17 April 2016

Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari


15 April 2017 “Mencari itu sama dengan menunggu. Menunggu itu sama dengan mencari” – Amgah, carilah sendiri makna dari kalimat ini

 “See what no one else see. See what everyone else choose not to see” – Patch Adams Movie, makna dari kalimat ini dijabarkan di bawah.

Artikel ini akan lebih menarik jika kita awali dengan mengingat kembali sebuah keberuntungan yang kita dapatkan di masa lalu. Rasakan bagaimana keberuntungan tersebut mampu mengubah suasana hati menjadi gembira. Hadirkan suasana tempat keberuntungan terjadi, orang-orangnya, barang-barangnya, tempatnya, hingga semua terasa semakin nyata. Aku yakin kita semua akan merasa bersyukur, bahagia, mengucapkan terima kasih pada Tuhan, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
                Banyak orang bilang orang bejo akan mengalahkan orang rajin, orang rajin mengalahkan orang malas. Bejo (beruntung) ternyata berada di puncak rantai makanan. Tidak ada yang tahu kapan keberuntungan akan terjadi. Tidak ada yang tahu bagaimana keberuntungan akan terjadi. Kita hanya tahu bahwa hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan ketika keberuntungan tersebut terjadi.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari
                Sebelum kita bahas lebih dalam, aku ingin menceritakan sebuah cerita nyata tentang keberuntungan. Cerita ini masih segar dari oven karena baru terjadi hari jumat lalu. Jumat adalah hari kerja aktif terakhir buat para koas (pendidikan profesi kedokteran umum). Setelah ujian selesai, tidak ada lagi tanggung jawab harus melakukan ini atau melakukan itu. Semua bebas silahkan meliburkan diri asalkan ujian dan administrasi telah dirampungkan.
                Saat itu aku merasa ada panggilan dari diri untuk tetap ke poliklinik THT (kita gak punya kewajiban, kalau gak ke poli ya gakpapa). Entah mengapa aku harus ke poli, itu hari terakhir, besok-besok aku sudah tidak akan lagi ke poliklinik THT sebagai Koas THT. Aku tidak akan berjumpa dengan residen-residen THT yang baik, tidak akan ketemu pasien THT, tidak akan berada di dalam poli THT. Entah mengapa aku ingin sekali menghabiskan detik-detik terakhir THT bersama mereka, mungkin rindu? Mungkin juga bukan.
                Akhirnya aku ke poli THT, sekitar 5 jam aku berada di sana. Pernah mendengar cerita orang yang mengalami beribu kegagalan sebelum berhasil? Terlepas dari hoax atau bukan, prinsipnya adalah nyata (ceritanya belum tentu). Sebelum aku menemukan keberuntungan, aku hanya mendapat printilan-printilan kecil. Teman-temanku mungkin bosan, aku pun juga bosan, sangat bosan. Tapi entah kenapa aku percaya aku akan mendapatkan sesuatu. Toh meskipun aku tidak mendapatkan apa-apa, aku telah berusaha sampai titik terakhir. Lagipula esok hari aku akan terbangun dan berada di tempat yang berbeda, aku akan merindukan tempat ini.
                Singkat cerita -- di jam-jam terakhir poli -- aku menemukan keberuntungan. Saat itu aku sedang berada di ruang Rhinology (poli ruang 2), tiba-tiba dr. Hafifah bertanya ke dr. Veby “Mas Veby, kalau stofmap biru itu artinya map yang biasa yang warna biru itu kan?” Aku pun tersentak. Stofmap biru, waduh, itukan urusan yang sama yang sedang kukerjakan, DAN DEADLINENYA HARI INI. Ternyata aku dan dr. Hafifah mengerjakan hal yang sama, bedanya dr. Hafifah ingat, sedangkan aku lupa.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari

