14 Februari 2017

Apa yang lebih sulit dari OSCE anak? Ini Jawabannya

ilustrasi kaget

Pertama perlu diketahui bahwa OSCE koas anak di kampus kami termasuk salah satu ujian yang paling ditakuti. Tingkat ketidaklulusannya cukup ada dan pun lulus, nilainya dapat dibilang terkadang mengenaskan. Oleh karena itu aku mengambil judul kirakira apa ya yang lebih sulit dari OSCE koas anak?

Karena dalam beberapa hari ini ada satu topik yang entah kenapa selalu muncul di mobil. Mobil adalah salah satu tempat ngobrol… Eh tapi kita tidak membahas tentang mengobrol di mobil, yang kita bahas adalah apa yang diobrolkan di mobilnya.

“Eh X, pokoknya ya, mau lo suka sama A kek, B kek, C kek, jangan sampai kehidupan personal lo menganggu kehidupan profesional lo.”
“Gue setuju banget sama lo, Gah”
“Tapi kaya gitu sulit loh”
“Iya gue tau gah hahaha, perlu gue curhat? Gue baru aja ngerasain gaenaknya kerja bareng sama orang yang kaya gitu”
“kaya gitu gimana?”
“ya kehidupan personalnya memengaruhi kinerjanya”

Baiklah, akhirnya ketemu jawaban apa yang lebih sulit daripada OSCE anak. Topik di atas itu secara omonglogi memang mudah untuk diucapkan tapi tak mudah tuk dilupakan, maksudnya dilakukan. Meskipun aku dan si X mengerti bahwa kita harus mampu “memisahkan” personal dan profesional, pada kenyataannya kami berdua masih belajar untuk itu.

Kenapa kata memisahkan aku beri tanda petik, karena menurutku untuk 100% memisahkan personal-profesional adalah suatu 0 (kecuali orang berhati beku). Menurutku hal ini ibarat penyakit alergi bukan penyakit infeksi. Suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol dan dikendalikan.

Teori: Kita harus mampu mengendalikan kinerja se-optimal mungkin meskipun kehidupan personal sedang dilanda masalah.

Bersembunyi di balik senyuman, bergerak di balik kesunyian, dan bekerja di balik teriakan
Lantas apa yang dapat kita lakukan?
  •  Ketahuilah bahwa setiap orang butuh penyesuaian. Yang terpenting adalah kamu sadar bahwa kamu sedang salah -> belajar dari kesalahan -> menjadi lebih baik


Acapkali seseorang enggan menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Ada orang yang cuek, ada orang yang mencuekkan diri/tidak peduli orang lain aka egois, ada orang yang tahu dia salah tapi tak mau berubah. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan tilikan diri.
Ketika kita mengetahui bahwa kehidupan personal kita sedang berantakan, mulailah bertanya apakah permasalahan itu mengganggu kinerja di lapangan? Mengganggu orang lain? Lama kelamaan tanpa bertanya pun kita tahu bahwa kehidupan personal memengaruhi hal yang lain.

  •   Mencari tips mengoptimalkan kerjaan (mengobati gejala)
  •  Terakhir, Selesaikan masalah personalnya (mengobati penyebab)


Nomor 2 dan 3 dapat digabung dan sebenarnya bersifat khusus berbeda tiap orang. Namun ada beberapa hal yang bersifat umum dan dapat dipakai oleh siapapun;

  •           Mendekatkan diri pada Tuhan, meminta pertolongan Allah dengan sholat dan sabar

Hanya kebetulan-kebetulan yang terangkai indah yang dapat melawan ketidakmungkinan dan tidak ada lagi yang lebih kuasa selain Yang Maha Kuasa. Hanya Allah yang mampu memberi kita jalan-jalan tak terduga yang tiba-tiba ada muncul tak disangka. Bak kendaraan yang motong jalan tanpa rating/sen atau ibu-ibu yang rating kiri tapi beloknya kanan. Hanya Allah yang Tahu dan Allah adalah sebaik-baiknya penolong serta pelindung.

  •      Mencari teman untuk beraktivitas positif (bonus menyibukkan diri dengan kegiatan positif)

Ketika seorang manusia mampu meringankan beban orang lain, di saat yang bersamaan ia meringankan beban dirinya sendiri. Lalu ibarat gelas, ketika gelas itu full diisi oleh air yang jernih, sudah tidak ada lagi tempat untuk air yang keruh.
  •     Tidur

Tidur adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada hambaNya dan suatu kenikmatan mewah bagi kami yang berprofesi wajib begadang ketika jam kerja malam. Tidur mampu merefresh pikiran seperti mesin cuci laundry-an.

  •      Punya kemauan dan mau melakukan

Punya kemauan saja tidak cukup, kita harus benar-benar melakukan kemauan tersebut. Kita sadar bahwa kita perlu menjadi lebih baik, dan kita lakukan berbagai macam hal yang dapat membuat kita lebih baik. Semangat untuk selalu memperbaiki diri, aku pun di sini juga belajar untuk itu. Semoga tips-tips di atas dapat membantu, sampai jumpa di lain kesempatan, see you!


copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar: thedailyparks.files.wordpress.com

05 Februari 2017

Inilah jawaban Amgah ketika ditanya persiapan Koas

Ilustrasi wawancara
Rada jijik ya sama judulnya. Ya jadi kali ini kita akan membahas suatu kesalahan yang sudah kulakukan. Di sini kita akan menemukan sesuatu yang anti-mainstream. Mungkin kita sudah tahu bahwa koas perlu menyiapkan barang ini barang itu, tapi di sini kita tidak membahas barang. Kita juga tidak membahas bahwa koas butuh nyiapin jodoh dan memang jodoh itu tentatif. Sebenarnya apa sih yang perlu kita ketahui sebelum memasuki koas?

Di akhir kita akan tahu kenapa

Koas = Gak punya waktu
Pernyataan itu adalah dusta terbesar yang sudah kutelan mentah-mentah. Eh, tapi tidak sepenuhnya kalimat di atas dusta, ada sisi benarnya. Namun, kalimat di atas perlu direvisi.

                Ketika aku mau masuk koas, sudah kutanamkan bahwa koas akan menyita 100% waktuku. Kalau aku koas, aku akan tidak punya kegiatan lain selain koas. Beberapa orang juga berkata demikian dan kemungkinan besar, orang di sekelilingmu juga berkata demikian. Jika ternyata orang di sekitarmu berkata beda, bersyukurlah.
                Ketika aku sudah berada di koas, koas menyita waktu 100% adalah omong kosong. Karena pada hakikatnya kita akan bosan jika 100% hidup kita hanya kita habiskan oleh 1 kegiatan, iya atau iya? Dan pasti akan selalu ada waktu luang yang terselip di antara kegiatan koas. Hanya saja kita perlu mengetahui beberapa hal.
                Koas lebih sibuk dari S1? Benar, waktu yang kita habiskan di tempat kerja lebih banyak daripada waktu yang kita habiskan di kampus ketika S1. Koas 100% menyita waktumu? Salah. Karena akan ada waktu-waktu kosong yang muncul bagaikan air di tengah gurun pasir. Oleh karena itu perlu ditanamkan bahwa di koas pun kita masih bisa hidup.
                Justru menganggap 100% hidup kita hanya untuk koas akan membuat kita mati. Mati kebosanan, oleh karena itu aku tidak ingin ada orang yang mengulangi kesalahan yang sama. Aku tegaskan di sini bahwa di koas kita masih memiliki waktu luang. Hanya saja waktu luangnya 1. Tidak menentu/tidak jelas kapan 2. Lebih sebentar dibanding S1 tapi tetap masih ada waktu luang 3. Bisa jadi sebentar bisa jadi lama, selain tidak jelas kapan, durasinya pun tidak jelas.
                Aku sarankan sebelum memasuki koas, tentukan minimal 1 target lain selain koas. Carilah target yang dapat membuatmu hidup. “Hidup” passionate, sesuatu yang membuatmu bergairah dalam artian positif. 99,99% aku yakin akan ada waktu dimana kamu dapat mengerjakan apa pun yang kamu mau. Di situlah kita akan me-recharge tenaga dan mengembalikan hidup kita yang telah terenggut oleh jaga malam.


