19 Maret 2017

1001 Malam Koas ObGyn FK UGM



Sekapur sirih koas obgyn, minggu pertama dan kedua: Pembekalan. Biasanya akan ada kuliah refreshing di week 1, mengingatkan kita kembali apa yang dulu ada di S1. Kalau bentukannya workshop (ada manekin), beranilah untuk mencoba dan juga berani memberi kesempatan pada teman yang lain. Kuliah bisa dibilang salah satu kegiatan favorit kita. Karena selain kuliah, kegiatan kita adalah jaga malam, jaga bangsal, dan jaga poli.

Jaga poli sebenarnya menyenangkan, poli obstetrik. Perawatnya sangat ramah dan sahabat koas banget. Beliau mengerti kegiatan apa yang perlu kita lakukan agar mendapat ilmu di RS ini. Beliau juga suka ngajak ngobrol kalau poli saat itu sudah bebas kerja. Di poli obs saat itu saya merasa dimanusiakan dan kita berinteraksi layaknya sedang bekerja. Baik-baik sama beliau, kita bisa menjadi bermanfaat dan benar-benar perannya sebagai koas.

Jaga bangsal dan jaga malam, Hm, "1001 malam yang kulewati bersamamu tidak mampu dikalahkan oleh malam bersama siapa pun dan apa pun. Perbedaan yang ada pada dirimu tak kutemui di tempat yang lain. Kamu adalah bangsal yang sebenarnya tak kurindukan. Namun kamu adalah jembatan yang harus kulalui agar aku mencapai sebrang." <- berlebihan="" div="" edikit="">

Apa yang ingin kukatakan adalah; variasi di Obgyn tak kutemui di stase-stase lain. Karakter teman kerja, karakter pasien, jenis pengawasan, beban kerja, dan jam kerja di obgyn sangat variatif. Tak perlu kita bahas karakter teman kerja, lebih baik kita bahas jam kerja. Koas yang benar-benar koas baru kurasakan di sini. Jam kerja >24jam baru kutemui di stase ini. Bahkan teman saya pernah merasakan 48 jam full di rumah sakit. 


Tips: Koas obgyn mengajarkan kita untuk berprinsip dan berani. Peganglah apa yang kamu anggap benar, lakukan apa yang kamu pegang, dan terimalah konsekuensi dari hal itu dengan penuh kesadaran diri serta keikhlasan. Tak selalu kebenaran kita terima dengan kebahagiaan, kadang amarah berpihak pada yang salah. Tak selalu kebenaran dibela habis-habisan, terkadang kamu sendirilah yang harus membela kebenaran. <- abstrak="" div="" ya="">

Terkadang ada hal yang di luar nalar kita sebagai manusia yang berperan sebagai koas. Terkadang kita harus mengalah dan ikhlas, lalu mengganti niat kita siapa tau apa yang kita lakukan menjadi ibadah. Terkadang kita harus cerdas dalam menyaring apa yang benar dan apa yang salah. Tidak mesti apa yang selalu dilakukan ialah yang benar. Terkadang kita harus berani keluar dari "selalu" dan pergi kepada apa yang tidak pernah dilakukan. Pintar-pintar mencari celah, niati apa yang kita kerjakan untuk Tuhan, untuk menolong pasien, dan untuk memberi manfaat.

Di sisi pengajar, teman saya yang beruntung alhamdulillah bertemu residen yang ngajar banget. Saya saat itu merasa beruntung kalau bertemu dr. Radit, dr. Ilham dan dr. Zuccha. Perlu kita tahu bahwa beban kerja residen obgyn di RS ini lebih berat dari 1001 malam koas obgyn. Oleh karena itu residen-residen yang masih mau ngajar koas menurut saya manusia super yang semoga kehidupannya diselimuti oleh keberkahan Allah. Tipsnya; cobalah berani bertanya dan mengobrol. 

Perawat dan bidan bogenvil 1 perlu saya catut di sini, selain perawat/bidan poli obs. Karena kebaikan mereka dalam memperlakukan koas perlu untuk diketahui. Instalasi IMP juga cukup baik. Beberapa perawat/bidan bogenvil 2 juga. Kalau kebetulan nemu variasi spesies lain yasudah sabar saja.

Oiya, belajar buku/teori memang diperlukan. Tetapi Obgyn menurut saya lebih menuntut kita untuk bisa terampil. Di sini lebih ke arah melakukan dan belajar sambil melakukan. Waktu yang tersedia untuk memegang buku pun saya rasa minim. Waktu kosong yang ada biasanya habis untuk keperluan tidur dan istirahat. Kalau ngotot mau buka buku, harus pintar-pintar cari celah dan cari niat.


week 3-9; Luar kota. "Surga" koas obgyn, habis gelap terbitlah terang. Meskipun jam kerja kami 33jam per 48 jam, tetapi di sini kami lebih sering dimanusiakan. Sebelumnya perlu saya tekankan bahwa saya tidak tulis di paragraf sebelumnya bahwa di week 1-2 kita terkadang tidak dimanusiakan.
Stase luar kota lebih detail saya rasa kita bahas di kesempatan lain.

Ngomong-ngomong sebenarnya apa sih definisi tidak dimanusiakan? Beberapa kali muncul di sini dan mungkin saja menimbulkan multi-interpretasi. Survey kecil-kecilan dari teman-teman koas, kita semua sepakat bahwa disuruh-suruh bukan berarti tidak dimanusiakan.

Okelah kalau disuruh-suruh, asalkan diperlakukan sebagai partner kerja bukan bawahan. Kita mengerti bahwa kompetensi kita masih seupil dan pekerjaan yang kita dapat lakukan adalah pekerjaan "sepele". Tetapi terdapat jurang besar antara orang yang memerlakukan kita sebagai partner kerja dengan orang yang memerlakukan kita sebagai pesuruh.

Wah-wah tulisan kali ini banyak negatifnya ya. Tetapi orang yang memerlakukan koas sebagai pesuruh itu sedikit kok. Percayalah bahwa lebih banyak orang yang memerlakukan koas sebagai partner kerja dengan kemampuan dan kebutuhannya sebagai koas. Di sleman ada bu yanti, bu lis, bu ndari, mba ari, mba puji, senior-senior bidan yang memanusiakan koas. Di Sardjito ada dr. Nuring, dr. Shinta, dr. Fahmi, yang juga memanusiakan koas.


Toh secara umum koas obgyn cukup menyenangkan untuk orang yang menyukai bidang ilmu ini. Selamat menikmati 1001 malam koas obgyn, mungkin di tulisan yang lain kita bisa bahas dari perspektif yang berbeda. Tulisan terkait koas obgyn: "Malam minggu koas Obgyn" dan "Buat apa Ngajar Koas?".  Saya harus undur diri dulu kali ini.

Buat yang mau koas obgyn tetap cobalah untuk belajar teori yang praktikal, ketika kesempatan praktik datang, beranilah dan yakin. Tunjukkan bahwa kita mampu dan mau, karena kalau tidak mampu dan mau, mungkin saja kita dianggap remeh dan hanya disuruh-suruh. Tunjukkan bahwa kita pantas untuk diperlakukan sebagai partner kerja

Oiya week 10; ujian bro. Ujiannya katanya OSCE. Ada yang murni praktik, ada yang isian singkat/esai di kertas. Katanya OSCE obgyn itu waktunya sempit banget, harus benar-benar tahu apa yang perlu dan tidak perlu dikerjakan. Katanya juga kita tidak disediakan checklist, jadi ya harus benar-benar nalar apa-apa aja yang dapat dan tidak dapat poin.


copyright amgah.blogspot.com

sumber gambar:
- parents.com
- entrepreneur.com
- clipartix.com
- kompasiana.com

***
Teknis:
- week 1-2; kuliah refreshing, jaga poli, jaga bangsal, jaga malam, ekstrakurikuler ikut ke lapangan futsal/lapangan tenis
- week 3-9; luar kota
- weel 10; kegiatan week 1-2 + ujian

Jam kerja;
week 1-2, dan 10; jaga poli mulai +- 08.00/08.30 - selesai biasanya 14.00. Jaga bangsal mulai 06.00-18.00 Jaga malam 18.00-06.00. Laporan pagi 06.30-biasanya 08.00, konferensi klinis 08.00-09.00
week 3-9. Kebetulan saya dapat sleman. Di sleman jam kerjanya 33 jam / 48 jam ("libur" 15 jam / 48 jam). Contoh; senin-selasa -> senin 24 jam, selasa hingga 15.00, dan rabu 06.00 sudah di RS untuk 24 jam lagi. Purworejo belum tahu, rumornya jaga tiap 4 hari 1x. 