                Kami berdua sama-sama ingin melamar suatu pekerjaan. Deadlinenya hari ini bos, kalo aku lupa, aku menghanguskan kesempatan yang cuma datang sekali, aku juga bakal ngecewain orang-orang yang udah dorong aku buat ngelamar kerja. Alhamdulillah, gara-gara dr. Hafifah, karena aku nongkrong di ruang rhinology, berkat firasatku aku harus ke poli, Allah menghindarkanku dari lupa dan membawaku pada ingat. Simpel mungkin untuk sebagian orang, tapi untukku itu merupakan suatu keberuntungan yang cukup besar. Bagaimana dengan keberuntunganmu?
                Akhirnya pun aku selesai mengurus berkas lamaran, aku dan dr. Hafifah pergi bersama ke kantor pos. (Untuk orang-orang yang tahu dr. Hafifah yang mana, mungkin mereka juga menganggap ini sebagai suatu keberuntungan. If you know what I mean). Tak berhenti di situ, aku alhamdulillah mendapatkan keberuntungan lain. Setelah nangkring di rhinology, aku mencoba peruntungan ke faring/laryngology,
                Di faring/laryngology (poli no.7/Ruang Tindakan) kami ditemukan oleh dr. Jessica. Awalnya aku dan Prisca mencari kelanjutan cerita dari pasien yang kami ikuti. Pasien tersebut ditangani oleh dr. Rio, setelah bertanya ke dr. Rio kami melihat layar endoskopi dan kami penasaran, kami pun minta izin dr. Rio untuk melihat-lihat. Ketika kami mengotak-ngatik komputer endoscopy untuk melihat hasil-hasil yang ada, tiba-tiba kami disapa oleh dr. Jessica dan dr. Jessica memberikan kami rekap endoscopy hardcopy untuk kami pelajari.
                Aku dan Prisca setuju tentang prinsip “Selagi di rumah sakit, belajarlah sebanyak-banyaknya dari pasien, dari pengalaman, dari residen. ‘Buanglah bukumu’ jika memang tidak perlu-perlu banget. Karena kamu di RS hanya beberapa jam, sedangkan kamu dan bukumu dapat berjam-jam. Lagipula tidak ada yang dapat mengalahkan rasanya involve dalam suatu hal, pahitnya pengalaman, atau manisnya kenangan.
                Kami pun memelajari rekap yang diberikan dr. Jessica dan menemui banyak hal yang sebelumnya kami belum pernah temui. Kami menjadi mengetahui gambar ini, gambar itu, kalau gambarnya ini tuh hasilnya A, kalau gambarnya itu tuh hasilnya B. Semua itu kami dapatkan secara mudah karena dibantu oleh residen-residen THT. Karena kami nangkring di poli nomor 7, berkat bantuan dr. Jessica, akibat firasat harus ke poli, Allah memberikan kami pengalaman yang baru.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari

                Aku telah menceritakan tentang keberuntunganku, bagaimana dengan keberuntunganmu? Keberuntungan sangat subjektif, apa yang aku anggap sebagai beruntung mungkin menurutmu tidak, dan sebaliknya. Tetapi menurutku semua keberuntungan itu sama, semua berawal dari usaha mencari. Jika aku tidak berusaha mencari ke poli, jika aku hanya diam, aku tidak akan bertemu dr. Hafifah/dr.Jessica yang membawaku ke keberuntungan dan pengalaman yang baru dan menyenangkan.

                “If you don’t try, you’ll never know."

                “If you never ask, the answer will always be no”

               “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” QS Ar-Ra’d; 11

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” QS al-Najm: 39

“See what no one else see. See what everyone else choose not to see” – Patch Adams Movie

#Salamlegowo
#TularkanPositivitas

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
davebratcher.com
twitter.com
insightly.com

15 April 2016

Enaknya Korek Kuping dan Pentingnya Kotoran Telinga

Minggu pertama April adalah minggu terakhirku di Klaten. Dua minggu di sini sudah cukup merampungkan satu album kenangan indah, mulai dari lagu tentang kedokteran hingga lagu tentang pertemanan. Stase luar kota dapat dibilang ladang subur untuk bercocok pengalaman, namun hanya untuk petani-petani yang memang ingin bercocok tanam.


Pengalaman pertama. Jika kuis family 100 memiliki pertanyaan “Penyakit telinga apakah yang paling sering didapatkan oleh Amgah ketika koas?” Maka MC akan bilang “survey membuktikan bahwa penyakit THT yang paling banyak didapatkan Amgah adalah!!! Jeng jeng jeng… kelainan liang telinga” Apa saja? Radang (Otitis Eksterna) dan sumbatan kotoran telinga (cerumen prop).

Kasus pertama yang dibahas sekaligus kasus yang lebih berat adalah Otitis Eksterna. Kasus ini unik, sangat unik, karena hampir 80% dari Otitis Eksterna Difusa (OED) disebabkan oleh korek kuping --seprintil cotton bud -- dan 60% pasien masih tetap ingin meneruskan hobi korek kupingnya. Apa sih enaknya korek kuping? Mari kita tilik mengapa oh mengapa cotton bud itu “menyenangkan”

Penjelasan simple – Mengapa Korek Kuping itu Nikmat?

Banyak sekali struktur tubuh manusia yang melewati telinga, salah satunya adalah nervus vagus. Nervus vagus itu ibarat sebuah kabel yang melewati telinga. Selain telinga, mana lagi yang dilewati nervus vagus? Sangat banyak dan salah satunya adalah kelamin. Vagus bertanggungjawab dalam membuat suasana parasimpatis, simpelnya seperti malaikat dan iblis dalam 1 jubah yang sama. Manusia dapat memilih menyimpan malaikat dan menendang iblis, atau sebaliknya. Mengapa seperti itu? Karena vagus bertanggungjawab untuk “Sleep, Eat, and Sex”

Sekarang kita tahu bahwa ketika vagus aktif, vagus akan memberikan sinyal ke tubuh manusia untuk “makanlah nak / tidurlah nak / sex-lah nak”. Hal tersebut bukan berarti kita pencet-pencet telinga terus kita bisa jadi tidur atau sebelum makan kita mesti korek kuping dulu. Karena sebenarnya vagus hanya numpang lewat di telinga. Sayangnya, vagus ini dapat teraktivasi ketika tersenggol.

Kesimpulan; vagus lewat telinga, jika vagus tersenggol maka vagus aktif, vagus aktif membuat?