                “Di koas kita masih mampu mengejar minimal 1 target selain koas. Namun, jangan jadikan itu sebagai target, jadikanlah itu sebagai chargermu selagi koas. Carilah hal yang membuatmu bersemangat dan membuatmu lebih maju"
                “Kalau ada waktu kosong kita udah capek, maunya tidur aja.” Percayalah waktu kosongmu akan mencukupi waktu tidurmu. Lalu ketika kamu bangun, kamu akan bosan jika tidak memiliki tujuan. Belajar? aku tidak yakin, di sela-sela waktu koas biasanya kita akan mencari escape route dari rutinitas. Sudah capek sama koas dan kita akan mencari hal lain. Oleh karena itu, carilah 1 tujuan lain.
                Tujuan apa? Itulah yang harus dikembalikan pada diri masing-masing. Kita mencari apa dalam hidup? Untuk apa kita hidup? Apa yang mau kita capai? Apa yang bisa kita capai selagi koas selain koas itu sendiri? Travelling kah? Pergi ke tempat-tempat seru berpetualang. Atau belajar masak? Meracik resep sendiri yang menggugah selera. Sesuaikanlah apapun tujuanmu dengan waktu dan kondisi koas yang ada. Namun pastikan kamu punya 1 target, agar koasmu menjadi lebih hidup.
Koas = Gak punya waktu

“Koas masih punya waktu meskipun lebih sedikit dan lebih tidak jelas. Carilah 1 tujuan yang membuatmu lebih hidup dan lebih maju. Dan buatlah dirimu berbeda dari yang lain.” 

Semoga kamu menemukan tujuan selama koas dan semoga koasmu lebih berwarna karena itu, aamiin.

Tidak setuju? Atau punya pengalaman lain? Silahkan tulis di kolom komentar


copyright to amgah.blogspot.com

Sumber gambar:
http://3.bp.blogspot.com/_kR5ItneToBY/SuSu4y9F1NI/AAAAAAAACbA/4ypEaO_slJE/s400/iker+casillas+press+conference.jpg
http://www.selipan.com
amorecolorfullife.files.wordpress.com

17 Desember 2016

Koas Anak Klaten FK UGM Minggu 1

                 “Wah gue dapet klaten 8 minggu bro! Haduuh….”
                “Wah KKN jilid 2 gah”
                “duh alhamdulillah ya gak milih KKN jawa, kalau milih jawa terus dapet klaten juga, 4 bulan bro di Klaten!”
                “hahaha selamat jadi warga klaten, Gah!”

                Stase anak kali ini akan diisi dengan Klaten sebagai ibu Koas. Delapan minggu bukanlah waktu yang sedikit untuk sebuah stase 10 minggu. Sebenarnya aku menginginkan RSUD Banyumas sebagai rumah koas anakku, karena Banyumas sudah kuhapal betul kesehariannya. Tetapi apa daya takdir mempertemukanku dengan RSST Klaten. Sebuah rumah sakit pendidikan tipe B yang sedang mendongkrak dirinya menuju tipe A.
                Hari pertama di Klaten seperti biasa diisi oleh urusan-urusan administratif. Bertemu dengan mas Yanuar dan mas Brilly/Brilli (kita konsensus saja namanya mas Brilly). Mas Brilly adalah staf admin bagian Anak. Ditemui di ruang SMF, di pojokan, dan carilah orang yang selalu tersenyum. Sekitar satu minggu kulewati di Klaten, mas Brilly adalah salah satu alasan yang membuatku betah. Bukan karena aku homo, tetapi karena mas Brilly orangnya ringan tangan, mudah dihubungi, dan selalu memanggil kita “dok”.
                Setelah mendapat pengarahan dari mas Brilly, biasanya koas 8 minggu klaten akan dimulai di bangsal Bakung. Bangsal Bakung adalah rumah dari semua bayi-bayi yang perlu dirawat inap (selain NICU dan rawat gabung). Di sana kita akan menemui bayi-bayi yang imut tetapi menjadi tidak imut jika menangis dan harus diperiksa tiap 3 jam jika sedang jaga malam.


                Sebelum langsung ke Bakung, biasanya para koas mencari konsulen-konsulen anak yang tersebar di berbagai ruangan. Di RSST sekarang sedang ada 5 konsulen, 2 di antaranya konsulen yang baru. Dua konsulen baru itulah yang nantinya mengajari kami paling banyak. Orang bilang klaten tidak terlalu mendapat ilmu. Tetapi karena 2 konsulen baru tersebutlah kami sekarang menjadi lebih mendapat ilmu.
                DPK kami di sini adalah dr. Hendra salah satu konsulen baru selain dr. Arif. Pengalaman kami terhadap konsulen di minggu pertama masih minim. Namun satu hal yang pasti dr. Arif orangnya sangat ngajarin. Meskipun beliau sibuk, tetapi beliau masih mau menyempatkan waktunya. Resusitasi neonatus bersama dr. Arif (dan bayinya datangnya lama) adalah suatu kesempatan berharga karena di sana dr. Arif akan mengajarkan banyak hal.
                Lanjut di bakung, begitu sampai sana laporanlah dengan kepala ruang. Rata-rata perawat di sana baik. Ada yang cuek, ada yang perhatian. Carilah yang perhatian dan tak usah ambil pusing dengan yang cuek. Di sana kita dapat melakukan dan mencari kompetensi yang ada hubungannya dengan bayi. Atau bagi orang-orang yang mau menikah, bakung adalah tempat belajar bagaimana merawat seorang bayi.
                Jam kerja di bakung selesai pukul 14.00 tetapi jam mulainya kurang jelas. Ada yang bilang jam 9, ada yang bilang jam 7, ada yang bilang seikhlasnya. Tetapi saranku datanglah jam 7, karena biasanya ada follow up di sana. Kalau ada follow up, belajarlah dari situ, dan biasakan aktif. Di sini biasanya orang tidak terlalu peduli jika kamu tidak bertanya. Seperti kata pak Dumbledore di serial Harry Potter, Hogwarts ada bagi siapa yang meminta. Bertanyalah maka kamu akan diperhatikan. Tetapi terkadang kamu juga di”tendang”. Namun jika kamu tidak bertanya, kamu tidak akan pernah mendapat jawaban meskipun kamu juga tidak akan pernah di”tendang”. Bertanyalah, siapatahu kamu beruntung mendapat orang yang sangat ngajarin.
          “Tendang”: dicuekkin, dijutekin, disinisin. Hal-hal yang sudah biasa diterima koas selama menjalani masa bakti sekolahnya

Orang bilang minggu pertama bangsal bakung adalah bangsal yang paling santai. Kami akui bangsal ini memang santai. Oleh karena itu kamu bisa mengisi waktu luang dengan hal-hal lain seperti dhuha atau baca Qur’an. Tips belajar: buatlah KPJP (Koas penanggung jawab pasien). Contoh ada 15 pasien dan 3 koas. 1 Koas menjadi KPJP untuk 5 pasien. Masing-masing KPJP wajib memelajari kasus pasien yang di-KPJP-i. Mulailah dari identifikasi masalah pasien, barulah kemudian analisis target pasien. Kapan pasien harus boleh pulang? Dan apa syarat BLPLnya? Itula yang akan difollow up tiap minggu dan masala yang diselesaikan tiap harinya.
Contoh: dapat pasien BBLR 2100gr dirawat di bakung hari pertama. Masalah pasien tersebut adalah BBLR. Lalu pikirkan target masalah/penyelesaian masalah. Apa saja syarat pasien BBLR boleh pulang? (ada 5 syarat, cari sendiri ya). Lalu 5 syarat itu dicoba dipenuhi setiap harinya dan dalam pemenuhan syarat adakah masalah baru yang harus diselesaikan?. Cara belajar seperti itu cukup efektif di bangsal ini dan dapat digunakan secara universal.
Mengenai tugas fakultas; refleksi kasus, tutorial, mini-Cex, osler, dan lainnya (banyak juga ya). Koas anak akan dibagi-bagi oleh mas Brilly siapa-siapa saja yang akan mengampuhnya. Teknis dari itu pun berbeda-beda. Tipsnya yang penting tetap selalu semangat mengejar konsulen, diimbangi dengan pengertian bahwa konsulen juga seorang manusia yang punya keluarga. Sejauh ini kami baru dengan dr. Mus. Dokter mus orangnya ngajarin banget, suatu anugerah diskusi dengan beliau. Tetapi beliau sibuk, jadi harus semangat menunggu di Bakung.


