04 September 2016

Koas Jiwa FK UGM; Isi Hati Pasien

Sabtu 3 September 2016

Pagi-pagi ketemu dr. Isnaini untuk tutorial, beliau adalah dokter yang sangat lembut ke pasien, teliti, dan mengajari kompetensi dokter umum banget. Tutorial kita bahas retardasi mental. Sebuah kasus yang kasihan untuk pasien dan keluarga pasien. Namun, sekarang kita tidak membahas tentang retardasi mental.

Setelah tutorial, aku dan priska bingung mau ke mana lalu akhirnya tertarik untuk ke bangsal (padahal tadinya mau pulang). Sesampainya di bangsal kok sepi, ternyata orang-orang pergi ke rehab medis. Akhirnya aku dan priska ke rehab medik tepatnya ke gedung garuda/aula olahraga. Di sana ketemu pak M, mas H, mas Z, tiga orang paling ngena selama seminggu di Grhasia. 


Pak M, pak M ini sekilas seperti orang pada umumnya. Beliau adalah pasien bolak-balik yang sudah veteran di Grhasia. Pak M lah yang nyeritain kita siapa sakit apa dan sudah berapa lama, ibarat ketua sensus penduduk Grhasia. pak M sering ngajarin koas tentang pelajaran kehidupan, contoh ya beliau ngajarin kita tentang melihat aspek lain orang gangguan jiwa. pak M bilang "dokter muda, kalian masih muda, kalian harus melihat kita-kita ini jangan cuma kasih obat, dikurung, lalu sembuh."

Dokter Muda (DM) "loh kenapa pak tiba-tiba bilang gitu?"
Pak M (PM) "Coba lihat si X, *pak M manggil si X*
PM "X, sudah berapa lama kamu di sini?"
X "2 minggu, 3 minggu, 4 minggu."
PM "lihat, sudah di kasih obat tapi masih seperti itu juga kan" 
DM "hmm, terus gimana menurut pak M baiknya?" 
PM "hm, cobalah duduk melingkar, seperti jaman sd dulu"
DM "duduk melingkar?"
PM "iya, melingkar, lalu masing-masing orang cerita, apa yang mereka keluhkan, apa yang mengganggu mereka."
(batinku, wah si bapak keren juga. dia sudah melihat pasien secara komprehensif bagaimana seseorang ketika sakit fisik, juga akan mengalami gangguan kenyamanan. Ketika seseorang sudah nyaman, insyaAllah fisik akan menjadi lebih baik).


Itu hanya 1 dari belasan wejangan pak M. Lalu mas H, ketika aku selesai ngobrol dengan pak M, pas banget mas H baru selesai main badminton. "Mas saya duduk di sini ya ngobrol-ngobrol" "silahkan dok"

DM "gimana mas udah enakan sekarang?"
MH "sudah dok"
DM "udah gak ada bisikan-bisikan lagi ya? tidur udah enak?"
MH "sudah dok"
DM "wah bagus, berarti selanjutnya tinggal rajin kontrol sama rajin minum obat ya mas"
MH "iya dok, dulu saya nyesel berhenti minum obat, sekarang saya mau rutin minum obat"
DM "sip, kalo jauh ke RS bisa ke puskesmas mas yang deket"
MH "gak dok, saya ke RS aja. kalo dokter prakteknya dimana dok?"
DM (waduh saya bingung, kalau dijelasin tentang koas kok panjang) "di sardjito mas, tapi kita muter, sekarang lagi bagian jiwa"
MH "sardjito ya dok, bagian psikologi?"
DM "bukan mas, psikiatrik"
MH "oke dokter abdi, kalau saya mau konsultasi, saya ke dokter abdi ya"
(ada ya pasien mau konsultasi sama koas, alhamdulillah)

Terus mas Z, mas Z ini mirip seperti mas H, beliau putus obat lalu kambuh. Kira-kira sudah 3 hari ini keadaan mas Z membaik. 

DM "wah mas Z, lagi gitaran nih?"
MZ "iya nih dok, mau olahraga tadinya tapi di dalam sudah penuh"
DM "ya gapapa mas, yang penting sekarang udah rehab medik, enak kan ada kerjaan dibanding di bangsal gak ngapa-ngapain"
MZ "iya dok, dokter mau main bulutangkis?"


DM "boleh boleh" *sayangnya raketnya dipinjam pasien lain*
MZ "dokter abdi sendiri gimana kabarnya hari ini? skrg ada ngobrol-ngobrol lagi sama saya kaya kemarin?"
DM "wah hahah baik mas Z, iya ngobrol-ngobrol biasa aja mas"
(mas Z ini semangatnya tinggi untuk sembuh, pulang, dan beraktivitas seperti biasa. Mas Z sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar muat pasir di suatu daerah. Keinginan beliau untuk kembali bekerja sangat tinggi sampai-sampai mau ngobrol tiap hari, karena mengobrol dianggap sebagai salah satu pemeriksaan/terapi di sini).


Oiya ada yang ketinggalan, mas I. Mas I baru aja kenal ketika sedang jalan-jalan kemarin di acara rehab medik. Mas I sehari-hari bekerja sebagai pramusaji di salah satu restoran di Yogyakarta. Pas ditanya kerja dimana, mas I bilang di X, lalu saya diajak mas I untuk makan di X. Boleh mas, tapi kasih diskon ya. Terus pas ketemu hari ini di rehab medik mas I yang menyapa duluan "Pagi dokter Abdi, ayo dok main catur" "ya monggo-monggo mas"

Ternyata banyak pasien-pasien jiwa yang unyu-unyu, mereka senang bertemu dokter, berobat, dan ingin segera sembuh serta pulang. Mereka rindu beraktivitas seperti biasa dan tidak ingin untuk mengalami gangguan ulang/kambuh. Di dalam jiwa mereka, mereka masih memiliki jiwa yang sama seperti orang-orang pada umumnya.

Semoga cepat sembuh pak M, mas H, mas Z, dan mas I, semoga cepat kembali beraktivitas seperti biasa, keluar dari Grhasia, dan tak kembali lagi menginap di sana.

copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar;
clipartpanda.com
keystonebehavioral.com
zimblo.com

31 Agustus 2016

Koas Saraf FK UGM; Sardjito dan Banyumas


Di artikel sebelumnya aku sudah cerita kalau di saraf itu sibuknya pas matahari terbit. Tetapi belum cerita kalau matahari terbenam adalah tanda koas sibuk kembali. Jaga malam di saraf cukup unik dibandingkan di stase-stase kecil lainnya. Unik dalam artian “unik”, di saraf kamu akan merasakan fase kritis yang benar-benar kritis.
Ada waktunya kita memeriksa tanda-tanda vital setiap 15 menit. Tidak terbayang jika per 15 menit tersebut terjadinya sekitar pukul 03.00, ketika fisik dan mental mengais-ngais untuk tidur. Saya rasa tidak ada satu pun orang di bangsal yang menginginkan itu terjadi, termasuk keluarga pasien. Karena tanda-tanda vital (TTV) tiap 15 menit juga berarti pasien dalam keadaan tidak bagus.
Jika kamu beruntung, kamu hanya perlu TTV tiap 4 jam atau tiap 6 jam. Namun selama aku jaga di saraf, entah mengapa aku tidak pernah mendapatkan privilege tersebut. Selain berangkat pagi dan jaga malam, di saraf ada ilmiah siang. Namun ilmiah siang tidak selalu diadakan tiap hari. Bahan belajar saraf cukup banyak dan rumit loh, harus pintar bagi waktu untuk ketrampilan dan teori.
Orang bilang resusitasi jantung paru (RJP) didapat saat anestesi karena ada jaga IGD. Saya bilang RJP juga bisa didapatkan di saraf. Apa yang tidak menyenangkan dari RJP adalah suasana duka yang menyelubungi ketika hasil akhirnya kematian. Di saraf kita diajarkan untuk lebih memaknai kepergian seseorang. Tak jarang anak menangisi orangtuanya, orangtua menangisi anaknya, suami menangisi istrinya, atau pun istri menangisi suaminya.
Stase luar kotaku adalah Banyumas, YEAY BANYUMAS. Entah kenapa aku sangat menyukai Banyumas. Menurutku, Banyumas itu memanusiakan manusia atau lebih tepatnya mengkoaskan koas. Banyak staf di sana terutama perawat yang ramah pada koas. Selain itu, kita bisa jalan-jalan ke purwokerto, koas jalan travelling jalan.

