Langsung ke konten utama

Postingan

Mengapa Aku Menikah Part 2

Jembatan (Bridge)  Lanjutan Mengapa Aku Menikah Part 1

Modal minus sudah diberikan Tuhan melalui pernikahan orang lain. Lantas bagaimana aku memulai pernikahanku sendiri? Sebuah pertanyaan yang sangat sulit, saat itu. Banyak kata orang-kata orang yang lalu lalang tak jelas ke kiri dan kanan. Mengapa berkelahi? aku ingin keyakinan.
Ada orang yang menakut-nakuti, tetapi ada pula yang menyemangati. Lah iki piye? Sedikit tawa kecil memikirkan betapa uniknya paradoks tersebut. Kok aneh, kalo nikah memang baik kenapa masih ada yang bilang jangan dulu, nanti aja? terus kalo nikah memang tidak baik, kenapa masih ada yang menyemangati untuk disegerakan? Yang bener yang mana? Terus yang memilih menikah nanti, mengapa masih mengutuk pernikahannya padahal sudah nanti?dan beberapa yang menyegerakan sebagiannya ada yang menyayangkan. Jadi sebaiknya bagaimana?
Anehnya lagi ada penggiat nikah muda, lalu ada penggiat lawannya yang meredik para penggiat nikah muda di satu forum. Lah ini lucu, gak nyam…
Postingan terbaru

Mengapa Aku Menikah Part 1

Prolog
Berulang kali tulisan ini aku biarkan terkatung dalam daftar draftKenapa harus aku post? orang yang tidak percaya akan menghina minimal mengingkari. Orang yang percaya tak perlu repot-repot baca ini karna sudah percaya. Orang yang bingung? hm. Karena terhenti pada kalimat tanya itu akhirnya memberanikan diri untuk merampungkan Mengapa Aku Menikah.
Cukup banyak yang bertanya "kok bisa sih? gimana ceritanya?" tak sedikit pula yang meminta "di post dong di blog" Pertanyaan bisa kujawab namun postingan blog kadang kutolak.  Modal dari membaca ini mungkin sebuah keraguan. Aku pun menikah berawal dari keraguan, dulu aku ragu karena sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang mainstream aku tak punya penghasilan. Namun waktu berjalan akhirnya menyadari bahwa keraguanku bukan semata-mata karena penghasilan. Keraguanku muncul akibat aku lemah ilmu, tak punya ilmu mengenai pernikahan.
Tak perlu aku jelaskan panjang lebar mengenai pencarian orang, siapa jodohku?. Kare…

Koas kok gak Belajar?

Analogi dan Fenomena 
"Kalian itu yang nantinya ngerawat saya kalau saya sakit. Kalau kalian gak pinter lah gimana saya nanti? Terus ketika kalian sudah praktik mandiri, pasien datang ke kalian minta tolong. Kalau kalian gak ngerti, gimana kalian mau nolong?" Salah satu konsulen terbaik kami, stase THT RSST Klaten
"Heran saya sama temanmu. Koas kok mbolosan (suka bolos), yang butuh kan dia bukan saya" Salah satu curhatan tentang koas Dinamika sosial yang kalau diperhatikan hampir semua bahkan mungkin semua interaksi sosial seperti itu. Ada orang yang sungguh-sungguh, pertengahan, dan sungguh-sungguh di tempat yang lain. Frasa halus dari meninggalkan yang seharusnya dikerjakan (dibahas kemudian). Semua orang adalah pemerintah terhadap tubuhnya sendiri, sudah termasuk akal dan qalbu (nafs atau hati). 
Namun seringkali terjadi otomatisasi atau di dunia medis dapat dikatakan refleks, padahal untuk memperoleh refleks, orang tersebut memilih untuk membiasakan suatu hal.…

Koas Teladan dan Keunikan yang Mereka Miliki

Lewat sudah 20 menit untuk mencari ide. Cari ke dalam otak yang sekarang ternyata kosong, cari ke masa lalu masih juga kosong, sampai buka artikel-artikel lama dan akhirnya ketemu. Kali ini tentang dua insan yang aku temui saat koas bedah FK UGM di Banyumas. Stase besar yang paling menyenangkan dari sisi waktu kosong (waktu mandiri).