Ketika seorang anak manusia mengorek-ngorek kuping, ia bisa jadi tidak sengaja menyenggol nervus vagus dan mengaktivasi si Angel and Demon tersebut. Uniknya, vagus di telinga dapat mengaktifkan vagus di kemaluan. Sehingga ketika seseorang mengorek kuping, orang tersebut merasakan suatu kenikmatan. Waw, waw, waw


Jadilah orang tersebut punya hobi korek kuping. Salah dua penyebab hobi korek kuping adalah cemas. Cemas berarti ia ingin telinganya selalu bersih, ia takut ada sesuatu yang membuat telinganya kotor. Padahal, normalnya telinga akan membersihkan dirinya sendiri melalui mekanisme mekanik normal. Tuhan telah memberikan kemampuan pada telinga untuk membuang kotorannya sendiri.

Dua penyebab hobi korek kuping tersebut adalah akar permasalahan OED. Sakit kuping itu sakit loh, lebih sakit dari gak sakit kuping. Sakit itu gak enak loh, mesti ke dokter, mesti ngurus ini itu, mesti pakai obat, mesti lebih hati-hati, dan mesti-mesti lainnya yang repotin banget dibanding kita gak sakit. Pertanyaan pertama, lebih enak sehat bukan? Pertanyaan kedua, kok bisa korek kuping bikin sakit telinga?

Perlu diketahui bahwa niatan baik membersihkan telinga juga ada ilmunya. Kotoran telinga yang ingin kita bersihkan pada hakikatnya adalah normal, kotoran telinga paling banyak mengisi di 1/3 luar telinga, dan dapat keluar sendiri. Kotoran telinga sebenarnya adalah suatu kebutuhan, jika dalam kadar yang cukup. Kotoran telinga punya efek proteksi; melindungi telinga dari air dan dari serangga. Kotoran telinga yang terlalu sedikit membuat telinga rentan akan infeksi, dimasuki air, dan dimasuki serangga.

Kotoran telinga yang terlalu sedikit membuat telinga sangat mudah untuk terluka. Lalu kapan kita tahu bahwa kotoran telinga harus dibersihkan atau dibiarkan? Datanglah ke dokter jika merasa telinga penuh, daripada korek kuping sendiri lalu luka dan akhirnya kena sakit. Alternatif lain; gunakanlah ujung cotton bud, hanya ujungnya, untuk membersihkan 1/3 telinga luar, dan jangan terlalu sering agar jumlah kotoran masih cukup.

Insert; Mengapa atlet renang sering punya penyakit OED?

Salah tiga penyebab OED adalah keseringan berenang dan telinganya tidak ditutup. Keseringan berenang -> air masuk ke telinga -> air yang banyak akan mengapungkan kotoran telinga -> kotoran telinga terbawa arus -> kotoran telinga abis -> infeksi/serangga -> infeksi. Oleh karena itu atlet renang memiliki risiko terkena OED. Cara menghindarinya? Saat berenang telinga ditutup agar tidak kemasukan air.


Tanda-tanda OED

Sekarang mari kita bahas apa tanda-tanda OED. Beberapa gejala yang dapat muncul adalah rasa penuh pada telinga dan umumnya nyeri. Nyeri juga dapat muncul ketika telinga ditekan dari luar. Lalu dokter akan menanyakan berbagai macam pertanyaan untuk menendang kemungkinan penyakit yang lain. Setelah ditanya, telinga kita akan dilihat dan dinilai apakah di liang telinga terdapat radang. Jika benar radang, dokter akan memberikan obat dan edukasi.

Pembahasan OED ternyata cukup banyak ya, waktu tak terasa menunjukkan pukul 20;35 artinya aku harus kembali ke rumah sakit untuk menunaikan jaga malam. Di atas aku sudah bilang bahwa telinga dapat membersihkan kotorannya sendiri. Tapi kok di atasnya lagi aku juga bilang bahwa kelainan liang telinga salah satunya adalah tersumbat kotoran telinga? Katanya telinga bisa bersihin dirinya sendiri, tapi kok masih bisa tersumbat? Penyakit yang kedua akan kita bahas di lain waktu, sampai jumpa! dan mohon doanya agar saya dapat libur

* Bersambung* atau kalau tidak mau bersambung, temui aku di Sardjito bangsal THT Dahlia V :D

* Ada cerita menarik juga tentang indahnya pertemanan di klaten. Tapi masih belum kutentukan apakah cerita tersebut akan kutuliskan di blog atau kusimpan saja dalam arsip kenangan.

* Ada yang salah dari penjelasan penyakit? Silahkan kontak penulis melalui email amgah01@yahoo.com. Tidak percaya akan keabsahan artikel kesehatan? Silahkan dicek latar belakang penulis :)”


#salamlegowo

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
http://www.compostthis.co.uk
kindhearty.blogspot.com
http://www.wikihow.com/images/b/bb/Prevent-Swimmer's-Ear-(Otitis-Externa)-Step-5.jpg

05 April 2016

Koas THT FK UGM di Klaten

     Stase luar kota adalah hal yang cukup seru, karena para koas dituntut untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini pulalah yang mendorongku untuk menulis Tips Mencari Pasangan Hidup saat Koas”. Kalau kata mas X, koas itu "Tempat ditemukannya sikap orang yang gak ditemukan pas s1" Seru juga karena biasanya di luar kota, para koas akan mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk learning by doing. Seru juga karena kita bisa menjadi lebih mandiri.