Staf saraf di Banyumas adalah mba Denny, Bu Yuni, dr. Farida, dan dr. Laksmi, empat-empatnya baik dengan kebaikan yang berbeda-beda. Mbak Denny itu… awet muda, tidak ada yang menyangka dengan parasnya yang seperti itu ternyata sudah memiliki 3 anak. Kalau ngobrol dengan mbak Denny, kita diledekkin kapan nikah kapan punya anak.
Bu Yuni yang lebih senior juga ramah pada koas, selalu tersenyum dan enak diajak ngobrol. Dr. Farida mirip seperti mbak Denny dalam artian awet muda. Hobi dr. Farida adalah travelling, mungkin karena jiwa muda beliau jadinya beliau awet muda. Dr. Laksmi lebih senior dari dr. Farida, yang aku kagumi dari dr. Laksmi adalah ilmunya dan kebaikan beliau yang mau mengaliri ilmu tersebut ke koas.
Oiya ada satu lagi yang wajib ditulis di sini, Mba Ririn! Perawat Teratai yang asik banget buat diajak ngobrol. Aku, Ana, dan Mey kalau menunggu dr. Farida selalu di bangsal Teratai. Kalau kami sudah bertemu mba Ririn, yang tadinya bosen bisa jadi asik. Mba Ririn suka menyambangi topik-topik unik, ada aja yang diobrolin.
Kegiatan koas wajib di Banyumas salah satunya adalah visite pagi dr. Laksmi tiap pukul 7.30 di Bougenville. Di sana kita akan ditanyai kasus-kasus yang ada. Rata-rata koas hanya melongo ketika disuruh menjawab, dan pada akhirnya kita disuruh dr. Laksmi untuk segera mencari di internet. Kita akan merasa keren sendiri kalau ternyata ada pertanyaan dr. Laksmi yang bisa kita jawab paripurna.
Hebatnya dr. Laksmi ilmu beliau tidak terbatas pada saraf. Ilmu beliau juga mencakup hal-hal non-saraf yang berhubungan dengan saraf, kita koas hanya bisa tercengang. Beliau tipe yang ngajarin banget dan tegas. Koas cukup mendapatkan banyak ilmu dari dr. Laksmi. Di Banyumas pun kasusnya beragam, kita belajar banyak dan jalan-jalan banyak.
Purwokerto adalah kota non-metropolis (semoga) yang mampu menyihir otakku, membuatku jatuh cinta pada pijakan kaki pertama. Entah mengapa kota ini tidak kota-kota banget tapi juga tidak desa-desa banget. Jogja pun seperti itu (dulu), dan semoga tetap seperti itu (kembali ke dulu), seperti itu berarti janganlah menjadi kota metropolis seperti kota X.
Banyak pojok-pojok purwokerto yang dapat menstimulasi endorphin, salah satunya adalah bakso pekih. Pekih berasal dari nama jalan di mana bakso tersebut terletak. Bakso pekih memang beda, pak Bondan akan bilang “maknyus”. Harganya pun normal seperti bakso pada umumnya, porsinya pun cukup banyak sehingga worth it untuk dicicipi. Jalan pekih adalah jalan kecil seperti gang yang hanya muat 2 mobil papasan. Jika jalan pekih memiliki panjang 600 meter, 250 meter dihabiskan sendiri untuk parkir bakso pekih.

Jalan kaki dari bakso pekih, sekitar 1 menit kita akan menemui alun-alun kota. Alun-alun purwokerto cukup bersahabat. Alun-alunnya bersih, penjualnya cukup banyak, tidak terlalu ramai, dan cukup terang di malam hari. Aku, Ana, dan Mey pun tak mau kelewatan bermain-main di sana. Selain bakso pekih dan alun-alun, masih banyak lagi tempat-tempat di PWT yang wajib dihampiri. (Oiya mendoan BMS/PWT dan es duren pak Kasdi itu juga maknyus).
Kalau di Sardjito kita perlu datang pukul 06.00 pagi, di Banyumas kita perlu datang pukul 05.30 pagi. Selamat untuk para early person dan bersabarlah untuk para burung hantu. Di saraf kita diajarkan untuk tahajud tiap hari. Namun enaknya di Banyumas kita dapat saling membangunkan, bangun pagi buta pun menjadi lebih ringan. Lalu masakan hangat pak Pangat sudah menunggu di depan pintu.

Pak Pangat adalah penjual makanan yang sudah aku ceritakan tempo dulu ketika menulis koas mata banyumas. Pak Pangat selain mengetuki tiap pintu kos pukul 07.00 pagi juga dapat special request. Kami special request untuk ketuk pintu pukul 04.30, murah meriah 3500 = nasi rames, gorengan 1nya 1000. Porsiku biasanya 5500, 1 nasi dan 2 gorengan, orang lain biasanya 3500 sudah cukup. Secara umum koas di Banyumas menyenangkan meskipun jauh dari peradaban dan jauh dari Yogyakarta.

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
wp.lps.org
wikimedia.org
purwokertoguidance.com

KOAS FK UGM; Interaksi Interpersonal di Koas

-         

-         
Koas Saraf FK UGM Part1: Hubungan Interpersonal antar tenaga kesehatan Rumah Sakit 
-          
-         Stase saraf, stase kecil terasa besar, adalah stase yang mengharuskanmu tiba di Sardjito ketika matahari baru saja terbit. Ketika bangsal (ruang rawat inap) lain masih mengumpulkan nyawa, bangsal saraf sudah sibuk ketuk palu. Kegiatan pagi di sini benar-benar pagi dan benar-benar sibuk, tetapi kegiatan siang di sini lebih bernafas lega dibanding stase lain.
-                         Uniknya di saraf, para koas akan mendapatkan residen pembimbing. Satu residen membimbing satu koas, maksimal dua. Otomatis hubungan koas-residen menjadi terjalin. Rata-rata residen saraf sangat baik dan murah ilmu. Di balik capeknya residensi, para dokter ini masih mau menyempatkan waktu menuangkan ilmu pada kami si gelas kosong.
-                           Ada temanku yang residennya sampai mau memberikan tentiran hingga sore, padahal residennya juga ada tugas macam-macam. Ada juga temanku yang residennya mau mencarikan contoh lembar tugas untuk dijadikan patokan. Ada juga yang sampai menanyakan kabar dan apakah ada kesulitan di akhir minggu, perhatian seperti itu cukup sulit ditemui di perkoasan. 
-                         Baik-baiklah dengan residen pembimbing, hal yang sama juga berlaku untuk perawat dan staf rumah sakit lainnya. SebutanJawanyanya adalah kulo nuwun. InsyaAllah jika koas memerlakukan beliau-beliau dengan layak, koas akan diperlakukan dengan layak. Tak jarang dalam obrolan koas dengan staf RS, ada ilmu-ilmu terselip baik tentang kedokteran ataupun non-kedokteran.
-         Seringkali koas takut untuk berkenalan dengan staf rumah sakit, saya pun terkadang juga takut. Tetapi ketika saya coba memberanikan diri, kaboom, banyak hal menarik terjadi. Banyak staf yang ternyata suka mengobrol, punya topik-topik menarik, dan sangat ramah pada koas, asalkan berani untuk memulai.
-         Sejauh mata memandang ketika para koas mencoba untuk ramah, mayoritas staf lain juga ikut ramah. Meski ada juga sedikit staf yang memandang koas sebelah sandal, karena letaknya koas ada di bawah. Aku tidak berbicara tentang teaching by humiliation (digoblog-goblogin). Namun, usut punya usut, mayoritas orang yang memandang koas sebelah sandal ternyata punya pengalaman buruk dengan koas. Ternyata ada juga oknum-oknum koas yang mencoreng nama koas.
-         Sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan dan memulai lembaran baru. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diulang lagi, tetapi apa yang belum terjadi dapat kita tulis dengan tangan sendiri. Sebagai koas, sudah sewajarnya untuk sabar ketika dipandang sebelah sandal, diragukan kemampuannya, dan dicuekkin keberadaannya (menjadi cicak, nempel di tembok, antara ada dan tiada). Sebagai koas, tugas kita adalah membuktikan bahwa kita juga manusia, mampu belajar, dan mampu memberi manfaat.
-         Buktikan bahwa koas itu ramah dan mampu bergaul. Koas juga punya kemampuan, koas dapat mewarnai suasana rumah sakit dengan kebahagiaan. Di blog ini ada cerita tentang koas yang dikasih salak segepok sama pasien. Jarang sekali ada keluarga pasien yang sampai memberikan tanda terima kasih pada koas. Koas mampu asalkan mau.
-         Kalau lagi jaga, kenalanlah dengan lingkungan jaga. Ketika masuk ke lingkungan baru, kenalanlah dengan lingkungan tersebut. Dijuteki? Bodo amat, orang yang suka menekuk mukanya berarti ia menolak kebahagiaan. Karena satu senyuman membawa senyuman-senyuman yang lain. Kalau dapat teman ngobrol yang asik, jaga malam yang tadinya membosankan dapat menjadi menyenangkan.
-          
-         -          Interaksi di Poli
-         Modal utama untuk koas adalah kaki yang kuat berdiri lama, mata yang kuat melihat lama, dan boyok yang kuat menopang beban tubuh lama. Banyak temanku yang tiba-tiba berganti sepatu menjadi merek X, karena merek X menawarkan kelembutan yang mampu mengurangi tingkat kepegalan kaki.
-         Teori koas adalah cicak tidak berlaku untuk beberapa konsulen. Contohnya adalah dr. Gofir dan dr. Paryono, bersama beliau koas dianggap. Terkadang koas selain menjadi cicak juga menjadi jin, keberadaan koas antara ada atau tiada. Tetapi kalau dengan dr. Gofir dan dr. Paryono, insyaAllah koas akan menjadi manusia, diajak ngobrol dan diajak untuk memeriksa. Tidak semua staf akan mencueki koas, asal mencoba untuk lebih berani memulai obrolan.
-          
-          Sekian sekilas tentang interaksi interpersonal di koas secara umum. Saya sudah tidak mampu melanjutkan artikel ini karena jam sudah berdetik di angka 23:21, insyaAllah kita lanjutkan topik lain di kesempatan yang lain
-           
-          p.s; sekarang saya sedang stase jiwa, di stase ini interaksi koas dengan calon perawat dapat lebih intens (terutama di RSJ Grhasia. Setelah ngobrol-ngobrol dengan calon perawat, ternyata mereka juga seringkali dicuekkin sebagai mahasiswa/i profesi. Ketika saya mengutarakan istilah cicak/jin mereka bilang "wah sama dong kita juga gitu".  Semoga oknum-oknum profesi yang suka mengecewakan staf RS dapat taubat dan staf-staf RS yang suka mencicakkan koas menjadi lebih ramah
-          
-         copyright to amgah.blogspot.com
-          
-         sumber gambar:
-         livingwelleducation.com


24 Juli 2016

Forensik Selo? Tidak Kuduga

Salah satu teman kelompok yang  hobinya nonton Power Ranger di Asrama

Yip yip hooray, sorak-sorai gembira ketika satu stase koas telah rampung. Wajar jika sebelum masuk stase X, para koas baru akan bertanya dengan koas sebelumnya yang sudah khatam. Beberapa informasi yang aku dapat tentang forensik (sebelum masuk forensik); 1. Forensik itu stase Jogja City Mall (JCM), sambil nunggu panggilan, kita bisa jalan-jalan di JCM, 2. Forensik cukup selo, 3. Tanda-tangannya cukup banyak, 4. Dosen favorit.