Oiya ada satu cerita lagi yang belum kuceritakan, JAGA MALAM. Jaga malam merupakan momok tersendiri bagi koas dan mungkin residen. Jaga malam stase anak khususnya karena pasien yang harus dijaga cukup banyak, kerjaannya juga banyak, dan jam tidurnya relatif sedikit (terkadang tidak ada) dibanding stase lain. Apalagi jaga malam di Sardjito dan keesokan harinya harus laporan pagi.
Namun, kita bahas jaga malam di Klaten saja. Jaga malam di Klaten lebih manusiawi dibanding jaga malam di Sardjito. Seringnya perawat di sini dan residennya baik-baik, sehingga jaga malam relatif lebih menyenangkan meskipun jaga. Waktu tidur pun relatif lebih banyak dibanding jaga di Sardjito. Asrama pun dekat jika dalam perjalanan jaga ternyata kita butuh sesuatu.
        Jaga malam di Klaten ada 3 tempat yang harus dijaga. Sekarang kita bahas jaga malam di bakung (kamar bayi Klaten). Kamar bayi (KBY) klaten tidak seperti romusha di RS X, jika di RS X kita harus menjaga lebih dari 50 pasien dan ada pasien yang diperiksa tiap 1 jam. Di klaten pasien seringnya berjumlah kurang dari 20 dan pengawasannya paling ketat 3 jam.
        Kesan umum Klaten di minggu pertama cukup menyenangkan dan manusiawi. Banyaknya materi yang harus dikuasai diimbangi dengan waktu yang relatif cukup banyak. Orang bilang kekurangan Klaten adalah variasi kasus yang sedikit. Mungkin hal itu memang benar (karena kita baru bangsal bayi), tetapi dengan datangnya dr. Arif dan dr. Hendra dapat mengimbangi kekurangan tersebut. Semoga di Klaten koas anak bisa mendapatkan ilmu dan mendapatkan sebuah keluarga dalam belajar menjadi seorang dokter yang benar.

sumber gambar:
stylearena.net
theteachersdigest.com
Instagram Koasulen

               

copyright to amgah.blogspot.com

01 Oktober 2016

5 Tips Menulis dari Remah Malkist

Ceritanya Remah-remah


Halo semua, beberapa hari ini saya si remah malkist mengalami putus ide dalam menulis. Mau menulis A mentok, menulis b gak selesai, menulis c kok jelek. Lalu sampailah pada kesimpulan saya ingin membuat tips menulis. Karena siapatahu dengan menulis tips menulis, saya dapat kembali seperti dulu ketika ide bermunculan seperti jamur di musim hujan. Alasan kedua siapatahu dapat bermanfaat untuk orang lain. Alasan ketiganya beberapa hari lalu ada yang tiba-tiba bilang

“ka amgah nulis lagi dong, aku kalo lagi penat lagi capek suka baca line kak amgah loh atau blognya terus jadi semangat lagi, sangat filosofis” entah itu beneran dia katakan dari hati atau sekadar untuk menghibur si remah malkist. Baiklah kita sudahi pendahuluannya dan kita masuk ke tips pertama.


Tips ke-1. Find the positive in negative or find the negative in positive
                Menulis = Mengubah sudut pandang
                Menjadi penulis berarti melihat satu kejadian yang sama – yang dialami setiap orang – dengan sudut pandang yang berbeda. Manusia pasti pernah merasakan kesedihan, namun hanya penulis yang baik yang mampu membuat orang lain ikut merasakan kesedihan tersebut. Kesedihan yang sama yang dialami oleh dua orang penulis, dapat menjadi berbeda ketika tertuang hitam di atas putih.
                Seorang penulis yang baik mampu mencari hal yang menarik di setiap kejadian. Kita ambil contoh di atas, bagaimana caranya membuat suatu kesedihan dapat menjadi menarik? Menarik berarti mencari hal yang berbeda atau mencari sudut pandang yang jarang dilihat. Atau membuat kesedihan tersebut menjadi “topik jembatan” menuju suatu topik yang menarik atau suatu kesimpulan yang berbeda (plot twisting).
                Oleh karena itu salah satu manfaat menulis adalah penulis dapat merefleksikan suatu kejadian. Seorang penulis dapat melihat satu kejadian dari berbagai macam sudut pandang. Eh bahasan kita melebar, kita tidak membahas manfaat menulis ya. Baiklah kita lanjut ke tips yang ke-2


Tips ke-2. Find your color
                Setiap orang berbeda

                Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, kesukaan yang berbeda, dan aktivitas yang berbeda. Antar-penulis pun memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Bahkan di dalam satu novel, terkadang ada gaya penulisan yang berbeda. Berbeda suasana yang ingin dibentuk, beda pula gaya penulisannya.
                Sejauh yang saya pahami (mohon maaf jika salah), seorang penulis yang baik memiliki karakter yang kuat. Contohnya adalah raditya dika, memiliki gaya penulisan komedi dan simpel. Atau dewi lestari, memilki gaya penulisan yang sangat romantis dan sangat hidup. Oleh karena itu ada baiknya untuk mencari tahu ingin membahas apa, bagaimana membahasakannya, gaya penulisan apa yang cocok, apa karaktermu (Saya pun masih mempelajari hal itu).
                Oiya satu kesalahan yang sering saya buat adalah terlalu banyak ide di satu paragraf. Sejauh yang saya pahami, satu paragraf sebaiknya hanya memiliki 1 ide pokok. Lalu di dalam mengelaborasi satu ide pokok tersebut, jangan ada ide pokok yang lain yang timbul karena asik menceritakan suatu hal. Satu paragraf sama dengan satu warna.


Tips ke-3. Find your motivation not your “inspiration”.
                Dulu saya sangat sering bertanya kepada siapa pun yang saya anggap inspiratif “bagaimana kakak/bapak/ibu mendapat inspirasi?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak salah dan tidak ada jawaban yang pasti. Sebuah pertanyaan yang jawabannya selalu ingin didapatkan oleh siapapun; inspirasi.
                Setelah waktu berjalan, sejauh yang saya pahami saya salah jika mencari inspirasi di luar. Sebenarnya apa yang harus dicari atau diingat ulang adalah niat di dalam hati, motivasi di dalam diri. Jika kasusnya adalah menulis, maka yang perlu ditanyakan adalah; untuk apa aku menulis? Untuk apa aku semangat? Setelah mendapatkan jawaban atas hal-hal tersebut barulah inspirasi akan datang tanpa diundang.
                Seringkali saya menganggap inspirasi ada di orang lain; kehadiran seseorang akan membuat saya terinspirasi, kehadiran orang akan membuat tulisan saya lebih baik lagi. Hal-hal seperti itu rasanya kurang baik jika dipelihara terlalu lama. Selain niat seharusnya berada di dalam diri sendiri, segala sesuatunya adalah milik Allah dan akan kembali padaNya.
Jika kita menaruh inspirasi di kehadiran orang lain, kita akan kehilangan inspirasi jika kita kehilangan orang tersebut. Tulisan kita akan menjadi kosong, jika tidak ada lagi diri”nya” di dalam hidup kita. Oleh karena itu; untuk apa saya menulis? Kenapa saya harus bersemangat?


Tips ke-4. Find your inner circle
                Berbahagialah orang-orang yang memiliki sahabat sejati, sahabat yang berani mengatakan tidak dan berani membenarkan. Karena kebanyakan orang hanya mengangguk padahal di dalam hati menggeleng. Sahabat seperti itu cukup langka padahal angka kebutuhannya cukup tinggi.  Jika kamu adalah salah satu orang yang berbahagia itu, jagalah sahabatmu.
                Sahabat seperti itu dapat membuatmu naik kelas dan menjadi pemantik kesuksesan, termasuk di dunia tulis menulis. Mintalah sahabatmu untuk mengkritisi atau memberi saran pada tulisanmu, kalau bisa minta pada lebih dari satu orang. Karena setiap orang unik, semakin banyak kepala yang membaca semakin baik. Sahabat yang tidak hanya angguk-angguk mampu memoles tulisanmu menjadi tulisan yang lebih halus dan dalam.


Tips ke-5. Never stop learning
                Terakhir dan paling penting; teruslah berkarya, beranilah salah, belajar dari kesalahan, dan teruslah belajar. Saya teringat-ingat pesan yang dibilang oleh om jay, guru SMP yang pertama kali menumbuhkan bibit penulis pada diri saya. Beliau selalu dan selalu bilang, teruslah menulis, lalu perhatikanlah keajaiban yang terjadi.