     Pagi-pagi buta (lebay, padahal cuma jam 5.00, aku menjemput para partnerku yang akan ke Klaten). Singkat cerita kami tiba di Klaten sekitar pukul 6.30. Tujuan pertama kami adalah asrama POTMA tempat kami akan tidur, mandi, dan lain-lain. Info; ibu penjaga potma baru datang jam 08.00, jadi berangkat jam 6 dari Jogja rapopo, asal tidak lebih dari jam 7.

     Setelah mendapat kamar, kami langsung beres-beres untuk tindhak (pergi) ke Rumah Sakit. Di RSUP Soeradji Tirtonegoro, kami pertama kali bertemu mas Yanuar. Mas Yanuar orang yang cukup ramah dan senang bercanda (semoga saja semua koas bersikap baik dengan mas Yanuar). Setelah mengisi form ini dan form itu, akhirnya kami pergi ke poli THT.


     Di poli THT, kami disambut baik oleh pak Rosyid dan Bu Handa. Perawat serta staff THT Klaten super ramah, info; pak Rosyid orang yang humoris. Lalu kami juga disambut oleh ketua Staff Medik Fungsional (SMF) THT RSST (RS Soeardji Tirtonegoro) yaitu dr. M. Arief Purnanta, M.Sc, Sp.THT-KL. Dokter Arief/Dokter Ipung adalah orang yang cukup unik, sangat sulit untuk mendeskripsikan beliau. Satu hal yang pasti, dr. Arief sangat total dan sangat all out kalau sudah mengajar. Lalu kami diberikan briefing singkat, kami ber-7 ke klaten akan dibagi dua untuk dosen pembimbing. Kebetulan aku dapat dr. Arief.

     Koas THT di klaten agak berbeda dari koas THT di Sardjito. Di klaten, kita tidak punya jatah jaga bangsal atau pun jaga IGD. Tetapi jika kita berhasil akrab dengan residen, dokter residen akan mengajak kita untuk visite bangsal atau pun menangani pasien IGD (on call, walaupun aslinya on WhatsApp). Carilah tindakan sebanyak-banyaknya di luar kota, karena di luar kota kita dapat melakukan lebih banyak. Di Sardjito kita observasi, di luar kota kita melakukan.

     Tips untuk kalian yang mau koas di poli THT klaten “alur poliklinik” Rekam medis akan ditaruh di meja poli (diberikan oleh bagian pendaftaran). Bagilah diri kalian dengan urutan, contoh; pertama adalah Aldo, kedua Amgah, ketiga Linda, dst. Orang pertama mengambil rekam medis pertama, orang kedua mengambil nomor 2, dst. Pelajari rekam medis tersebut! 1. Penyakitnya/Diagnosa awal 2. Pasien lama atau pasien baru. Jika pasien baru, ambil lembar Px Pengkajian Awal, jika pasien lama, ambil lembar Px Lanjutan (ada di meja poli). Lalu yang akan kalian isi adalah keluhan utama pasien di lembar pemeriksaan yang telah kalian ambil.

     Lalu panggil pasien tersebut sesuai nomor urut dan tempat yang tersedia. Lalu kamu dapat menganamnesis pasien, jika waktu cukup dan pasien mau, bahkan kamu dapat melakukan pemeriksaan fisik! Setelah itu, kamu ajak pasienmu untuk ke dokter konsulen atau dokter residen. Lalu kamu perhatikan dan samakan hipotesismu dengan Dx yang ditentukan oleh dokter. Diagnosismu benar atau salah? Pemeriksaanmu benar atau salah? Tak jarang dokter yang percaya padamu akan menyuruhmu melakukan pemeriksaan (Px) fisik seperti tes garpu tala. Jadilah orang yang dapat dipercaya! 

     Kurang lebih stase luar kota THT Klaten seperti itu, dan jika kamu beruntung, kamu akan mendapat kesempatan mengobservasi operasi THT di OK; entah itu biopsy, tonsillectomy, atau reposisi tulang. Semoga Bermanfaat

copyright to amgah.blogspot.com

04 April 2016

Quote Berkeluarga Dokter Anton


"Berkeluarga itu tidak mudah, tidak mengurangi masalah tp malah nambah masalah. Tapi berkeluarga itu membahagiakan, lebih membahagiakan"


"Menikah lebih muda itu memang lebih menantang. Tapi gak saklek nikah muda ya jelek. Ada toh yang nikah muda tapi udah dewasa udah bisa saling memosisikan diri. Dan ada juga yang udah tua tapi tetep aja gakbisa saling memosisikan diri. Tergantung dek dan ya juga tetep harus diplanning - dr Anton

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
i.huffpost.com

Tips Mencari Pasangan Hidup saat Koas

Disadur dari akun line @amgah

“Kalo kamu calon dokter dan mau nyari calon dokter juga. Perhatikanlah calonmu ketika koas. Niscaya ketauan pola pikirnya. Mana yang manja, mana yang mandiri, mana yg seneng menghibur orang, mana yang pengennya diturutin, mana yg terbuka, mana yg menyembunyikan, dst