Dua dari empat informasi tersebut ternyata seratus delapan puluh derajat. Forensik stase JCM? Patut dipertanyakan untuk kelompok 16102, forensik memberi kejutan. Bukan hanya tentang forensik stase JCM, tetapi forensik juga stase MasterChef. Bukan hanya jumlah kasus kelompok kami yang cukup lumayan, tapi juga tentang bekas yang ditinggalkan forensik untuk kami. Kita bahas kejutan di paragraf lain, sekarang kita bahas tanda tangan dan dosen favorit.

Tanda-tangan di forensik cukup banyak dibanding di THT, Mata, dan Kulit. Ketika satu kegiatan telah selesai, tanda tangan yang dibubuhkan (minimal) ada di tiga tempat yang berbeda; logbook lembar kegiatan, logbook lembar khusus (BST/Refleksi kasus/Tutorial/dst), dan lembar kegiatan terpisah (selembaran yang diambil di forensik).  Namun berdasarkan sumber yang sudah pernah Ilmu Penyakit Dalam (IPD), IPD memiliki jumlah tanda-tangan lebih banyak lagi, jadi jangan mengeluh.

Kalau dosen, sedikitnya ada dua dosen forensik favorit yang ngajarnya menyenangkan. Pertama, dr. Yudha Nurhantari, beliau kalau mengajar sangat unik, suka melawak, tetapi pelajarannya tetap masuk ke otak. Kedua, dr. Idha Arfianti, serupa tapi tak sama. Cara mengajar beliau juga unik, kalau diajari beliau pelajaran sangat gampang untuk diserap otak. Lalu semangatnya membuat para muridnya enggan mengantuk. P.s; kita tidak membahas ujian.

Kegiatan minggu pertama.

Salahku memulai forensik dengan harapan forensik adalah stase JCM, aku berharap dapat mengerjakan hal-hal lain selain koas, contoh: memperpanjang sim. Sebelum stase sudah kusiapkan surat sehat dari GMC Health Center. Ternyata di tengah-tengah stase aku ditegur untuk tidak berharap pada stase, tetapi berharap hanya pada Tuhan.

Kasih Tak Sampai
Masuk hari pertama disuguhkan dengan briefing yang komprehensif. Jadwal di forensik mirip dengan di kulit, semua-muanya harus membuat jadwal sendiri. Hubungi atau temui dosennya, lalu buatlah kesepakatan waktu. Ada beberapa biko, praktikum, dan latihan keterampilan (skillslab) yang harus diselesaikan di minggu pertama.

Jumlah pastinya aku lupa, pengampuhnya pun berbeda-beda, dan gaya mengajarnya berbeda pula. Kata mas Nanang (admin Forensik), memang sengaja minggu pertama dijadikan sebagi minggu pembekalan, sebelum nantinya kita mandiri di minggu ketiga. Berdoalah kalian mendapatkan dosen favorit yang cara mengajarnya yahud dan ilmunya nyangkut,

Jadwal bimbingan di minggu pertama biasanya menghabiskan seluruh jam kerja, sudah sewajarnya minggu pertama cukup sibuk. Namun jika dibandingkan dengan stase lain, forensik cukup tidak menghabiskan tenaga fisik. Satu hal yang berbeda dan cukup tidak disukai oleh beberapa koas forensik adalah ketidakpastian. Di sini kita akan mengerti bahwa tidak ada yang pasti di dunia ini kecuali kematian dan perubahan itu sendiri. Contoh: ketika kamu sudah berencana untuk melakukan A dari jauh-jauh hari, tetapi jika ada panggilan dari forensik, seberapa penting si A tersebut tetaplah harus ditinggal. Kewajiban koas forensik adalah memenuhi panggilan otopsi.

Panggilan otopsi/On Call dapat menghubungimu sewaktu-waktu sesuka hati. Normalnya kita tidak akan dipanggil jika sudah melewati 23.00, tapi tidak ada yang menjamin. Tidak ada yang pasti di On Call, kamu lagi mandi, kamu lagi tidur, lagi apa pun panggilan tersebut harus dijawab dan dalam waktu 30 menit kita harus sampai di Sardjito. Oleh karena itu haram hukumnya pergi ke luar kota, dan kita menyebutnya sebagai tahanan kota.

Menurut beberapa sumber yang sudah khatam forensik, mereka menyelesaikan forensik 4 minggu dengan jumlah On Call/kasus sekitar 4-6 kasus. Namun untuk kelompokku, 4 kasus adalah jumlah yang kami selesaikan dalam 1 minggu. Perlu dicatat bahwa kegiatan Bed Side Teaching (BST) adalah kegiatan wajib yang harus dilaksanakan selesai kasus, dan beberapa kegiatan BST meninggalkan tugas yang harus dikerjakan dengan cara tulis tangan. Namun jika kamu beruntung, BST dapat berupa diskusi-diskusi.

Karena kami mendapat 4 kasus, otomatis harus ada 4 BST, ditambah jadwal segala bimbingan, ditambah menyelesaikan visum. Penyelesaian visum cukup lama, belum ditambah revisi dan menulis yang sudah fix di lembar rekam medis. Padatnya minggu pertama memaksaku untuk menunda jadwal perpanjangan SIM, aku pikir minggu kedua akan lebih lowong. Di hari minggu pun sorak sorai akhirnya minggu pertama selesai. Aku memulai minggu kedua dengan harapan minggu kedua lebih aman. Aman = tidak ada panggilan otopsi.

Lebih baik panggilan ini atau panggilan forensik?

Kegiatan minggu kedua

Minggu kedua umumnya diisi oleh hal-hal yang belum diselesaikan di minggu pertama. Pada beberapa kasus, beberapa dari kelompok akan dikirim ke Klaten. Namun untuk kelompokku, kami ber-13 (seluruh kelompok) akan ke klaten di minggu ke-3. Selesaikanlah hal-hal yang perlu diselesaikan di Sardjito sebelum ujian, karena di minggu ujian sebaiknya kita fokus untuk belajar. P.s; ujian akan dilaksanakan hari selasa (awal minggu ke-4).

Oleh karena itu beberapa kelompok kecilku memilih DOPS di minggu kedua. DOPS ibarat pra-ujian dengan bahan tatacara pembuatan visum dari awal hingga terbit. Oiya di Forensik kita dibagi dalam empat kelompok kecil, masing-masing beranggotakan tiga s.d empat orang. Kelompok kecil inilah yang akan terus mengarungi samudera forensik dan mencicipi pahit manis forensik bersama-sama. Kelompok kecilku memilih DOPS di minggu ke-2.

Ajaibnya, di minggu kedua ini kami hampir tiap hari mendapatkan kasus/On Call. Kalau tidak salah kami mendapat 5 otopsi dari 7 hari yang ada. Otomatis 5 otopsi menghasilkan 5 BST, 5 BST = 5 Tugas. Ternyata minggu kedua bagi kami tidak seperti apa yang dikatakan orang-orang. Total kami telah mengantungi 8-9 kasus sebelum bedol desa ke Klaten.

Kegiatan minggu ketiga.

Di Klaten kita akan dilatih untuk membuat visum hidup, karena di Sardjito kita fokus membuat Visum mati. Tetapi, bukan berarti tidak ada kasus mati di Klaten, On Call masih akan tetap membayang-bayangi hidup. Enaknya di Klaten kita semua ada di satu asrama, kalau ada kasus tinggal saling colak-colek. Kalau di Sardjito, berbahaya jika kita dipanggil pukul 23.00 ke atas, kalau yang tidur dan susah bangun bisa berabe.

Minggu ke-3 kami bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Harapan kami agar semua warga Klaten dan sekitarnya sehat selalu. Kami di Klaten ditugaskan untuk jaga IGD/On Call kasus hidup. Jika ada kasus seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) atau Kecelakaan Lalu Lintas (KLL), kami ikut menangani. Doa yang kami panjatkan agar tidak ada yang main petasan dengan sembrono hingga mengakibatkan luka atau kematian.

rayakanlah Idul Fitri dengan aman dan sehat

Pada minggu ini pula ketika yang lain merayakan liburan, kami juga merayakan liburan di bagian forensik. Ketika staff rumah sakit umunya berlibur atau mudik, kami juga "berlibur" di ruang otopsi jika ada kasus mati. Di balik "liburan" kami di Klaten, ada dua cerita unik yang ingin kubagikan. 

