29 Juni 2016

Koas: Gandengan Tangan atau Suram


Artikel ini bukan menyuruh koas untuk pacaran. Kalau tidak pacaran maka koas menjadi suram. bukan, bukan itu. 

Kerja sama adalah hal mutlak dalam dunia perkoasan, namun kemampuan ini kadang diabaikan. Kepiawaian dalam memainkan kerja samalah yang menentukan dunia perkoasan menjadi menyenangkan atau suram. Kerja sama bagus, koas untung, kerja sama jelek, koas buntung. Neglected yet important, very important.
                Koas berbeda dari dunia persarjanaan ketika mengejar S.Ked, para calon dokter dapat saja survive tanpa orang lain. Tetapi di koas, survive sih survive tapi nyusahin kelompok dan warga sekitar. Aku cukup beruntung berada di tim koas yang dapat bekerja sama, jadi aku contohkan saja hal-hal terburuk yang dapat terjadi jika tidak pandai bergandeng tangan.
Contoh pertama (contoh kecil), ada sebuah tugas kelompok dimana harus dikerjakan oleh belasan orang. Tugas yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh hanya 5 orang harus dikerjakan >10 orang. Otomatis kemungkinan gabut (gaji buta/tidak kerja) sangat tinggi. Perlu otak kreatif agar semua orang dapat bekerja secara adil.
Jika gagal bekerja sama, banyak orang yang gabut
Contoh kedua; dapat tugas yang berat secara fisik atau secara mental. Bagaimana caranya agar tugas berat itu dapat dipotong-potong menjadi tugas yang kecil-kecil, sehingga beban dari tugas pun terfragmen-fragmen. Kadang hal ini sulit dilakukan sehingga tugas yang berat ya tetap menjadi berat.
Jika tidak mengerti bahwa kerjaan dapat dipecah-pecah, kerjaan yang ada akan selalu berat. Minimal meringankan beban kerja adalah bercanda sesuai porsi dan situasi. Jika bekerja dengan hati yang nyaman dan senang, berat pun terasa ringan. Lagi-lagi, kerja sama adalah penentu, kerja sama untuk sama-sama membuat senyum.
Contoh ketiga; manusia berasal dari keluarga yang berbeda, budaya yang berbeda, dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan itu dapat prominen tapi dapat juga dangkal. Jika prominen, satu dengan yang lain dapat berseteru, bagaimana agar perseteruan dapat menjadi dingin atau minimal kerjaan dapat diselesaikan secara profesional, semua itu butuh kerja sama.
Jika gagal bekerja sama, minimal satu sama lain gondok-gondokan. Atau kena marah dokter, atau paling buruk kerjaan tidak selesai dan menimbulkan efek yang kita semua sama-sama tidak ingin tahu. Banyak contoh lain tentang bagaimana kerja sama memerankan peran penting yang dapat dirasakan ketika koas nanti.
Koas secara internal berarti kamu-doktermu-dan kelompokmu. Triad komunikasi itu perlu dipegang amat sangat karena jika satu terputus akan menyusahkan.  Jika kerja sama antar ke-3 hal tersebut berjalan apik, seberat apa pun koas akan terasa menyenangkan. Kebahagiaan akan mengundang kebahagiaan yang lain. Kepanikan akan mengundang kepanikan yang lain. Senyum akan mengundang senyum yang lain

-Pernah bertemu orang yang senyumnya manis? Jadi pengen ikut senyum juga kan? :) – (buat koas FK UGM yang sudah bertemu ...., pasti mengerti)


                Sekarang bagaimana caranya melatih kerja sama? Aku pun tak begitu ahli, masih perlu belajar banyak. Tapi, akan kubagikan satu tips. Memang ada teori-teori dasar perihal cara untuk bekerja sama, tapi teori berbeda dari praktik. Terkadang ketika menjalankan teori tersebut, kita menemui kesulitan yang bahkan google pun tak punya jawaban. Itulah pelajaran kehidupan.
Pelajaran kehidupan, pelajaran yang tidak ada di buku tapi ada di depan mata, dilakukan, bukan dibaca. Pelajaran yang hanya akan muncul untuk orang-orang yang mencari. Pelajaran yang SKSnya ada tapi kadang tidak diambil. Pelajaran yang penting tapi kadang dikubur hidup-hidup oleh hingar-bingar cumlaude atau nilai akhir.
Saya ketika menyeleksi orang yang mau masuk ke dalam tim, pernah menemui orang yang nilainya sangat tinggi tapi ketika diajak kerja sama, sulitnya minta ampun. Buat apa memiliki istri yang cantik, tapi tidak bisa berkomunikasi dengan dia, 11-12 dengan tidak punya istri bukan. Atau memiliki mobil yang mewah tapi tak bisa dijalankan, mending punya sepeda tapi bisa sampai tujuan.
Satu tips untuk melatih kerja sama adalah bersosialisasi yang menuntut untuk menyelesaikan suatu pekerjaan; kepanitiaan, organisasi, apapun asal ada kerjaan yang harus dilakukan. Bersosialisasi tanpa kerjaan akan melatih kerja sama dalam hal personal (hubungan untuk bermain), tetapi tidak akan melatih kerja sama dalam hal profesional (hubungan untuk menyelesaikan suatu kerjaan). Ada orang yang enak diajak main bareng, tetapi tidak enak diajak kerja sama untuk kerja dan vice versa. Latihlah kerja sama yang sama-sama enak buat diajak main dan diajak kerja.
Semakin sering mendapat kasus nyata, semakin lihai kepiawaian dalam kerja sama. Orang yang tidak ikut organisasi pun dapat saja pandai dalam kerja sama. Loh? Karena dia sudah mendapat ilmu bekerja sama di keluarganya. Tapi kalau kita tidak punya itu, carilah ladang ilmu kerja sama di panitia atau organisasi atau apa pun. Banyak ladang ilmu yang menyediakan SKS kerja sama, tinggal masalah mau atau tidak mau.
Semoga tulisan ini dapat menginspirasi pembaca, karena saya cukup prihatin akan tergerusnya nilai ini. Banyak orang dan orang tua yang hanya mementingkan nilai dan mengesampingkan pelajaran hidup. Padahal keduanya harus berjalan beriringan seperti suami dan istri. Mungkin saya pribadi juga termasuk orang yang sulit bekerja sama, tetapi yang penting tetap berusaha untuk belajar dan mengambil SKS bekerja sama di berbagai tempat.
Selamat bekerja sama, semoga kehidupanmu menyenangkan

“Kebahagiaan mengundang kebahagiaan lainnya, tawa mengundang tawa lainnya, senyum mengundang senyum lainnya. Tersenyumlah” :)

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
http://www.ummiindonesia.com/
http://static.kidspot.com.au/

11 Juni 2016

Koas Kulit FK UGM



Detik-detik ketika aku mau masuk kulit, semua kakak mingguku bilang koas kulit itu nyantai. Namun, ketika aku sudah kecemplung, ingin sekali kubilang santai dari Hong Kong. Langsung aku konfirmasi dengan teman dekatku dan mereka semua bilang. ritme di kulit itu cepat. Kalau mau koas kulit lancar, tenang seperti di pantai, kamu perlu tahu trik-triknya. Secara umum kulit itu menyenangkan, tidak terlalu capek, residennya baik-baik, dan konsulennya juga baik.
Kali ini aku menjadi Chief Stase, Chief adalah orang yang bertugas mengurusi segala tetek-bengek teknis stase koas yang sedang dijalani. Di kulit itu jadwal serba manual, kamu diberikan sebuah misi harus menghubungi dosen A, B, C, D lalu kamu harus membuat jadwal sendiri dengan beliau-beliau. Kalau kelompokmu mendapat dosen yang tidak terlalu sibuk, atau memiliki jadwal yang tetap, kamu beruntung. Tetapi jika kamu mendapat dosen yang sibuk atau yang memiliki jadwal serba mendadak, kamu perlu berdansa dalam alunan pesan pendek/WhatsApp.
Ketika aku mulai menghubungi dan menyusun jadwal, otakku cukup berputar keras karena aku hanya memiliki waktu 3 hari kerja untuk menyelesaikan tugas minggu pertama sebagai Chief. Pada umumnya adalah 5 hari kerja, tetapi saat itu ada libur 2 hari. Waktu 3 hari kerja itu harus diisi oleh berbagai macam hal yang bukan main-main; Kuliah ada 4x, Bimbingan Residen 1x, BST Bangsal 1x, Pertemuan DPK 1x, Skillslab 1x, Bimbingan ketua SMF 1x, Bimbingan Admin 1x. Itu semua jadwalnya belum ada yang pasti, kamu harus menghubungi semua pengampuh satu demi satu.\