Mohon maaf jika ada salah-salah, sampai jumpa di kesempatan berikutnya, sebenarnya saya punya cerita menarik terkait kuliah kerja nyata (KKN) yang akan saya jalani selama 2 bulan dan dimulai di 2 oktober nanti, semoga saya sempat menuliskan ceritanya

p.s; saya dan malkist tidak ada hubungan kerja sama apa pun

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
internetdict.com
themuslimvibe.com/
a2ua.com
mindstepsinc.com
vapeaceofmind.com
waterworldmermaids.com

04 September 2016

Koas Jiwa FK UGM; Isi Hati Pasien

Sabtu 3 September 2016

Pagi-pagi ketemu dr. Isnaini untuk tutorial, beliau adalah dokter yang sangat lembut ke pasien, teliti, dan mengajari kompetensi dokter umum banget. Tutorial kita bahas retardasi mental. Sebuah kasus yang kasihan untuk pasien dan keluarga pasien. Namun, sekarang kita tidak membahas tentang retardasi mental.

Setelah tutorial, aku dan priska bingung mau ke mana lalu akhirnya tertarik untuk ke bangsal (padahal tadinya mau pulang). Sesampainya di bangsal kok sepi, ternyata orang-orang pergi ke rehab medis. Akhirnya aku dan priska ke rehab medik tepatnya ke gedung garuda/aula olahraga. Di sana ketemu pak M, mas H, mas Z, tiga orang paling ngena selama seminggu di Grhasia. 


Pak M, pak M ini sekilas seperti orang pada umumnya. Beliau adalah pasien bolak-balik yang sudah veteran di Grhasia. Pak M lah yang nyeritain kita siapa sakit apa dan sudah berapa lama, ibarat ketua sensus penduduk Grhasia. pak M sering ngajarin koas tentang pelajaran kehidupan, contoh ya beliau ngajarin kita tentang melihat aspek lain orang gangguan jiwa. pak M bilang "dokter muda, kalian masih muda, kalian harus melihat kita-kita ini jangan cuma kasih obat, dikurung, lalu sembuh."

Dokter Muda (DM) "loh kenapa pak tiba-tiba bilang gitu?"
Pak M (PM) "Coba lihat si X, *pak M manggil si X*
PM "X, sudah berapa lama kamu di sini?"
X "2 minggu, 3 minggu, 4 minggu."
PM "lihat, sudah di kasih obat tapi masih seperti itu juga kan" 
DM "hmm, terus gimana menurut pak M baiknya?" 
PM "hm, cobalah duduk melingkar, seperti jaman sd dulu"
DM "duduk melingkar?"
PM "iya, melingkar, lalu masing-masing orang cerita, apa yang mereka keluhkan, apa yang mengganggu mereka."
(batinku, wah si bapak keren juga. dia sudah melihat pasien secara komprehensif bagaimana seseorang ketika sakit fisik, juga akan mengalami gangguan kenyamanan. Ketika seseorang sudah nyaman, insyaAllah fisik akan menjadi lebih baik).


Itu hanya 1 dari belasan wejangan pak M. Lalu mas H, ketika aku selesai ngobrol dengan pak M, pas banget mas H baru selesai main badminton. "Mas saya duduk di sini ya ngobrol-ngobrol" "silahkan dok"

DM "gimana mas udah enakan sekarang?"
MH "sudah dok"
DM "udah gak ada bisikan-bisikan lagi ya? tidur udah enak?"
MH "sudah dok"
DM "wah bagus, berarti selanjutnya tinggal rajin kontrol sama rajin minum obat ya mas"
MH "iya dok, dulu saya nyesel berhenti minum obat, sekarang saya mau rutin minum obat"
DM "sip, kalo jauh ke RS bisa ke puskesmas mas yang deket"
MH "gak dok, saya ke RS aja. kalo dokter prakteknya dimana dok?"
DM (waduh saya bingung, kalau dijelasin tentang koas kok panjang) "di sardjito mas, tapi kita muter, sekarang lagi bagian jiwa"
MH "sardjito ya dok, bagian psikologi?"
DM "bukan mas, psikiatrik"
MH "oke dokter abdi, kalau saya mau konsultasi, saya ke dokter abdi ya"
(ada ya pasien mau konsultasi sama koas, alhamdulillah)

Terus mas Z, mas Z ini mirip seperti mas H, beliau putus obat lalu kambuh. Kira-kira sudah 3 hari ini keadaan mas Z membaik. 

DM "wah mas Z, lagi gitaran nih?"
MZ "iya nih dok, mau olahraga tadinya tapi di dalam sudah penuh"
DM "ya gapapa mas, yang penting sekarang udah rehab medik, enak kan ada kerjaan dibanding di bangsal gak ngapa-ngapain"
MZ "iya dok, dokter mau main bulutangkis?"


DM "boleh boleh" *sayangnya raketnya dipinjam pasien lain*
MZ "dokter abdi sendiri gimana kabarnya hari ini? skrg ada ngobrol-ngobrol lagi sama saya kaya kemarin?"
DM "wah hahah baik mas Z, iya ngobrol-ngobrol biasa aja mas"
(mas Z ini semangatnya tinggi untuk sembuh, pulang, dan beraktivitas seperti biasa. Mas Z sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar muat pasir di suatu daerah. Keinginan beliau untuk kembali bekerja sangat tinggi sampai-sampai mau ngobrol tiap hari, karena mengobrol dianggap sebagai salah satu pemeriksaan/terapi di sini).


Oiya ada yang ketinggalan, mas I. Mas I baru aja kenal ketika sedang jalan-jalan kemarin di acara rehab medik. Mas I sehari-hari bekerja sebagai pramusaji di salah satu restoran di Yogyakarta. Pas ditanya kerja dimana, mas I bilang di X, lalu saya diajak mas I untuk makan di X. Boleh mas, tapi kasih diskon ya. Terus pas ketemu hari ini di rehab medik mas I yang menyapa duluan "Pagi dokter Abdi, ayo dok main catur" "ya monggo-monggo mas"

Ternyata banyak pasien-pasien jiwa yang unyu-unyu, mereka senang bertemu dokter, berobat, dan ingin segera sembuh serta pulang. Mereka rindu beraktivitas seperti biasa dan tidak ingin untuk mengalami gangguan ulang/kambuh. Di dalam jiwa mereka, mereka masih memiliki jiwa yang sama seperti orang-orang pada umumnya.

Semoga cepat sembuh pak M, mas H, mas Z, dan mas I, semoga cepat kembali beraktivitas seperti biasa, keluar dari Grhasia, dan tak kembali lagi menginap di sana.

copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar;
clipartpanda.com
keystonebehavioral.com
zimblo.com

31 Agustus 2016

Koas Saraf FK UGM; Sardjito dan Banyumas


Di artikel sebelumnya aku sudah cerita kalau di saraf itu sibuknya pas matahari terbit. Tetapi belum cerita kalau matahari terbenam adalah tanda koas sibuk kembali. Jaga malam di saraf cukup unik dibandingkan di stase-stase kecil lainnya. Unik dalam artian “unik”, di saraf kamu akan merasakan fase kritis yang benar-benar kritis.
Ada waktunya kita memeriksa tanda-tanda vital setiap 15 menit. Tidak terbayang jika per 15 menit tersebut terjadinya sekitar pukul 03.00, ketika fisik dan mental mengais-ngais untuk tidur. Saya rasa tidak ada satu pun orang di bangsal yang menginginkan itu terjadi, termasuk keluarga pasien. Karena tanda-tanda vital (TTV) tiap 15 menit juga berarti pasien dalam keadaan tidak bagus.
Jika kamu beruntung, kamu hanya perlu TTV tiap 4 jam atau tiap 6 jam. Namun selama aku jaga di saraf, entah mengapa aku tidak pernah mendapatkan privilege tersebut. Selain berangkat pagi dan jaga malam, di saraf ada ilmiah siang. Namun ilmiah siang tidak selalu diadakan tiap hari. Bahan belajar saraf cukup banyak dan rumit loh, harus pintar bagi waktu untuk ketrampilan dan teori.
Orang bilang resusitasi jantung paru (RJP) didapat saat anestesi karena ada jaga IGD. Saya bilang RJP juga bisa didapatkan di saraf. Apa yang tidak menyenangkan dari RJP adalah suasana duka yang menyelubungi ketika hasil akhirnya kematian. Di saraf kita diajarkan untuk lebih memaknai kepergian seseorang. Tak jarang anak menangisi orangtuanya, orangtua menangisi anaknya, suami menangisi istrinya, atau pun istri menangisi suaminya.
Stase luar kotaku adalah Banyumas, YEAY BANYUMAS. Entah kenapa aku sangat menyukai Banyumas. Menurutku, Banyumas itu memanusiakan manusia atau lebih tepatnya mengkoaskan koas. Banyak staf di sana terutama perawat yang ramah pada koas. Selain itu, kita bisa jalan-jalan ke purwokerto, koas jalan travelling jalan.

