sangat menekankan kemandirian ekonomi dan berhenti merepotkan orangtua. Ada satu hal yang ingin juga kutekankan, yakni tujuan utama dari hidup; Untuk apa manusia diciptakan? Teman keempat yang kuangkat sekaligus sebagi penutup cerita ialah Parangeni Muhammad. Di usianya yang sepantaran denganku, dia telah berhasil menjadi hafiz (penghafal al Quran).

Banyak sekali barokah yang melekat pada diri seorang penghafal Al Quran dan sayangnya tidak dapat terbahas di artikel ini. Selain seorang penghafal Al Quran, ilmu Agama yang ia miliki juga luar biasa. Ilmu agama yang dalam tidak membuat Ngeni membuka aliran baru atau pun mengajak orang-orang untuk membuat bom. Justru Ngeni mengajarkan bagaimana indahnya ilmu Agama jika dipelajari dan diamalkan, mengajak pada kedamaian dan keharmonisan. Aku ingin bercerita bahwa orang-orang yang mengatasnamakan agama untuk berbuat jahat sebenarnya tidak memiliki pemahaman atas agama yang dianutnya (salah pemahaman).

Sekian cuplikan beberapa kisah orang sukses di sekitarku, semoga Anda yang membaca ini dapat menjadi sukses pula. Mari sama-sama merenungi bagaimana agar perjalanan yang kita jalani menjadi sukses. Bagaimana harus berjuang agar bisa berhenti merepotkan orangtua, mendapat kemandirian ekonomi, dan dapat mencicil bekal untuk kematian serta memaknai arti serta tujuan dari hidup, aamiin.

copyright to amgah.blogspot.com

01 Februari 2016

Sisi Lain Jakarta, Makna Filosofis Sebuah Perjalanan

Begitu lihat tanggalan sontak aku kaget, bagaimana tidak utangku kepada blog ini adalah 2000 kata. Mungkin 2000 kata adalah hal yang mudah bagi penulis kondang, namun bagiku 2 ribu kata perlu latihan agar tulisannya menarik dan berisi. Baiklah mari kita kupas satu per satu dari tanggal 29 januari hingga 1 februari 2016.

29 januari
Sisi Lain kota Jakarta, Makna Filosofis Sebuah Perjalanan

Hari ini aku dibawa oleh panitia ATMACORDIS 2016 untuk menjelajahi jantung ibukota Jakarta. Tidak lain tidak bukan adalah Monumen Nasional (MoNas), salah satu proyek prestisius presiden Soekarno. Monas kini bukan lagi Monasku saat SD (yaiyalah). Ketika dulu saat SD aku tidak merekomendasikan untuk pergi ke Monas, tapi sekarang ketika kuliah aku akan merekomendasikan Monas untuk dikunjungi oleh Rakyat Indonesia. Apa alasannya?

-          Bukan untuk berbicara tentang konspirasi monas sebagai lambing pria dan gedung DPR sebagai lambing wanita, melainkan untuk memelajari sejarah bahwa segala sesuatu yang baik perlu diperjuangkan. Mengapa?

Menurutku sebagian masyarakat Indonesia (terutama remaja zaman sekarang) telah lupa akan makna dari sebuah perjuangan). Memang opini ini tidak difondasikan oleh riset ilmiah, akan tetapi coba direnungi keadaan sekitar. Aku telah berbicara tentang bagaimana remaja sekarang mulai kehilangan daya juang, beberapa guru di sekolahku dan temanku pun setuju terhadap pernyataan tersebut. Tidak setuju? Justru bagus! Karna memang seharusnya Anda, aku, kami, tidak menyetujui dan melawan hal itu. Bangsa Indonesia masih memiliki dan harus meningkatkan daya juangnya.

                (jika artikel ini mengupas tentang daya juang, 500 kata pada tanggal 29 Januari tidak akan cukup. Lalu makna dari yang tadinya artikel travelling akan bergeser menjadi opini dan debat).