Aku bilang waktu 3 hari itu nekat ibarat kamu dikerjar Anjing, 5 hari cukuplah seperti kamu berjalan bersama orang tersayang. Ngos-ngosan di minggu pertama diperparah kalau ada dokter yang ternyata hanya dapat memberikan kuliah di waktu yang bersamaan dengan jadwal dosen lain. Contoh, dosen A hanya bisa jumat pukul 13.00, padahal dosen B sudah janjian dari kemarin bahwa jadwal beliau jumat pukul 13.00. Chief kulit dituntut untuk pandai meramu, meramu jadwal minggu pertama.
Satu kelompok sedang berisikan 13 orang akan dibagi menjadi 3 kelompok kecil berisikan 4-5 orang. Satu kelompok kecil memiliki 1 Dosen Pembimbing Klinis (DPK). Seorang DPK akan membimbing kelompok kecil dan memberikan kuliah pada kelompok sedang. Tips kegiatan minggu pertama;
  1. Bimbingan Admin – Pak Harto. Pak Harto ini admin yang sangat baik karena ngemong anak koasnya. Sebisa mungkin selesai kulit ya selesai tanpa hutang. Hubungi beliau di hari kamis atau jumat sebelum hari pertama masuk kulit (senin). Kemungkinan bimbingan dengan pak Harto hari senin pagi di hari pertama.
  2. Bimbingan kepala Departemen Kulit – dr. Fajar Waskito -> beliau baik banget, sangat ramah, dan dari perangainya terlihat tegas. Hubungi beliau langsung di ruang kepala departemen atau hubungi admin kulit (pak Harto)
  3. Bimbingan Kodik – dr. Mira -> beliau juga baik banget, sangat perhatian terhadap koasnya seperti pak Harto, ngemong koas dan kalau ngajar sangat enak dan dapat ilmunya
  4. Kuliah DPK 1 – dr.? -> berbeda-beda tiap kelompok, komunikasilah sesuai dengan beliaunya, tanya pak Harto apa yang perlu dilakukan
  5. Kuliah DPK 2 dan 3 – dr. ? -> sama seperti kuliah DPK 1
  6.  Kuliah Kodik – dr. Mira -> berbeda dengan bimbingan kodik, kuliah berisikan materi akademik. Hubungi dr. Mira beliau dapat mengampuh kapan, kalau bisa ketemu langsung dulu baru menghubungi via WA
  7. Skillslab dengan bu Ning – Orangnya baik, kalau ditanya akan menjawab dengan sabar. Temui beliau di ruang laboratorium di poli kulit. Skillslab biasanya mengambil waktu istirahat 12.20 – 12.50 atau 13.00
  8.  BST Bangsal – dr. Sri Awalia -> beliau orangnya juga baik. Namun, perlu diingat bahwa jika pagi dan siang belum dapat menemui dr. Lia di kantor beliau, hubungilah dr.Lia melalui SMS. Minta no.Hp ke pak Harto lalu hubungi beliau terkait jadwal BST Bangsal
  9. Bimbingan residen – beberapa kakak minggu bilang bimbingan residen ini gak wajib. Tapi salah satu konsulen bilang ini wajib. Tidak salahnya toh menimba ilmu, hubungi residen yang ada di dalam kertas undangan DPK Kecil (nanti tahu sendiri kertas mana setelah bimbingan admin).


Nah, itulah 9 hal wajib yang seharusnya bisa diselesaikan di minggu pertama. Sedangkan ada 1 kegiatan lagi yang kalau bisa di minggu pertama sangat bagus, yaitu DST Poli. DST poli ini cukup ribet dijelaskan dan berbeda-beda tiap konsulen, intinya yang kamu perlukan adalah 1 kasus, ilmu kasus tersebut, dan lembar status dari kasus tersebut yang kamu buat sendiri.
                Sekian info mengenai koas kulit kelamin atau Dermato-Venereology (DV) FK UGM. Koas itu dinikmatin aja ibarat sungai mengalir, musik menari, main bola berlari, gausah dipusingin, gausah dibuat ribet. Ikuti, jalani, lakukan yang terbaik, dan jangan lupa untuk selalu beribadah dan berdoa.
                Sampai jumpa di artikel koas kulit berikutnya! Alhamdulillah kulit berakhir menyenangkan dan lancar jaya..

#salamlegowo

Legowo itu Sehat
copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
comments20.com
blogger.com