Atau kamu minta kepoin temen sekelompok koasnya. Gimana tuh dia selama koas, terutama stase luar kota.  Daya adaptasi diuji, orang yang tadinya di zona nyaman tibatiba harus keluar dari zona tsbt. Niscaya terlihat sedikit sikapnya yang tidak terlihat ketika berada di zona nyaman

Cari yang sesuai sama kamu. Mau yang selalu berusaha ceria meskipun sedih? Monggo. Mau yang senyum terus meskipun capek? monggo. Mau yang gak suka ngeluh? Monggo. Mau yang selalu nyari hal nyenengin? Monggo. Mau cari yg suka hal hal menantang dan baik? Monggo. Enak dikelilingi orang-orang yang membahagiakan :D”

Hati-hati, banyak orang yang di luar terlihat baik, tetapi ketika tertekan menjadi kelihatan buruknya. Tekanan akan membuat orang berubah, carilah orang yang ketika ditekan, malah tetap bersabar. Setuju?

Oiya, tidak lama setelah aku menulis artikel tersebut. Salah seorang dosen memberikanku sebuah wejangan


“Nanti km di koas akan tau variasi sifat dasar org ketika dia terdesak, ketika dia diberi tanggungjawab, ketika lagi tanpa tgg jwb, ketika free time, amati pake hati. Catat di hati reaksi temen2mu, km akan tau sikap ini itu cocok atau tdk cocok/pas untuk sekitar"

copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar;
123rf.com

03 April 2016

Menghargai Orang Lain; Teguran untuk Pribadi


“Seneng banget kalo ketemu orang yang bilang/mikir "kalau saya melakukan A. Saya akan mengambil hak hak orang lain" atau "kalau saya melakukan B. Saya akan merugikan orang lain"

Dimulai dari diri sendiri, menyebar ke orang orang terdekat, lama lama lingkungan kita semua seperti itu. Betapa indahnya kehidupan kalau sekitar kita seperti itu

Dan coba dibayangkan betapa menyebalkannya jika karena ulah 1 orang, semua orang menjadi dicap buruk. Atau betapa menyedihkannya jika kita menjadi orang yang membuat orang lain jadi dicap buruk

Pada akhirnya prinsip amar ma'ruf nahi mungkar memang paling top untuk masalah ini. Yuk kita sama sama saling mengingatkan untuk berbuat baik dan mencegah keburukan

Saya meminta tolong ke diri saya sendiri dan teman teman semua untuk ketika ingin melakukan suatu hal. Tolong pikirkan efeknya juga ke orang lain. Jangan sampai apa yang kita lakukan justru berdampak buruk untuk orang lain.

Justru! Buatlah apa yang kita lakukan menjadi berkah untuk orang lain. Apa yang kita lakukan, bermanfaat untuk orang lain :). Menyenangkan bukan? jika keberadaan kita, menjadi berkah untuk orang lain :)”

Tulisan ini kubuat setelah mendengarkan kabar yang tidak menyenangkan yang datang dari dapur tetangga. Tak perlu tahu dapur mana dan ngomongin siapa atau pun apa. Namun yang pasti ini adalah teguran untuk semua orang, bukan hanya satu orang, termasuk teguran untuk diriku sendiri.

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
/resultsempowerment.com

Pelangi di Dahlia 5 Sardjito

      


        Mungkin, jaga bangsal bagi beberapa koas adalah hal yang menyebalkan. Namun, koas itu sudah capek jangan dibikin menjadi semakin capek dengan berpikiran negatif, betul?  Jika kita jaga bangsal, anggaplah 36 jam kita akan berada di Rumah Sakit (RS). Masa mau kita 36 jam kerjaannya merengut terus merindukan hangatnya rumah. Di 36 jam RS, kita harus mendapatkan banyak hal membahagiakan, dengan seperti itu, jaga bangsal akan menjadi menyenangkan.

     Hal di atas disebut sebagai reframing pikiran. Hal-hal yang kita pikir buruk, belum tentu benar-benar buruk. Aku pun masih belajar untuk dapat mengaplikasikan ilmu tersebut. Hari ini aku ingin menceritakan pengalaman menyenangkanku selama jaga bangsal. Siapa tau kesenangan ini menular ke pembaca dan pembaca sekalian mendapatkan kebahagiaan.

    Semua berawal ketika aku kedapatan jaga malam minggu. Malam minggu bro, di saat orang lain pergi makan, pergi nonton bola, pergi ngobrol-ngobrol, aku jaga di rumah sakit. Awalnya aku mbatin, kenapa kok aku pilihnya malam minggu (jaga di THT bisa milih mau kapan sesuai kesepakatan kelompok). Pengen libur, pengen main, pengen santai di rumah. Tetapi aku ingat titah dr. Acong saat pembekalan koas “Reframing Pikiran” Hal yang kita anggap buruk, belum tentu benar-benar buruk. Buatlah hal yang kamu anggap buruk, menjadi baik. Jangan mau menyia-nyiakan hidupmu dalam penyesalan, bahagiakanlah dirimu! Kamu bertanggung jawab atas kebahagiaanmu.