Cerita pertama adalah di malam hari raya Idul Fitri, di malam yang paginya umat muslim akan menunaikan solat Ied. Biasanya kami para cowo-cowo harus berusaha bangun secara mandiri untuk dapat solat subuh. Tetapi malam itu tiba-tiba pintu kamar kami diketok. Wah Alhamdulillah ada yang bangunin buat solat subuh. Ingin kuucapkan terima kasih pada si pengetok karena sudah repot-repot mau membangunkan. Namun ternyata dia duluan yang sudah berbicara “Amgah, ada otopsi, bangunin yang lain dan cek grup Line”

Akhirnya kami pun otopsi tepat sebelum solat Ied. Alhamdulillahnya ketika solat mau dimulai, otopsi sudah hampir selesai. Kami yang muslim meminta izin kepada yang lain untuk meninggalkan otopsi sebentar. Lalu kerjasama yang apik pun terjadi #biasaajakali. Setelah solat ied kami yang muslim kembali ke bagian Forensik untuk membuat visum mati.

Ceritanya bersambung ya, stase saraf sudah menunggu di depan mata. Spoiler; Di akhir forensik semua bahagia, meskipun dapat total >12 kasus, tapi ada satu hal berharga yang tidak didapatkan di stase lain. 


--- end of part 1 --- to be continued 
copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar:
koleksi pribadi
pkp5sw.wordporess.com
twitter.com
dubaichronicle.com

29 Juni 2016

Koas: Gandengan Tangan atau Suram


Artikel ini bukan menyuruh koas untuk pacaran. Kalau tidak pacaran maka koas menjadi suram. bukan, bukan itu. 

Kerja sama adalah hal mutlak dalam dunia perkoasan, namun kemampuan ini kadang diabaikan. Kepiawaian dalam memainkan kerja samalah yang menentukan dunia perkoasan menjadi menyenangkan atau suram. Kerja sama bagus, koas untung, kerja sama jelek, koas buntung. Neglected yet important, very important.
                Koas berbeda dari dunia persarjanaan ketika mengejar S.Ked, para calon dokter dapat saja survive tanpa orang lain. Tetapi di koas, survive sih survive tapi nyusahin kelompok dan warga sekitar. Aku cukup beruntung berada di tim koas yang dapat bekerja sama, jadi aku contohkan saja hal-hal terburuk yang dapat terjadi jika tidak pandai bergandeng tangan.
Contoh pertama (contoh kecil), ada sebuah tugas kelompok dimana harus dikerjakan oleh belasan orang. Tugas yang sebenarnya dapat dikerjakan oleh hanya 5 orang harus dikerjakan >10 orang. Otomatis kemungkinan gabut (gaji buta/tidak kerja) sangat tinggi. Perlu otak kreatif agar semua orang dapat bekerja secara adil.
Jika gagal bekerja sama, banyak orang yang gabut
Contoh kedua; dapat tugas yang berat secara fisik atau secara mental. Bagaimana caranya agar tugas berat itu dapat dipotong-potong menjadi tugas yang kecil-kecil, sehingga beban dari tugas pun terfragmen-fragmen. Kadang hal ini sulit dilakukan sehingga tugas yang berat ya tetap menjadi berat.
Jika tidak mengerti bahwa kerjaan dapat dipecah-pecah, kerjaan yang ada akan selalu berat. Minimal meringankan beban kerja adalah bercanda sesuai porsi dan situasi. Jika bekerja dengan hati yang nyaman dan senang, berat pun terasa ringan. Lagi-lagi, kerja sama adalah penentu, kerja sama untuk sama-sama membuat senyum.
Contoh ketiga; manusia berasal dari keluarga yang berbeda, budaya yang berbeda, dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan itu dapat prominen tapi dapat juga dangkal. Jika prominen, satu dengan yang lain dapat berseteru, bagaimana agar perseteruan dapat menjadi dingin atau minimal kerjaan dapat diselesaikan secara profesional, semua itu butuh kerja sama.
Jika gagal bekerja sama, minimal satu sama lain gondok-gondokan. Atau kena marah dokter, atau paling buruk kerjaan tidak selesai dan menimbulkan efek yang kita semua sama-sama tidak ingin tahu. Banyak contoh lain tentang bagaimana kerja sama memerankan peran penting yang dapat dirasakan ketika koas nanti.
Koas secara internal berarti kamu-doktermu-dan kelompokmu. Triad komunikasi itu perlu dipegang amat sangat karena jika satu terputus akan menyusahkan.  Jika kerja sama antar ke-3 hal tersebut berjalan apik, seberat apa pun koas akan terasa menyenangkan. Kebahagiaan akan mengundang kebahagiaan yang lain. Kepanikan akan mengundang kepanikan yang lain. Senyum akan mengundang senyum yang lain

-Pernah bertemu orang yang senyumnya manis? Jadi pengen ikut senyum juga kan? :) – (buat koas FK UGM yang sudah bertemu ...., pasti mengerti)


                Sekarang bagaimana caranya melatih kerja sama? Aku pun tak begitu ahli, masih perlu belajar banyak. Tapi, akan kubagikan satu tips. Memang ada teori-teori dasar perihal cara untuk bekerja sama, tapi teori berbeda dari praktik. Terkadang ketika menjalankan teori tersebut, kita menemui kesulitan yang bahkan google pun tak punya jawaban. Itulah pelajaran kehidupan.
Pelajaran kehidupan, pelajaran yang tidak ada di buku tapi ada di depan mata, dilakukan, bukan dibaca. Pelajaran yang hanya akan muncul untuk orang-orang yang mencari. Pelajaran yang SKSnya ada tapi kadang tidak diambil. Pelajaran yang penting tapi kadang dikubur hidup-hidup oleh hingar-bingar cumlaude atau nilai akhir.
Saya ketika menyeleksi orang yang mau masuk ke dalam tim, pernah menemui orang yang nilainya sangat tinggi tapi ketika diajak kerja sama, sulitnya minta ampun. Buat apa memiliki istri yang cantik, tapi tidak bisa berkomunikasi dengan dia, 11-12 dengan tidak punya istri bukan. Atau memiliki mobil yang mewah tapi tak bisa dijalankan, mending punya sepeda tapi bisa sampai tujuan.
Satu tips untuk melatih kerja sama adalah bersosialisasi yang menuntut untuk menyelesaikan suatu pekerjaan; kepanitiaan, organisasi, apapun asal ada kerjaan yang harus dilakukan. Bersosialisasi tanpa kerjaan akan melatih kerja sama dalam hal personal (hubungan untuk bermain), tetapi tidak akan melatih kerja sama dalam hal profesional (hubungan untuk menyelesaikan suatu kerjaan). Ada orang yang enak diajak main bareng, tetapi tidak enak diajak kerja sama untuk kerja dan vice versa. Latihlah kerja sama yang sama-sama enak buat diajak main dan diajak kerja.
Semakin sering mendapat kasus nyata, semakin lihai kepiawaian dalam kerja sama. Orang yang tidak ikut organisasi pun dapat saja pandai dalam kerja sama. Loh? Karena dia sudah mendapat ilmu bekerja sama di keluarganya. Tapi kalau kita tidak punya itu, carilah ladang ilmu kerja sama di panitia atau organisasi atau apa pun. Banyak ladang ilmu yang menyediakan SKS kerja sama, tinggal masalah mau atau tidak mau.
Semoga tulisan ini dapat menginspirasi pembaca, karena saya cukup prihatin akan tergerusnya nilai ini. Banyak orang dan orang tua yang hanya mementingkan nilai dan mengesampingkan pelajaran hidup. Padahal keduanya harus berjalan beriringan seperti suami dan istri. Mungkin saya pribadi juga termasuk orang yang sulit bekerja sama, tetapi yang penting tetap berusaha untuk belajar dan mengambil SKS bekerja sama di berbagai tempat.
Selamat bekerja sama, semoga kehidupanmu menyenangkan

“Kebahagiaan mengundang kebahagiaan lainnya, tawa mengundang tawa lainnya, senyum mengundang senyum lainnya. Tersenyumlah” :)

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
http://www.ummiindonesia.com/
http://static.kidspot.com.au/