29 Mei 2016

Koas Banyumas FK UGM

Hai! Sudah lama kita tak bertemu di ruang semu. Detik-detik dimana jari ini sedang mengetik adalah detik-detik menjelang Real Madrid vs Atletico Madrid. 00:40 tepatnya, 1/3 malam paruh kedua, 1/3 malam si pengapit. Berdiri di dalam pikiranku sebuah ide tentang Banyumas dan segala cerita di dalamnya.
                Semua berawal dari tangan mbak Ning, sang Admin Koas Mata. Mbak Ninglah yang membawa nasib dua orang bernama Amgah dan Vian ke Banyumas. Rumah Sakit jejaring paling jauh kedua setelah Cilacap (Pati tidak masuk hitungan). Momok bagi orang-orang yang ingin berada di sekitar Jogja. Momok bagi kami yang belum pernah ke sana.
                Namun, mari kita putar balikkan layar laptop. Banyumas berarti petualangan baru, Banyumas berarti cerita baru. Aku dan Vian akhirnya menentukan mobil pribadi sebagai moda angkutan kami, harapannya di sana nanti bisa jalan-jalan pribadi juga. Berangkat hampir maghrib, dengan harapan sampai di Banyumas sekitar jam 20.00
                Pepatah memang benar, acapkali kenyataan tak sesuai dengan harapan. Alih-alih pukul 20.00 kami baru sampai pukul 21.30. Sebenarnya kami tak terlalu memasalahkan hal itu, tapi yang kami salahkan adalah jalan yang kami ambil adalah jalan yang salah!. Jalan yang kami lalui mendaik tak manusiawi benar-benar 60 derajat tanpa belokan ke kanan atau ke kiri, lurus plek lurus. Sekalinya menurun kami harus melewati hutan belantara, sekalipun rumah, pastilah gelap gulita. Saran kami untuk kalian, di ujung perjalanan janganlah ikuti G**gle Maps/W*ze, ikutilah papan jalan! Dan belok kananlah di perempatan besar.
                Puji syukur Alhamdulillah kami tetap sampai ke tujuan tanpa kurang sedikitpun. Tibalah kami di lembaran baru buku Banyumas, tempat hal-hal menyenangkan akan lahir cukup bulan. Kebahagiaan pertama kami adalah bapak X. Bapak X ini menurut kami adalah seorang pegiat, karena setiap pagi pukul 6.00 pasti dia sudah mengetuk pintu kos kami
                “Tok, tok, tok, pagi mas sarapan mas ada nasi uduk dan nasi rames”
                Perut pun menjawab “Pak kami beli 6 bungkus”
                Tapi otak dan mulut masih sinkronisasi “1 orang beli 1 bungkus pak, tambah lauk 2 ya”
                Bapak X menjawab “baik dek, totalnya 5500 ya”
                Dompet kaget tersentak “5500?? Bahagialah di sini”
                Jangan salah meskipun murah, masakan si bapak ini bersih higienis dan porsinya cukup tidak kurang. Tulisan ini dapat dibuktikan dari konsistensi feses kami yang tidak encer dan masih padat. Tidak seperti makan di *piip* begitu pulang aku dan vian langsung…
                “Yan, kamu sakit perut gak? Kok aku mules ya”
                “Lah kamu juga gah? Aku juga”
                “cus…….” Hati-hati memilih makanan di Banyumas, tapi tak masalah kalau sudah terbiasa
                Kebahagiaan kedua kami berasal dari Rumah Sakit Banyumas itu sendiri, tepatnya staff dan keajaiban Tuhan yang membawa dokter Dora sebagai residen pembimbing kami. Dokter Dora, dr. Yusuf, dr. Ovi, dan dr. Dian adalah orang yang baik dan menyenangkan. Jika mencari ilmu, kami paling dapat dari dr. Dora. Jika mencari obrolan asik, carilah dr. Ovi (beliau konsulen ya). Sehari-hari poli kami pun berjalan santai dan nyaman, otomatis semangat menemani setiap hari.
                Kebahagiaan ketiga kami datang dari jalan-jalan pribadi, kini harapan dan kenyataan ternyata akur. Setelah mendapat rekomendasi dari dr.Dora yang hobi melancong, kami langsung berangkat ke purwokerto. Tempat-tempat yang wajib kalian jamahi versi on the AmgahVian adalah soto sokaraja dan es Duren depan Gor Satria. Selain itu kalian dapat membeli getuk goring sebagai oleh-oleh khas BMS (panggilan sayang koas untuk Banyumas).
                Selain tiga kebahagian tersebut, kami pun juga mendapat cerita lucu. Ada saja pasien yang nyasar ke poli kami. Tidak sekali, tapi dua kali.
                “Baik dengan Ibu X, ibu X ada keluhan apa bu?”
                “Iniloh dok, saya kesemutan dok”
                “Matanya kesemutan bu?”
                “Enggak dok, kaki saya kesemutan, saya juga bingung kok sama dokter saya dirujuk ke poli mata ya dok. Apa kesemutan di kaki saya bisa sampe ke mata ya dok?
                Saya hanya bisa menjawab “Yaudah gini bu, daripada ibu rugi udah ngantri lama, kita periksa mata dulu aja ya bu ya”
                Nyasar yang kedua giliran teman saya Vian yang kena
                (Dengan bahasa Jawa yang saya masih belum bisa) “Ada keluhan apa pak ke sini?”
                “Ini loh dok, boyok (pinggul/low back pain) saya sakit”
                “lah keluhan mata pak maksudnya”
                “ooh mata, apa ya dok…”
                *Vian cek rekam medis* “Wah pak, bapak harusnya ke poli kulit di sebalah poli mata. Kok jadi ke poli mata pak”
                “Wah salah ya dok”
                Selain cerita menyenangkan, sebenarnya BMS menyimpan cerita horror. Sayangnya saya tidak mendapat pengalaman horror di sini. Namun yang saya rasakan benar terjadi adalah koas anak di BMS cukup horror, horror karena beban kerjanya. Jangankan poli anak, poli mata yang normalnya hanya sampai pukul 12-13, di BMS kami baru selesai pukul 14-15.
                Tapi setelah saya menjalani poli kulit di RS X yang beban kerjanya sangat ringan, percayalah lebih enak mendapat koas dengan beban kerja sangat berat (daripada sangat ringan). Kalau beban kerja sangat ringan, ilmumu sedikit, jam kerja nanggung (mau belajar gakbisa, mau main gakbisa, mau dapet pengalaman pun juga gakbisa, kamu Cuma bengong menunggu mainan hp). Koas sangat berat meskipun capeknya minta ampun, kita mendapat ilmu dan capek yang kita rasakan capek hasil hal bermanfaat.
Lalu menurutku, koas di luar kota lebih menyenangkan daripada dalam kota. Di luar kota kita akan merasuki dunia baru dan meninggalkan dunia lama. Ibarat alice in the wonderland yang masuk ke dunia pohon dan menjadi ciut bertemu kucing misterius atau pun kelinci jam weker. Namun tetap, semuanya ada positif dan negatif, tinggal bagaimana kita menyesuaikan dan menerima apa yang kita dapat.
                Sebagai penutup ini kubagikan tips untuk para koas atau pun pelancong yang ingin ke BMS.
  • 1.       Transportasi; pilihlah 1 di antara 2 pilihan; Travel Efisiensi / Mobil Pribadi. Wah harusnya saya dapat insentif karna sudah mempromosikan efisiensi
  • 2.       Akomodasi; pilihlah kosan pak Basiran, cari kamar di blok B atau C. Karena dekat dengan dapur umum dan ada WiFinya
  • 3.       Hari pertama masuk pukul 7.00, carilah satpam di depan pintu masuk (bukan pintu/palang parkir). Lalu ikuti titah pak satpam. Makanlah di kantin Neu dan Sarapanlah di bapak2 yang datang ke kosan pagi-pagi 
  • 4.       Jika membawa mobil pribadi, jalan-jalanlah ke sokaraja dan purwokerto. Aku entah mengapa tersihir oleh PWT (panggilan sayang koas untuk Purwokerto). PWT membuatku ingin menunjunginya berkali-kali karna selalu ada hal unik di pojok-pojok jalanan
  • 5.       Siapkanlah jiwa berpetualang lalu berpetualanglah. Apapun yang terjadi, secapekapapun itu, nikmatilah.



copyright to amgah.blogspot.com

06 Mei 2016

Koas Mata di FK UGM

15 April 2016, stase THT resmi berakhir. Senang karena telah rampung 1 stase, senang karena semakin dekat dengan kelulusan, senang THT dapat berakhir bahagia. Yeyeyeyeyey akhirnya selesai juga. Namun di saat yang sama, tiba-tiba rindu datang bersama langkah kaki yang menjauhi THT.
                Mata adala stase ke-2ku setelah THT. Jadwal kelompokku adalah jadwal yang terbilang “unik”. Stase-stase kecil (stase 4 minggu) ditaruh di awal, lalu stase besar (10 minggu) semua berderet di akhir. Pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian sama sekali tidak dapat diterapkan pada kasus kami. Peribahasa kami adalah bersenang-senang dahulu lalu berenang tergopoh-gopoh kemudian.
Sekarang kita akan masuk ke dalam dunia mata, dunia yang terdiri dari sebuah bola dengan berbagai macam struktur di dalamnya. Tahukah kamu bahwa salah satu struktur di mata bernama iris, iris merupakan bahasa latin yang berarti pelangi. Apakah Jamrud ketika membuat lagu pelangi di matamu dia belajar kedokteran? Mungkin saja.
Menurutku, mata adalah hal yang rumit karena strukturnya kecil-kecil. Tetapi orang lain justru menyukai mata karena strukturnya kecil-kecil. Mata yang merupakan sebuah bola itu, isinya sangat beragam; konjungtiva, sklera, kornea, COA, iris, koroid, dan masih banyak lagi. Banyak bukan? Padahal ukurannya menyerupai bola tenis. Coba dibayangkan bola itu diisi oleh berbagai macam struktur, strukturnya sudah pasti lebih kecil dari bolanya. Operasi mata pun menggunakan mikroskop. Benang jahit mata pun berukuran 10/0 ibarat rambut dibelah 10.
                Hal pertama yang dilakukan oleh seorang koas mata adalah bimbingan dengan mbak Ning. Mbak Ning akan menjelaskan tetek bengek tanda tangan yang harus kita isi agar dapat lulus di bagian mata. Satu hal yang aku soroti adalah jumlah LoC. Level of Competency (LoC) adalah hal-hal yang harus dikuasai seorang calon dokter umum agar dapat lulus menjadi dokter yang baik. Contoh; di THT ada LoC memasang tampon, melihat liang telinga dengan otoskop, dan lain-lain, di mata ada kompetensi melakukan A,B,C,D. Kenapa aku soroti? Di THT LoC berjumlah 87, di Mata LoC berjumlah 167! Dua kali THT!! Padahal ini mata, sedangkan THT-KL itu; Telinga-Hidung-Tenggorokan-Kepala-dan-Leher. MasyaAllah mata….
                Singkat cerita, setelah menenangkan diri melihat jumlah LoC bagian mata, kami beranjak ke hari pertama mata.  Ruang poli mata bisa dibilang 2-3 kali lebih luas dibanding poli THT. Ruang koas pun ada khusus, berbeda dengan poli THT yang masih nebeng ruang lain. Meskipun sempit, di THT interaksi koas-residen lebih intens dibanding di mata. Paragraf ini aku dedikasikan khusus untuk orang-orang yang masih belum move on dari THT.