     Alhasil setidaknya dua kebahagiaan muncul malam itu. Kebahagiaan pertama alhamdulillah datang sesaat setelah aku berusaha me-reframing pikiran. Tak lama setelah aku bertengger di bangsal THT Dahlia 5 Sardjito, seorang yang kukenal datang membawa beberapa gepok salak. Orang tersebut adalah Mbah Budiman, warga muntilan, keluarga salah satu pasien di bangsal. Beberapa hari sebelumnya, aku dan Vian mengajak ngobrol mbah Budiman yang terlihat tak bisa tidur. Mbah Budiman menceritakan banyak hal, termasuk perjalanan hidupnya yang pernah mengarungi Jakarta.


   Kembali ke bangsal, mbah Budiman pun menyapaku “Malam, Dok!” (Padahal notabenenya aku belum mendapat gelar dokter). Mbah Budiman sangat baik, meningkatkan kepercayaan diri kami para koas. Kalau disebut “Dok” beberapa koas terpacu untuk memberikan yang terbaik untuk pasien, aku salah satunya, semoga kamu juga. Aku pun menjawab “Malam, mbah! Wah baru balik dari Muntilan nih mbah” Mbah Budiman tersenyum. Tak lama kemudian, mbah Budiman menghampiriku “Dok ini ada salak buat dokter” “wah mbah gausah repot-repot mbah” “udah terima aja dok, ini panen sendiri kok” “terima kasih banyak mbah, makasih makasih”

Pelangi di Dahlia 5 Sardjito

     Suatu kehormatan luar biasa diberikan salak segepok oleh keluarga pasien. Salak pun kami bagikan untuk seluruh staff bangsal malam itu. Mbah Budiman memang seorang sosok yang hangat, suka bercerita, senang bercanda, dan murah hati. Semoga keluarga pak Budiman cepat sembuh dan cepat pulang dari bangsal. Sayangnya aku tak dapat mengucapkan “selamat, Mbah! Akhirnya bisa pulang lagi” karena saat mbah Budiman pulang, aku kedapatan tugas di Klaten.

      Kebahagiaan kedua; Dokter Residen THT yang berjaga malam itu sangat seru dan memiliki cerita unik. Beliau punya segudang cerita tentang Medisar (Tim Bantuan Medis FK Univ. Atma Jaya).  Pengalaman beliau menyebrangi dua gedung dengan tali, ikut mencari korban hilang saat banjir, push up lebih dari 30x dengan tas Carrier berisi Aqua 15 kg (1,5 x 10) adalah warna-warni jaga bangsal malam itu.


     Beliau juga murah hati dan sangat total dalam memberikan ilmu, dokter Jessica namanya. Meskipun terlihat capek malem itu, beliau terus-terusan bertanya “ayo ada yang mau ditanyain gak?” dan jawaban beliau selalu lebih lengkap dari apa yang kami tanyakan. Jaga bangsal 12 jam pun menjadi tak terasa, memang betul apa yang kita kira buruk, belum tentu benar-benar buruk.

Pelangi di Dahlia 5 Sardjito

          Beberapa pelajaran selain reframing pikiran;
1. Jangan kurang ajar sama guru. Kalau udah dibaikin, kita sebagai murid jangan seenaknya sendiri. Saling asah asih asuh. Simpelnya saling bantu dan kita menghormati beliau beliau. (Soalnya ada murid yang kurang ajar sama gurunya, padahal gurunya udah baik). Nah guru macam dokter Jessica jangan sampai dikurangajari. Beliau sudah memberikan yang terbaik, kita sebagai murid pun kudu memberi yang terbaik.


2. Perlakukan pasien (dan keluarga pasien) sebagai manusia utuh, selain kebutuhan akan kesembuhan, pasien juga punya pikiran dan perasaan

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
theawakenedlife.wordpress.com
koleksi pribadi

Kisah Unyu di Balik Tirai Bangsal

           

         Di satu malam, para koas semoga saja akan selalu mendapatkan pemandangan ini. Bukan bermaksud mendoakan orang lain untuk sakit, tetapi justru mendoakan orang untuk bersikap positif ketika sakit. Ada sepasang suami istri yang suaminya sakit, sang istri selalu setia menemani. Bahkan di ruang perawatan yang gaada tempat tidur, istrinya rela tidur di lantai dengan karpet, merawat luka dan kebutuhan suaminya. Sang suami yang dioperasi lehernya, tidak bisa tidur dan terus mengecek bekas operasinya. Sang istri pun ikut memerhatikan bekas operasi si suami, ikut-ikutan tidak tidur, sampai akhirnya mereka berdua sama-sama jatuh tertidur. Hatiku membatin “wah hebat sekali sang istri, selain rela merawat si suami, ia selalu tersenyum di depan sang suami” Semoga suaminya juga dapat membahagiakan istrinya. Cepat sembuh dan cepat pulang^^


          Tulisan tersebut saya post di akun line @amgah, lalu ada seorang teman sebut saja @Zakky mengomentari “kemaren gw juga nemu yang bikin baper gah, di balik tirainya, sang istri yang di rawat, sholat berjamaah bareng suaminya, walaupun dengan infus terpasang.”