13 Maret 2017

Buat apa Ngajar Koas?



waktu itu salah seorang dosen kami berbicara "taugak kalian kampus kalian bayar berapa ke kita? XXX per semester. ada seorang teman saya yang kerja di rs swasta ngomong ke saya, Piip ngapain sih kamu di rs y? ngajar koas dapet berapa sih?' saya jawab aja, ya situ dapet duit, tp saya dapet amal jariyah"

artikel ku kali ini kubuat untuk menghargai jasa guru-guru kami yang sudah menyempatkan waktunya. mereka punya keluarga yang perlu diurus, punya kesibukan yang harus dikerjakan, dan punya tugas yang harus diselesaikan. namun di tengah-tengah itu semua, beliau-beliau yang keren masih mau menyediakan waktu ntuk para koasnya.

di Sleman kami bertemu dr. laili Sp.OG dan dr. Ahmad Priyadi Sp.OG. beliau berdua beberapa kali memberikan kesempatan kepada kami untuk tindakan dan percaya sepenuhnya pada kami. contoh; saat operasi sesar kami diberi kesempatan jadi asisten steril dan beberapa kali dibimbing, kadang diminta melakukan suatu tindakan. kalau orang X masih memandang kami sebelah mata, masih diawasin bangetbanget kaya maling mau nyolong barang. tapi beliau berdua berbeda, membiarkan kami melakukan suatu hal, seakan yakin kami bisa.

dr. ahmad yang paling membimbing kami di sini. tiap pagi pukul 08.00 beliau selalu siap ke bangsal menyediakan kami ilmu dan cerita2 seru. kalau dr ahmad rajin membimbing, kita yang dibimbing pun harus rajin dalam memfollowup pasien bangsal. saat kami di sleman, beliau yang paling sabar menghadapi kami. di poli pun kami diberi kesempatan untuk memeriksa. padahal jumlah pasien saat itu menggunung, tapi beliau tetap sabar meskipun kami lama dalam memeriksa. beliau tetap mau memberi kesempatan dan mengarahkan kami jika kami salah.

aku gak habis pikir, jarang banget ada konsulen yang mau memberikan kesempatan periksa di poli. tahukah kalian kalau koas ada di poli, biasanya kami nembok seperti cicak. jika tidak beruntung kami benar benar seperti cicak. ada di tembok, tapi keberadaannya tidak digubris, antara ada dan tiada. hanya Tuhan dan nyamuk yang tahu kalau cicak ada di situ. kalau beruntung, setelah poli kami akan dibimbing, review dapat apa aja dan diberikan kesempatan diskusi. nah ini lebih dari beruntung, berulang kali kami disuruh periksa sama dr.ahmad.

beberapa hari sebelum bertemu dr. ahmad, sebenarnya aku kepikiran kangen stase anak klaten. waktu itu aku masih week awal stase obgyn di RS piip. di RS piip aku merasa ilmu kesehatannya hanya dapat sebesar biji zarah, di sana aku lebih mendapat ilmu akhirat. RS piip mengajarkan kami untuk bersabar mengahadapi cobaan, ikhlas menghadapi kesukaran, dan tulus dalam menolong. aku kangen stase anak klaten dimana kami koas dimanusiakan, terlebih sama dr. arif yang percaya banget sama koas. baru pertama kali mata saya melihat konsulen yang menghargai koasnya sebagai partner kerja.

eh gak lama kemudian ketemu dr. ahmad dan dr.laili yang sangat membimbing. walaupun stase sleman kami jam kerjanya 33jam / 48 jam. tetapi kami mendapat ilmu bermanfaat yang dapat kami gunakan agar menjadi dokter yang baik dan bisa menolong orang banyak. terima kasih kepada konsulen dan residen kami yang bersedia memberikan kami ilmu di tengah kesibukan. semoga Allah selalu memberkahi kehidupan keluarga dokter dokter semua.

***
waktu atase anak dulu, aku membuat sebuah tulisan di line @amgah;

Untuk apa mengajar koas??

pernah gak sih di antara kalian mikir kalo kita jadi konsulen. buat apa ngajar koas? dapet apa kita? mending nerima pasien dapet banyak. ngajar koas cm dapet capek. belum kalo koasnya kurang ajar/sikapnya nyeleneh.

menurut saya penghargaan yg didapatkan konsulen ktk ngajar koas gak sebanding. sama kaya kesejahteraan guru atau dosen yg mengajar murid muridnya. byk pilihan lain yg lebih enak

oleh karna itu saya sgt menghargai konsulen konsulen yg ngajar koas/residennya sepenuh hati. totalitas memberikan ilmu. dengan penghargaan ala kadarnya

seneng banget kalo ktmu konsulen yg meng anggap ngajar koas itu bukan buang2 waktu. atau yg gak "yah mesti ngajar lagi".

semoga Allah selalu melindungi dan memberi barokah kepada konsulen tsbt dan keluarganya. kebaikan berbalas kebaikan

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar http://www.acarepharmacy.com


05 Maret 2017

Malam Minggu ala Koas Obgyn UGM

Karena partus-partus sebelumnya selalu ngeliat ibu teriak-teriak kesakitan. kali ini saya memberanikan diri untuk megang pasien dari awal sampai akhir. bisa gak ya ibunya lebih nyaman lebih tenang sehingga gak teriak?

setelah ngobrol-ngobrol, sambil edukasi cara mengejan, dan bagaimana sakitnya kontraksi his itu. saya ambil kesimpulan ada beberapa kebutuhan si ibu yang belum terpenuhi agar dapat menjadi lebih tenang. 1) anak pertama, belum tau pengalaman lahiran normal 2) ada kerenggangan antara pasien dan penunggu saat itu 3) suaminya seperti takut dan si istri pengennya suami memberanikan diri

berdasarkan sok tau itu saya coba memberanikan diri untuk edukasi. supaya kebutuhan nomor 1 terpenuhi. alhasil bener aja si ibu penasaran terhadap beberapa hal dan cukup banyak bertanya. di akhir kita tutup dengan kalimat2 yang semoga aja bisa menguatkan si ibu dalam menahan rasa sakitnya.

sambil evaluasi persalinan (meletakkan tangan di perut ibu untuk menilai kontraksi his) di tengah-tengah kok si ibu megang tangan saya. waduh bahaya juga kalo suaminya cemburu gimana. akhirnya setelah selesai menilai kontraksi his saya izin pergi.

gak lama kemudian, di evaluasi yang selanjutnya. ternyata saya mendapati si ibu dan suaminya sedang berpegangan tangan. alhamdulillah suaminya ngerti dan kebutuhan no.3 pun terpenuhi.

bener aja selama fase sakit-sakitnya sampai lahiran, alhamdulillah si ibu gak pernah teriak sekali pun, Maksimal bilang ke saya kalau sakit banget dan rasanya gak kuat. kita yakinin aja kalau ibu pasti kuat dan ibu udah diberi amanah Allah untuk punya bayi, suatu hal terkeren yang hanya diberikan kepada ibu bahkan tidak semua ibu.

lahiran pun alhamdulillah lancar, ibu aman, bayi aman.

"Mengapa kita memberi setengah ketika kita mampu memberi penuh? Mengapa kita beri setengah ketika orang yang ingin kita beri worth it untuk diberikan penuh? Berilah perhatian penuh sesuai porsi dan kapasitas, niatkan untuk ibadah, niatkan untuk membahagiakan orang lain."

***

Pertama kali ikut SC dan dikasih kesempatan oleh dr. laili jadi asisten bersama 2 asisten operasi yang lain. operasi dimulai dengan pembacaan status pasien lalu berdoa. bismillah operasi pertama pakai mode steril.

operator dr. laili yang sudah piawai tetap memberikan kesempatan pada koasnya yang butiran debu. pasti ada aja amanah yang dr. laili coba berikan kepada kita. "dek kamu pegang ini. dek ayok di dep. dek sekarang kamu kaya gini." dan dek dek seterusnya. padahal itu menjelang tengah malam yang logikanya pasti ingin cepat selesai agar cepat pulang.

yang unik dari operasi ini. 2 as.op lain 1nya bapak-bapak 1nya lagi mas-mas ada 1 orang yang "ih". yang bapak-bapak udah ketemu di ruang ganti dan cukup ramah. semua berawal dari koas yang amatiran.

ketika dr. laili bilang A, saya melakukan A tetapi kurang baik, si mas X langsung ngeluh dan ngambil alih kerjaan A. dr. laili lalu memberitahukan apa kesalahan saya dan ke depannya tetap memberikan amanah A. walaupun si mas X kadang masih ngeluh. senang rasanya ketika kerjaan A bisa juga dilakuin dan si X diem.

positive thinking mungkin si mas X capek kali ya, pengen cepet pulang. atau memang asisten operasi harslah seperti itu, bersikap tegas. tegas memang mutlak, tapi saya rasa perasaan "kamu tidak bisa dan saya bisa" haruslah dihapuskan dari kamar operasi

pesan saya. hati-hati terhadap rasa "saya bisa dan kamu tidak bisa". bisa jadi kebisaan itu timbul karena kita lebih dahulu belajar sedangkan orang lain baru saja belajar. lalu suatu saat nanti orang lain itu menjadi lebih bisa daripada kita. atau ternyata orang yang kita remehi itu punya suatu keahlian yang sangat kita butuhkan.