                Di Monas, kami peserta lomba AESCULAPIUS ATMACORDIS 2016 di”paksa” untuk berlari dan membakar kalori. Konsep amazing race dimana semua orang dibagi dalam 8 tim dan 1 tim terdiri dari 5 orang. 8 tim merebutkan sebuah hadiah yang ditentukan dengan siapa cepat dia dapat. Lalu bagaimana mendapatkannya ialah dengan berlari mencari klu, menebak kemana harus pergi, lalu bermain di pos-pos yang sudah ditentukan. Menyelesaikan permainan di pos adalah suatu hal mutlak dan berlari adalah pelengkap yang diperlukan jika ingin menjadi yang tercepat. Sebuah konsep yang menarik dari sebuah acara yang tertuliskan sebagai city tour (seharusnya dituliskan sebagai out bound).

                Setelah Monas kami satroni, sekarang kami mengarungi padatnya kota Jakarta menggunakan moda Transjakarta. Sebetulnya Transjakarta adalah ide yang cukup baik untuk mengatasi kemacetan lalu lintas. Lalu menurut saya akan lebih baik lagi jika pelayanannya ditingkatkan; Bus diperbanyak, memperbaharui sistem menggunakan teknologi GPS (sehingga dapat mengetahui bus yang ditunggu sudah sampai mana). Sepertinya 5 ribu tak apa asal jumlah bus meningkat sehingga efisiensi waktu terjaga

Stasiun Busway Kotatua

                Terlepas dari ide mengenai Transjakarta, kami rasa kami “menikmati” sesaknya bus pada peak hours. Bagaimana uniknya kepribadian orang; ada yang ketiaknya kurang segar, ada yang penuh inspirasi (diajak ngobrol dan diberi pelajaran hidup), ada yang apatis (tidak memberikan duduk orang yang lebih tua), ada yang teladan (memiliki intelegensia sosial). Satu keunikan terjadi ketika kami turun di stasiun Kota. Ternyata dekorasi stasiun Kota telah dipermak dengan hiasan-hiasan yang cukup indah dan unik. Jadi teringat bagaimana indahnya transportasi kota Singapura (ketika saya masih SD). Semoga Indonesia dapat segera menyusul.

Museum Bank Indonesia

                Singkat cerita kami yang pergi dari Monas, sekarang tiba di Kota Tua. Kota tua yang terkenal dengan museum Fatahillahnya adalah tempat yang wajib disatroni para pelancong ibukota. Daerah ini menawarkan suasana Batavia Tempo Doeloe, bagiku tempat favorit ialah museum wayang dan museum Bank Indonesia. Kedua tempat tersebut menawarkan sebuah perjalanan waktu dari masa lalu hingga masa kini.

                Kali ini aku mengacungi jempol untuk panitia yang memiliki konsep amazing race untuk city tour. Meskipun lelah karena harus berjalan puluhan kilo, tetapi kami mendapatkan kesenangan tersendiri. Kami mengitari ibu kota, bercanda dengan teman setim, mengobrol, memainkan permainan, atau sekadar merenungi beratnya perjuangan hidup di kota metropolitan. Semua hal tersebut terjadi di tempat-tempat wisata yang jika tidak dengan amazing race, hanya melongo dan “o ini to, o itu to, o….”

Lalu secara implisit sebenarnya dapat diambil makna bahwa kesuksesan adalah suatu perjalanan bukan hasil. Perjalanan yang jauh, melelahkan, menguras energi, harus dihadiahi dengan kesuksesan, karena kesuksesan adalah perjalanan. Bagaimana seorang manusia memaknai setiap langkah yang diambilnya, mengetahui tujuannya, lalu merasakan kebahagiaan karena setiap langkahnya menuju pada sebuah tujuan akhir yang diketahuinya.


Perjalanan ditutup dengan kembali ke kampus FK ATMA Jaya. Tak ada lagi yang diinginkan oleh para delegasi selain mengistirahatkan diri. Ketika sudah sampai finish, semua hal terasa indah. Seperti penantian akan kehadiran seseorang; semakin lama penantian, semakin terasa indah di akhir ketika menemukan orang yang dinanti-nanti.

copyright to amgah.blogspot.com

28 Januari 2016

Amatiran dan Profesional versi Amgah Januari 2016

Amatiran dan Profesional versi Amgah Januari 2016
Refleksi 28 Januari 2016


Hari ini diawali dengan perlombaan di ATMA JAYA bernama AESCULAPIUS (ATMA Jaya United Scholar Competition and Annual Congress). Perlombaan ini berisi lomba Karya Tulis Ilmiah, Poster Publik, Poster Ilmiah, dan Video Kesehatan Masyarakat. Bertempat di kampus FK ATMA JAYA Pluit, saya bersama 6 punggawa UGM lain mencoba mengadu nasib di ibu kota. Berbekal ilmu dari bapak ibu dosen di Jogja, kami memberanikan diri berangkat.