             Lalu aku membalas “perjuangan beliau beliau luar biasa…”


      @Zakky membalas lagi “menurutku gak cuma perjuangan mereka doang, tapi wujud penghargaan mereka terhadap kondisi apa yang diberi kepada mereka, mereka tetap bersyukur dengan apa yang diberi, ntah itu baik, ntah itu buruk


copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
twinsfam.blogspot.com

Mencari Hikmah di Balik Bayi Makan Peniti

           Kami mendapat telfon dari IGD di suatu dini hari tepatnya pukul 2 pagi. Setelah persiapan singkat, dari bangsal kami langsung meluncur ke IGD. Syur, sampailah kami di IGD. Apa yang kami temui adalah seorang dedek imut berumur 5 tahun, bayi perempuan ini sepintas tak memiliki masalah apapun, aura dedek tenang, senyum-senyum, ketawa-ketawa. Usut punya usut setelah dr. Jessica bertanya pada orang tuanya, ternyata dedek kecil telah memakan sebuah peniti (yang cukup besar). Sayangnya peniti tersebut dimakan dalam keadaan terbuka. Jika digambar akan seperti ini


Bayi Makan Peniti

Dedek….. kenapa penitinya dimakan….

               Namanya bayi kecil, ia memiliki rasa penasaran yang tinggi. Bukan kesalahan si dedek rasanya karena belum mengerti bahwa peniti tidak boleh dimakan. Sayangnya kedua orang tua sedang tidak ada di tempat saat si dedek memakan peniti. Ceritanya salah satu orang tua sedang memakaikan popok si dedek. Namun tiba-tiba ada urusan mendadak yang mengharuskan sang bapak/ibu pergi sebentar meninggalkan si dedek. Setelah kembali dari urusannya, tiba-tiba penitinya hilang dan dicari-cari tidak ketemu, paniklah orang tua dan langsung pergi ke RS.

              Hikmah; hati-hati jangan membiarkan dedek-dedek bermain dengan benda tajam. Tetapi di satu sisi juga jangan menjadi over-protective. Anak-anak perlu meng-eksplor dunia; Ketika dewasa, anak-anak yang tidak diperhatikan akan menjadi anak yang tidak pedulian dan anak-anak yang terlalu diperhatikan akan menjadi anak yang cemasan. Jika tidak diperhatikan, peniti bisa dimakan. Jika terlalu diperhatikan, hanya memegang peniti bisa gemetaran. Segala sesuatu sebaiknya cukup, tidak kekurangan dan juga tidak berlebihan.

copyright to amgah.blogspot.com

Dilema Sosial Tenaga Kesehatan; Buah Simalakama


              Suatu hari aku mendapat seorang pasien IGD, sebut saja pak X. Pak X datang di malam hari mengeluhkan nyeri yang amat sangat. Ternyata tak hanya nyeri telinga yang ia keluhkan, tapi juga nyeri kepala yang tak tertahankan. Jika tidak minum anti-nyeri, ia menskor nyerinya 10 dari 10 (paling sakit). Ketika minum obat, nyerinya menjadi 4 atau 5 dari 10. Usut punya usut ternyata terdapat sekret di telinga kirinya yang ia keluhkan sakit.
                Dulu, pak X pernah mengeluarkan sekret darah dan nanah dari telinga kiri, tetapi sudah seminggu ini tidak pernah lagi mengeluarkan sekret telinga. Ketika kami coba periksa gendang telinga, pandangan kami tertutup oleh sekret. Alhasil dokter Jessica melakukan aural toilet (membersihkan liang telinga), setelah itu liang telinga menjadi bersih dan gendang telinga dapat dinilai. Gendang telinganya masih bagus, jika digambar kira-kira seperti ini;

Gendang Telinga

Tentu saja gambar ini sangat tidak ideal ya, dibuat dengan touchpad laptop yang notabenenya susah diatur. Masalah pak X ternyata terdapat di liang telinganya, setelah dibersihkan tampak liang telinga agak kemerahan dan membengkak, ciri khas dari adanya inflamasi di liang telinga. Bahasa medisnya Otitis Eksterna Difusa (OED). Dokter Jess memberikan edukasi ke pak X mengenai OEDnya; penyebab, proses perjalanan penyakit, pengobatan, dan informasi-informasi lain yang diperlukan. Telinga pak X pun berkurang nyerinya.
Namun, masalah tak berhenti di situ. Selama proses pemeriksaan THT, kami ber-3 (dr. Jess, aku, dan aldo) menggali satu permasalahan lain. Nyeri kepala pak X yang sangat menyakitkan ternyata berasal dari suatu tumor di kepala. Pak X memiliki tumor kepala yang namanya makroadenoma hipofisis (kata dokter residen saraf di IGD). Letak tumor pak X berada di tengah-tengah jalur saraf penglihatan. Jika digambar akan seperti ini