Orang bijak bilang "jangan pernah remehkan orang lain. Kamu tidak akan pernah tahu apa yang dapat terjadi di masa depan"

Kalau punya ilmu lebih hebat, amalkanlah ilmu tersebut pada kebaikan, dan bagikanlah agar menjadi amal yang terus menerus.

Disadur dari akun line @amgah
copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar:
momjunction.com
glamox.com

26 Februari 2017

KOAS gak perlu ibadah dan gak perlu tau tips ibadah?



Well setiap orang memiliki kuasa atas dirinya di dunia. Setiap manusia mendapatkan sesuai dengan apa yang diusahakannya. Jika ia mencari dunia ia akan mendapatkan dunia, jika dia mencari dunia dan akhirat, niscaya ia akan mendapatkan keduanya. Supaya simpel dan gak kaya ceramah, kita langsung masuk aja ke contoh nyata.
                Koas penuh dengan ketidakpastian, sarjana saja sudah dirundung oleh ketidakpastian, koas lebih dari itu. Jika sarjana sering reskedul jadwal kuliah, koas pun terkadang tak jelas. Belum kita harus mengejar orang-orang yang harus kita kejar. Ketika orang itu ada di depan mata pun, belum tentu bisa terkejar, siapatau beliau ada rapat mendadak/sedang tidak mood untuk meladeni koas.
                Ada atau tidaknya kasus juga ketidakpastian. Di koas kita learn by doing, ada kasus barulah belajar. Jika kita tidak mendapatkan variasi kasus yang cukup, kita tidak belajar dengan baik, apa bedanya sama sarjana? Dan seringkali males banget kita baca buku mending langsung terjun karena kita sudah belajar teorinya saat sarjana.
                Diajarin atau tidak itu juga ketidakpastian. Kalau kita sedang beruntung, kita akan kedapatan siapapun yang mampu mengajari kita. Mayoritas konsulen atau residen, dengan catatan beliau-beliau sedang tidak sibuk atau mau menyempatkan waktu. Hal tersebut pun juga tidak pasti. Kalau lagi apes-apesnya kita cuma jadi tukang. Disuruh tensi, ambil barang, anter barang, ibarat Go-Koas yang siap sedia mengantar apapun antar-ruang rumah sakit. Kadang kita juga disuruh Go-Clean, Go-Food, hingga Go-Write.
Go Koas : Terima Panggilan Atasan

                Ketidakpastian itu seringkali dijawab Allah dengan keberuntungan. Mendapat konsulen yang baik, jadwal kuliah lancar, atau dapat kasus bervariasi. Sehingga poin pertama adalah, Allah seringkali memberikan kita keberuntungan yang datang dari arah yang tidak diduga-duga. Mengapa kita sebagai hamba-Nya tidak berterima kasih atas apa yang telah Tuhan berikan? Atau, mengapa kita tidak meminta kebaikan di dunia dan nanti di akhirat jika kita dapat memintanya? Kepada siapa lagi kita akan meminta?
                Poin kedua, jika kita mampu mengubah waktu yang tidak berkualitas menjadi berkualitas, mengapa tidak? Waktu berkualitas berarti memiliki nilai kebaikan dan ibadah. Tidak semua kebaikan bernilai ibadah apalagi jika kita tidak niatkan diri untuk beribadah. Jika kita butuh 2 barang, dan kita bisa dapat 2 barang itu, kenapa kita harus mendapatkannya satu per satu? Kenapa tidak langsung 2 sekaligus?
                Ibadah yang wajib salah satunya adalah sholat. Namun bentuk dari ibadah, tidak hanya sholat. Kalau kata ustad di kajian Obgyn, mau disuruh-suruh pun dapat bernilai ibadah asalkan kita niatkan untuk ibadah. Misal kita disuruh untuk pergi ke A, kita niatkan untuk ibadah silaturahim. Kata konsulen pun Go-Koas juga dapat menjadi ibadah. Misal kita disuruh ambil darah ke bank darah, kita niatkan untuk ibadah demi kebaikan pasien siapa tau insyaAllah jadi ada nilai ibadah.
                Oleh karena itu tips ibadah pertama adalah; niatkan segala sesuatu yang kita lakukan karena Allah, di jalan Allah, dan dengan menyebut nama Allah. Simpelnya niatkan setiap langkah yang kita tempuh ialah ibadah. insyaAllah semoga apa-apa yang kita lakukan dapat bernilai dobel tidak hanya single.

                Tips kedua, dhuha dan tahajud;
THT: biasa mulai kegiatan pagi jam 7.30, sehingga kita bisa dhuha dulu sebelum mulai kegiatan. Dhuha pun bisa di mana saja. RadioPoetro? Bisa. Masjid ibsin? Bisa. Sarjito pun bisa. Atau di tengah-tengah poli kalau ramai banget koasnya sehingga sesak kaya bis kota, atau malah sepi banget kaya hati yang ditinggal pergi kekasih, yasudah pergi dhuha aja dulu.
                Plus, THT itu ada jaga malam dan jaganya selo. Sempatkan waktu untuk tahajud di 1/3 malam. Wabilkhusus kita-kita yang sulit bangun, jaga malam adalah wadah yang apik agar mampu merasakan indahnya sepertiga malam.

Mata: lupa-lupa inget nih, kayaknya di mata dhuha tetap bisa dilaksanakan sebelum poli di mulai. Tapi jaga malam di mata, tidak 24 jam sehingga sepertiga malam perlu usaha mandiri.

Kulit: sama persis kaya mata. Dhuha tetap sebelum kegiatan rumah sakit dimulai, dan jaga malamnya cuma sebentar.

Forensik: forensik itu kadangkali menunggu kuliah atau menunggu sesuatu. Nah kalau gak sempet dhuha pagi-pagi, yaudah selipin aja pas lagi nunggu itu melipir dikit ke musholla forensik. Jangan harap ada jaga malam di forensik ya, sepertiga malamnya mandiri aja.

Saraf: Nah ini nih baru butuh tips khusus. Pengalamanku di saraf, kegiatan selalu dimulai dari pagi buta. Berangkat ketika matahari malu-malu terbit, pulang ketika matahari megap-megap tenggelam. Sehingga dhuha perlu sedikit diakalin pas jam 10an. Biasanya setelah sibuk di pagi buta, setelahnya akan sedikit lowong, langsung cus gunakan waktu dengan baik.


                Jaga malam di sini 24 jam seperti THT. Tetapi beban kerja jaga malam saraf beda jauh sama THT. Enaknya menurutku ya pasti kalian akan terjaga minimal sampai jam 11 dan biasanya sampai jam 12 atau 01.00 dini hari. Colong waktu dikit tidur duduk lalu pas bangun buat ngelaksanain tugas, setelah tugas selesai langsung sepertiga malam.

Jiwa: Sama persis seperti THT.

Anak: Tergantung dapat jejaring mana. Tapi kalau stase besar biasanya kita sudah capek duluan. Bawaannya adalah Kasur dan tidur. Oleh karena itu tips di sini ialah perkuat niat, insyaAllah waktu pasti ada. Dhuha sebelum kegiatan rumah sakit dimulai, karena kalau sudah mulai akan sulit mencari waktu kosong.
                Jaga malamnya juga lebih berat dari saraf, tapi tetap ada waktu kosong untuk menikmati indahnya sepertiga malam. Niatkan  aja insyaAllah waktu akan menghampiri

Obgyn: sama seperti anak. Hanya saja jaga malam di sini kita lebih belajar untuk ikhlas. Buat kita-kita yang perlu kompetensi ikhlas, nah di sinilah kita belajar. Kok gitu? Jawaban baru dapat diketahui ketika kamu sendiri merasakannya. Intinya niatin aja dhuha sebelum kegiatan dimulai dan sepertiga malam saat jaga malam. Oiya kalau dapat shift jaga bangsal pagi, kewajiban tensi baru dimulai pukul 11 siang, jadi kita punya waktu panjang buat nyelipin dhuha.
-          Selamat mencoba


Tips ketiga, baca Quran: baca Quran dapat di mana pun dan kapan pun, selama gak ngeganggu orang. Paling enak setelah sholat fardhu jadi kita masih ada wudhu. Supaya gak dianggap kabur, baca aja di nurse station, kalo gakboleh cari ruangan kosong di sekitar situ, 99% ada. Niatkan untuk ibadah dan biar gak dianggap kabur lalu minta perlindungan Allah dari sifat ujub dan riya. 1 hari setengah juz bisa banget, stase besar sekali pun. Atau mulai dari yang ringan-ringan aja, yang penting niat dan punya target yang jelas. Ibarat kita mau ngegebet orang yang kita taksir, kita jelas punya target siapa dan mau bagaimana.


copyright to amgah.blogspot.com
Mohon maaf jika misalkan ada kesalahan dan mohon diingatkan. 

sumber gambar:
stethoscopeoflife.files.wordpress.com
http://media.pricebook.co.id/
media.ihram.asia
http://majalahembun.com

14 Februari 2017

Apa yang lebih sulit dari OSCE anak? Ini Jawabannya

ilustrasi kaget

Pertama perlu diketahui bahwa OSCE koas anak di kampus kami termasuk salah satu ujian yang paling ditakuti. Tingkat ketidaklulusannya cukup ada dan pun lulus, nilainya dapat dibilang terkadang mengenaskan. Oleh karena itu aku mengambil judul kirakira apa ya yang lebih sulit dari OSCE koas anak?