UGM Alhamdulillah mendapat 3 kesempatan; kesempatan pertama dan kedua datang lewat poster publik dan kesempatan ketiga lewat KTI. Singkat cerita tibalah saatnya kami presentasi. Di dalam refleksi kali ini ada hal unik yang ingin kubagikan dan semoga tepat sasaran pembaca. Siapapun yang sedang membaca ini saat ini, kuharapkan kamu dapat memetik pelajaran, mengamalkan, dan membagikan ilmu dalam balutan kebaikan. Inilah hal uniknya:

Amatiran dan Profesional versi Amgah

Setiap orang yang mau berlomba hampir pasti (99,99%) akan deg-degan/nervous/cemas, sekalipun ia seorang professional, sekalipun pengalamannya segudang. Namun, apa yang membedakan amatiran dengan professional? Bukan ketiadaan dari rasa takut, melainkan adanya kemenangan melawan diri sendiri. Loh kok jadi me vs me, apa hubungannya amatiran vs professional dengan saya melawan diri saya sendiri. 

Sudah disebutkan bahwa semua orang “pasti” akan deg-degan, tetapi hanya professional yang mampu menang melawan dirinya sendiri. Maksud di sini adalah hanya professional yang mampu menguasai rasa takut (menguasai dirinya sendiri). Seorang professional berpikir secara professional, seorang amatiran yang ingin menjadi professional ada baiknya belajar untuk memiliki pola pikir profesonal. Apa itu pola pikir professional?

Seorang professional secara teknis (tidak membicarakan prinsip, niat, dasar, dsb) akan berpikir bagaimana caranya untuk memuaskan orang lain. Seorang profesional ingin menjaga integritasnya sebagai seorang profesional. Ketika dirinya tak mampu untuk menunjukkan yang terbaik, ia akan merasa malu dan gagal. Uniknya, seorang profesional mampu membuat otaknya berpikir “bagaimana pun juga, kita harus melakukan yang terbaik. Seburuk apa pun keadaannya, seaneh apapun yang terjadi secara tiba-tiba. Kita harus melakukan yang terbaik”

Berbeda dengan seorang amatiran, seorang amatiran akan berpikir “saya takut saya akan mengecewakan orang lain. Saya takut saya akan jelek, saya takut keadaan akan berubah menjadi suatu yang tidak dapat saya kuasai, saya ingin memberikan yang terbaik tetapi saya takut”

Seorang profesional akan berpikir “meskipun saya gagal dalam hal A, saya mendapat pelajaran berharga yang dapat diamalkan di masa depan nanti” seorang amatiran akan berpikir “saya gagal dalam hal A, semua orang kecewa terhadap saya”. Seorang amatiran akan berpikir “setelah membaca artikel ini kok sepertinya saya amatiran?”. Seorang profesional akan berpikir “meskipun saat ini saya masih amatiran, tetapi saya akan belajar untuk menjadi profesional. Saya akan membuktikan pada dunia bahwa saya bisa dan saya mampu. Dengan usaha dan doa, saya akan menunjukkan siapa diri saya sebenarnya”

Sedikit teori tentang amatiran dan profesional versi amgah. Tentunya hal tersebut debatable, namun penulis terbuka terhadap komentar dan saran. Satu hal yang pasti, penulis ingin orang-orang yang memiliki hati murni semurni susu sapi murni agar menjadi profesional. Mengapa? Karena saya takut dan saya mengamati, orang-orang yang menjadi profesional secara teknis justru tidak memiliki hati yang murni. Ada yang hatinya ternodai oleh kehidupan glamour, ada yang karna wanita, ada yang karna uang. Oleh karena itu, saya berharap orang-orang berhati murni untuk segera bertindak dan belajar menjadi profesional.