     
Makroadenoma Hipofisis
Letak tumor tersebut sangat berbahaya untuk fungsi penglihatan. Ketika ditanya, pak X sebenarnya sudah 16 hari dirawat di Rumah Sakit akibat tumor otaknya, pak X disarankan untuk operasi tetapi masih belum siap. Kami pun bertanya kenapa pak X belum siap. Pak X menjawab
          “Dek, saya takut buta. Kata dokter, kalau dioperasi ada risiko saya bisa buta”
          “Tapi pak, tumornya terletak di tengah-tengah saraf mata ke otak, kalau membesar dan tidak dioperasipun bapak punya risiko kebutaan”
          “Iya dek, saya juga sudah dikasih tau sama dokter. Saya juga bingung, kalau tidak dioperasi saya bisa buta. Kalau dioperasi pun saya juga bisa buta. Saya gakboleh buta dek, saya masih punya tanggungan 2 anak. Kalau saya buta, anak saya makan apa dek. Anak saya masih kecil-kecil, mereka masih sangat bergantung sama saya”

          Permasalahan-permasalahan buah simalakama ini akan terus ditemui oleh tenaga kesehatan. Apa yang bisa kita lakukan?

copyright to amgah.blogspot.com

26 Maret 2016

Makna Kesia-siaan dan Ikhlas

Disadur dari akun line @amgah

“Renungan siang

2 hari ini ada ada aja yang "sia-sia". Pergi ke tempat X eh ternyata masih tutup. Atau pergi ke tempat Y tiba tiba orang yang ditemui lagi gak ada. Tapi poin pentingnya bukan kesia-siaan, melainkan bagaimana me-"reframing" pikiran

Manusia secara alami akan kecewa ketika apa yang dilakukannya berakhir sia-sia. Namun ada 1 pembelajaran hidup yang sebaiknya selalu diingat bahwa sebenarnya tidak ada kesiasiaan dalam hidup ini jika memang kita yang melakukan memiliki sebuah niat. Siasia hanya untuk orang orang yang bertindak tanpa niat.

Lalu bagaimana jika apa yang kita sudah perjuangkan, membuahkan hasil tidak seperti yang kita inginkan? Ada banyak ilmu di luar sana yang mengajarkan banyak  hal. Lalu tinggal manusianya yang menyerap, menerapkan, dan mencoba melawan dirinya sendiri yang secara alamiah ingin kalah, ingin kecewa, ingin sedih.


Contoh ilmunya; "boleh jadi apa yang kamu anggap baik belum tentu baik menurut Allah dan boleh jadi apa yang kamu anggap buruk belum tentu buruk menurut Allah. Allah Maha Mengetahui sedangkan kamu tidak" "Manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan usahanya" "Segala sesuatu berasal dari niat" "doa seorang manusia dapat dijawab Tuhan melalui beberapa cara; langsung mengabulkannya, menundanya hingga waktu yang tepat, menggantinya dengan yang lebih baik, dikumpulkan kebaikan doanya untuk akhirat"

Ada banyak kemungkinan dan segala sesuatu berasal dari niat. Jika memang hasilnya tidak seperti apa yang kita inginkan. Ilmu ilmu di atas dapat menjadi refleksi diri dan salah satu referensi untuk belajar ikhlas. Reframing pikiran yang baik; segala sesuatu yang menurut kita buruk, belum tentu sebenarnya buruk


#salamlegowo”

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
-http://deeporigins-deeporiginsllc.netdna-ssl.com/

Jangan "Hanya" Koas


Refleksi ini aku buat sebelum nanti aku jaga malam, jaga ketigaku. Pagi-sore libur *yeay* pseudo-libur (libur semu) karena aku harus merapel urusan-urusan yang tidak bisa aku urus karena koas. Urusan memperbaiki simcard handphone yang rusak, pergi mencari tukang jahit untuk memperbaiki jas koas, mencari bahan makanan untuk bulan depan, menata jadwal, refleksi mingguan, yang semua berujung pada “untuk apa aku hidup di dunia ini”.

Sebagai manusia hendaknya terus meningkatkan kualitas diri. Koas bukan berarti kita menghentikan semua aktivitas lain dan hanya berpangku pada koas. Koas juga bukan berarti kita belajar full, ada kalanya kita bermain, refreshing, memanjakan diri. Koas yang baik koas yang seimbang antara me-time, kedokteran time, dan others time. Others? Tergantung kamu mau melakukan apa. Hobi / Mencari Uang / Belajar Agama, apapun boleh selama seimbang dengan kebutuhan yang lain a.k.a me-time dan kedokteran.


Mengapa harus menambah others time? Sepertinya ini untuk konsumsi renungan pribadi masing-masing. Ada beberapa pertanyaan pemantik; Mengapa kita harus menambah waktu lain, padahal koas sudah cukup melelahkan? Untuk apa aku hidup di dunia ini? Aku (Namamu), Usia (Umurmu), selama (umurmu) tahun di dunia ini, apa yang sudah kuberikan untuk orang lain? Untuk Tuhanku? Untuk sekitarku?


Ayo kita cari kegiatan bermanfaat :D!!!


copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
- http://www.masoncontractors.org/
- http://magazine.pepperdine.edu/