Staf saraf di Banyumas adalah mba Denny, Bu Yuni, dr. Farida, dan dr. Laksmi, empat-empatnya baik dengan kebaikan yang berbeda-beda. Mbak Denny itu… awet muda, tidak ada yang menyangka dengan parasnya yang seperti itu ternyata sudah memiliki 3 anak. Kalau ngobrol dengan mbak Denny, kita diledekkin kapan nikah kapan punya anak.
Bu Yuni yang lebih senior juga ramah pada koas, selalu tersenyum dan enak diajak ngobrol. Dr. Farida mirip seperti mbak Denny dalam artian awet muda. Hobi dr. Farida adalah travelling, mungkin karena jiwa muda beliau jadinya beliau awet muda. Dr. Laksmi lebih senior dari dr. Farida, yang aku kagumi dari dr. Laksmi adalah ilmunya dan kebaikan beliau yang mau mengaliri ilmu tersebut ke koas.
Oiya ada satu lagi yang wajib ditulis di sini, Mba Ririn! Perawat Teratai yang asik banget buat diajak ngobrol. Aku, Ana, dan Mey kalau menunggu dr. Farida selalu di bangsal Teratai. Kalau kami sudah bertemu mba Ririn, yang tadinya bosen bisa jadi asik. Mba Ririn suka menyambangi topik-topik unik, ada aja yang diobrolin.
Kegiatan koas wajib di Banyumas salah satunya adalah visite pagi dr. Laksmi tiap pukul 7.30 di Bougenville. Di sana kita akan ditanyai kasus-kasus yang ada. Rata-rata koas hanya melongo ketika disuruh menjawab, dan pada akhirnya kita disuruh dr. Laksmi untuk segera mencari di internet. Kita akan merasa keren sendiri kalau ternyata ada pertanyaan dr. Laksmi yang bisa kita jawab paripurna.
Hebatnya dr. Laksmi ilmu beliau tidak terbatas pada saraf. Ilmu beliau juga mencakup hal-hal non-saraf yang berhubungan dengan saraf, kita koas hanya bisa tercengang. Beliau tipe yang ngajarin banget dan tegas. Koas cukup mendapatkan banyak ilmu dari dr. Laksmi. Di Banyumas pun kasusnya beragam, kita belajar banyak dan jalan-jalan banyak.
Purwokerto adalah kota non-metropolis (semoga) yang mampu menyihir otakku, membuatku jatuh cinta pada pijakan kaki pertama. Entah mengapa kota ini tidak kota-kota banget tapi juga tidak desa-desa banget. Jogja pun seperti itu (dulu), dan semoga tetap seperti itu (kembali ke dulu), seperti itu berarti janganlah menjadi kota metropolis seperti kota X.
Banyak pojok-pojok purwokerto yang dapat menstimulasi endorphin, salah satunya adalah bakso pekih. Pekih berasal dari nama jalan di mana bakso tersebut terletak. Bakso pekih memang beda, pak Bondan akan bilang “maknyus”. Harganya pun normal seperti bakso pada umumnya, porsinya pun cukup banyak sehingga worth it untuk dicicipi. Jalan pekih adalah jalan kecil seperti gang yang hanya muat 2 mobil papasan. Jika jalan pekih memiliki panjang 600 meter, 250 meter dihabiskan sendiri untuk parkir bakso pekih.

Jalan kaki dari bakso pekih, sekitar 1 menit kita akan menemui alun-alun kota. Alun-alun purwokerto cukup bersahabat. Alun-alunnya bersih, penjualnya cukup banyak, tidak terlalu ramai, dan cukup terang di malam hari. Aku, Ana, dan Mey pun tak mau kelewatan bermain-main di sana. Selain bakso pekih dan alun-alun, masih banyak lagi tempat-tempat di PWT yang wajib dihampiri. (Oiya mendoan BMS/PWT dan es duren pak Kasdi itu juga maknyus).
Kalau di Sardjito kita perlu datang pukul 06.00 pagi, di Banyumas kita perlu datang pukul 05.30 pagi. Selamat untuk para early person dan bersabarlah untuk para burung hantu. Di saraf kita diajarkan untuk tahajud tiap hari. Namun enaknya di Banyumas kita dapat saling membangunkan, bangun pagi buta pun menjadi lebih ringan. Lalu masakan hangat pak Pangat sudah menunggu di depan pintu.

Pak Pangat adalah penjual makanan yang sudah aku ceritakan tempo dulu ketika menulis koas mata banyumas. Pak Pangat selain mengetuki tiap pintu kos pukul 07.00 pagi juga dapat special request. Kami special request untuk ketuk pintu pukul 04.30, murah meriah 3500 = nasi rames, gorengan 1nya 1000. Porsiku biasanya 5500, 1 nasi dan 2 gorengan, orang lain biasanya 3500 sudah cukup. Secara umum koas di Banyumas menyenangkan meskipun jauh dari peradaban dan jauh dari Yogyakarta.

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
wp.lps.org
wikimedia.org
purwokertoguidance.com

KOAS FK UGM; Interaksi Interpersonal di Koas

-         

-         
Koas Saraf FK UGM Part1: Hubungan Interpersonal antar tenaga kesehatan Rumah Sakit 
-          
-         Stase saraf, stase kecil terasa besar, adalah stase yang mengharuskanmu tiba di Sardjito ketika matahari baru saja terbit. Ketika bangsal (ruang rawat inap) lain masih mengumpulkan nyawa, bangsal saraf sudah sibuk ketuk palu. Kegiatan pagi di sini benar-benar pagi dan benar-benar sibuk, tetapi kegiatan siang di sini lebih bernafas lega dibanding stase lain.
-                         Uniknya di saraf, para koas akan mendapatkan residen pembimbing. Satu residen membimbing satu koas, maksimal dua. Otomatis hubungan koas-residen menjadi terjalin. Rata-rata residen saraf sangat baik dan murah ilmu. Di balik capeknya residensi, para dokter ini masih mau menyempatkan waktu menuangkan ilmu pada kami si gelas kosong.
-                           Ada temanku yang residennya sampai mau memberikan tentiran hingga sore, padahal residennya juga ada tugas macam-macam. Ada juga temanku yang residennya mau mencarikan contoh lembar tugas untuk dijadikan patokan. Ada juga yang sampai menanyakan kabar dan apakah ada kesulitan di akhir minggu, perhatian seperti itu cukup sulit ditemui di perkoasan. 
-                         Baik-baiklah dengan residen pembimbing, hal yang sama juga berlaku untuk perawat dan staf rumah sakit lainnya. SebutanJawanyanya adalah kulo nuwun. InsyaAllah jika koas memerlakukan beliau-beliau dengan layak, koas akan diperlakukan dengan layak. Tak jarang dalam obrolan koas dengan staf RS, ada ilmu-ilmu terselip baik tentang kedokteran ataupun non-kedokteran.
-         Seringkali koas takut untuk berkenalan dengan staf rumah sakit, saya pun terkadang juga takut. Tetapi ketika saya coba memberanikan diri, kaboom, banyak hal menarik terjadi. Banyak staf yang ternyata suka mengobrol, punya topik-topik menarik, dan sangat ramah pada koas, asalkan berani untuk memulai.
-         Sejauh mata memandang ketika para koas mencoba untuk ramah, mayoritas staf lain juga ikut ramah. Meski ada juga sedikit staf yang memandang koas sebelah sandal, karena letaknya koas ada di bawah. Aku tidak berbicara tentang teaching by humiliation (digoblog-goblogin). Namun, usut punya usut, mayoritas orang yang memandang koas sebelah sandal ternyata punya pengalaman buruk dengan koas. Ternyata ada juga oknum-oknum koas yang mencoreng nama koas.
-         Sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan dan memulai lembaran baru. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diulang lagi, tetapi apa yang belum terjadi dapat kita tulis dengan tangan sendiri. Sebagai koas, sudah sewajarnya untuk sabar ketika dipandang sebelah sandal, diragukan kemampuannya, dan dicuekkin keberadaannya (menjadi cicak, nempel di tembok, antara ada dan tiada). Sebagai koas, tugas kita adalah membuktikan bahwa kita juga manusia, mampu belajar, dan mampu memberi manfaat.
-         Buktikan bahwa koas itu ramah dan mampu bergaul. Koas juga punya kemampuan, koas dapat mewarnai suasana rumah sakit dengan kebahagiaan. Di blog ini ada cerita tentang koas yang dikasih salak segepok sama pasien. Jarang sekali ada keluarga pasien yang sampai memberikan tanda terima kasih pada koas. Koas mampu asalkan mau.
-         Kalau lagi jaga, kenalanlah dengan lingkungan jaga. Ketika masuk ke lingkungan baru, kenalanlah dengan lingkungan tersebut. Dijuteki? Bodo amat, orang yang suka menekuk mukanya berarti ia menolak kebahagiaan. Karena satu senyuman membawa senyuman-senyuman yang lain. Kalau dapat teman ngobrol yang asik, jaga malam yang tadinya membosankan dapat menjadi menyenangkan.
-          
-         -          Interaksi di Poli
-         Modal utama untuk koas adalah kaki yang kuat berdiri lama, mata yang kuat melihat lama, dan boyok yang kuat menopang beban tubuh lama. Banyak temanku yang tiba-tiba berganti sepatu menjadi merek X, karena merek X menawarkan kelembutan yang mampu mengurangi tingkat kepegalan kaki.
-         Teori koas adalah cicak tidak berlaku untuk beberapa konsulen. Contohnya adalah dr. Gofir dan dr. Paryono, bersama beliau koas dianggap. Terkadang koas selain menjadi cicak juga menjadi jin, keberadaan koas antara ada atau tiada. Tetapi kalau dengan dr. Gofir dan dr. Paryono, insyaAllah koas akan menjadi manusia, diajak ngobrol dan diajak untuk memeriksa. Tidak semua staf akan mencueki koas, asal mencoba untuk lebih berani memulai obrolan.
-          
-          Sekian sekilas tentang interaksi interpersonal di koas secara umum. Saya sudah tidak mampu melanjutkan artikel ini karena jam sudah berdetik di angka 23:21, insyaAllah kita lanjutkan topik lain di kesempatan yang lain
-           
-          p.s; sekarang saya sedang stase jiwa, di stase ini interaksi koas dengan calon perawat dapat lebih intens (terutama di RSJ Grhasia. Setelah ngobrol-ngobrol dengan calon perawat, ternyata mereka juga seringkali dicuekkin sebagai mahasiswa/i profesi. Ketika saya mengutarakan istilah cicak/jin mereka bilang "wah sama dong kita juga gitu".  Semoga oknum-oknum profesi yang suka mengecewakan staf RS dapat taubat dan staf-staf RS yang suka mencicakkan koas menjadi lebih ramah
-          
-         copyright to amgah.blogspot.com
-          
-         sumber gambar:
-         livingwelleducation.com