---

Hari ini juga saya mendeklarasikan komitmen untuk setiap hari menulis refleksi (kalau ada yang bolong seharusnya dirapel). Minimal dalam sehari, harus menulis sejumlah 500 kata. Semoga komitmen ini terjaga terus hingga akhir hayat dan yang paling penting komitmen ini bermanfaat untuk orang lain selain juga untuk diri sendiri. "Sebaik-baiknya manusia, ialah manusia yang bermanfaat untuk orang lain"

---
Lomba pun selesai dan kami jalan-jalan. Senangnya dapat menghabiskan waktu bersama vionita (vio), Astria (tri), Galang, Ceni, Avin. Walaupun mereka semua konslet dan perlu dibawa ke tukang listrik, tapi kekonsletannya dapat menarik arus yang menyenangkan. Hari ini kami tutup dengan kesyukuran akan banyak nikmat yang mungkin seringkali terlupa; nikmat sehat, nikmat iman, nikmat harta, nikmat orangtua, dan nikmat-nikmat lain yang tak terhitung. Alhamdulillah

Pada awalnya artikel ini dibuat ingin diakhiri dengan happy ending. Namun, di akhir terkadang kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan. akhirnya  sad ending karena ternyata saya masih harus mengerjakan Rancangan Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Aliansi Organisasi Mahasiswa Kesehatan Indonesia (AOMKI)................................................................... sampai jumpa esok hari! (insyaAllah)

copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar;  pinterest.com

03 April 2015

Terlalu Lama (bukan sendiri)


Sore ini 3 April 2015 Yogyakarta diguyur air hujan, benar-benar diguyur. Air yang volumenya cukup besar terus menerus menghatam kaca mobilku. Berkali-kali wiper harus menggeser para air agar mereka tidak berkumpul di depanku. Berkali-kali pula aku melihat pemandangan yang biasa-biasa saja, sampai bapak tukang koran itu muncul.  
            Sedikit gambaran tentang apa yang aku lihat, jalan Kaliurang adalah jalan besar yang terdiri dari dua arah, ke utara dan ke selatan. Di perempatan ringroad utara, jalan kaliurang ke arah utara diberhentikan oleh sebuah lampu merah yang cukup lama (sekitar 120 detik), itulah tempat sang bapak berjualan koran. Sedangkan jalan kaliurang ke arah selatan bersih dari lampu merah, itulah saat aku melihatnya.






            Apa yang special dari pemandangan tersebut? Bapak tukang koran ini sudah tua, uban putih banyak mewarnai rambutnya. Plus bapak tukang koran ini menjajakan korannya di pukul 15.00++. Siapa yang mau beli koran sore-sore? Lalu si bapak menerjang hujan dengan payung mungilnya agar koran-korannya tetap bisa dijual. Siapa yang hujan-hujan mau jualan koran?
            Sambil melewati si bapak, aku melihat kaca spion lalu membandingkan dirinya dan diriku. Bapak ini gigih sekali, sore-sore hujan masih aja jualan koran mencari nafkah untuk keluarganya. Sedangkan aku menyetir mobil, membakar uang dan belum bisa menghasilkan apa pun. Pernah sekali aku melihat korannya dibeli, senyum sang bapak seperti mengatakan Alhamdulillah aku dapat rezeki lagi hari ini, Alhamdulillah.
            Setiba di rumah aku kembali memikirkan sang bapak. Aku menyadari satu hal yang sudah beberapa hari (mungkin minggu) aku lupakan. Kenapa sang bapak sore-sore masih mau berjualan koran dalam keadaan hujan lebat? Kenapa dia sangat gigih? Apa yang menggerakkan tubuh sang bapak? Padahal bisa saja istirahat dan bermalas-malasan di rumah. Apa dasar dan alasannya, mengapa ia masih tetap berjualan…
            Terlalu lama, terlalu lama aku tenggelam dalam keadaan tanpa dasar dan tanpa alasan. Terlalu lama aku bertemu dengan orang-orang yang dangkal dan lupa bahwa ada orang-orang yang dalam. Orang yang mampu membuatku tersenyum tanpa harus mencela orang lain. Orang yang mampu membuatku menangis tanpa harus mengingat kematian.
            Ada anak-anak di panti sayap ibu 2, lahir dengan disabilitas mata, disabilitas telinga, disabilitas intelegensia, bahkan disabilitas yang mereka derita lebih dari satu. Tetapi mereka masih punya semangat hidup dan terus berusaha agar hidupnya bermanfaat. Sedangkan ada orang yang semua tubuhnya sehat tapi bunuh diri karena putus sama pacarnya. Ada juga orang tua yang mengatakan “jangan seperti bapak ya, kamu harus sukses nak” lalu sang anak belajar cerdas agar kelak sang bapak dapat beristirahat dari kerja kerasnya. Mungkin bapak tukang koran punya cerita yang sama.
Mereka punya dasar, mereka punya alasan, mereka yang mampu membuat orang lain tergugah. Apa yang mereka lakukan hanyalah menyambung hidup, tapi kehidupannya memberi makna pada orang lain (termasuk aku). Mereka tersenyum dalam keadaan yang sulit, sedangkan aku seringkali mengeluh.  Mereka berdiri ketika terjatuh, sedangkan aku seringkali berbaring menunggu dibangunkan. Mereka tetap bergerak ketika tubuhnya terlalu capek untuk bergerak, sedangkan aku seringkali menuruti tubuh untuk diam padahal seharusnya aku bergerak.
Terlalu lama, terlalu lama mataku buta, telingaku tuli, dan kakiku diam. Hanya melihat, mendengar, dan mengunjungi orang-orang yang memiliki tapi tidak memaknai. Terlalu lama aku membiarkan diriku mati tak punya nyawa tak punya arah. Apa tujuan hidupku? Untuk apa aku hidup? Seperti apa aku mau dikenang ketika aku dikubur? Sudahkah aku mempersiapkan kematian?
Terlalu lama aku meninggalkan kehidupan. Aku rindu kepada hidup, hidup yang sebenar-benarnya hidup. Semoga aku dapat segera bertemu denganmu. Bukan kamu yang menghampiriku, tapi aku yang berusaha mencarimu.
Terima kasih Tuhan, melalui bapak tukang koran Engkau ingatkan aku untuk kembali.