Koas Mata di FK UGM

                Jika sudah move on, koas mata itu secara umum menyenangkan. Residennya baik-baik, beberapa sangat baik karena hobi memberikan ilmu ke koasnya. Konsulennya juga baik-baik, beberapa sangat baik karena hobi membuat koasnya cerdas. Stafnya baik-baik, beberapa sangat baik karena sabar menjawab pertanyaan koas.  Satu tips untuk koas mata! carilah residen, konsulen, dan staf yang sangat baik tersebut. Yang baik banyak, tapi yang sangat baik juga banyak
Beban kerja di mata juga cukup baik, kecuali di poli VR dan poli Visus. Jika kedapatan poli VR dan poli visus, aku sarankan kalian untuk tetap tersenyum dan mengingat hal yang membahagiakan. Absen pagi maksimal pukul 7.45, lalu menunggu poli buka sekitar pukul 9, jaga poli hingga pukul 16. Setelah pukul 16 pilihannya hanya dua; pulang atau jaga bangsal. Jaga bangsal di mata tidak 24 jam, jaga bangsal hanya sampai pukul 20, kadang bisa pulang lebih cepat. Menyenangkan bukan?
Aku ingin menggarisbawahi satu kata – Menyenangkan – karena pada kenyataannya masih ada saja yang kurang ajar. Jadwal koas mata yang baik itu masih dinodai oleh perilaku beberapa koas kurang ajar, koas yang meninggalkan tanggung jawabnya di poli mata. Aku pernah satu waktu jaga poli A bersama si X, poli sudah dimulai namun X tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sampai akhirnya poli selesai barulah si X muncul meminta tanda tangan residennya. Kurang ajar bukan?
Koas Mata di FK UGM

Mungkin saja aku berpikir “Kurang ajar si X ninggalin gue sendirian, emang dikira jaga poli A gak capek apa” Tapi coba kita balik pikiran menjadi yang lebih menyenangkan “alhamdulillah poli selesai juga, dapet pasien yang variatif, dapet ilmu, memenuhi tanggung jawab. Semoga si X diampuni segala dosanya dan walaupun kabur dia masih ngerti kasus mata, karena kalau dia gak ngerti, kasian pasiennya.”
- Insert – Quote dr. Arief Purnanta Sp.THT-KL “Kalian ini adalah orang-orang yang bakal ngerawat saya ketika saya nanti sakit. Kalo kalian bodoh lah aku piye nanti?” | “Dek, pasien itu datang ke kalian dengan menyerahkan nyawanya. Kalo kalian bodoh bagaimana kalian mau nerima nyawa pasien itu?” 
                Setelah membahas koas kurang ajar, yuk sekarang kita bahas satu per satu poli mata Sardjito. Sardjito merupakan rumah sakit rujukan nasional yang menerapkan sistem sub-spesialistik sehingga di mata pun polinya dibagi-bagi berdasarkan sub-spealisnya. Setidaknya ada 9 poli; 1. Visus, 2. External Eye Disorder/Disease (EED) 3. Refraksi 4. Pediatric Opthalmology PO) 5. Tumor 6. Uvea Lensa (UvLens) 7. Glaukoma 8. VitroRetina (VR) 9. Neuro-Opthalmology (NO). Koas akan digilir dan jadwalnya ditentukan oleh chief koas stase mata.
                Poli pertamaku adalah poli refraksi. Di sini kamu harus pro-aktif bertanya sekaligus observasi. Bedakan observasi aktif dan observasi pasif. Jika pasif hanyalah melihat gak ngerti ya bodo amat. Aktif berarti melihat, mencoba memosisikan, dan bertanya/mencatat yang belum dimengerti. Mengapa harus aktif karena di sini kita dapat lebih mengerti tentang koreksi kaca mata. Di poli ini pula aku merasa kacamataku sepertinya perlu dikoreksi ulang. Dokter yang recommended di poli ini adalah dr. Nike.
Koas Mata di FK UGM

                Poli kedua adalah PO, banyak anak-anak imut lucu gemesin, tapi banyak juga anak yang kasian karena kena musibah penyakit. Sayangnya dan untungnya pas aku dapat PO, ruangan PO digabung dengan tumor. Jadi aku bingung mana pasien PO mana pasien tumor. Di PO ini aku banyak diajari oleh dr. Reny dan dr. Arya, top markotop lah mereka berdua. Di akhir poli, kami diajarkan lebih banyak tentang slitlamp oleh dr. Arya. Kata temenku, dr. Arya itu surga banget karena suka ngajarin.
                Poli ketigaku, poli tumor. Karena kemarin PO digabung sama tumor, dokter di poli tumor pun heran. Dengan nada bercanda dr. Ara bertanya “dek kok kamu jaga di sini lagi?” Ya itulah dr. Irene (panggilannya dr. Ara). Dokter di poli tumor asik-asik dan suka ngajar. Dr. Ara suka bercanda, dr. Andre lebih kalem tapi kalau ditanya akan menjawab secara lengkap dan tulus, dr. Ni Luh dan dr. Shab sama seperti dr. Andre. Aku suka jaga di tumor, namun sayangnya kasus dokter umum jarang di sana, kasusnya biasanya sudah spesialistik.
                Poli ke-empat, Uvea Lensa, hanya bersebelahan dengan poli tumor. Aku yang hobi jalan-jalan dan usilin poli sebelah, akhirnya suka main ke poli tumor. Sampai dokter Ara nanya lagi “dek, kok kamu di sini terus sih? Koas tuh harus muter” terus ngomong ke dr. Shab “Shab, kok koas kita gak berubah berubah ya” Aku pun tertawa cekikan. Plus sebelumnya, aku tidak sengaja bertemu dr. Ara di toko alat kesehatan, nampaknya ia bosan bertemu denganku.
                Di Uvlens, kamu akan sering menemui kasus katarak. Di hari aku jaga, hampir 80% kasus semuanya katarak. Di sini dokternya juga baik-baik dan hobi ngajarin. Dokter yang paling aktif ngajarin koasnya adalah dr. Okta. Kebetulan pas aku jaga Uvlens bertepatan dengan hari kartini. Semua orang yang ke Uvlens baik cowok atau cewek mengomentari dr. Okta, et causa cantik dan anggun. Selain dr. Okta ada dr. Mila, beliau kalau ditanyain juga menjawab dengan lengkap dan baik.
                
Koas Mata di FK UGM


            Selanjutnya adalah glaukoma, nama poli sudah mewakili nama penyakit yang sering muncul. Di sini dokter umum dapat belajar banyak, karena kasus glaukoma harus ditangani dengan baik oleh dokter umum. Dokter di sini yang paling baik adalah dr. Tian dan dr. Wardhah, dr. Tian senang bercanda dan ngasih kesempatan koasnya melakukan tindakan. Dr. Wardhah keibuan dan sangat lihai dalam menjawab pertanyaan koas.
                Setelah glaukoma aku dapat Vitro-Retina. Lampu di ruangan ini sudah menyerupai kesan VR bagi koas, remang-remang kuning-merah, kuning berarti hati-hati dan merah berarti kalau bisa jangan ke sini. Sebenarnya jaga di VR cukup enak, tidak enaknya adalah ketika pasiennya membludak dan kerjaan koas hanya netes mata. Di sini semua pasien perlu ditetesi midriatikum, fungsinya untuk melebarkan pupil agar bagian belakang dari mata (Vitro-Retina) dapat terlihat dengan jelas. Saya selalu berdoa agar pasien diberikan kesembuhan oleh Tuhan sehingga jumlah pasien di sini berkurang dan akhirnya ada waktu untuk diajari oleh residen.
                Selamat dari VR belum selamat dari kerja keras, setelah VR adalah poli visus. Beban kerjanya 11-12 sama poli VR. Visus adalah garda terdepan poli mata, semua pasien pasti kudu mesti wajib melewati poli visus dulu. Dapat dibayangkan berapa jumlah pasien visus?  Luar biasa. Positifnya jika jaga di sini, koas dapat melihat semua kasus rangkuman dari kasus-kasus di semua poli. Aku dapat melihat kasus EED, Uvlens, PO, dsb di sini. Kalau bisa sudah belajar dulu kasusnya, jadi kita tahu pasiennya kenapa dan nantinya akan diterapi apa. Latihlah komunikasi yang baik, agar di poli visus kita dapat cepat, tepat, sigap, pasien mantap, ilmu dapat.
                Setelah visus ada NO, akhirnya dapat bernafas lega, bahkan malah terlalu lega. Poli NO isinya alat-alat canggih dan pemeriksaan spesialistik, sehingga koas terbilang cukup gabut. Namun, ilmu di sini banyak yang terkait dengan dr. Umum, meskipun tidak bisa melakukan tindakan, setidaknya mengerti ilmunya. Saat aku jaga NO aku tidak full di NO et causa harus bimbingan dengan dr. Bayu, tapi dokter favoritku di sini adalah dr. Manda, wakil ketua AMSA-UGM angkatan 2006.
Koas Mata di FK UGM