Anggap saja namanya Fulan1 dan Fulan2, agar mereka tidak malu kisahnya aku beberkan di sini. Fulan1 dengan Fulan2 sebenarnya punya perbedaan yang sangat besar, yaitu berat badan. Namun keduanya masyaAllah, pengetahuan agamanya bukan main. Penting untuk diketik, bahkan mungkin paling penting. Keduanya tidak meninggalkan ilmu dunia, mereka berdua cerdas, yang satu sering juara olimpiade yang satunya lagi dipercaya banyak orang dalam tindakan kedokteran.

Takdir Allah aku bertemu mereka di Banyumas ketika kami bertiga punya banyak waktu luang. Di saat yang bersamaan tepat sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Alhasil pergilah kita pada beberapa malam di sepul…

Koas dan Lima Kebahagiaan di Dalamnya

Sudah hampir dua tahun aku dan teman-teman mengenyam pendidikan dokter muda (koas). Cukup sering juga cerita dibagikan di blog ini karena koas sangat berbeda dengan sarjana kedokteran. Kalau S.ked ikuti alur saja sudah cukup, namun tidak dengan koas. Di koas perlu tahu tips dan trik yang tidak tertulis jika tak mau waktu terbuang sia-sia.

Seperti fase hidup pada umumnya, suka duka itu selalu silih berganti. Kali ini aku ingin bercerita tentang 1 tahun yang lalu. Bertempat di RSUD Banyumas dan RSUP DR. Sardjito. Uniknya, draft artikel ini aku buat sebelum hari pertama stase radiologi, namun ketika hari pertama stase radiologi, apa yang ingin aku tuliskan di sini seperti bocor dan disampaikan oleh dr. Lina dan mba Dian.

Asiknya stase saraf Banyumas zamanku dulu (seharusnya belum berubah), kita memiliki cukup waktu untuk belajar. Kadang, koas lain mengartikannya sebagai jalan-jalan ke Purwokerto. Namun jangan dipikir banyak waktu tersebut membuat kita bodoh. Karena ketika jam kerja, dokt…

Lima Tips Koas IPD FK UGM

Banyak sekali hal-hal yang tidak tertulis dalam peraturan namun dalam kenyataan sangat dipegang. Contoh; ketuk pintu saat hendak memasuki ruangan. Pastilah kertas peraturan semakin penuh jika setiap peraturan tidak tertulis ikut ditulis. Sayangnya masih ada saja beberapa koas yang mungkin lupa kalau ada hal tersebut. Oleh karena itu kewajiban bagi koas yang ingat untuk mengingatkan. Kalau yang lupa tidak mau mengingatkan, semoga Tuhan mengingatkannya.
Namun, kita di sini tidak membahas peraturan tak tertulis melainkan tips tak tertulis. Beberapa tempo lalu -- di sini -- aku telah menuliskan bagaimana koas dituntut untuk memiliki inisiatif. Namun sayangnya, pendidikan kita tidak sinergis untuk mendidik kami menjadi pribadi inisiator. Contoh? Ada bagian dimana salah menginisiasi berakibat fatal, lebih baik manggut-manggut angguk-angguk. Lalu hadirlah artikel ini yang semoga dapat membantu Anda jika ingin IPD lebih bermanfaat. Tentunya pembaca lain sangat diundang untuk berbagi tips pri…

Satu Kebutuhan Koas yang kadang Lupa: Nikah atau Karir

Yeay! Dua bulan terakhir sebelum kami merdeka, insyaAllah. Bersamaan dengan pergantian tahun, berganti pula rotasi klinik menjadi persiapan UKMPPD. Jika zaman dulu kita mengenal Ujian Nasional (UN), UKMPPD adalah UN-nya anak FK. Saya dengar target FK UGM adalah lulus 100%, semoga tercapai aamiin. Di satu sisi, berarti kami (koas) harus kerja cerdas agar dapat bergandengan tangan dengan fakultas mencapai target tersebut. Menariknya, kebutuhan UKMPPD pasti diingat oleh koas dan difasilitasi oleh fakultas. Berbeda dengan apa yang ingin saya bahas.
Merdeka -- bebas dari penghambaan, berdiri sendiri, tidak terikat, lepas dari tuntutan (KBBI, 2017) -- adalah dambaan setiap koas. Mungkin dambaan setiap peserta didik setidaknya di bidang kedokteran. Sudah rahasia umum bahwa beberapa sistem pendidikan kedokteran menuntut sistem pertahanan diri yang baik agar tetap sehat (terutama sehat jiwa). Oleh karena itu kemerdekaan adalah oase jika berada di tengah gurun pasir tersebut. Setelah koas, me…