copyright to amgah.blogspot.com

07 Februari 2015

Sempit, luang, dan menguatkan

Hari ini aku ingin berbagi di tengah sempitnya waktu dan tingginya tekanan. Siapa tahu ada yang berada di kompartemen yang sama dan bisa saling menguatkan. Hari ini aku ingin mengabarkan ada orang seperti bapak X. Seseorang yang mengerjakan kerjaannya dengan penuh senyuman walapun tak jarang tajam lidah menggores senyumnya.

Singkat cerita beberapa hari ini adalah waktu transisi kuliah. Saat seabrek abrek kegiatan kuliah menjadi mie instan para mahasiswa. Ketika pepatah "gunakanlah waktu luangmu sebelum waktu sempitmu" menjadi terasa di telinga, hati, dan pikiran. Bahasa informalnya; hectic banget bro. Gila gakngerti lagi. Ini gimana biar semuanya bisa seimbang dan ngelakuin semuanya dgn baik.

Aku dulu pernah mengeluh dan menyesal. Karna ternyata ada orang yang kerjaannya lebih banyak tetapi ia lebih banyak diam. Diamnya merupakan emas karena tangannya bergerak menyelesaikan urusannya. Ternyata ada orang yang lebih sibuk dan lebih mengerjakan pekerjaannya dengan baik.

Hari ini aku kembali bertemu dengan orang itu dalam sosok bapak X. Aku ingin berbagi agar tak ada yang sepertiku lagi. Seorang manusia yang harus merasakan pahitnya penyesalan akibat mengeluh.

"Seseorang pernah bilang jangan merasa dirimulah orang yang paling tidak beruntung. Coba lihat sekelilingmu. Lalu, terlalu bangga adalah racun. Ingat asal adalah penawar. Bersyukur adalah kunci dan kebahagiaan adalah gembok. Berusaha adalah pelicin dan malas adalah pengering. Di ujung jalan kita akan kembali dan kehidupan adalah jalan.

Yang terpenting bukan bagaimana menusuknya kritikan seseorang, tetapi bagaimana pintarnya menyaring dan introspeksi. Bukan bagaimana orang menuntut dan tidak peduli, tetapi bagaimana sabar dan tetap niatkan yang baik.  Bukan tentang bangga dengan yang dikerjakan, tetapi berterima kasih kepada semua yang telah membantu

Aku yakin ada orang dengan tanggung jawab lebih banyak dariku dan mengerjakan lebih baik dariku. Jadi, saatnya tersenyum dan melupakan keluh.