Karena dalam beberapa hari ini ada satu topik yang entah kenapa selalu muncul di mobil. Mobil adalah salah satu tempat ngobrol… Eh tapi kita tidak membahas tentang mengobrol di mobil, yang kita bahas adalah apa yang diobrolkan di mobilnya.

“Eh X, pokoknya ya, mau lo suka sama A kek, B kek, C kek, jangan sampai kehidupan personal lo menganggu kehidupan profesional lo.”
“Gue setuju banget sama lo, Gah”
“Tapi kaya gitu sulit loh”
“Iya gue tau gah hahaha, perlu gue curhat? Gue baru aja ngerasain gaenaknya kerja bareng sama orang yang kaya gitu”
“kaya gitu gimana?”
“ya kehidupan personalnya memengaruhi kinerjanya”

Baiklah, akhirnya ketemu jawaban apa yang lebih sulit daripada OSCE anak. Topik di atas itu secara omonglogi memang mudah untuk diucapkan tapi tak mudah tuk dilupakan, maksudnya dilakukan. Meskipun aku dan si X mengerti bahwa kita harus mampu “memisahkan” personal dan profesional, pada kenyataannya kami berdua masih belajar untuk itu.

Kenapa kata memisahkan aku beri tanda petik, karena menurutku untuk 100% memisahkan personal-profesional adalah suatu 0 (kecuali orang berhati beku). Menurutku hal ini ibarat penyakit alergi bukan penyakit infeksi. Suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol dan dikendalikan.

Teori: Kita harus mampu mengendalikan kinerja se-optimal mungkin meskipun kehidupan personal sedang dilanda masalah.

Bersembunyi di balik senyuman, bergerak di balik kesunyian, dan bekerja di balik teriakan
Lantas apa yang dapat kita lakukan?
  •  Ketahuilah bahwa setiap orang butuh penyesuaian. Yang terpenting adalah kamu sadar bahwa kamu sedang salah -> belajar dari kesalahan -> menjadi lebih baik


Acapkali seseorang enggan menyadari bahwa apa yang dilakukannya adalah salah. Ada orang yang cuek, ada orang yang mencuekkan diri/tidak peduli orang lain aka egois, ada orang yang tahu dia salah tapi tak mau berubah. Langkah awal yang perlu dilakukan adalah meningkatkan tilikan diri.
Ketika kita mengetahui bahwa kehidupan personal kita sedang berantakan, mulailah bertanya apakah permasalahan itu mengganggu kinerja di lapangan? Mengganggu orang lain? Lama kelamaan tanpa bertanya pun kita tahu bahwa kehidupan personal memengaruhi hal yang lain.

  •   Mencari tips mengoptimalkan kerjaan (mengobati gejala)
  •  Terakhir, Selesaikan masalah personalnya (mengobati penyebab)


Nomor 2 dan 3 dapat digabung dan sebenarnya bersifat khusus berbeda tiap orang. Namun ada beberapa hal yang bersifat umum dan dapat dipakai oleh siapapun;

  •           Mendekatkan diri pada Tuhan, meminta pertolongan Allah dengan sholat dan sabar

Hanya kebetulan-kebetulan yang terangkai indah yang dapat melawan ketidakmungkinan dan tidak ada lagi yang lebih kuasa selain Yang Maha Kuasa. Hanya Allah yang mampu memberi kita jalan-jalan tak terduga yang tiba-tiba ada muncul tak disangka. Bak kendaraan yang motong jalan tanpa rating/sen atau ibu-ibu yang rating kiri tapi beloknya kanan. Hanya Allah yang Tahu dan Allah adalah sebaik-baiknya penolong serta pelindung.

  •      Mencari teman untuk beraktivitas positif (bonus menyibukkan diri dengan kegiatan positif)

Ketika seorang manusia mampu meringankan beban orang lain, di saat yang bersamaan ia meringankan beban dirinya sendiri. Lalu ibarat gelas, ketika gelas itu full diisi oleh air yang jernih, sudah tidak ada lagi tempat untuk air yang keruh.
  •     Tidur

Tidur adalah salah satu anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada hambaNya dan suatu kenikmatan mewah bagi kami yang berprofesi wajib begadang ketika jam kerja malam. Tidur mampu merefresh pikiran seperti mesin cuci laundry-an.

  •      Punya kemauan dan mau melakukan

Punya kemauan saja tidak cukup, kita harus benar-benar melakukan kemauan tersebut. Kita sadar bahwa kita perlu menjadi lebih baik, dan kita lakukan berbagai macam hal yang dapat membuat kita lebih baik. Semangat untuk selalu memperbaiki diri, aku pun di sini juga belajar untuk itu. Semoga tips-tips di atas dapat membantu, sampai jumpa di lain kesempatan, see you!


copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar: thedailyparks.files.wordpress.com

05 Februari 2017

Inilah jawaban Amgah ketika ditanya persiapan Koas

Ilustrasi wawancara
Rada jijik ya sama judulnya. Ya jadi kali ini kita akan membahas suatu kesalahan yang sudah kulakukan. Di sini kita akan menemukan sesuatu yang anti-mainstream. Mungkin kita sudah tahu bahwa koas perlu menyiapkan barang ini barang itu, tapi di sini kita tidak membahas barang. Kita juga tidak membahas bahwa koas butuh nyiapin jodoh dan memang jodoh itu tentatif. Sebenarnya apa sih yang perlu kita ketahui sebelum memasuki koas?

Di akhir kita akan tahu kenapa

Koas = Gak punya waktu
Pernyataan itu adalah dusta terbesar yang sudah kutelan mentah-mentah. Eh, tapi tidak sepenuhnya kalimat di atas dusta, ada sisi benarnya. Namun, kalimat di atas perlu direvisi.

                Ketika aku mau masuk koas, sudah kutanamkan bahwa koas akan menyita 100% waktuku. Kalau aku koas, aku akan tidak punya kegiatan lain selain koas. Beberapa orang juga berkata demikian dan kemungkinan besar, orang di sekelilingmu juga berkata demikian. Jika ternyata orang di sekitarmu berkata beda, bersyukurlah.
                Ketika aku sudah berada di koas, koas menyita waktu 100% adalah omong kosong. Karena pada hakikatnya kita akan bosan jika 100% hidup kita hanya kita habiskan oleh 1 kegiatan, iya atau iya? Dan pasti akan selalu ada waktu luang yang terselip di antara kegiatan koas. Hanya saja kita perlu mengetahui beberapa hal.
                Koas lebih sibuk dari S1? Benar, waktu yang kita habiskan di tempat kerja lebih banyak daripada waktu yang kita habiskan di kampus ketika S1. Koas 100% menyita waktumu? Salah. Karena akan ada waktu-waktu kosong yang muncul bagaikan air di tengah gurun pasir. Oleh karena itu perlu ditanamkan bahwa di koas pun kita masih bisa hidup.
                Justru menganggap 100% hidup kita hanya untuk koas akan membuat kita mati. Mati kebosanan, oleh karena itu aku tidak ingin ada orang yang mengulangi kesalahan yang sama. Aku tegaskan di sini bahwa di koas kita masih memiliki waktu luang. Hanya saja waktu luangnya 1. Tidak menentu/tidak jelas kapan 2. Lebih sebentar dibanding S1 tapi tetap masih ada waktu luang 3. Bisa jadi sebentar bisa jadi lama, selain tidak jelas kapan, durasinya pun tidak jelas.
                Aku sarankan sebelum memasuki koas, tentukan minimal 1 target lain selain koas. Carilah target yang dapat membuatmu hidup. “Hidup” passionate, sesuatu yang membuatmu bergairah dalam artian positif. 99,99% aku yakin akan ada waktu dimana kamu dapat mengerjakan apa pun yang kamu mau. Di situlah kita akan me-recharge tenaga dan mengembalikan hidup kita yang telah terenggut oleh jaga malam.


                “Di koas kita masih mampu mengejar minimal 1 target selain koas. Namun, jangan jadikan itu sebagai target, jadikanlah itu sebagai chargermu selagi koas. Carilah hal yang membuatmu bersemangat dan membuatmu lebih maju"
                “Kalau ada waktu kosong kita udah capek, maunya tidur aja.” Percayalah waktu kosongmu akan mencukupi waktu tidurmu. Lalu ketika kamu bangun, kamu akan bosan jika tidak memiliki tujuan. Belajar? aku tidak yakin, di sela-sela waktu koas biasanya kita akan mencari escape route dari rutinitas. Sudah capek sama koas dan kita akan mencari hal lain. Oleh karena itu, carilah 1 tujuan lain.
                Tujuan apa? Itulah yang harus dikembalikan pada diri masing-masing. Kita mencari apa dalam hidup? Untuk apa kita hidup? Apa yang mau kita capai? Apa yang bisa kita capai selagi koas selain koas itu sendiri? Travelling kah? Pergi ke tempat-tempat seru berpetualang. Atau belajar masak? Meracik resep sendiri yang menggugah selera. Sesuaikanlah apapun tujuanmu dengan waktu dan kondisi koas yang ada. Namun pastikan kamu punya 1 target, agar koasmu menjadi lebih hidup.
Koas = Gak punya waktu

“Koas masih punya waktu meskipun lebih sedikit dan lebih tidak jelas. Carilah 1 tujuan yang membuatmu lebih hidup dan lebih maju. Dan buatlah dirimu berbeda dari yang lain.” 