11 Juni 2016

Koas Kulit FK UGM



Detik-detik ketika aku mau masuk kulit, semua kakak mingguku bilang koas kulit itu nyantai. Namun, ketika aku sudah kecemplung, ingin sekali kubilang santai dari Hong Kong. Langsung aku konfirmasi dengan teman dekatku dan mereka semua bilang. ritme di kulit itu cepat. Kalau mau koas kulit lancar, tenang seperti di pantai, kamu perlu tahu trik-triknya. Secara umum kulit itu menyenangkan, tidak terlalu capek, residennya baik-baik, dan konsulennya juga baik.
Kali ini aku menjadi Chief Stase, Chief adalah orang yang bertugas mengurusi segala tetek-bengek teknis stase koas yang sedang dijalani. Di kulit itu jadwal serba manual, kamu diberikan sebuah misi harus menghubungi dosen A, B, C, D lalu kamu harus membuat jadwal sendiri dengan beliau-beliau. Kalau kelompokmu mendapat dosen yang tidak terlalu sibuk, atau memiliki jadwal yang tetap, kamu beruntung. Tetapi jika kamu mendapat dosen yang sibuk atau yang memiliki jadwal serba mendadak, kamu perlu berdansa dalam alunan pesan pendek/WhatsApp.
Ketika aku mulai menghubungi dan menyusun jadwal, otakku cukup berputar keras karena aku hanya memiliki waktu 3 hari kerja untuk menyelesaikan tugas minggu pertama sebagai Chief. Pada umumnya adalah 5 hari kerja, tetapi saat itu ada libur 2 hari. Waktu 3 hari kerja itu harus diisi oleh berbagai macam hal yang bukan main-main; Kuliah ada 4x, Bimbingan Residen 1x, BST Bangsal 1x, Pertemuan DPK 1x, Skillslab 1x, Bimbingan ketua SMF 1x, Bimbingan Admin 1x. Itu semua jadwalnya belum ada yang pasti, kamu harus menghubungi semua pengampuh satu demi satu.\

Aku bilang waktu 3 hari itu nekat ibarat kamu dikerjar Anjing, 5 hari cukuplah seperti kamu berjalan bersama orang tersayang. Ngos-ngosan di minggu pertama diperparah kalau ada dokter yang ternyata hanya dapat memberikan kuliah di waktu yang bersamaan dengan jadwal dosen lain. Contoh, dosen A hanya bisa jumat pukul 13.00, padahal dosen B sudah janjian dari kemarin bahwa jadwal beliau jumat pukul 13.00. Chief kulit dituntut untuk pandai meramu, meramu jadwal minggu pertama.
Satu kelompok sedang berisikan 13 orang akan dibagi menjadi 3 kelompok kecil berisikan 4-5 orang. Satu kelompok kecil memiliki 1 Dosen Pembimbing Klinis (DPK). Seorang DPK akan membimbing kelompok kecil dan memberikan kuliah pada kelompok sedang. Tips kegiatan minggu pertama;
  1. Bimbingan Admin – Pak Harto. Pak Harto ini admin yang sangat baik karena ngemong anak koasnya. Sebisa mungkin selesai kulit ya selesai tanpa hutang. Hubungi beliau di hari kamis atau jumat sebelum hari pertama masuk kulit (senin). Kemungkinan bimbingan dengan pak Harto hari senin pagi di hari pertama.
  2. Bimbingan kepala Departemen Kulit – dr. Fajar Waskito -> beliau baik banget, sangat ramah, dan dari perangainya terlihat tegas. Hubungi beliau langsung di ruang kepala departemen atau hubungi admin kulit (pak Harto)
  3. Bimbingan Kodik – dr. Mira -> beliau juga baik banget, sangat perhatian terhadap koasnya seperti pak Harto, ngemong koas dan kalau ngajar sangat enak dan dapat ilmunya
  4. Kuliah DPK 1 – dr.? -> berbeda-beda tiap kelompok, komunikasilah sesuai dengan beliaunya, tanya pak Harto apa yang perlu dilakukan
  5. Kuliah DPK 2 dan 3 – dr. ? -> sama seperti kuliah DPK 1
  6.  Kuliah Kodik – dr. Mira -> berbeda dengan bimbingan kodik, kuliah berisikan materi akademik. Hubungi dr. Mira beliau dapat mengampuh kapan, kalau bisa ketemu langsung dulu baru menghubungi via WA
  7. Skillslab dengan bu Ning – Orangnya baik, kalau ditanya akan menjawab dengan sabar. Temui beliau di ruang laboratorium di poli kulit. Skillslab biasanya mengambil waktu istirahat 12.20 – 12.50 atau 13.00
  8.  BST Bangsal – dr. Sri Awalia -> beliau orangnya juga baik. Namun, perlu diingat bahwa jika pagi dan siang belum dapat menemui dr. Lia di kantor beliau, hubungilah dr.Lia melalui SMS. Minta no.Hp ke pak Harto lalu hubungi beliau terkait jadwal BST Bangsal
  9. Bimbingan residen – beberapa kakak minggu bilang bimbingan residen ini gak wajib. Tapi salah satu konsulen bilang ini wajib. Tidak salahnya toh menimba ilmu, hubungi residen yang ada di dalam kertas undangan DPK Kecil (nanti tahu sendiri kertas mana setelah bimbingan admin).


Nah, itulah 9 hal wajib yang seharusnya bisa diselesaikan di minggu pertama. Sedangkan ada 1 kegiatan lagi yang kalau bisa di minggu pertama sangat bagus, yaitu DST Poli. DST poli ini cukup ribet dijelaskan dan berbeda-beda tiap konsulen, intinya yang kamu perlukan adalah 1 kasus, ilmu kasus tersebut, dan lembar status dari kasus tersebut yang kamu buat sendiri.
                Sekian info mengenai koas kulit kelamin atau Dermato-Venereology (DV) FK UGM. Koas itu dinikmatin aja ibarat sungai mengalir, musik menari, main bola berlari, gausah dipusingin, gausah dibuat ribet. Ikuti, jalani, lakukan yang terbaik, dan jangan lupa untuk selalu beribadah dan berdoa.
                Sampai jumpa di artikel koas kulit berikutnya! Alhamdulillah kulit berakhir menyenangkan dan lancar jaya..

#salamlegowo

Legowo itu Sehat
copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
comments20.com
blogger.com