                Poli terakhir adalah EED. Namun sayangnya ketika artikel ini dibuat, aku belum pernah menjamah poli EED. Tapi, aku sudah pernah bertemu dengan salah satu dokter di poli EED. Dokter favorit di sini adalah dr. Krisna, aku biasa memanggilnya mas Krisna. Mas krisna adalah seniorku di AMSA, ia adalah ketua AMSA angkatan 2006 (unik ya ketua dan wakil AMSA-UGM angkatan 2006 keduanya masuk mata). Mas Krisna ini suka senyum, suka ngajar, kalau ngajar juga enak, berdoalah ketika jaga EED ada beliau, karena beliau bisa saja dinas ke luar kota.
                Satu hal yang belum dibahas adalah jaga bangsal. Ketika kita jaga, kita akan dipandu oleh dua residen dan beberapa staf perawat. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah berkenalan, staf perawat di sini alhamdulillahnya baik-baik. Residen jaga digilir dan kita tidak tau giliran siapa, namun residen yang sering jaga di sini adala dr. Melita. Dr. Melita pun adalah salah satu residen favorit. Penjelasan mengapa favorit sebaiknya kamu temui langsung beliau di bangsal mata. Namun satu hal yang pasti, dr. Melita selalu punya cara unik untuk mengajari koasnya, hal-hal yang kita hanya berdiri termenung dapat menjadi berarti karna ilmu yang diberikan oleh dr. Melita
Koas Mata di FK UGM
Happy Eyes, Happy Smiles
                Secara umum itulah suka-duka di koas Mata. Mungkin selanjutnya aku akan membahas koas mata di luar kota, kebetulan aku dapat Banyumas atau kita dapat membahas hal yang lebih spesifik, bagaimana cerita-cerita unik dapat terjadi di koas mata. Semoga saja ada waktu, aamiin. Semoga bermanfaat (smile)

Teknis
1.       Hubungi segera admin mata yaitu mbak Ning
2.       Bimbingan administrasi dengan mbak Ning
3.       Ikuti arahan mbak Ning
4.       Buat jadwal poli dan jadwal jaga
5.       1 orang koas akan mendapat puteran poli dan jaga. Contoh; aku hari pertama dapet poli A, hari kedua dapet poli B, hari ketiga dapet poli c, dst. Sedangkan temanku katakana Leo dapet poli C hari pertama, poli B hari kedua, dan poli A hari ketiga, dst.
6.       Poli hari pertama ; persiapkan ilmu, LoC yang mau dicari di poli yang kita singgahi, dsb
7.       Jaga malam ; bawa bacaan, entah akademik atau non-akademik yang penting bermanfaat. Tipsku; visit pasien! Baca rekam medis dulu untuk memahami pasien, lalu datangi pasien dan periksa sebisanya. Terapkan ilmu, profesionalitas, dan sikap yang baik lalu rasakanlah keajaiban yang tiba-tiba datang.
8.       Pro-aktiflah meminta tindakan, belajar dulu sebelum poli, lalu tanyakan hal-hal yang tidak ada di buku, hal yang sifatnya teknis dan lokal, jangan tanyakan hal yang sepele yang dapat dicari di internet.
Ingat, aktif meminta tindakan juga berarti kalian harus berbagi dengan partner kalian, jangan egois kalian sudah dapat banyak tapi ada teman kalian yang masih 0. Kecuali teman kalian itu tipe koas yang kurang ajar.
9.       Bahagialah di koas mata, karena kebahagiaan insyaAllah akan menarik kebahagiaan-kebahagiaan lainnya

copyright to amgah.blogspot.com

Sumber Gambar :
pinterest.com
devian art halomoon
marineyes.com
www.uihealthcare.org

17 April 2016

Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari


15 April 2017 “Mencari itu sama dengan menunggu. Menunggu itu sama dengan mencari” – Amgah, carilah sendiri makna dari kalimat ini

 “See what no one else see. See what everyone else choose not to see” – Patch Adams Movie, makna dari kalimat ini dijabarkan di bawah.

Artikel ini akan lebih menarik jika kita awali dengan mengingat kembali sebuah keberuntungan yang kita dapatkan di masa lalu. Rasakan bagaimana keberuntungan tersebut mampu mengubah suasana hati menjadi gembira. Hadirkan suasana tempat keberuntungan terjadi, orang-orangnya, barang-barangnya, tempatnya, hingga semua terasa semakin nyata. Aku yakin kita semua akan merasa bersyukur, bahagia, mengucapkan terima kasih pada Tuhan, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
                Banyak orang bilang orang bejo akan mengalahkan orang rajin, orang rajin mengalahkan orang malas. Bejo (beruntung) ternyata berada di puncak rantai makanan. Tidak ada yang tahu kapan keberuntungan akan terjadi. Tidak ada yang tahu bagaimana keberuntungan akan terjadi. Kita hanya tahu bahwa hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan ketika keberuntungan tersebut terjadi.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari
                Sebelum kita bahas lebih dalam, aku ingin menceritakan sebuah cerita nyata tentang keberuntungan. Cerita ini masih segar dari oven karena baru terjadi hari jumat lalu. Jumat adalah hari kerja aktif terakhir buat para koas (pendidikan profesi kedokteran umum). Setelah ujian selesai, tidak ada lagi tanggung jawab harus melakukan ini atau melakukan itu. Semua bebas silahkan meliburkan diri asalkan ujian dan administrasi telah dirampungkan.
                Saat itu aku merasa ada panggilan dari diri untuk tetap ke poliklinik THT (kita gak punya kewajiban, kalau gak ke poli ya gakpapa). Entah mengapa aku harus ke poli, itu hari terakhir, besok-besok aku sudah tidak akan lagi ke poliklinik THT sebagai Koas THT. Aku tidak akan berjumpa dengan residen-residen THT yang baik, tidak akan ketemu pasien THT, tidak akan berada di dalam poli THT. Entah mengapa aku ingin sekali menghabiskan detik-detik terakhir THT bersama mereka, mungkin rindu? Mungkin juga bukan.
                Akhirnya aku ke poli THT, sekitar 5 jam aku berada di sana. Pernah mendengar cerita orang yang mengalami beribu kegagalan sebelum berhasil? Terlepas dari hoax atau bukan, prinsipnya adalah nyata (ceritanya belum tentu). Sebelum aku menemukan keberuntungan, aku hanya mendapat printilan-printilan kecil. Teman-temanku mungkin bosan, aku pun juga bosan, sangat bosan. Tapi entah kenapa aku percaya aku akan mendapatkan sesuatu. Toh meskipun aku tidak mendapatkan apa-apa, aku telah berusaha sampai titik terakhir. Lagipula esok hari aku akan terbangun dan berada di tempat yang berbeda, aku akan merindukan tempat ini.
                Singkat cerita -- di jam-jam terakhir poli -- aku menemukan keberuntungan. Saat itu aku sedang berada di ruang Rhinology (poli ruang 2), tiba-tiba dr. Hafifah bertanya ke dr. Veby “Mas Veby, kalau stofmap biru itu artinya map yang biasa yang warna biru itu kan?” Aku pun tersentak. Stofmap biru, waduh, itukan urusan yang sama yang sedang kukerjakan, DAN DEADLINENYA HARI INI. Ternyata aku dan dr. Hafifah mengerjakan hal yang sama, bedanya dr. Hafifah ingat, sedangkan aku lupa.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari

                Kami berdua sama-sama ingin melamar suatu pekerjaan. Deadlinenya hari ini bos, kalo aku lupa, aku menghanguskan kesempatan yang cuma datang sekali, aku juga bakal ngecewain orang-orang yang udah dorong aku buat ngelamar kerja. Alhamdulillah, gara-gara dr. Hafifah, karena aku nongkrong di ruang rhinology, berkat firasatku aku harus ke poli, Allah menghindarkanku dari lupa dan membawaku pada ingat. Simpel mungkin untuk sebagian orang, tapi untukku itu merupakan suatu keberuntungan yang cukup besar. Bagaimana dengan keberuntunganmu?
                Akhirnya pun aku selesai mengurus berkas lamaran, aku dan dr. Hafifah pergi bersama ke kantor pos. (Untuk orang-orang yang tahu dr. Hafifah yang mana, mungkin mereka juga menganggap ini sebagai suatu keberuntungan. If you know what I mean). Tak berhenti di situ, aku alhamdulillah mendapatkan keberuntungan lain. Setelah nangkring di rhinology, aku mencoba peruntungan ke faring/laryngology,
                Di faring/laryngology (poli no.7/Ruang Tindakan) kami ditemukan oleh dr. Jessica. Awalnya aku dan Prisca mencari kelanjutan cerita dari pasien yang kami ikuti. Pasien tersebut ditangani oleh dr. Rio, setelah bertanya ke dr. Rio kami melihat layar endoskopi dan kami penasaran, kami pun minta izin dr. Rio untuk melihat-lihat. Ketika kami mengotak-ngatik komputer endoscopy untuk melihat hasil-hasil yang ada, tiba-tiba kami disapa oleh dr. Jessica dan dr. Jessica memberikan kami rekap endoscopy hardcopy untuk kami pelajari.
                Aku dan Prisca setuju tentang prinsip “Selagi di rumah sakit, belajarlah sebanyak-banyaknya dari pasien, dari pengalaman, dari residen. ‘Buanglah bukumu’ jika memang tidak perlu-perlu banget. Karena kamu di RS hanya beberapa jam, sedangkan kamu dan bukumu dapat berjam-jam. Lagipula tidak ada yang dapat mengalahkan rasanya involve dalam suatu hal, pahitnya pengalaman, atau manisnya kenangan.
                Kami pun memelajari rekap yang diberikan dr. Jessica dan menemui banyak hal yang sebelumnya kami belum pernah temui. Kami menjadi mengetahui gambar ini, gambar itu, kalau gambarnya ini tuh hasilnya A, kalau gambarnya itu tuh hasilnya B. Semua itu kami dapatkan secara mudah karena dibantu oleh residen-residen THT. Karena kami nangkring di poli nomor 7, berkat bantuan dr. Jessica, akibat firasat harus ke poli, Allah memberikan kami pengalaman yang baru.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari

                Aku telah menceritakan tentang keberuntunganku, bagaimana dengan keberuntunganmu? Keberuntungan sangat subjektif, apa yang aku anggap sebagai beruntung mungkin menurutmu tidak, dan sebaliknya. Tetapi menurutku semua keberuntungan itu sama, semua berawal dari usaha mencari. Jika aku tidak berusaha mencari ke poli, jika aku hanya diam, aku tidak akan bertemu dr. Hafifah/dr.Jessica yang membawaku ke keberuntungan dan pengalaman yang baru dan menyenangkan.

                “If you don’t try, you’ll never know."

                “If you never ask, the answer will always be no”

               “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” QS Ar-Ra’d; 11

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” QS al-Najm: 39

“See what no one else see. See what everyone else choose not to see” – Patch Adams Movie

#Salamlegowo
#TularkanPositivitas

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
davebratcher.com
twitter.com
insightly.com

15 April 2016

Enaknya Korek Kuping dan Pentingnya Kotoran Telinga

Minggu pertama April adalah minggu terakhirku di Klaten. Dua minggu di sini sudah cukup merampungkan satu album kenangan indah, mulai dari lagu tentang kedokteran hingga lagu tentang pertemanan. Stase luar kota dapat dibilang ladang subur untuk bercocok pengalaman, namun hanya untuk petani-petani yang memang ingin bercocok tanam.


Pengalaman pertama. Jika kuis family 100 memiliki pertanyaan “Penyakit telinga apakah yang paling sering didapatkan oleh Amgah ketika koas?” Maka MC akan bilang “survey membuktikan bahwa penyakit THT yang paling banyak didapatkan Amgah adalah!!! Jeng jeng jeng… kelainan liang telinga” Apa saja? Radang (Otitis Eksterna) dan sumbatan kotoran telinga (cerumen prop).

Kasus pertama yang dibahas sekaligus kasus yang lebih berat adalah Otitis Eksterna. Kasus ini unik, sangat unik, karena hampir 80% dari Otitis Eksterna Difusa (OED) disebabkan oleh korek kuping --seprintil cotton bud -- dan 60% pasien masih tetap ingin meneruskan hobi korek kupingnya. Apa sih enaknya korek kuping? Mari kita tilik mengapa oh mengapa cotton bud itu “menyenangkan”

Penjelasan simple – Mengapa Korek Kuping itu Nikmat?

Banyak sekali struktur tubuh manusia yang melewati telinga, salah satunya adalah nervus vagus. Nervus vagus itu ibarat sebuah kabel yang melewati telinga. Selain telinga, mana lagi yang dilewati nervus vagus? Sangat banyak dan salah satunya adalah kelamin. Vagus bertanggungjawab dalam membuat suasana parasimpatis, simpelnya seperti malaikat dan iblis dalam 1 jubah yang sama. Manusia dapat memilih menyimpan malaikat dan menendang iblis, atau sebaliknya. Mengapa seperti itu? Karena vagus bertanggungjawab untuk “Sleep, Eat, and Sex”

Sekarang kita tahu bahwa ketika vagus aktif, vagus akan memberikan sinyal ke tubuh manusia untuk “makanlah nak / tidurlah nak / sex-lah nak”. Hal tersebut bukan berarti kita pencet-pencet telinga terus kita bisa jadi tidur atau sebelum makan kita mesti korek kuping dulu. Karena sebenarnya vagus hanya numpang lewat di telinga. Sayangnya, vagus ini dapat teraktivasi ketika tersenggol.

Kesimpulan; vagus lewat telinga, jika vagus tersenggol maka vagus aktif, vagus aktif membuat?

Ketika seorang anak manusia mengorek-ngorek kuping, ia bisa jadi tidak sengaja menyenggol nervus vagus dan mengaktivasi si Angel and Demon tersebut. Uniknya, vagus di telinga dapat mengaktifkan vagus di kemaluan. Sehingga ketika seseorang mengorek kuping, orang tersebut merasakan suatu kenikmatan. Waw, waw, waw


Jadilah orang tersebut punya hobi korek kuping. Salah dua penyebab hobi korek kuping adalah cemas. Cemas berarti ia ingin telinganya selalu bersih, ia takut ada sesuatu yang membuat telinganya kotor. Padahal, normalnya telinga akan membersihkan dirinya sendiri melalui mekanisme mekanik normal. Tuhan telah memberikan kemampuan pada telinga untuk membuang kotorannya sendiri.

Dua penyebab hobi korek kuping tersebut adalah akar permasalahan OED. Sakit kuping itu sakit loh, lebih sakit dari gak sakit kuping. Sakit itu gak enak loh, mesti ke dokter, mesti ngurus ini itu, mesti pakai obat, mesti lebih hati-hati, dan mesti-mesti lainnya yang repotin banget dibanding kita gak sakit. Pertanyaan pertama, lebih enak sehat bukan? Pertanyaan kedua, kok bisa korek kuping bikin sakit telinga?

Perlu diketahui bahwa niatan baik membersihkan telinga juga ada ilmunya. Kotoran telinga yang ingin kita bersihkan pada hakikatnya adalah normal, kotoran telinga paling banyak mengisi di 1/3 luar telinga, dan dapat keluar sendiri. Kotoran telinga sebenarnya adalah suatu kebutuhan, jika dalam kadar yang cukup. Kotoran telinga punya efek proteksi; melindungi telinga dari air dan dari serangga. Kotoran telinga yang terlalu sedikit membuat telinga rentan akan infeksi, dimasuki air, dan dimasuki serangga.

Kotoran telinga yang terlalu sedikit membuat telinga sangat mudah untuk terluka. Lalu kapan kita tahu bahwa kotoran telinga harus dibersihkan atau dibiarkan? Datanglah ke dokter jika merasa telinga penuh, daripada korek kuping sendiri lalu luka dan akhirnya kena sakit. Alternatif lain; gunakanlah ujung cotton bud, hanya ujungnya, untuk membersihkan 1/3 telinga luar, dan jangan terlalu sering agar jumlah kotoran masih cukup.

Insert; Mengapa atlet renang sering punya penyakit OED?

Salah tiga penyebab OED adalah keseringan berenang dan telinganya tidak ditutup. Keseringan berenang -> air masuk ke telinga -> air yang banyak akan mengapungkan kotoran telinga -> kotoran telinga terbawa arus -> kotoran telinga abis -> infeksi/serangga -> infeksi. Oleh karena itu atlet renang memiliki risiko terkena OED. Cara menghindarinya? Saat berenang telinga ditutup agar tidak kemasukan air.


Tanda-tanda OED

Sekarang mari kita bahas apa tanda-tanda OED. Beberapa gejala yang dapat muncul adalah rasa penuh pada telinga dan umumnya nyeri. Nyeri juga dapat muncul ketika telinga ditekan dari luar. Lalu dokter akan menanyakan berbagai macam pertanyaan untuk menendang kemungkinan penyakit yang lain. Setelah ditanya, telinga kita akan dilihat dan dinilai apakah di liang telinga terdapat radang. Jika benar radang, dokter akan memberikan obat dan edukasi.