Semoga kamu menemukan tujuan selama koas dan semoga koasmu lebih berwarna karena itu, aamiin.

Tidak setuju? Atau punya pengalaman lain? Silahkan tulis di kolom komentar


copyright to amgah.blogspot.com

Sumber gambar:
http://3.bp.blogspot.com/_kR5ItneToBY/SuSu4y9F1NI/AAAAAAAACbA/4ypEaO_slJE/s400/iker+casillas+press+conference.jpg
http://www.selipan.com
amorecolorfullife.files.wordpress.com

17 Desember 2016

Koas Anak Klaten FK UGM Minggu 1

                 “Wah gue dapet klaten 8 minggu bro! Haduuh….”
                “Wah KKN jilid 2 gah”
                “duh alhamdulillah ya gak milih KKN jawa, kalau milih jawa terus dapet klaten juga, 4 bulan bro di Klaten!”
                “hahaha selamat jadi warga klaten, Gah!”

                Stase anak kali ini akan diisi dengan Klaten sebagai ibu Koas. Delapan minggu bukanlah waktu yang sedikit untuk sebuah stase 10 minggu. Sebenarnya aku menginginkan RSUD Banyumas sebagai rumah koas anakku, karena Banyumas sudah kuhapal betul kesehariannya. Tetapi apa daya takdir mempertemukanku dengan RSST Klaten. Sebuah rumah sakit pendidikan tipe B yang sedang mendongkrak dirinya menuju tipe A.
                Hari pertama di Klaten seperti biasa diisi oleh urusan-urusan administratif. Bertemu dengan mas Yanuar dan mas Brilly/Brilli (kita konsensus saja namanya mas Brilly). Mas Brilly adalah staf admin bagian Anak. Ditemui di ruang SMF, di pojokan, dan carilah orang yang selalu tersenyum. Sekitar satu minggu kulewati di Klaten, mas Brilly adalah salah satu alasan yang membuatku betah. Bukan karena aku homo, tetapi karena mas Brilly orangnya ringan tangan, mudah dihubungi, dan selalu memanggil kita “dok”.
                Setelah mendapat pengarahan dari mas Brilly, biasanya koas 8 minggu klaten akan dimulai di bangsal Bakung. Bangsal Bakung adalah rumah dari semua bayi-bayi yang perlu dirawat inap (selain NICU dan rawat gabung). Di sana kita akan menemui bayi-bayi yang imut tetapi menjadi tidak imut jika menangis dan harus diperiksa tiap 3 jam jika sedang jaga malam.


                Sebelum langsung ke Bakung, biasanya para koas mencari konsulen-konsulen anak yang tersebar di berbagai ruangan. Di RSST sekarang sedang ada 5 konsulen, 2 di antaranya konsulen yang baru. Dua konsulen baru itulah yang nantinya mengajari kami paling banyak. Orang bilang klaten tidak terlalu mendapat ilmu. Tetapi karena 2 konsulen baru tersebutlah kami sekarang menjadi lebih mendapat ilmu.
                DPK kami di sini adalah dr. Hendra salah satu konsulen baru selain dr. Arif. Pengalaman kami terhadap konsulen di minggu pertama masih minim. Namun satu hal yang pasti dr. Arif orangnya sangat ngajarin. Meskipun beliau sibuk, tetapi beliau masih mau menyempatkan waktunya. Resusitasi neonatus bersama dr. Arif (dan bayinya datangnya lama) adalah suatu kesempatan berharga karena di sana dr. Arif akan mengajarkan banyak hal.
                Lanjut di bakung, begitu sampai sana laporanlah dengan kepala ruang. Rata-rata perawat di sana baik. Ada yang cuek, ada yang perhatian. Carilah yang perhatian dan tak usah ambil pusing dengan yang cuek. Di sana kita dapat melakukan dan mencari kompetensi yang ada hubungannya dengan bayi. Atau bagi orang-orang yang mau menikah, bakung adalah tempat belajar bagaimana merawat seorang bayi.
                Jam kerja di bakung selesai pukul 14.00 tetapi jam mulainya kurang jelas. Ada yang bilang jam 9, ada yang bilang jam 7, ada yang bilang seikhlasnya. Tetapi saranku datanglah jam 7, karena biasanya ada follow up di sana. Kalau ada follow up, belajarlah dari situ, dan biasakan aktif. Di sini biasanya orang tidak terlalu peduli jika kamu tidak bertanya. Seperti kata pak Dumbledore di serial Harry Potter, Hogwarts ada bagi siapa yang meminta. Bertanyalah maka kamu akan diperhatikan. Tetapi terkadang kamu juga di”tendang”. Namun jika kamu tidak bertanya, kamu tidak akan pernah mendapat jawaban meskipun kamu juga tidak akan pernah di”tendang”. Bertanyalah, siapatahu kamu beruntung mendapat orang yang sangat ngajarin.
          “Tendang”: dicuekkin, dijutekin, disinisin. Hal-hal yang sudah biasa diterima koas selama menjalani masa bakti sekolahnya

Orang bilang minggu pertama bangsal bakung adalah bangsal yang paling santai. Kami akui bangsal ini memang santai. Oleh karena itu kamu bisa mengisi waktu luang dengan hal-hal lain seperti dhuha atau baca Qur’an. Tips belajar: buatlah KPJP (Koas penanggung jawab pasien). Contoh ada 15 pasien dan 3 koas. 1 Koas menjadi KPJP untuk 5 pasien. Masing-masing KPJP wajib memelajari kasus pasien yang di-KPJP-i. Mulailah dari identifikasi masalah pasien, barulah kemudian analisis target pasien. Kapan pasien harus boleh pulang? Dan apa syarat BLPLnya? Itula yang akan difollow up tiap minggu dan masala yang diselesaikan tiap harinya.
Contoh: dapat pasien BBLR 2100gr dirawat di bakung hari pertama. Masalah pasien tersebut adalah BBLR. Lalu pikirkan target masalah/penyelesaian masalah. Apa saja syarat pasien BBLR boleh pulang? (ada 5 syarat, cari sendiri ya). Lalu 5 syarat itu dicoba dipenuhi setiap harinya dan dalam pemenuhan syarat adakah masalah baru yang harus diselesaikan?. Cara belajar seperti itu cukup efektif di bangsal ini dan dapat digunakan secara universal.
Mengenai tugas fakultas; refleksi kasus, tutorial, mini-Cex, osler, dan lainnya (banyak juga ya). Koas anak akan dibagi-bagi oleh mas Brilly siapa-siapa saja yang akan mengampuhnya. Teknis dari itu pun berbeda-beda. Tipsnya yang penting tetap selalu semangat mengejar konsulen, diimbangi dengan pengertian bahwa konsulen juga seorang manusia yang punya keluarga. Sejauh ini kami baru dengan dr. Mus. Dokter mus orangnya ngajarin banget, suatu anugerah diskusi dengan beliau. Tetapi beliau sibuk, jadi harus semangat menunggu di Bakung.


Oiya ada satu cerita lagi yang belum kuceritakan, JAGA MALAM. Jaga malam merupakan momok tersendiri bagi koas dan mungkin residen. Jaga malam stase anak khususnya karena pasien yang harus dijaga cukup banyak, kerjaannya juga banyak, dan jam tidurnya relatif sedikit (terkadang tidak ada) dibanding stase lain. Apalagi jaga malam di Sardjito dan keesokan harinya harus laporan pagi.
Namun, kita bahas jaga malam di Klaten saja. Jaga malam di Klaten lebih manusiawi dibanding jaga malam di Sardjito. Seringnya perawat di sini dan residennya baik-baik, sehingga jaga malam relatif lebih menyenangkan meskipun jaga. Waktu tidur pun relatif lebih banyak dibanding jaga di Sardjito. Asrama pun dekat jika dalam perjalanan jaga ternyata kita butuh sesuatu.
        Jaga malam di Klaten ada 3 tempat yang harus dijaga. Sekarang kita bahas jaga malam di bakung (kamar bayi Klaten). Kamar bayi (KBY) klaten tidak seperti romusha di RS X, jika di RS X kita harus menjaga lebih dari 50 pasien dan ada pasien yang diperiksa tiap 1 jam. Di klaten pasien seringnya berjumlah kurang dari 20 dan pengawasannya paling ketat 3 jam.
        Kesan umum Klaten di minggu pertama cukup menyenangkan dan manusiawi. Banyaknya materi yang harus dikuasai diimbangi dengan waktu yang relatif cukup banyak. Orang bilang kekurangan Klaten adalah variasi kasus yang sedikit. Mungkin hal itu memang benar (karena kita baru bangsal bayi), tetapi dengan datangnya dr. Arif dan dr. Hendra dapat mengimbangi kekurangan tersebut. Semoga di Klaten koas anak bisa mendapatkan ilmu dan mendapatkan sebuah keluarga dalam belajar menjadi seorang dokter yang benar.