Terima kasih untuk semua orang yang telah saling menguatkan dan membantu. orang tua, guru, partner di AMSA, partner di PA, partner di kuliah, kosan, bapak tukang ojek, bapak kebersihan, partner skripsi, semuanya yang takbisa detail disebutkan. Kalian semua keren. Memiliki kesibukannya masingmasing tapi masih mau membantu.

Awalnya aku tak mau berbagi tentang ini. Karena takut akan bermakna ganda. Tp seseorang mengubah pikiranku "siapatau tulisanmu bisa jadi manfaat buat orangorang yang samasama lagi pusing?"

Semangat!
Semoga bisa saling menguatkan

25 Januari 2015

Daun Kecil dan Batang Besar



Hai, kami adalah daun daun kecil dan perkenalkanlah teman kami si batang pohon besar. Ketika kami bersatu kami akan menjadi sebuah pohon yang rindang



Kali ini kami daun-daun kecil ingin membisikkan apa yang manusia tidak lihat dari sebuah pohon rindang. Tahukah bahwa daun dan batang ternyata dapat bersuara?

Dear batang, kami tahu kami daun-daun kecil tidak seperti dirimu yang kuat dan besar
Akan tetapi, kami daun-daun kecil memiliki warna hijau yang membuat pohon menjadi rindang
Dear batang, kami tahu kami daun-daun kecil tidak seperti dirimu yang kokoh dan menjulang
Akan tetapi, kami daun-daun kecil mampu berfotosintesis dan memberimu makanan.

Awalnya kami daun-daun kecil hanya ingin berdiam dan berfotosintesis seperti biasanya. Tapi kami sadar ada yang salah dan yang salah itu harus diubah, agar pohon bisa semakin menjulang.
Kami berbisik hanya untuk sang pohon agar bisa semakin tinggi dan rindang bukan untuk menjatuhkan sang batang.
Karena tanpa batang kami hanyalah daun yang kebingungan, sama seperti batang tanpa daun yang akan kering dan perlahan mati.

Indah sekali kerja sama kami daun kecil dan kamu batang besar. Batang menyokong kuat dan daun memberikan makanan, kami dan kamu membentuk satu kesatuan yang meneduhkan. Sampai suatu saat ketika kamu sangat angkuh.

Jika batang meminta daun untuk lebih kokoh mengapa batang harus berbicara kepada akar? Mengapa tidak langsung melalui cabang yang menghubungkan daun dan batang.
Ketika batang menunjukkan kekokohannya yang tidak dimiliki daun, apakah daun dapat kokoh seperti batang? Apakah setiap bagian pohon harus seperti batang? Bukankah semua memiliki peran dan memiliki kelebihannya masing-masing. Mengapa tidak berfokus pada kelebihan dan berdiskusi bagaimana agar daun dapat menjadi lebih baik?
Ingatkah ketika musim kemarau, tidak ada daun yang cukup hijau yang mau membantumu? Tidak ada! Batang terlalu kuat dan tidak ada daun yang mampu sekuat batang. Tapi sekarang kami di sini, daun-daun kecil yang mencoba membantu meneruskan perjalanan sang pohon.
Sempat kami berpikir, bagaimana jika kami para daun menggugurkan diri dan meninggalkan batang, biarkan batang sendiri dengan kegagahannya yang batang banggakan. Akan tetapi, kami daun terlalu cinta pada sang pohon. Kami ingin pohon tetap tinggi dan rindang.

Karena itulah kami membisikkan desahan daun kecil. Satu bagian menopang bagian yang lain, satu bagian mendengar bagian yang lain, dan satu bagian mengerti bagian yang lain. Daun berpikir dengan begitu satu pohon akan menjadi hebat baik secara penampilan di luar atau sistem di dalam. Maka jadilah satu kesatuan pohon yang benar-benar tinggi dan rindang. Bukan tinggi dan rindang semu yang hanya apik di luar namun rapuh di dalam.


Kami daun-daun kecil meminta maaf jika bisikkan kami terlalu keras, namun kami terlalu cinta dengan sang pohon.

Salam,
Daun-daun kecil
 

copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar: bluizzy.files.wordpress.com