Pembahasan OED ternyata cukup banyak ya, waktu tak terasa menunjukkan pukul 20;35 artinya aku harus kembali ke rumah sakit untuk menunaikan jaga malam. Di atas aku sudah bilang bahwa telinga dapat membersihkan kotorannya sendiri. Tapi kok di atasnya lagi aku juga bilang bahwa kelainan liang telinga salah satunya adalah tersumbat kotoran telinga? Katanya telinga bisa bersihin dirinya sendiri, tapi kok masih bisa tersumbat? Penyakit yang kedua akan kita bahas di lain waktu, sampai jumpa! dan mohon doanya agar saya dapat libur

* Bersambung* atau kalau tidak mau bersambung, temui aku di Sardjito bangsal THT Dahlia V :D

* Ada cerita menarik juga tentang indahnya pertemanan di klaten. Tapi masih belum kutentukan apakah cerita tersebut akan kutuliskan di blog atau kusimpan saja dalam arsip kenangan.

* Ada yang salah dari penjelasan penyakit? Silahkan kontak penulis melalui email amgah01@yahoo.com. Tidak percaya akan keabsahan artikel kesehatan? Silahkan dicek latar belakang penulis :)”


#salamlegowo

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
http://www.compostthis.co.uk
kindhearty.blogspot.com
http://www.wikihow.com/images/b/bb/Prevent-Swimmer's-Ear-(Otitis-Externa)-Step-5.jpg

05 April 2016

Koas THT FK UGM di Klaten

     Stase luar kota adalah hal yang cukup seru, karena para koas dituntut untuk keluar dari zona nyaman. Hal ini pulalah yang mendorongku untuk menulis Tips Mencari Pasangan Hidup saat Koas”. Kalau kata mas X, koas itu "Tempat ditemukannya sikap orang yang gak ditemukan pas s1" Seru juga karena biasanya di luar kota, para koas akan mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk learning by doing. Seru juga karena kita bisa menjadi lebih mandiri.

     Pagi-pagi buta (lebay, padahal cuma jam 5.00, aku menjemput para partnerku yang akan ke Klaten). Singkat cerita kami tiba di Klaten sekitar pukul 6.30. Tujuan pertama kami adalah asrama POTMA tempat kami akan tidur, mandi, dan lain-lain. Info; ibu penjaga potma baru datang jam 08.00, jadi berangkat jam 6 dari Jogja rapopo, asal tidak lebih dari jam 7.

     Setelah mendapat kamar, kami langsung beres-beres untuk tindhak (pergi) ke Rumah Sakit. Di RSUP Soeradji Tirtonegoro, kami pertama kali bertemu mas Yanuar. Mas Yanuar orang yang cukup ramah dan senang bercanda (semoga saja semua koas bersikap baik dengan mas Yanuar). Setelah mengisi form ini dan form itu, akhirnya kami pergi ke poli THT.


     Di poli THT, kami disambut baik oleh pak Rosyid dan Bu Handa. Perawat serta staff THT Klaten super ramah, info; pak Rosyid orang yang humoris. Lalu kami juga disambut oleh ketua Staff Medik Fungsional (SMF) THT RSST (RS Soeardji Tirtonegoro) yaitu dr. M. Arief Purnanta, M.Sc, Sp.THT-KL. Dokter Arief/Dokter Ipung adalah orang yang cukup unik, sangat sulit untuk mendeskripsikan beliau. Satu hal yang pasti, dr. Arief sangat total dan sangat all out kalau sudah mengajar. Lalu kami diberikan briefing singkat, kami ber-7 ke klaten akan dibagi dua untuk dosen pembimbing. Kebetulan aku dapat dr. Arief.

     Koas THT di klaten agak berbeda dari koas THT di Sardjito. Di klaten, kita tidak punya jatah jaga bangsal atau pun jaga IGD. Tetapi jika kita berhasil akrab dengan residen, dokter residen akan mengajak kita untuk visite bangsal atau pun menangani pasien IGD (on call, walaupun aslinya on WhatsApp). Carilah tindakan sebanyak-banyaknya di luar kota, karena di luar kota kita dapat melakukan lebih banyak. Di Sardjito kita observasi, di luar kota kita melakukan.

     Tips untuk kalian yang mau koas di poli THT klaten “alur poliklinik” Rekam medis akan ditaruh di meja poli (diberikan oleh bagian pendaftaran). Bagilah diri kalian dengan urutan, contoh; pertama adalah Aldo, kedua Amgah, ketiga Linda, dst. Orang pertama mengambil rekam medis pertama, orang kedua mengambil nomor 2, dst. Pelajari rekam medis tersebut! 1. Penyakitnya/Diagnosa awal 2. Pasien lama atau pasien baru. Jika pasien baru, ambil lembar Px Pengkajian Awal, jika pasien lama, ambil lembar Px Lanjutan (ada di meja poli). Lalu yang akan kalian isi adalah keluhan utama pasien di lembar pemeriksaan yang telah kalian ambil.

     Lalu panggil pasien tersebut sesuai nomor urut dan tempat yang tersedia. Lalu kamu dapat menganamnesis pasien, jika waktu cukup dan pasien mau, bahkan kamu dapat melakukan pemeriksaan fisik! Setelah itu, kamu ajak pasienmu untuk ke dokter konsulen atau dokter residen. Lalu kamu perhatikan dan samakan hipotesismu dengan Dx yang ditentukan oleh dokter. Diagnosismu benar atau salah? Pemeriksaanmu benar atau salah? Tak jarang dokter yang percaya padamu akan menyuruhmu melakukan pemeriksaan (Px) fisik seperti tes garpu tala. Jadilah orang yang dapat dipercaya! 

     Kurang lebih stase luar kota THT Klaten seperti itu, dan jika kamu beruntung, kamu akan mendapat kesempatan mengobservasi operasi THT di OK; entah itu biopsy, tonsillectomy, atau reposisi tulang. Semoga Bermanfaat

copyright to amgah.blogspot.com

04 April 2016

Quote Berkeluarga Dokter Anton


"Berkeluarga itu tidak mudah, tidak mengurangi masalah tp malah nambah masalah. Tapi berkeluarga itu membahagiakan, lebih membahagiakan"


"Menikah lebih muda itu memang lebih menantang. Tapi gak saklek nikah muda ya jelek. Ada toh yang nikah muda tapi udah dewasa udah bisa saling memosisikan diri. Dan ada juga yang udah tua tapi tetep aja gakbisa saling memosisikan diri. Tergantung dek dan ya juga tetep harus diplanning - dr Anton

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
i.huffpost.com

Tips Mencari Pasangan Hidup saat Koas

Disadur dari akun line @amgah

“Kalo kamu calon dokter dan mau nyari calon dokter juga. Perhatikanlah calonmu ketika koas. Niscaya ketauan pola pikirnya. Mana yang manja, mana yang mandiri, mana yg seneng menghibur orang, mana yang pengennya diturutin, mana yg terbuka, mana yg menyembunyikan, dst

Atau kamu minta kepoin temen sekelompok koasnya. Gimana tuh dia selama koas, terutama stase luar kota.  Daya adaptasi diuji, orang yang tadinya di zona nyaman tibatiba harus keluar dari zona tsbt. Niscaya terlihat sedikit sikapnya yang tidak terlihat ketika berada di zona nyaman

Cari yang sesuai sama kamu. Mau yang selalu berusaha ceria meskipun sedih? Monggo. Mau yang senyum terus meskipun capek? monggo. Mau yang gak suka ngeluh? Monggo. Mau yang selalu nyari hal nyenengin? Monggo. Mau cari yg suka hal hal menantang dan baik? Monggo. Enak dikelilingi orang-orang yang membahagiakan :D”

Hati-hati, banyak orang yang di luar terlihat baik, tetapi ketika tertekan menjadi kelihatan buruknya. Tekanan akan membuat orang berubah, carilah orang yang ketika ditekan, malah tetap bersabar. Setuju?

Oiya, tidak lama setelah aku menulis artikel tersebut. Salah seorang dosen memberikanku sebuah wejangan


“Nanti km di koas akan tau variasi sifat dasar org ketika dia terdesak, ketika dia diberi tanggungjawab, ketika lagi tanpa tgg jwb, ketika free time, amati pake hati. Catat di hati reaksi temen2mu, km akan tau sikap ini itu cocok atau tdk cocok/pas untuk sekitar"

copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar;
123rf.com

03 April 2016

Menghargai Orang Lain; Teguran untuk Pribadi


“Seneng banget kalo ketemu orang yang bilang/mikir "kalau saya melakukan A. Saya akan mengambil hak hak orang lain" atau "kalau saya melakukan B. Saya akan merugikan orang lain"

Dimulai dari diri sendiri, menyebar ke orang orang terdekat, lama lama lingkungan kita semua seperti itu. Betapa indahnya kehidupan kalau sekitar kita seperti itu

Dan coba dibayangkan betapa menyebalkannya jika karena ulah 1 orang, semua orang menjadi dicap buruk. Atau betapa menyedihkannya jika kita menjadi orang yang membuat orang lain jadi dicap buruk

Pada akhirnya prinsip amar ma'ruf nahi mungkar memang paling top untuk masalah ini. Yuk kita sama sama saling mengingatkan untuk berbuat baik dan mencegah keburukan

Saya meminta tolong ke diri saya sendiri dan teman teman semua untuk ketika ingin melakukan suatu hal. Tolong pikirkan efeknya juga ke orang lain. Jangan sampai apa yang kita lakukan justru berdampak buruk untuk orang lain.