sumber gambar:
stylearena.net
theteachersdigest.com
Instagram Koasulen

               

copyright to amgah.blogspot.com

01 Oktober 2016

5 Tips Menulis dari Remah Malkist

Ceritanya Remah-remah


Halo semua, beberapa hari ini saya si remah malkist mengalami putus ide dalam menulis. Mau menulis A mentok, menulis b gak selesai, menulis c kok jelek. Lalu sampailah pada kesimpulan saya ingin membuat tips menulis. Karena siapatahu dengan menulis tips menulis, saya dapat kembali seperti dulu ketika ide bermunculan seperti jamur di musim hujan. Alasan kedua siapatahu dapat bermanfaat untuk orang lain. Alasan ketiganya beberapa hari lalu ada yang tiba-tiba bilang

“ka amgah nulis lagi dong, aku kalo lagi penat lagi capek suka baca line kak amgah loh atau blognya terus jadi semangat lagi, sangat filosofis” entah itu beneran dia katakan dari hati atau sekadar untuk menghibur si remah malkist. Baiklah kita sudahi pendahuluannya dan kita masuk ke tips pertama.


Tips ke-1. Find the positive in negative or find the negative in positive
                Menulis = Mengubah sudut pandang
                Menjadi penulis berarti melihat satu kejadian yang sama – yang dialami setiap orang – dengan sudut pandang yang berbeda. Manusia pasti pernah merasakan kesedihan, namun hanya penulis yang baik yang mampu membuat orang lain ikut merasakan kesedihan tersebut. Kesedihan yang sama yang dialami oleh dua orang penulis, dapat menjadi berbeda ketika tertuang hitam di atas putih.
                Seorang penulis yang baik mampu mencari hal yang menarik di setiap kejadian. Kita ambil contoh di atas, bagaimana caranya membuat suatu kesedihan dapat menjadi menarik? Menarik berarti mencari hal yang berbeda atau mencari sudut pandang yang jarang dilihat. Atau membuat kesedihan tersebut menjadi “topik jembatan” menuju suatu topik yang menarik atau suatu kesimpulan yang berbeda (plot twisting).
                Oleh karena itu salah satu manfaat menulis adalah penulis dapat merefleksikan suatu kejadian. Seorang penulis dapat melihat satu kejadian dari berbagai macam sudut pandang. Eh bahasan kita melebar, kita tidak membahas manfaat menulis ya. Baiklah kita lanjut ke tips yang ke-2


Tips ke-2. Find your color
                Setiap orang berbeda

                Setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda, kesukaan yang berbeda, dan aktivitas yang berbeda. Antar-penulis pun memiliki gaya penulisan yang berbeda-beda. Bahkan di dalam satu novel, terkadang ada gaya penulisan yang berbeda. Berbeda suasana yang ingin dibentuk, beda pula gaya penulisannya.
                Sejauh yang saya pahami (mohon maaf jika salah), seorang penulis yang baik memiliki karakter yang kuat. Contohnya adalah raditya dika, memiliki gaya penulisan komedi dan simpel. Atau dewi lestari, memilki gaya penulisan yang sangat romantis dan sangat hidup. Oleh karena itu ada baiknya untuk mencari tahu ingin membahas apa, bagaimana membahasakannya, gaya penulisan apa yang cocok, apa karaktermu (Saya pun masih mempelajari hal itu).
                Oiya satu kesalahan yang sering saya buat adalah terlalu banyak ide di satu paragraf. Sejauh yang saya pahami, satu paragraf sebaiknya hanya memiliki 1 ide pokok. Lalu di dalam mengelaborasi satu ide pokok tersebut, jangan ada ide pokok yang lain yang timbul karena asik menceritakan suatu hal. Satu paragraf sama dengan satu warna.


Tips ke-3. Find your motivation not your “inspiration”.
                Dulu saya sangat sering bertanya kepada siapa pun yang saya anggap inspiratif “bagaimana kakak/bapak/ibu mendapat inspirasi?” Sebuah pertanyaan yang sebenarnya tidak salah dan tidak ada jawaban yang pasti. Sebuah pertanyaan yang jawabannya selalu ingin didapatkan oleh siapapun; inspirasi.
                Setelah waktu berjalan, sejauh yang saya pahami saya salah jika mencari inspirasi di luar. Sebenarnya apa yang harus dicari atau diingat ulang adalah niat di dalam hati, motivasi di dalam diri. Jika kasusnya adalah menulis, maka yang perlu ditanyakan adalah; untuk apa aku menulis? Untuk apa aku semangat? Setelah mendapatkan jawaban atas hal-hal tersebut barulah inspirasi akan datang tanpa diundang.
                Seringkali saya menganggap inspirasi ada di orang lain; kehadiran seseorang akan membuat saya terinspirasi, kehadiran orang akan membuat tulisan saya lebih baik lagi. Hal-hal seperti itu rasanya kurang baik jika dipelihara terlalu lama. Selain niat seharusnya berada di dalam diri sendiri, segala sesuatunya adalah milik Allah dan akan kembali padaNya.
Jika kita menaruh inspirasi di kehadiran orang lain, kita akan kehilangan inspirasi jika kita kehilangan orang tersebut. Tulisan kita akan menjadi kosong, jika tidak ada lagi diri”nya” di dalam hidup kita. Oleh karena itu; untuk apa saya menulis? Kenapa saya harus bersemangat?


Tips ke-4. Find your inner circle
                Berbahagialah orang-orang yang memiliki sahabat sejati, sahabat yang berani mengatakan tidak dan berani membenarkan. Karena kebanyakan orang hanya mengangguk padahal di dalam hati menggeleng. Sahabat seperti itu cukup langka padahal angka kebutuhannya cukup tinggi.  Jika kamu adalah salah satu orang yang berbahagia itu, jagalah sahabatmu.
                Sahabat seperti itu dapat membuatmu naik kelas dan menjadi pemantik kesuksesan, termasuk di dunia tulis menulis. Mintalah sahabatmu untuk mengkritisi atau memberi saran pada tulisanmu, kalau bisa minta pada lebih dari satu orang. Karena setiap orang unik, semakin banyak kepala yang membaca semakin baik. Sahabat yang tidak hanya angguk-angguk mampu memoles tulisanmu menjadi tulisan yang lebih halus dan dalam.


Tips ke-5. Never stop learning
                Terakhir dan paling penting; teruslah berkarya, beranilah salah, belajar dari kesalahan, dan teruslah belajar. Saya teringat-ingat pesan yang dibilang oleh om jay, guru SMP yang pertama kali menumbuhkan bibit penulis pada diri saya. Beliau selalu dan selalu bilang, teruslah menulis, lalu perhatikanlah keajaiban yang terjadi.

Mohon maaf jika ada salah-salah, sampai jumpa di kesempatan berikutnya, sebenarnya saya punya cerita menarik terkait kuliah kerja nyata (KKN) yang akan saya jalani selama 2 bulan dan dimulai di 2 oktober nanti, semoga saya sempat menuliskan ceritanya

p.s; saya dan malkist tidak ada hubungan kerja sama apa pun

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
internetdict.com
themuslimvibe.com/
a2ua.com
mindstepsinc.com
vapeaceofmind.com
waterworldmermaids.com

04 September 2016

Koas Jiwa FK UGM; Isi Hati Pasien

Sabtu 3 September 2016

Pagi-pagi ketemu dr. Isnaini untuk tutorial, beliau adalah dokter yang sangat lembut ke pasien, teliti, dan mengajari kompetensi dokter umum banget. Tutorial kita bahas retardasi mental. Sebuah kasus yang kasihan untuk pasien dan keluarga pasien. Namun, sekarang kita tidak membahas tentang retardasi mental.

Setelah tutorial, aku dan priska bingung mau ke mana lalu akhirnya tertarik untuk ke bangsal (padahal tadinya mau pulang). Sesampainya di bangsal kok sepi, ternyata orang-orang pergi ke rehab medis. Akhirnya aku dan priska ke rehab medik tepatnya ke gedung garuda/aula olahraga. Di sana ketemu pak M, mas H, mas Z, tiga orang paling ngena selama seminggu di Grhasia. 


Pak M, pak M ini sekilas seperti orang pada umumnya. Beliau adalah pasien bolak-balik yang sudah veteran di Grhasia. Pak M lah yang nyeritain kita siapa sakit apa dan sudah berapa lama, ibarat ketua sensus penduduk Grhasia. pak M sering ngajarin koas tentang pelajaran kehidupan, contoh ya beliau ngajarin kita tentang melihat aspek lain orang gangguan jiwa. pak M bilang "dokter muda, kalian masih muda, kalian harus melihat kita-kita ini jangan cuma kasih obat, dikurung, lalu sembuh."