24 Juli 2016

Forensik Selo? Tidak Kuduga

Salah satu teman kelompok yang  hobinya nonton Power Ranger di Asrama

Yip yip hooray, sorak-sorai gembira ketika satu stase koas telah rampung. Wajar jika sebelum masuk stase X, para koas baru akan bertanya dengan koas sebelumnya yang sudah khatam. Beberapa informasi yang aku dapat tentang forensik (sebelum masuk forensik); 1. Forensik itu stase Jogja City Mall (JCM), sambil nunggu panggilan, kita bisa jalan-jalan di JCM, 2. Forensik cukup selo, 3. Tanda-tangannya cukup banyak, 4. Dosen favorit.

Dua dari empat informasi tersebut ternyata seratus delapan puluh derajat. Forensik stase JCM? Patut dipertanyakan untuk kelompok 16102, forensik memberi kejutan. Bukan hanya tentang forensik stase JCM, tetapi forensik juga stase MasterChef. Bukan hanya jumlah kasus kelompok kami yang cukup lumayan, tapi juga tentang bekas yang ditinggalkan forensik untuk kami. Kita bahas kejutan di paragraf lain, sekarang kita bahas tanda tangan dan dosen favorit.

Tanda-tangan di forensik cukup banyak dibanding di THT, Mata, dan Kulit. Ketika satu kegiatan telah selesai, tanda tangan yang dibubuhkan (minimal) ada di tiga tempat yang berbeda; logbook lembar kegiatan, logbook lembar khusus (BST/Refleksi kasus/Tutorial/dst), dan lembar kegiatan terpisah (selembaran yang diambil di forensik).  Namun berdasarkan sumber yang sudah pernah Ilmu Penyakit Dalam (IPD), IPD memiliki jumlah tanda-tangan lebih banyak lagi, jadi jangan mengeluh.

Kalau dosen, sedikitnya ada dua dosen forensik favorit yang ngajarnya menyenangkan. Pertama, dr. Yudha Nurhantari, beliau kalau mengajar sangat unik, suka melawak, tetapi pelajarannya tetap masuk ke otak. Kedua, dr. Idha Arfianti, serupa tapi tak sama. Cara mengajar beliau juga unik, kalau diajari beliau pelajaran sangat gampang untuk diserap otak. Lalu semangatnya membuat para muridnya enggan mengantuk. P.s; kita tidak membahas ujian.

Kegiatan minggu pertama.

Salahku memulai forensik dengan harapan forensik adalah stase JCM, aku berharap dapat mengerjakan hal-hal lain selain koas, contoh: memperpanjang sim. Sebelum stase sudah kusiapkan surat sehat dari GMC Health Center. Ternyata di tengah-tengah stase aku ditegur untuk tidak berharap pada stase, tetapi berharap hanya pada Tuhan.

Kasih Tak Sampai
Masuk hari pertama disuguhkan dengan briefing yang komprehensif. Jadwal di forensik mirip dengan di kulit, semua-muanya harus membuat jadwal sendiri. Hubungi atau temui dosennya, lalu buatlah kesepakatan waktu. Ada beberapa biko, praktikum, dan latihan keterampilan (skillslab) yang harus diselesaikan di minggu pertama.

Jumlah pastinya aku lupa, pengampuhnya pun berbeda-beda, dan gaya mengajarnya berbeda pula. Kata mas Nanang (admin Forensik), memang sengaja minggu pertama dijadikan sebagi minggu pembekalan, sebelum nantinya kita mandiri di minggu ketiga. Berdoalah kalian mendapatkan dosen favorit yang cara mengajarnya yahud dan ilmunya nyangkut,

Jadwal bimbingan di minggu pertama biasanya menghabiskan seluruh jam kerja, sudah sewajarnya minggu pertama cukup sibuk. Namun jika dibandingkan dengan stase lain, forensik cukup tidak menghabiskan tenaga fisik. Satu hal yang berbeda dan cukup tidak disukai oleh beberapa koas forensik adalah ketidakpastian. Di sini kita akan mengerti bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian dan perubahan itu sendiri. Contoh: ketika kamu sudah berencana untuk melakukan A dari jauh-jauh hari, tetapi jika ada panggilan dari forensik, seberapa penting si A tersebut tetaplah harus ditinggal. Kewajiban koas forensik adalah memenuhi panggilan otopsi.

Panggilan otopsi/On Call dapat menghubungimu sewaktu-waktu sesuka hati. Normalnya kita tidak akan dipanggil jika sudah melewati 23.00, tapi tidak ada yang menjamin. Tidak ada yang pasti di On Call, kamu lagi mandi, kamu lagi tidur, lagi apa pun panggilan tersebut harus dijawab dan dalam waktu 30 menit kita harus sampai di Sardjito. Oleh karena itu haram hukumnya pergi ke luar kota, dan kita menyebutnya sebagai tahanan kota.

Menurut beberapa sumber yang sudah khatam forensik, mereka menyelesaikan forensik 4 minggu dengan jumlah On Call/kasus sekitar 4-6 kasus. Namun untuk kelompokku, 4 kasus adalah jumlah yang kami selesaikan dalam 1 minggu. Perlu dicatat bahwa kegiatan Bed Side Teaching (BST) adalah kegiatan wajib yang harus dilaksanakan selesai kasus, dan beberapa kegiatan BST meninggalkan tugas yang harus dikerjakan dengan cara tulis tangan. Namun jika kamu beruntung, BST dapat berupa diskusi-diskusi.

Karena kami mendapat 4 kasus, otomatis harus ada 4 BST, ditambah jadwal segala bimbingan, ditambah menyelesaikan visum. Penyelesaian visum cukup lama, belum ditambah revisi dan menulis yang sudah fix di lembar rekam medis. Padatnya minggu pertama memaksaku untuk menunda jadwal perpanjangan SIM, aku pikir minggu kedua akan lebih lowong. Di hari minggu pun sorak sorai akhirnya minggu pertama selesai. Aku memulai minggu kedua dengan harapan minggu kedua lebih aman. Aman = tidak ada panggilan otopsi.

Lebih baik panggilan ini atau panggilan forensik?