29 Mei 2016

Koas Banyumas FK UGM

Hai! Sudah lama kita tak bertemu di ruang semu. Detik-detik dimana jari ini sedang mengetik adalah detik-detik menjelang Real Madrid vs Atletico Madrid. 00:40 tepatnya, 1/3 malam paruh kedua, 1/3 malam si pengapit. Berdiri di dalam pikiranku sebuah ide tentang Banyumas dan segala cerita di dalamnya.
                Semua berawal dari tangan mbak Ning, sang Admin Koas Mata. Mbak Ninglah yang membawa nasib dua orang bernama Amgah dan Vian ke Banyumas. Rumah Sakit jejaring paling jauh kedua setelah Cilacap (Pati tidak masuk hitungan). Momok bagi orang-orang yang ingin berada di sekitar Jogja. Momok bagi kami yang belum pernah ke sana.
                Namun, mari kita putar balikkan layar laptop. Banyumas berarti petualangan baru, Banyumas berarti cerita baru. Aku dan Vian akhirnya menentukan mobil pribadi sebagai moda angkutan kami, harapannya di sana nanti bisa jalan-jalan pribadi juga. Berangkat hampir maghrib, dengan harapan sampai di Banyumas sekitar jam 20.00
                Pepatah memang benar, acapkali kenyataan tak sesuai dengan harapan. Alih-alih pukul 20.00 kami baru sampai pukul 21.30. Sebenarnya kami tak terlalu memasalahkan hal itu, tapi yang kami salahkan adalah jalan yang kami ambil adalah jalan yang salah!. Jalan yang kami lalui mendaik tak manusiawi benar-benar 60 derajat tanpa belokan ke kanan atau ke kiri, lurus plek lurus. Sekalinya menurun kami harus melewati hutan belantara, sekalipun rumah, pastilah gelap gulita. Saran kami untuk kalian, di ujung perjalanan janganlah ikuti G**gle Maps/W*ze, ikutilah papan jalan! Dan belok kananlah di perempatan besar.
                Puji syukur Alhamdulillah kami tetap sampai ke tujuan tanpa kurang sedikitpun. Tibalah kami di lembaran baru buku Banyumas, tempat hal-hal menyenangkan akan lahir cukup bulan. Kebahagiaan pertama kami adalah bapak X. Bapak X ini menurut kami adalah seorang pegiat, karena setiap pagi pukul 6.00 pasti dia sudah mengetuk pintu kos kami
                “Tok, tok, tok, pagi mas sarapan mas ada nasi uduk dan nasi rames”
                Perut pun menjawab “Pak kami beli 6 bungkus”
                Tapi otak dan mulut masih sinkronisasi “1 orang beli 1 bungkus pak, tambah lauk 2 ya”
                Bapak X menjawab “baik dek, totalnya 5500 ya”
                Dompet kaget tersentak “5500?? Bahagialah di sini”
                Jangan salah meskipun murah, masakan si bapak ini bersih higienis dan porsinya cukup tidak kurang. Tulisan ini dapat dibuktikan dari konsistensi feses kami yang tidak encer dan masih padat. Tidak seperti makan di *piip* begitu pulang aku dan vian langsung…
                “Yan, kamu sakit perut gak? Kok aku mules ya”
                “Lah kamu juga gah? Aku juga”
                “cus…….” Hati-hati memilih makanan di Banyumas, tapi tak masalah kalau sudah terbiasa
                Kebahagiaan kedua kami berasal dari Rumah Sakit Banyumas itu sendiri, tepatnya staff dan keajaiban Tuhan yang membawa dokter Dora sebagai residen pembimbing kami. Dokter Dora, dr. Yusuf, dr. Ovi, dan dr. Dian adalah orang yang baik dan menyenangkan. Jika mencari ilmu, kami paling dapat dari dr. Dora. Jika mencari obrolan asik, carilah dr. Ovi (beliau konsulen ya). Sehari-hari poli kami pun berjalan santai dan nyaman, otomatis semangat menemani setiap hari.
                Kebahagiaan ketiga kami datang dari jalan-jalan pribadi, kini harapan dan kenyataan ternyata akur. Setelah mendapat rekomendasi dari dr.Dora yang hobi melancong, kami langsung berangkat ke purwokerto. Tempat-tempat yang wajib kalian jamahi versi on the AmgahVian adalah soto sokaraja dan es Duren depan Gor Satria. Selain itu kalian dapat membeli getuk goring sebagai oleh-oleh khas BMS (panggilan sayang koas untuk Banyumas).
                Selain tiga kebahagian tersebut, kami pun juga mendapat cerita lucu. Ada saja pasien yang nyasar ke poli kami. Tidak sekali, tapi dua kali.
                “Baik dengan Ibu X, ibu X ada keluhan apa bu?”
                “Iniloh dok, saya kesemutan dok”
                “Matanya kesemutan bu?”
                “Enggak dok, kaki saya kesemutan, saya juga bingung kok sama dokter saya dirujuk ke poli mata ya dok. Apa kesemutan di kaki saya bisa sampe ke mata ya dok?
                Saya hanya bisa menjawab “Yaudah gini bu, daripada ibu rugi udah ngantri lama, kita periksa mata dulu aja ya bu ya”
                Nyasar yang kedua giliran teman saya Vian yang kena
                (Dengan bahasa Jawa yang saya masih belum bisa) “Ada keluhan apa pak ke sini?”
                “Ini loh dok, boyok (pinggul/low back pain) saya sakit”
                “lah keluhan mata pak maksudnya”
                “ooh mata, apa ya dok…”
                *Vian cek rekam medis* “Wah pak, bapak harusnya ke poli kulit di sebalah poli mata. Kok jadi ke poli mata pak”
                “Wah salah ya dok”
                Selain cerita menyenangkan, sebenarnya BMS menyimpan cerita horror. Sayangnya saya tidak mendapat pengalaman horror di sini. Namun yang saya rasakan benar terjadi adalah koas anak di BMS cukup horror, horror karena beban kerjanya. Jangankan poli anak, poli mata yang normalnya hanya sampai pukul 12-13, di BMS kami baru selesai pukul 14-15.
                Tapi setelah saya menjalani poli kulit di RS X yang beban kerjanya sangat ringan, percayalah lebih enak mendapat koas dengan beban kerja sangat berat (daripada sangat ringan). Kalau beban kerja sangat ringan, ilmumu sedikit, jam kerja nanggung (mau belajar gakbisa, mau main gakbisa, mau dapet pengalaman pun juga gakbisa, kamu Cuma bengong menunggu mainan hp). Koas sangat berat meskipun capeknya minta ampun, kita mendapat ilmu dan capek yang kita rasakan capek hasil hal bermanfaat.
Lalu menurutku, koas di luar kota lebih menyenangkan daripada dalam kota. Di luar kota kita akan merasuki dunia baru dan meninggalkan dunia lama. Ibarat alice in the wonderland yang masuk ke dunia pohon dan menjadi ciut bertemu kucing misterius atau pun kelinci jam weker. Namun tetap, semuanya ada positif dan negatif, tinggal bagaimana kita menyesuaikan dan menerima apa yang kita dapat.
                Sebagai penutup ini kubagikan tips untuk para koas atau pun pelancong yang ingin ke BMS.
  • 1.       Transportasi; pilihlah 1 di antara 2 pilihan; Travel Efisiensi / Mobil Pribadi. Wah harusnya saya dapat insentif karna sudah mempromosikan efisiensi
  • 2.       Akomodasi; pilihlah kosan pak Basiran, cari kamar di blok B atau C. Karena dekat dengan dapur umum dan ada WiFinya
  • 3.       Hari pertama masuk pukul 7.00, carilah satpam di depan pintu masuk (bukan pintu/palang parkir). Lalu ikuti titah pak satpam. Makanlah di kantin Neu dan Sarapanlah di bapak2 yang datang ke kosan pagi-pagi 
  • 4.       Jika membawa mobil pribadi, jalan-jalanlah ke sokaraja dan purwokerto. Aku entah mengapa tersihir oleh PWT (panggilan sayang koas untuk Purwokerto). PWT membuatku ingin menunjunginya berkali-kali karna selalu ada hal unik di pojok-pojok jalanan
  • 5.       Siapkanlah jiwa berpetualang lalu berpetualanglah. Apapun yang terjadi, secapekapapun itu, nikmatilah.



copyright to amgah.blogspot.com

06 Mei 2016

Koas Mata di FK UGM

15 April 2016, stase THT resmi berakhir. Senang karena telah rampung 1 stase, senang karena semakin dekat dengan kelulusan, senang THT dapat berakhir bahagia. Yeyeyeyeyey akhirnya selesai juga. Namun di saat yang sama, tiba-tiba rindu datang bersama langkah kaki yang menjauhi THT.
                Mata adala stase ke-2ku setelah THT. Jadwal kelompokku adalah jadwal yang terbilang “unik”. Stase-stase kecil (stase 4 minggu) ditaruh di awal, lalu stase besar (10 minggu) semua berderet di akhir. Pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian sama sekali tidak dapat diterapkan pada kasus kami. Peribahasa kami adalah bersenang-senang dahulu lalu berenang tergopoh-gopoh kemudian.
Sekarang kita akan masuk ke dalam dunia mata, dunia yang terdiri dari sebuah bola dengan berbagai macam struktur di dalamnya. Tahukah kamu bahwa salah satu struktur di mata bernama iris, iris merupakan bahasa latin yang berarti pelangi. Apakah Jamrud ketika membuat lagu pelangi di matamu dia belajar kedokteran? Mungkin saja.
Menurutku, mata adalah hal yang rumit karena strukturnya kecil-kecil. Tetapi orang lain justru menyukai mata karena strukturnya kecil-kecil. Mata yang merupakan sebuah bola itu, isinya sangat beragam; konjungtiva, sklera, kornea, COA, iris, koroid, dan masih banyak lagi. Banyak bukan? Padahal ukurannya menyerupai bola tenis. Coba dibayangkan bola itu diisi oleh berbagai macam struktur, strukturnya sudah pasti lebih kecil dari bolanya. Operasi mata pun menggunakan mikroskop. Benang jahit mata pun berukuran 10/0 ibarat rambut dibelah 10.
                Hal pertama yang dilakukan oleh seorang koas mata adalah bimbingan dengan mbak Ning. Mbak Ning akan menjelaskan tetek bengek tanda tangan yang harus kita isi agar dapat lulus di bagian mata. Satu hal yang aku soroti adalah jumlah LoC. Level of Competency (LoC) adalah hal-hal yang harus dikuasai seorang calon dokter umum agar dapat lulus menjadi dokter yang baik. Contoh; di THT ada LoC memasang tampon, melihat liang telinga dengan otoskop, dan lain-lain, di mata ada kompetensi melakukan A,B,C,D. Kenapa aku soroti? Di THT LoC berjumlah 87, di Mata LoC berjumlah 167! Dua kali THT!! Padahal ini mata, sedangkan THT-KL itu; Telinga-Hidung-Tenggorokan-Kepala-dan-Leher. MasyaAllah mata….
                Singkat cerita, setelah menenangkan diri melihat jumlah LoC bagian mata, kami beranjak ke hari pertama mata.  Ruang poli mata bisa dibilang 2-3 kali lebih luas dibanding poli THT. Ruang koas pun ada khusus, berbeda dengan poli THT yang masih nebeng ruang lain. Meskipun sempit, di THT interaksi koas-residen lebih intens dibanding di mata. Paragraf ini aku dedikasikan khusus untuk orang-orang yang masih belum move on dari THT.

Koas Mata di FK UGM

                Jika sudah move on, koas mata itu secara umum menyenangkan. Residennya baik-baik, beberapa sangat baik karena hobi memberikan ilmu ke koasnya. Konsulennya juga baik-baik, beberapa sangat baik karena hobi membuat koasnya cerdas. Stafnya baik-baik, beberapa sangat baik karena sabar menjawab pertanyaan koas.  Satu tips untuk koas mata! carilah residen, konsulen, dan staf yang sangat baik tersebut. Yang baik banyak, tapi yang sangat baik juga banyak
Beban kerja di mata juga cukup baik, kecuali di poli VR dan poli Visus. Jika kedapatan poli VR dan poli visus, aku sarankan kalian untuk tetap tersenyum dan mengingat hal yang membahagiakan. Absen pagi maksimal pukul 7.45, lalu menunggu poli buka sekitar pukul 9, jaga poli hingga pukul 16. Setelah pukul 16 pilihannya hanya dua; pulang atau jaga bangsal. Jaga bangsal di mata tidak 24 jam, jaga bangsal hanya sampai pukul 20, kadang bisa pulang lebih cepat. Menyenangkan bukan?
Aku ingin menggarisbawahi satu kata – Menyenangkan – karena pada kenyataannya masih ada saja yang kurang ajar. Jadwal koas mata yang baik itu masih dinodai oleh perilaku beberapa koas kurang ajar, koas yang meninggalkan tanggung jawabnya di poli mata. Aku pernah satu waktu jaga poli A bersama si X, poli sudah dimulai namun X tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Sampai akhirnya poli selesai barulah si X muncul meminta tanda tangan residennya. Kurang ajar bukan?
Koas Mata di FK UGM