Dokter Muda (DM) "loh kenapa pak tiba-tiba bilang gitu?"
Pak M (PM) "Coba lihat si X, *pak M manggil si X*
PM "X, sudah berapa lama kamu di sini?"
X "2 minggu, 3 minggu, 4 minggu."
PM "lihat, sudah di kasih obat tapi masih seperti itu juga kan" 
DM "hmm, terus gimana menurut pak M baiknya?" 
PM "hm, cobalah duduk melingkar, seperti jaman sd dulu"
DM "duduk melingkar?"
PM "iya, melingkar, lalu masing-masing orang cerita, apa yang mereka keluhkan, apa yang mengganggu mereka."
(batinku, wah si bapak keren juga. dia sudah melihat pasien secara komprehensif bagaimana seseorang ketika sakit fisik, juga akan mengalami gangguan kenyamanan. Ketika seseorang sudah nyaman, insyaAllah fisik akan menjadi lebih baik).


Itu hanya 1 dari belasan wejangan pak M. Lalu mas H, ketika aku selesai ngobrol dengan pak M, pas banget mas H baru selesai main badminton. "Mas saya duduk di sini ya ngobrol-ngobrol" "silahkan dok"

DM "gimana mas udah enakan sekarang?"
MH "sudah dok"
DM "udah gak ada bisikan-bisikan lagi ya? tidur udah enak?"
MH "sudah dok"
DM "wah bagus, berarti selanjutnya tinggal rajin kontrol sama rajin minum obat ya mas"
MH "iya dok, dulu saya nyesel berhenti minum obat, sekarang saya mau rutin minum obat"
DM "sip, kalo jauh ke RS bisa ke puskesmas mas yang deket"
MH "gak dok, saya ke RS aja. kalo dokter prakteknya dimana dok?"
DM (waduh saya bingung, kalau dijelasin tentang koas kok panjang) "di sardjito mas, tapi kita muter, sekarang lagi bagian jiwa"
MH "sardjito ya dok, bagian psikologi?"
DM "bukan mas, psikiatrik"
MH "oke dokter abdi, kalau saya mau konsultasi, saya ke dokter abdi ya"
(ada ya pasien mau konsultasi sama koas, alhamdulillah)

Terus mas Z, mas Z ini mirip seperti mas H, beliau putus obat lalu kambuh. Kira-kira sudah 3 hari ini keadaan mas Z membaik. 

DM "wah mas Z, lagi gitaran nih?"
MZ "iya nih dok, mau olahraga tadinya tapi di dalam sudah penuh"
DM "ya gapapa mas, yang penting sekarang udah rehab medik, enak kan ada kerjaan dibanding di bangsal gak ngapa-ngapain"
MZ "iya dok, dokter mau main bulutangkis?"


DM "boleh boleh" *sayangnya raketnya dipinjam pasien lain*
MZ "dokter abdi sendiri gimana kabarnya hari ini? skrg ada ngobrol-ngobrol lagi sama saya kaya kemarin?"
DM "wah hahah baik mas Z, iya ngobrol-ngobrol biasa aja mas"
(mas Z ini semangatnya tinggi untuk sembuh, pulang, dan beraktivitas seperti biasa. Mas Z sehari-hari bekerja sebagai buruh bongkar muat pasir di suatu daerah. Keinginan beliau untuk kembali bekerja sangat tinggi sampai-sampai mau ngobrol tiap hari, karena mengobrol dianggap sebagai salah satu pemeriksaan/terapi di sini).


Oiya ada yang ketinggalan, mas I. Mas I baru aja kenal ketika sedang jalan-jalan kemarin di acara rehab medik. Mas I sehari-hari bekerja sebagai pramusaji di salah satu restoran di Yogyakarta. Pas ditanya kerja dimana, mas I bilang di X, lalu saya diajak mas I untuk makan di X. Boleh mas, tapi kasih diskon ya. Terus pas ketemu hari ini di rehab medik mas I yang menyapa duluan "Pagi dokter Abdi, ayo dok main catur" "ya monggo-monggo mas"

Ternyata banyak pasien-pasien jiwa yang unyu-unyu, mereka senang bertemu dokter, berobat, dan ingin segera sembuh serta pulang. Mereka rindu beraktivitas seperti biasa dan tidak ingin untuk mengalami gangguan ulang/kambuh. Di dalam jiwa mereka, mereka masih memiliki jiwa yang sama seperti orang-orang pada umumnya.

Semoga cepat sembuh pak M, mas H, mas Z, dan mas I, semoga cepat kembali beraktivitas seperti biasa, keluar dari Grhasia, dan tak kembali lagi menginap di sana.

copyright to amgah.blogspot.com
sumber gambar;
clipartpanda.com
keystonebehavioral.com
zimblo.com

31 Agustus 2016

Koas Saraf FK UGM; Sardjito dan Banyumas


Di artikel sebelumnya aku sudah cerita kalau di saraf itu sibuknya pas matahari terbit. Tetapi belum cerita kalau matahari terbenam adalah tanda koas sibuk kembali. Jaga malam di saraf cukup unik dibandingkan di stase-stase kecil lainnya. Unik dalam artian “unik”, di saraf kamu akan merasakan fase kritis yang benar-benar kritis.
Ada waktunya kita memeriksa tanda-tanda vital setiap 15 menit. Tidak terbayang jika per 15 menit tersebut terjadinya sekitar pukul 03.00, ketika fisik dan mental mengais-ngais untuk tidur. Saya rasa tidak ada satu pun orang di bangsal yang menginginkan itu terjadi, termasuk keluarga pasien. Karena tanda-tanda vital (TTV) tiap 15 menit juga berarti pasien dalam keadaan tidak bagus.
Jika kamu beruntung, kamu hanya perlu TTV tiap 4 jam atau tiap 6 jam. Namun selama aku jaga di saraf, entah mengapa aku tidak pernah mendapatkan privilege tersebut. Selain berangkat pagi dan jaga malam, di saraf ada ilmiah siang. Namun ilmiah siang tidak selalu diadakan tiap hari. Bahan belajar saraf cukup banyak dan rumit loh, harus pintar bagi waktu untuk ketrampilan dan teori.
Orang bilang resusitasi jantung paru (RJP) didapat saat anestesi karena ada jaga IGD. Saya bilang RJP juga bisa didapatkan di saraf. Apa yang tidak menyenangkan dari RJP adalah suasana duka yang menyelubungi ketika hasil akhirnya kematian. Di saraf kita diajarkan untuk lebih memaknai kepergian seseorang. Tak jarang anak menangisi orangtuanya, orangtua menangisi anaknya, suami menangisi istrinya, atau pun istri menangisi suaminya.
Stase luar kotaku adalah Banyumas, YEAY BANYUMAS. Entah kenapa aku sangat menyukai Banyumas. Menurutku, Banyumas itu memanusiakan manusia atau lebih tepatnya mengkoaskan koas. Banyak staf di sana terutama perawat yang ramah pada koas. Selain itu, kita bisa jalan-jalan ke purwokerto, koas jalan travelling jalan.

Staf saraf di Banyumas adalah mba Denny, Bu Yuni, dr. Farida, dan dr. Laksmi, empat-empatnya baik dengan kebaikan yang berbeda-beda. Mbak Denny itu… awet muda, tidak ada yang menyangka dengan parasnya yang seperti itu ternyata sudah memiliki 3 anak. Kalau ngobrol dengan mbak Denny, kita diledekkin kapan nikah kapan punya anak.
Bu Yuni yang lebih senior juga ramah pada koas, selalu tersenyum dan enak diajak ngobrol. Dr. Farida mirip seperti mbak Denny dalam artian awet muda. Hobi dr. Farida adalah travelling, mungkin karena jiwa muda beliau jadinya beliau awet muda. Dr. Laksmi lebih senior dari dr. Farida, yang aku kagumi dari dr. Laksmi adalah ilmunya dan kebaikan beliau yang mau mengaliri ilmu tersebut ke koas.
Oiya ada satu lagi yang wajib ditulis di sini, Mba Ririn! Perawat Teratai yang asik banget buat diajak ngobrol. Aku, Ana, dan Mey kalau menunggu dr. Farida selalu di bangsal Teratai. Kalau kami sudah bertemu mba Ririn, yang tadinya bosen bisa jadi asik. Mba Ririn suka menyambangi topik-topik unik, ada aja yang diobrolin.
Kegiatan koas wajib di Banyumas salah satunya adalah visite pagi dr. Laksmi tiap pukul 7.30 di Bougenville. Di sana kita akan ditanyai kasus-kasus yang ada. Rata-rata koas hanya melongo ketika disuruh menjawab, dan pada akhirnya kita disuruh dr. Laksmi untuk segera mencari di internet. Kita akan merasa keren sendiri kalau ternyata ada pertanyaan dr. Laksmi yang bisa kita jawab paripurna.
Hebatnya dr. Laksmi ilmu beliau tidak terbatas pada saraf. Ilmu beliau juga mencakup hal-hal non-saraf yang berhubungan dengan saraf, kita koas hanya bisa tercengang. Beliau tipe yang ngajarin banget dan tegas. Koas cukup mendapatkan banyak ilmu dari dr. Laksmi. Di Banyumas pun kasusnya beragam, kita belajar banyak dan jalan-jalan banyak.
Purwokerto adalah kota non-metropolis (semoga) yang mampu menyihir otakku, membuatku jatuh cinta pada pijakan kaki pertama. Entah mengapa kota ini tidak kota-kota banget tapi juga tidak desa-desa banget. Jogja pun seperti itu (dulu), dan semoga tetap seperti itu (kembali ke dulu), seperti itu berarti janganlah menjadi kota metropolis seperti kota X.
Banyak pojok-pojok purwokerto yang dapat menstimulasi endorphin, salah satunya adalah bakso pekih. Pekih berasal dari nama jalan di mana bakso tersebut terletak. Bakso pekih memang beda, pak Bondan akan bilang “maknyus”. Harganya pun normal seperti bakso pada umumnya, porsinya pun cukup banyak sehingga worth it untuk dicicipi. Jalan pekih adalah jalan kecil seperti gang yang hanya muat 2 mobil papasan. Jika jalan pekih memiliki panjang 600 meter, 250 meter dihabiskan sendiri untuk parkir bakso pekih.