Kegiatan minggu kedua

Minggu kedua umumnya diisi oleh hal-hal yang belum diselesaikan di minggu pertama. Pada beberapa kasus, beberapa dari kelompok akan dikirim ke Klaten. Namun untuk kelompokku, kami ber-13 (seluruh kelompok) akan ke klaten di minggu ke-3. Selesaikanlah hal-hal yang perlu diselesaikan di Sardjito sebelum ujian, karena di minggu ujian sebaiknya kita fokus untuk belajar. P.s; ujian akan dilaksanakan hari selasa (awal minggu ke-4).

Oleh karena itu beberapa kelompok kecilku memilih DOPS di minggu kedua. DOPS ibarat pra-ujian dengan bahan tatacara pembuatan visum dari awal hingga terbit. Oiya di Forensik kita dibagi dalam empat kelompok kecil, masing-masing beranggotakan tiga s.d empat orang. Kelompok kecil inilah yang akan terus mengarungi samudera forensik dan mencicipi pahit manis forensik bersama-sama. Kelompok kecilku memilih DOPS di minggu ke-2.

Ajaibnya, di minggu kedua ini kami hampir tiap hari mendapatkan kasus/On Call. Kalau tidak salah kami mendapat 5 otopsi dari 7 hari yang ada. Otomatis 5 otopsi menghasilkan 5 BST, 5 BST = 5 Tugas. Ternyata minggu kedua bagi kami tidak seperti apa yang dikatakan orang-orang. Total kami telah mengantungi 8-9 kasus sebelum bedol desa ke Klaten.

Kegiatan minggu ketiga.

Di Klaten kita akan dilatih untuk membuat visum hidup, karena di Sardjito kita fokus membuat Visum mati. Tetapi, bukan berarti tidak ada kasus mati di Klaten, On Call masih akan tetap membayang-bayangi hidup. Enaknya di Klaten kita semua ada di satu asrama, kalau ada kasus tinggal saling colak-colek. Kalau di Sardjito, berbahaya jika kita dipanggil pukul 23.00 ke atas, kalau yang tidur dan susah bangun bisa berabe.

Minggu ke-3 kami bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Harapan kami agar semua warga Klaten dan sekitarnya sehat selalu. Kami di Klaten ditugaskan untuk jaga IGD/On Call kasus hidup. Jika ada kasus seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau Kecelakaan Lalu Lintas (KLL), kami ikut menangani. Doa yang kami panjatkan agar tidak ada yang main petasan dengan sembrono hingga mengakibatkan luka atau kematian.

rayakanlah Idul Fitri dengan aman dan sehat

Pada minggu ini pula ketika yang lain merayakan liburan, kami juga merayakan liburan di bagian forensik. Ketika staff rumah sakit umunya berlibur atau mudik, kami juga "berlibur" di ruang otopsi jika ada kasus mati. Di balik "liburan" kami di Klaten, ada dua cerita unik yang ingin kubagikan. 

Cerita pertama adalah di malam hari raya Idul Fitri, di malam yang paginya umat muslim akan menunaikan solat Ied. Biasanya kami para cowo-cowo harus berusaha bangun secara mandiri untuk dapat solat subuh. Tetapi malam itu tiba-tiba pintu kamar kami diketok. Wah Alhamdulillah ada yang bangunin buat solat subuh. Ingin kuucapkan terima kasih pada si pengetok karena sudah repot-repot mau membangunkan. Namun ternyata dia duluan yang sudah berbicara “Amgah, ada otopsi, bangunin yang lain dan cek grup Line”

Akhirnya kami pun otopsi tepat sebelum solat Ied. Alhamdulillahnya ketika solat mau dimulai, otopsi sudah hampir selesai. Kami yang muslim meminta izin kepada yang lain untuk meninggalkan otopsi sebentar. Lalu kerjasama yang apik pun terjadi #biasaajakali. Setelah solat ied kami yang muslim kembali ke bagian Forensik untuk membuat visum mati.

Ceritanya bersambung ya, stase saraf sudah menunggu di depan mata. Spoiler; Di akhir forensik semua bahagia, meskipun dapat total >12 kasus, tapi ada satu hal berharga yang tidak didapatkan di stase lain. 


--- end of part 1 --- to be continued 
copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar:
koleksi pribadi
pkp5sw.wordporess.com
twitter.com
dubaichronicle.com

29 Juni 2016

Koas: Gandengan Tangan atau Suram


Artikel ini bukan menyuruh koas untuk pacaran. Kalau tidak pacaran maka koas menjadi suram. bukan, bukan itu. 

Kerja sama adalah hal mutlak dalam dunia perkoasan, namun kemampuan ini kadang diabaikan. Kepiawaian dalam memainkan kerja samalah yang menentukan dunia perkoasan menjadi menyenangkan atau suram. Kerja sama bagus, koas untung, kerja sama jelek, koas buntung. Neglected yet important, very important.
                Koas berbeda dari dunia persarjanaan ketika mengejar S.Ked, para calon dokter dapat saja survive tanpa orang lain. Tetapi di koas, survive sih survive tapi nyusahin kelompok dan warga sekitar. Aku cukup beruntung berada di tim koas yang dapat bekerja sama, jadi aku contohkan saja hal-hal terburuk yang dapat terjadi jika tidak pandai bergandeng tangan.
Contoh pertama (contoh kecil), ada sebuah tugas kelompok dimana harus dikerjakan oleh belasan orang. Tugas yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh hanya 5 orang harus dikerjakan >10 orang. Otomatis kemungkinan gabut (gaji buta/tidak kerja) sangat tinggi. Perlu otak kreatif agar semua orang dapat bekerja secara adil.
Jika gagal bekerja sama, banyak orang yang gabut
Contoh kedua; dapat tugas yang berat secara fisik atau secara mental. Bagaimana caranya agar tugas berat itu dapat dipotong-potong menjadi tugas yang kecil-kecil, sehingga beban dari tugas pun terfragmen-fragmen. Kadang hal ini sulit dilakukan sehingga tugas yang berat ya tetap menjadi berat.
Jika tidak mengerti bahwa kerjaan dapat dipecah-pecah, kerjaan yang ada akan selalu berat. Minimal meringankan beban kerja adalah bercanda sesuai porsi dan situasi. Jika bekerja dengan hati yang nyaman dan senang, berat pun terasa ringan. Lagi-lagi, kerja sama adalah penentu, kerja sama untuk sama-sama membuat senyum.
Contoh ketiga; manusia berasal dari keluarga yang berbeda, budaya yang berbeda, dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan itu dapat prominen tapi dapat juga dangkal. Jika prominen, satu dengan yang lain dapat berseteru, bagaimana agar perseteruan dapat menjadi dingin atau minimal kerjaan dapat diselesaikan secara profesional, semua itu butuh kerja sama.
Jika gagal bekerja sama, minimal satu sama lain gondok-gondokan. Atau kena marah dokter, atau paling buruk kerjaan tidak selesai dan menimbulkan efek yang kita semua sama-sama tidak ingin tahu. Banyak contoh lain tentang bagaimana kerja sama memerankan peran penting yang dapat dirasakan ketika koas nanti.
Koas secara internal berarti kamu-doktermu-dan kelompokmu. Triad komunikasi itu perlu dipegang amat sangat karena jika satu terputus akan menyusahkan.  Jika kerja sama antar ke-3 hal tersebut berjalan apik, seberat apa pun koas akan terasa menyenangkan. Kebahagiaan akan mengundang kebahagiaan yang lain. Kepanikan akan mengundang kepanikan yang lain. Senyum akan mengundang senyum yang lain

-Pernah bertemu orang yang senyumnya manis? Jadi pengen ikut senyum juga kan? :) – (buat koas FK UGM yang sudah bertemu ...., pasti mengerti)