Mungkin saja aku berpikir “Kurang ajar si X ninggalin gue sendirian, emang dikira jaga poli A gak capek apa” Tapi coba kita balik pikiran menjadi yang lebih menyenangkan “alhamdulillah poli selesai juga, dapet pasien yang variatif, dapet ilmu, memenuhi tanggung jawab. Semoga si X diampuni segala dosanya dan walaupun kabur dia masih ngerti kasus mata, karena kalau dia gak ngerti, kasian pasiennya.”
- Insert – Quote dr. Arief Purnanta Sp.THT-KL “Kalian ini adalah orang-orang yang bakal ngerawat saya ketika saya nanti sakit. Kalo kalian bodoh lah aku piye nanti?” | “Dek, pasien itu datang ke kalian dengan menyerahkan nyawanya. Kalo kalian bodoh bagaimana kalian mau nerima nyawa pasien itu?” 
                Setelah membahas koas kurang ajar, yuk sekarang kita bahas satu per satu poli mata Sardjito. Sardjito merupakan rumah sakit rujukan nasional yang menerapkan sistem sub-spesialistik sehingga di mata pun polinya dibagi-bagi berdasarkan sub-spealisnya. Setidaknya ada 9 poli; 1. Visus, 2. External Eye Disorder/Disease (EED) 3. Refraksi 4. Pediatric Opthalmology PO) 5. Tumor 6. Uvea Lensa (UvLens) 7. Glaukoma 8. VitroRetina (VR) 9. Neuro-Opthalmology (NO). Koas akan digilir dan jadwalnya ditentukan oleh chief koas stase mata.
                Poli pertamaku adalah poli refraksi. Di sini kamu harus pro-aktif bertanya sekaligus observasi. Bedakan observasi aktif dan observasi pasif. Jika pasif hanyalah melihat gak ngerti ya bodo amat. Aktif berarti melihat, mencoba memosisikan, dan bertanya/mencatat yang belum dimengerti. Mengapa harus aktif karena di sini kita dapat lebih mengerti tentang koreksi kaca mata. Di poli ini pula aku merasa kacamataku sepertinya perlu dikoreksi ulang. Dokter yang recommended di poli ini adalah dr. Nike.
Koas Mata di FK UGM

                Poli kedua adalah PO, banyak anak-anak imut lucu gemesin, tapi banyak juga anak yang kasian karena kena musibah penyakit. Sayangnya dan untungnya pas aku dapat PO, ruangan PO digabung dengan tumor. Jadi aku bingung mana pasien PO mana pasien tumor. Di PO ini aku banyak diajari oleh dr. Reny dan dr. Arya, top markotop lah mereka berdua. Di akhir poli, kami diajarkan lebih banyak tentang slitlamp oleh dr. Arya. Kata temenku, dr. Arya itu surga banget karena suka ngajarin.
                Poli ketigaku, poli tumor. Karena kemarin PO digabung sama tumor, dokter di poli tumor pun heran. Dengan nada bercanda dr. Ara bertanya “dek kok kamu jaga di sini lagi?” Ya itulah dr. Irene (panggilannya dr. Ara). Dokter di poli tumor asik-asik dan suka ngajar. Dr. Ara suka bercanda, dr. Andre lebih kalem tapi kalau ditanya akan menjawab secara lengkap dan tulus, dr. Ni Luh dan dr. Shab sama seperti dr. Andre. Aku suka jaga di tumor, namun sayangnya kasus dokter umum jarang di sana, kasusnya biasanya sudah spesialistik.
                Poli ke-empat, Uvea Lensa, hanya bersebelahan dengan poli tumor. Aku yang hobi jalan-jalan dan usilin poli sebelah, akhirnya suka main ke poli tumor. Sampai dokter Ara nanya lagi “dek, kok kamu di sini terus sih? Koas tuh harus muter” terus ngomong ke dr. Shab “Shab, kok koas kita gak berubah berubah ya” Aku pun tertawa cekikan. Plus sebelumnya, aku tidak sengaja bertemu dr. Ara di toko alat kesehatan, nampaknya ia bosan bertemu denganku.
                Di Uvlens, kamu akan sering menemui kasus katarak. Di hari aku jaga, hampir 80% kasus semuanya katarak. Di sini dokternya juga baik-baik dan hobi ngajarin. Dokter yang paling aktif ngajarin koasnya adalah dr. Okta. Kebetulan pas aku jaga Uvlens bertepatan dengan hari kartini. Semua orang yang ke Uvlens baik cowok atau cewek mengomentari dr. Okta, et causa cantik dan anggun. Selain dr. Okta ada dr. Mila, beliau kalau ditanyain juga menjawab dengan lengkap dan baik.
                
Koas Mata di FK UGM


            Selanjutnya adalah glaukoma, nama poli sudah mewakili nama penyakit yang sering muncul. Di sini dokter umum dapat belajar banyak, karena kasus glaukoma harus ditangani dengan baik oleh dokter umum. Dokter di sini yang paling baik adalah dr. Tian dan dr. Wardhah, dr. Tian senang bercanda dan ngasih kesempatan koasnya melakukan tindakan. Dr. Wardhah keibuan dan sangat lihai dalam menjawab pertanyaan koas.
                Setelah glaukoma aku dapat Vitro-Retina. Lampu di ruangan ini sudah menyerupai kesan VR bagi koas, remang-remang kuning-merah, kuning berarti hati-hati dan merah berarti kalau bisa jangan ke sini. Sebenarnya jaga di VR cukup enak, tidak enaknya adalah ketika pasiennya membludak dan kerjaan koas hanya netes mata. Di sini semua pasien perlu ditetesi midriatikum, fungsinya untuk melebarkan pupil agar bagian belakang dari mata (Vitro-Retina) dapat terlihat dengan jelas. Saya selalu berdoa agar pasien diberikan kesembuhan oleh Tuhan sehingga jumlah pasien di sini berkurang dan akhirnya ada waktu untuk diajari oleh residen.
                Selamat dari VR belum selamat dari kerja keras, setelah VR adalah poli visus. Beban kerjanya 11-12 sama poli VR. Visus adalah garda terdepan poli mata, semua pasien pasti kudu mesti wajib melewati poli visus dulu. Dapat dibayangkan berapa jumlah pasien visus?  Luar biasa. Positifnya jika jaga di sini, koas dapat melihat semua kasus rangkuman dari kasus-kasus di semua poli. Aku dapat melihat kasus EED, Uvlens, PO, dsb di sini. Kalau bisa sudah belajar dulu kasusnya, jadi kita tahu pasiennya kenapa dan nantinya akan diterapi apa. Latihlah komunikasi yang baik, agar di poli visus kita dapat cepat, tepat, sigap, pasien mantap, ilmu dapat.
                Setelah visus ada NO, akhirnya dapat bernafas lega, bahkan malah terlalu lega. Poli NO isinya alat-alat canggih dan pemeriksaan spesialistik, sehingga koas terbilang cukup gabut. Namun, ilmu di sini banyak yang terkait dengan dr. Umum, meskipun tidak bisa melakukan tindakan, setidaknya mengerti ilmunya. Saat aku jaga NO aku tidak full di NO et causa harus bimbingan dengan dr. Bayu, tapi dokter favoritku di sini adalah dr. Manda, wakil ketua AMSA-UGM angkatan 2006.
Koas Mata di FK UGM

                Poli terakhir adalah EED. Namun sayangnya ketika artikel ini dibuat, aku belum pernah menjamah poli EED. Tapi, aku sudah pernah bertemu dengan salah satu dokter di poli EED. Dokter favorit di sini adalah dr. Krisna, aku biasa memanggilnya mas Krisna. Mas krisna adalah seniorku di AMSA, ia adalah ketua AMSA angkatan 2006 (unik ya ketua dan wakil AMSA-UGM angkatan 2006 keduanya masuk mata). Mas Krisna ini suka senyum, suka ngajar, kalau ngajar juga enak, berdoalah ketika jaga EED ada beliau, karena beliau bisa saja dinas ke luar kota.
                Satu hal yang belum dibahas adalah jaga bangsal. Ketika kita jaga, kita akan dipandu oleh dua residen dan beberapa staf perawat. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah berkenalan, staf perawat di sini alhamdulillahnya baik-baik. Residen jaga digilir dan kita tidak tau giliran siapa, namun residen yang sering jaga di sini adala dr. Melita. Dr. Melita pun adalah salah satu residen favorit. Penjelasan mengapa favorit sebaiknya kamu temui langsung beliau di bangsal mata. Namun satu hal yang pasti, dr. Melita selalu punya cara unik untuk mengajari koasnya, hal-hal yang kita hanya berdiri termenung dapat menjadi berarti karna ilmu yang diberikan oleh dr. Melita
Koas Mata di FK UGM
Happy Eyes, Happy Smiles
                Secara umum itulah suka-duka di koas Mata. Mungkin selanjutnya aku akan membahas koas mata di luar kota, kebetulan aku dapat Banyumas atau kita dapat membahas hal yang lebih spesifik, bagaimana cerita-cerita unik dapat terjadi di koas mata. Semoga saja ada waktu, aamiin. Semoga bermanfaat (smile)