Justru! Buatlah apa yang kita lakukan menjadi berkah untuk orang lain. Apa yang kita lakukan, bermanfaat untuk orang lain :). Menyenangkan bukan? jika keberadaan kita, menjadi berkah untuk orang lain :)”

Tulisan ini kubuat setelah mendengarkan kabar yang tidak menyenangkan yang datang dari dapur tetangga. Tak perlu tahu dapur mana dan ngomongin siapa atau pun apa. Namun yang pasti ini adalah teguran untuk semua orang, bukan hanya satu orang, termasuk teguran untuk diriku sendiri.

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
/resultsempowerment.com

Pelangi di Dahlia 5 Sardjito

      


        Mungkin, jaga bangsal bagi beberapa koas adalah hal yang menyebalkan. Namun, koas itu sudah capek jangan dibikin menjadi semakin capek dengan berpikiran negatif, betul?  Jika kita jaga bangsal, anggaplah 36 jam kita akan berada di Rumah Sakit (RS). Masa mau kita 36 jam kerjaannya merengut terus merindukan hangatnya rumah. Di 36 jam RS, kita harus mendapatkan banyak hal membahagiakan, dengan seperti itu, jaga bangsal akan menjadi menyenangkan.

     Hal di atas disebut sebagai reframing pikiran. Hal-hal yang kita pikir buruk, belum tentu benar-benar buruk. Aku pun masih belajar untuk dapat mengaplikasikan ilmu tersebut. Hari ini aku ingin menceritakan pengalaman menyenangkanku selama jaga bangsal. Siapa tau kesenangan ini menular ke pembaca dan pembaca sekalian mendapatkan kebahagiaan.

    Semua berawal ketika aku kedapatan jaga malam minggu. Malam minggu bro, di saat orang lain pergi makan, pergi nonton bola, pergi ngobrol-ngobrol, aku jaga di rumah sakit. Awalnya aku mbatin, kenapa kok aku pilihnya malam minggu (jaga di THT bisa milih mau kapan sesuai kesepakatan kelompok). Pengen libur, pengen main, pengen santai di rumah. Tetapi aku ingat titah dr. Acong saat pembekalan koas “Reframing Pikiran” Hal yang kita anggap buruk, belum tentu benar-benar buruk. Buatlah hal yang kamu anggap buruk, menjadi baik. Jangan mau menyia-nyiakan hidupmu dalam penyesalan, bahagiakanlah dirimu! Kamu bertanggung jawab atas kebahagiaanmu.

     Alhasil setidaknya dua kebahagiaan muncul malam itu. Kebahagiaan pertama alhamdulillah datang sesaat setelah aku berusaha me-reframing pikiran. Tak lama setelah aku bertengger di bangsal THT Dahlia 5 Sardjito, seorang yang kukenal datang membawa beberapa gepok salak. Orang tersebut adalah Mbah Budiman, warga muntilan, keluarga salah satu pasien di bangsal. Beberapa hari sebelumnya, aku dan Vian mengajak ngobrol mbah Budiman yang terlihat tak bisa tidur. Mbah Budiman menceritakan banyak hal, termasuk perjalanan hidupnya yang pernah mengarungi Jakarta.


   Kembali ke bangsal, mbah Budiman pun menyapaku “Malam, Dok!” (Padahal notabenenya aku belum mendapat gelar dokter). Mbah Budiman sangat baik, meningkatkan kepercayaan diri kami para koas. Kalau disebut “Dok” beberapa koas terpacu untuk memberikan yang terbaik untuk pasien, aku salah satunya, semoga kamu juga. Aku pun menjawab “Malam, mbah! Wah baru balik dari Muntilan nih mbah” Mbah Budiman tersenyum. Tak lama kemudian, mbah Budiman menghampiriku “Dok ini ada salak buat dokter” “wah mbah gausah repot-repot mbah” “udah terima aja dok, ini panen sendiri kok” “terima kasih banyak mbah, makasih makasih”

Pelangi di Dahlia 5 Sardjito

     Suatu kehormatan luar biasa diberikan salak segepok oleh keluarga pasien. Salak pun kami bagikan untuk seluruh staff bangsal malam itu. Mbah Budiman memang seorang sosok yang hangat, suka bercerita, senang bercanda, dan murah hati. Semoga keluarga pak Budiman cepat sembuh dan cepat pulang dari bangsal. Sayangnya aku tak dapat mengucapkan “selamat, Mbah! Akhirnya bisa pulang lagi” karena saat mbah Budiman pulang, aku kedapatan tugas di Klaten.

      Kebahagiaan kedua; Dokter Residen THT yang berjaga malam itu sangat seru dan memiliki cerita unik. Beliau punya segudang cerita tentang Medisar (Tim Bantuan Medis FK Univ. Atma Jaya).  Pengalaman beliau menyebrangi dua gedung dengan tali, ikut mencari korban hilang saat banjir, push up lebih dari 30x dengan tas Carrier berisi Aqua 15 kg (1,5 x 10) adalah warna-warni jaga bangsal malam itu.


     Beliau juga murah hati dan sangat total dalam memberikan ilmu, dokter Jessica namanya. Meskipun terlihat capek malem itu, beliau terus-terusan bertanya “ayo ada yang mau ditanyain gak?” dan jawaban beliau selalu lebih lengkap dari apa yang kami tanyakan. Jaga bangsal 12 jam pun menjadi tak terasa, memang betul apa yang kita kira buruk, belum tentu benar-benar buruk.

Pelangi di Dahlia 5 Sardjito

          Beberapa pelajaran selain reframing pikiran;
1. Jangan kurang ajar sama guru. Kalau udah dibaikin, kita sebagai murid jangan seenaknya sendiri. Saling asah asih asuh. Simpelnya saling bantu dan kita menghormati beliau beliau. (Soalnya ada murid yang kurang ajar sama gurunya, padahal gurunya udah baik). Nah guru macam dokter Jessica jangan sampai dikurangajari. Beliau sudah memberikan yang terbaik, kita sebagai murid pun kudu memberi yang terbaik.


2. Perlakukan pasien (dan keluarga pasien) sebagai manusia utuh, selain kebutuhan akan kesembuhan, pasien juga punya pikiran dan perasaan

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
theawakenedlife.wordpress.com
koleksi pribadi

Kisah Unyu di Balik Tirai Bangsal

           

         Di satu malam, para koas semoga saja akan selalu mendapatkan pemandangan ini. Bukan bermaksud mendoakan orang lain untuk sakit, tetapi justru mendoakan orang untuk bersikap positif ketika sakit. Ada sepasang suami istri yang suaminya sakit, sang istri selalu setia menemani. Bahkan di ruang perawatan yang gaada tempat tidur, istrinya rela tidur di lantai dengan karpet, merawat luka dan kebutuhan suaminya. Sang suami yang dioperasi lehernya, tidak bisa tidur dan terus mengecek bekas operasinya. Sang istri pun ikut memerhatikan bekas operasi si suami, ikut-ikutan tidak tidur, sampai akhirnya mereka berdua sama-sama jatuh tertidur. Hatiku membatin “wah hebat sekali sang istri, selain rela merawat si suami, ia selalu tersenyum di depan sang suami” Semoga suaminya juga dapat membahagiakan istrinya. Cepat sembuh dan cepat pulang^^


          Tulisan tersebut saya post di akun line @amgah, lalu ada seorang teman sebut saja @Zakky mengomentari “kemaren gw juga nemu yang bikin baper gah, di balik tirainya, sang istri yang di rawat, sholat berjamaah bareng suaminya, walaupun dengan infus terpasang.”

             Lalu aku membalas “perjuangan beliau beliau luar biasa…”


      @Zakky membalas lagi “menurutku gak cuma perjuangan mereka doang, tapi wujud penghargaan mereka terhadap kondisi apa yang diberi kepada mereka, mereka tetap bersyukur dengan apa yang diberi, ntah itu baik, ntah itu buruk


copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
twinsfam.blogspot.com