                Sekarang bagaimana caranya melatih kerja sama? Aku pun tak begitu ahli, masih perlu belajar banyak. Tapi, akan kubagikan satu tips. Memang ada teori-teori dasar perihal cara untuk bekerja sama, tapi teori berbeda dari praktik. Terkadang ketika menjalankan teori tersebut, kita menemui kesulitan yang bahkan google pun tak punya jawaban. Itulah pelajaran kehidupan.
Pelajaran kehidupan, pelajaran yang tidak ada di buku tapi ada di depan mata, dilakukan, bukan dibaca. Pelajaran yang hanya akan muncul untuk orang-orang yang mencari. Pelajaran yang SKSnya ada tapi kadang tidak diambil. Pelajaran yang penting tapi kadang dikubur hidup-hidup oleh hingar-bingar cumlaude atau nilai akhir.
Saya ketika menyeleksi orang yang mau masuk ke dalam tim, pernah menemui orang yang nilainya sangat tinggi tapi ketika diajak kerja sama, sulitnya minta ampun. Buat apa memiliki istri yang cantik, tapi tidak bisa berkomunikasi dengan dia, 11-12 dengan tidak punya istri bukan. Atau memiliki mobil yang mewah tapi tak bisa dijalankan, mending punya sepeda tapi bisa sampai tujuan.
Satu tips untuk melatih kerja sama adalah bersosialisasi yang menuntut untuk menyelesaikan suatu pekerjaan; kepanitiaan, organisasi, apapun asal ada kerjaan yang harus dilakukan. Bersosialisasi tanpa kerjaan akan melatih kerja sama dalam hal personal (hubungan untuk bermain), tetapi tidak akan melatih kerja sama dalam hal profesional (hubungan untuk menyelesaikan suatu kerjaan). Ada orang yang enak diajak main bareng, tetapi tidak enak diajak kerja sama untuk kerja dan vice versa. Latihlah kerja sama yang sama-sama enak buat diajak main dan diajak kerja.
Semakin sering mendapat kasus nyata, semakin lihai kepiawaian dalam kerja sama. Orang yang tidak ikut organisasi pun dapat saja pandai dalam kerja sama. Loh? Karena dia sudah mendapat ilmu bekerja sama di keluarganya. Tapi kalau kita tidak punya itu, carilah ladang ilmu kerja sama di panitia atau organisasi atau apa pun. Banyak ladang ilmu yang menyediakan SKS kerja sama, tinggal masalah mau atau tidak mau.
Semoga tulisan ini dapat menginspirasi pembaca, karena saya cukup prihatin akan tergerusnya nilai ini. Banyak orang dan orang tua yang hanya mementingkan nilai dan mengesampingkan pelajaran hidup. Padahal keduanya harus berjalan beriringan seperti suami dan istri. Mungkin saya pribadi juga termasuk orang yang sulit bekerja sama, tetapi yang penting tetap berusaha untuk belajar dan mengambil SKS bekerja sama di berbagai tempat.
Selamat bekerja sama, semoga kehidupanmu menyenangkan

“Kebahagiaan mengundang kebahagiaan lainnya, tawa mengundang tawa lainnya, senyum mengundang senyum lainnya. Tersenyumlah” :)

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
http://www.ummiindonesia.com/
http://static.kidspot.com.au/

11 Juni 2016

Koas Kulit FK UGM



Detik-detik ketika aku mau masuk kulit, semua kakak mingguku bilang koas kulit itu nyantai. Namun, ketika aku sudah kecemplung, ingin sekali kubilang santai dari Hong Kong. Langsung aku konfirmasi dengan teman dekatku dan mereka semua bilang. ritme di kulit itu cepat. Kalau mau koas kulit lancar, tenang seperti di pantai, kamu perlu tahu trik-triknya. Secara umum kulit itu menyenangkan, tidak terlalu capek, residennya baik-baik, dan konsulennya juga baik.
Kali ini aku menjadi Chief Stase, Chief adalah orang yang bertugas mengurusi segala tetek-bengek teknis stase koas yang sedang dijalani. Di kulit itu jadwal serba manual, kamu diberikan sebuah misi harus menghubungi dosen A, B, C, D lalu kamu harus membuat jadwal sendiri dengan beliau-beliau. Kalau kelompokmu mendapat dosen yang tidak terlalu sibuk, atau memiliki jadwal yang tetap, kamu beruntung. Tetapi jika kamu mendapat dosen yang sibuk atau yang memiliki jadwal serba mendadak, kamu perlu berdansa dalam alunan pesan pendek/WhatsApp.
Ketika aku mulai menghubungi dan menyusun jadwal, otakku cukup berputar keras karena aku hanya memiliki waktu 3 hari kerja untuk menyelesaikan tugas minggu pertama sebagai Chief. Pada umumnya adalah 5 hari kerja, tetapi saat itu ada libur 2 hari. Waktu 3 hari kerja itu harus diisi oleh berbagai macam hal yang bukan main-main; Kuliah ada 4x, Bimbingan Residen 1x, BST Bangsal 1x, Pertemuan DPK 1x, Skillslab 1x, Bimbingan ketua SMF 1x, Bimbingan Admin 1x. Itu semua jadwalnya belum ada yang pasti, kamu harus menghubungi semua pengampuh satu demi satu.\

Aku bilang waktu 3 hari itu nekat ibarat kamu dikerjar Anjing, 5 hari cukuplah seperti kamu berjalan bersama orang tersayang. Ngos-ngosan di minggu pertama diperparah kalau ada dokter yang ternyata hanya dapat memberikan kuliah di waktu yang bersamaan dengan jadwal dosen lain. Contoh, dosen A hanya bisa jumat pukul 13.00, padahal dosen B sudah janjian dari kemarin bahwa jadwal beliau jumat pukul 13.00. Chief kulit dituntut untuk pandai meramu, meramu jadwal minggu pertama.
Satu kelompok sedang berisikan 13 orang akan dibagi menjadi 3 kelompok kecil berisikan 4-5 orang. Satu kelompok kecil memiliki 1 Dosen Pembimbing Klinis (DPK). Seorang DPK akan membimbing kelompok kecil dan memberikan kuliah pada kelompok sedang. Tips kegiatan minggu pertama;
  1. Bimbingan Admin – Pak Harto. Pak Harto ini admin yang sangat baik karena ngemong anak koasnya. Sebisa mungkin selesai kulit ya selesai tanpa hutang. Hubungi beliau di hari kamis atau jumat sebelum hari pertama masuk kulit (senin). Kemungkinan bimbingan dengan pak Harto hari senin pagi di hari pertama.
  2. Bimbingan kepala Departemen Kulit – dr. Fajar Waskito -> beliau baik banget, sangat ramah, dan dari perangainya terlihat tegas. Hubungi beliau langsung di ruang kepala departemen atau hubungi admin kulit (pak Harto)
  3. Bimbingan Kodik – dr. Mira -> beliau juga baik banget, sangat perhatian terhadap koasnya seperti pak Harto, ngemong koas dan kalau ngajar sangat enak dan dapat ilmunya
  4. Kuliah DPK 1 – dr.? -> berbeda-beda tiap kelompok, komunikasilah sesuai dengan beliaunya, tanya pak Harto apa yang perlu dilakukan
  5. Kuliah DPK 2 dan 3 – dr. ? -> sama seperti kuliah DPK 1
  6.  Kuliah Kodik – dr. Mira -> berbeda dengan bimbingan kodik, kuliah berisikan materi akademik. Hubungi dr. Mira beliau dapat mengampuh kapan, kalau bisa ketemu langsung dulu baru menghubungi via WA
  7. Skillslab dengan bu Ning – Orangnya baik, kalau ditanya akan menjawab dengan sabar. Temui beliau di ruang laboratorium di poli kulit. Skillslab biasanya mengambil waktu istirahat 12.20 – 12.50 atau 13.00
  8.  BST Bangsal – dr. Sri Awalia -> beliau orangnya juga baik. Namun, perlu diingat bahwa jika pagi dan siang belum dapat menemui dr. Lia di kantor beliau, hubungilah dr.Lia melalui SMS. Minta no.Hp ke pak Harto lalu hubungi beliau terkait jadwal BST Bangsal
  9. Bimbingan residen – beberapa kakak minggu bilang bimbingan residen ini gak wajib. Tapi salah satu konsulen bilang ini wajib. Tidak salahnya toh menimba ilmu, hubungi residen yang ada di dalam kertas undangan DPK Kecil (nanti tahu sendiri kertas mana setelah bimbingan admin).


Nah, itulah 9 hal wajib yang seharusnya bisa diselesaikan di minggu pertama. Sedangkan ada 1 kegiatan lagi yang kalau bisa di minggu pertama sangat bagus, yaitu DST Poli. DST poli ini cukup ribet dijelaskan dan berbeda-beda tiap konsulen, intinya yang kamu perlukan adalah 1 kasus, ilmu kasus tersebut, dan lembar status dari kasus tersebut yang kamu buat sendiri.
                Sekian info mengenai koas kulit kelamin atau Dermato-Venereology (DV) FK UGM. Koas itu dinikmatin aja ibarat sungai mengalir, musik menari, main bola berlari, gausah dipusingin, gausah dibuat ribet. Ikuti, jalani, lakukan yang terbaik, dan jangan lupa untuk selalu beribadah dan berdoa.
                Sampai jumpa di artikel koas kulit berikutnya! Alhamdulillah kulit berakhir menyenangkan dan lancar jaya..

#salamlegowo

Legowo itu Sehat
copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
comments20.com
blogger.com