Teknis
1.       Hubungi segera admin mata yaitu mbak Ning
2.       Bimbingan administrasi dengan mbak Ning
3.       Ikuti arahan mbak Ning
4.       Buat jadwal poli dan jadwal jaga
5.       1 orang koas akan mendapat puteran poli dan jaga. Contoh; aku hari pertama dapet poli A, hari kedua dapet poli B, hari ketiga dapet poli c, dst. Sedangkan temanku katakana Leo dapet poli C hari pertama, poli B hari kedua, dan poli A hari ketiga, dst.
6.       Poli hari pertama ; persiapkan ilmu, LoC yang mau dicari di poli yang kita singgahi, dsb
7.       Jaga malam ; bawa bacaan, entah akademik atau non-akademik yang penting bermanfaat. Tipsku; visit pasien! Baca rekam medis dulu untuk memahami pasien, lalu datangi pasien dan periksa sebisanya. Terapkan ilmu, profesionalitas, dan sikap yang baik lalu rasakanlah keajaiban yang tiba-tiba datang.
8.       Pro-aktiflah meminta tindakan, belajar dulu sebelum poli, lalu tanyakan hal-hal yang tidak ada di buku, hal yang sifatnya teknis dan lokal, jangan tanyakan hal yang sepele yang dapat dicari di internet.
Ingat, aktif meminta tindakan juga berarti kalian harus berbagi dengan partner kalian, jangan egois kalian sudah dapat banyak tapi ada teman kalian yang masih 0. Kecuali teman kalian itu tipe koas yang kurang ajar.
9.       Bahagialah di koas mata, karena kebahagiaan insyaAllah akan menarik kebahagiaan-kebahagiaan lainnya

copyright to amgah.blogspot.com

Sumber Gambar :
pinterest.com
devian art halomoon
marineyes.com
www.uihealthcare.org

17 April 2016

Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari


15 April 2017 “Mencari itu sama dengan menunggu. Menunggu itu sama dengan mencari” – Amgah, carilah sendiri makna dari kalimat ini

 “See what no one else see. See what everyone else choose not to see” – Patch Adams Movie, makna dari kalimat ini dijabarkan di bawah.

Artikel ini akan lebih menarik jika kita awali dengan mengingat kembali sebuah keberuntungan yang kita dapatkan di masa lalu. Rasakan bagaimana keberuntungan tersebut mampu mengubah suasana hati menjadi gembira. Hadirkan suasana tempat keberuntungan terjadi, orang-orangnya, barang-barangnya, tempatnya, hingga semua terasa semakin nyata. Aku yakin kita semua akan merasa bersyukur, bahagia, mengucapkan terima kasih pada Tuhan, dan hal-hal menyenangkan lainnya.
                Banyak orang bilang orang bejo akan mengalahkan orang rajin, orang rajin mengalahkan orang malas. Bejo (beruntung) ternyata berada di puncak rantai makanan. Tidak ada yang tahu kapan keberuntungan akan terjadi. Tidak ada yang tahu bagaimana keberuntungan akan terjadi. Kita hanya tahu bahwa hal tersebut merupakan sebuah keberuntungan ketika keberuntungan tersebut terjadi.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari
                Sebelum kita bahas lebih dalam, aku ingin menceritakan sebuah cerita nyata tentang keberuntungan. Cerita ini masih segar dari oven karena baru terjadi hari jumat lalu. Jumat adalah hari kerja aktif terakhir buat para koas (pendidikan profesi kedokteran umum). Setelah ujian selesai, tidak ada lagi tanggung jawab harus melakukan ini atau melakukan itu. Semua bebas silahkan meliburkan diri asalkan ujian dan administrasi telah dirampungkan.
                Saat itu aku merasa ada panggilan dari diri untuk tetap ke poliklinik THT (kita gak punya kewajiban, kalau gak ke poli ya gakpapa). Entah mengapa aku harus ke poli, itu hari terakhir, besok-besok aku sudah tidak akan lagi ke poliklinik THT sebagai Koas THT. Aku tidak akan berjumpa dengan residen-residen THT yang baik, tidak akan ketemu pasien THT, tidak akan berada di dalam poli THT. Entah mengapa aku ingin sekali menghabiskan detik-detik terakhir THT bersama mereka, mungkin rindu? Mungkin juga bukan.
                Akhirnya aku ke poli THT, sekitar 5 jam aku berada di sana. Pernah mendengar cerita orang yang mengalami beribu kegagalan sebelum berhasil? Terlepas dari hoax atau bukan, prinsipnya adalah nyata (ceritanya belum tentu). Sebelum aku menemukan keberuntungan, aku hanya mendapat printilan-printilan kecil. Teman-temanku mungkin bosan, aku pun juga bosan, sangat bosan. Tapi entah kenapa aku percaya aku akan mendapatkan sesuatu. Toh meskipun aku tidak mendapatkan apa-apa, aku telah berusaha sampai titik terakhir. Lagipula esok hari aku akan terbangun dan berada di tempat yang berbeda, aku akan merindukan tempat ini.
                Singkat cerita -- di jam-jam terakhir poli -- aku menemukan keberuntungan. Saat itu aku sedang berada di ruang Rhinology (poli ruang 2), tiba-tiba dr. Hafifah bertanya ke dr. Veby “Mas Veby, kalau stofmap biru itu artinya map yang biasa yang warna biru itu kan?” Aku pun tersentak. Stofmap biru, waduh, itukan urusan yang sama yang sedang kukerjakan, DAN DEADLINENYA HARI INI. Ternyata aku dan dr. Hafifah mengerjakan hal yang sama, bedanya dr. Hafifah ingat, sedangkan aku lupa.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari

                Kami berdua sama-sama ingin melamar suatu pekerjaan. Deadlinenya hari ini bos, kalo aku lupa, aku menghanguskan kesempatan yang cuma datang sekali, aku juga bakal ngecewain orang-orang yang udah dorong aku buat ngelamar kerja. Alhamdulillah, gara-gara dr. Hafifah, karena aku nongkrong di ruang rhinology, berkat firasatku aku harus ke poli, Allah menghindarkanku dari lupa dan membawaku pada ingat. Simpel mungkin untuk sebagian orang, tapi untukku itu merupakan suatu keberuntungan yang cukup besar. Bagaimana dengan keberuntunganmu?
                Akhirnya pun aku selesai mengurus berkas lamaran, aku dan dr. Hafifah pergi bersama ke kantor pos. (Untuk orang-orang yang tahu dr. Hafifah yang mana, mungkin mereka juga menganggap ini sebagai suatu keberuntungan. If you know what I mean). Tak berhenti di situ, aku alhamdulillah mendapatkan keberuntungan lain. Setelah nangkring di rhinology, aku mencoba peruntungan ke faring/laryngology,
                Di faring/laryngology (poli no.7/Ruang Tindakan) kami ditemukan oleh dr. Jessica. Awalnya aku dan Prisca mencari kelanjutan cerita dari pasien yang kami ikuti. Pasien tersebut ditangani oleh dr. Rio, setelah bertanya ke dr. Rio kami melihat layar endoskopi dan kami penasaran, kami pun minta izin dr. Rio untuk melihat-lihat. Ketika kami mengotak-ngatik komputer endoscopy untuk melihat hasil-hasil yang ada, tiba-tiba kami disapa oleh dr. Jessica dan dr. Jessica memberikan kami rekap endoscopy hardcopy untuk kami pelajari.
                Aku dan Prisca setuju tentang prinsip “Selagi di rumah sakit, belajarlah sebanyak-banyaknya dari pasien, dari pengalaman, dari residen. ‘Buanglah bukumu’ jika memang tidak perlu-perlu banget. Karena kamu di RS hanya beberapa jam, sedangkan kamu dan bukumu dapat berjam-jam. Lagipula tidak ada yang dapat mengalahkan rasanya involve dalam suatu hal, pahitnya pengalaman, atau manisnya kenangan.
                Kami pun memelajari rekap yang diberikan dr. Jessica dan menemui banyak hal yang sebelumnya kami belum pernah temui. Kami menjadi mengetahui gambar ini, gambar itu, kalau gambarnya ini tuh hasilnya A, kalau gambarnya itu tuh hasilnya B. Semua itu kami dapatkan secara mudah karena dibantu oleh residen-residen THT. Karena kami nangkring di poli nomor 7, berkat bantuan dr. Jessica, akibat firasat harus ke poli, Allah memberikan kami pengalaman yang baru.
Keberuntungan Ada untuk Orang yang Mencari

                Aku telah menceritakan tentang keberuntunganku, bagaimana dengan keberuntunganmu? Keberuntungan sangat subjektif, apa yang aku anggap sebagai beruntung mungkin menurutmu tidak, dan sebaliknya. Tetapi menurutku semua keberuntungan itu sama, semua berawal dari usaha mencari. Jika aku tidak berusaha mencari ke poli, jika aku hanya diam, aku tidak akan bertemu dr. Hafifah/dr.Jessica yang membawaku ke keberuntungan dan pengalaman yang baru dan menyenangkan.

                “If you don’t try, you’ll never know."

                “If you never ask, the answer will always be no”

               “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri” QS Ar-Ra’d; 11

“Tidaklah manusia mendapat apa-apa kecuali apa yang telah dikerjakannya” QS al-Najm: 39

“See what no one else see. See what everyone else choose not to see” – Patch Adams Movie

#Salamlegowo
#TularkanPositivitas

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
davebratcher.com
twitter.com
insightly.com