Jalan kaki dari bakso pekih, sekitar 1 menit kita akan menemui alun-alun kota. Alun-alun purwokerto cukup bersahabat. Alun-alunnya bersih, penjualnya cukup banyak, tidak terlalu ramai, dan cukup terang di malam hari. Aku, Ana, dan Mey pun tak mau kelewatan bermain-main di sana. Selain bakso pekih dan alun-alun, masih banyak lagi tempat-tempat di PWT yang wajib dihampiri. (Oiya mendoan BMS/PWT dan es duren pak Kasdi itu juga maknyus).
Kalau di Sardjito kita perlu datang pukul 06.00 pagi, di Banyumas kita perlu datang pukul 05.30 pagi. Selamat untuk para early person dan bersabarlah untuk para burung hantu. Di saraf kita diajarkan untuk tahajud tiap hari. Namun enaknya di Banyumas kita dapat saling membangunkan, bangun pagi buta pun menjadi lebih ringan. Lalu masakan hangat pak Pangat sudah menunggu di depan pintu.

Pak Pangat adalah penjual makanan yang sudah aku ceritakan tempo dulu ketika menulis koas mata banyumas. Pak Pangat selain mengetuki tiap pintu kos pukul 07.00 pagi juga dapat special request. Kami special request untuk ketuk pintu pukul 04.30, murah meriah 3500 = nasi rames, gorengan 1nya 1000. Porsiku biasanya 5500, 1 nasi dan 2 gorengan, orang lain biasanya 3500 sudah cukup. Secara umum koas di Banyumas menyenangkan meskipun jauh dari peradaban dan jauh dari Yogyakarta.

copyright to amgah.blogspot.com

sumber gambar;
wp.lps.org
wikimedia.org
purwokertoguidance.com

KOAS FK UGM; Interaksi Interpersonal di Koas

-         

-         
Koas Saraf FK UGM Part1: Hubungan Interpersonal antar tenaga kesehatan Rumah Sakit 
-          
-         Stase saraf, stase kecil terasa besar, adalah stase yang mengharuskanmu tiba di Sardjito ketika matahari baru saja terbit. Ketika bangsal (ruang rawat inap) lain masih mengumpulkan nyawa, bangsal saraf sudah sibuk ketuk palu. Kegiatan pagi di sini benar-benar pagi dan benar-benar sibuk, tetapi kegiatan siang di sini lebih bernafas lega dibanding stase lain.
-                         Uniknya di saraf, para koas akan mendapatkan residen pembimbing. Satu residen membimbing satu koas, maksimal dua. Otomatis hubungan koas-residen menjadi terjalin. Rata-rata residen saraf sangat baik dan murah ilmu. Di balik capeknya residensi, para dokter ini masih mau menyempatkan waktu menuangkan ilmu pada kami si gelas kosong.
-                           Ada temanku yang residennya sampai mau memberikan tentiran hingga sore, padahal residennya juga ada tugas macam-macam. Ada juga temanku yang residennya mau mencarikan contoh lembar tugas untuk dijadikan patokan. Ada juga yang sampai menanyakan kabar dan apakah ada kesulitan di akhir minggu, perhatian seperti itu cukup sulit ditemui di perkoasan. 
-                         Baik-baiklah dengan residen pembimbing, hal yang sama juga berlaku untuk perawat dan staf rumah sakit lainnya. SebutanJawanyanya adalah kulo nuwun. InsyaAllah jika koas memerlakukan beliau-beliau dengan layak, koas akan diperlakukan dengan layak. Tak jarang dalam obrolan koas dengan staf RS, ada ilmu-ilmu terselip baik tentang kedokteran ataupun non-kedokteran.
-         Seringkali koas takut untuk berkenalan dengan staf rumah sakit, saya pun terkadang juga takut. Tetapi ketika saya coba memberanikan diri, kaboom, banyak hal menarik terjadi. Banyak staf yang ternyata suka mengobrol, punya topik-topik menarik, dan sangat ramah pada koas, asalkan berani untuk memulai.
-         Sejauh mata memandang ketika para koas mencoba untuk ramah, mayoritas staf lain juga ikut ramah. Meski ada juga sedikit staf yang memandang koas sebelah sandal, karena letaknya koas ada di bawah. Aku tidak berbicara tentang teaching by humiliation (digoblog-goblogin). Namun, usut punya usut, mayoritas orang yang memandang koas sebelah sandal ternyata punya pengalaman buruk dengan koas. Ternyata ada juga oknum-oknum koas yang mencoreng nama koas.
-         Sudah saatnya kita berhenti saling menyalahkan dan memulai lembaran baru. Apa yang sudah terjadi tidak dapat diulang lagi, tetapi apa yang belum terjadi dapat kita tulis dengan tangan sendiri. Sebagai koas, sudah sewajarnya untuk sabar ketika dipandang sebelah sandal, diragukan kemampuannya, dan dicuekkin keberadaannya (menjadi cicak, nempel di tembok, antara ada dan tiada). Sebagai koas, tugas kita adalah membuktikan bahwa kita juga manusia, mampu belajar, dan mampu memberi manfaat.
-         Buktikan bahwa koas itu ramah dan mampu bergaul. Koas juga punya kemampuan, koas dapat mewarnai suasana rumah sakit dengan kebahagiaan. Di blog ini ada cerita tentang koas yang dikasih salak segepok sama pasien. Jarang sekali ada keluarga pasien yang sampai memberikan tanda terima kasih pada koas. Koas mampu asalkan mau.
-         Kalau lagi jaga, kenalanlah dengan lingkungan jaga. Ketika masuk ke lingkungan baru, kenalanlah dengan lingkungan tersebut. Dijuteki? Bodo amat, orang yang suka menekuk mukanya berarti ia menolak kebahagiaan. Karena satu senyuman membawa senyuman-senyuman yang lain. Kalau dapat teman ngobrol yang asik, jaga malam yang tadinya membosankan dapat menjadi menyenangkan.
-          
-         -          Interaksi di Poli
-         Modal utama untuk koas adalah kaki yang kuat berdiri lama, mata yang kuat melihat lama, dan boyok yang kuat menopang beban tubuh lama. Banyak temanku yang tiba-tiba berganti sepatu menjadi merek X, karena merek X menawarkan kelembutan yang mampu mengurangi tingkat kepegalan kaki.
-         Teori koas adalah cicak tidak berlaku untuk beberapa konsulen. Contohnya adalah dr. Gofir dan dr. Paryono, bersama beliau koas dianggap. Terkadang koas selain menjadi cicak juga menjadi jin, keberadaan koas antara ada atau tiada. Tetapi kalau dengan dr. Gofir dan dr. Paryono, insyaAllah koas akan menjadi manusia, diajak ngobrol dan diajak untuk memeriksa. Tidak semua staf akan mencueki koas, asal mencoba untuk lebih berani memulai obrolan.
-          
-          Sekian sekilas tentang interaksi interpersonal di koas secara umum. Saya sudah tidak mampu melanjutkan artikel ini karena jam sudah berdetik di angka 23:21, insyaAllah kita lanjutkan topik lain di kesempatan yang lain
-           
-          p.s; sekarang saya sedang stase jiwa, di stase ini interaksi koas dengan calon perawat dapat lebih intens (terutama di RSJ Grhasia. Setelah ngobrol-ngobrol dengan calon perawat, ternyata mereka juga seringkali dicuekkin sebagai mahasiswa/i profesi. Ketika saya mengutarakan istilah cicak/jin mereka bilang "wah sama dong kita juga gitu".  Semoga oknum-oknum profesi yang suka mengecewakan staf RS dapat taubat dan staf-staf RS yang suka mencicakkan koas menjadi lebih ramah
-          
-         copyright to amgah.blogspot.com
-          
-         sumber gambar:
-         livingwelleducation.com