Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

Sebuah Transisi, Sebuah Jembatan

Kata yang Tertinggal (Masih ada kebaikan di dunia ini)

Kata yang tertinggal dari post sebelumnya. Inilah alasan kenapa aku menulis http://sosbud.kompasiana.com/2012/08/16/semangat-kemerdekaan-dari-film-lotr/

Aku sedih melihat indonesia di sisi yang bobrok. Aku melihat iklan suatu tempat perjudian yg sangat menunjukkan ia berkuasa. Menunjukkan bahwa berjudi adalah hal yang benar. “Kami akan melindungi Anda! Ayo datang! Kami bayar seberapa Anda menang.” Naudzubillah.

Setelah itu aku menemukan iklan suatu toko yg menjual video…. maaf, porno.
Kenapa Indonesia menjadi begini…

Aku lesu, tak semangat menjalani hari kemerdekaan. Ini keterlaluan, terlalu “merdeka.”
Aku tak semangat… berulang kali aku bertanya-tanya. Kenapa yang salah dibenarkan? Kenapa semuanya diam…

Satu lagi contoh yang salah dibenarkan… Petasan, tidak ada tuntunan Islam untuk main petasan ketika idul fitri.  Kemudian 1 contoh kasus lagi: Kasus munir… Kasus yang tak kunjung selesai. sampai pa’le ku bilang

“Ya janganlah kamu terlalu vocal,…

Semangat Kemerdekaan dari Film LOTR

Jam laptopku menunjukkan pukul 22:49. Siapa sangka tanganku memilih untuk menari di atas keyboard. Tanganku ingin menyuarakan suara semangat kemerdekaan. Semangat yang aku dapat setelah menonton film Lord of The Ring. Ada hikmah yang belum tergali dari film ini, dan ternyata berhubungan dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Aku menggalinya dan menemukannya tepat sesaat sebelum hari berganti menjadi 17 Agustus 2012. Dirgahayu Republik Indonesia.

***
 Sam: And sometimes you didn't want to know the end. Because how could the end be happy?

How could the world go back to the way it was when so much bad had happened?

But in the end, it’s only a passing thing, this shadow. Even darkness must pass. A new day will come. And when the sun shines it will shine out the clearer.

Those were the stories that stayed with you. That meant something, even if you were too small to understand why. But I think, Mr. Frodo, I do understand. I know now.

Folk in those stories had lots of chance…

I'tikaf bagian kedua: Sabar

Di artikel sebelumya -- http://amgah.blogspot.com/2012/08/itikaf-bagian-pertama-raib_13.html -- Alham Qobli Altan mendapat masalah yang bertubi-tubi. Lalu apa yang ia lakukan selanjutnya?
***
Hm, mungkin ini adalah ujian dari Allah. Agar aku belajar untuk ikhlas, dan menyerahkan segala urusan hanya pada-Nya. Setelah mencari laptop tapi tetap nihil, aku memutuskan untuk kembali ke masjid. Aku mendengarkan kajian ba’da ashar yang memasuki segmen-segmen akhir. (Segmen awal aku keluar masjid nyari laptop)
Aku duduk bersama yang lain dan langsung mendengar sebuah kalimat penggugah.
“Serahkan semua masalah hanya pada Allah! Gak usah nyerahin masalah sama manusia. Kalo nyerahin semua ke manusia, kita cuma dikasihanin dan dibilangin untuk sabar. Gak ada solusi. Nah coba semua masalah serahin ke Allah. Dialah sebaik-baiknya penolong dan pelindung. Tapi dengan catatan, kita juga berusaha semaksimal mungkin.”
Jeger! Kenapa bisa pas banget. Subhanallah.
Serahkan semuanya hanya pada Allah.... Itulah ya…

I’tikaf bagian pertama: Raib

Halo, aku telah berjanji di tulisanku yang sebelumnya bahwa aku akan berbagi beberapa cerita Alham. Nah inilah saatnya, aku akan menceritakan ketika Alham pertama kali itikaf. Namun ia tidak mau aku yang menceritakan. Ia mau menulis pengalamannya sendiri, tapi membagikannya lewat akunku. Dasar tuh anak gakmau repot.
Alham bilang padaku bahwa ia hobi menulis, suatu saat ia ingin membuat novel best seller, sama sepertiku. Alham ingin membuat novel tentang perjalanan hidupnya, tentang bagaimana ia bisa taubat. Dan sebenarnya apa yang “menampar” Alham. Namun untuk saat ini, Alham ingin berbagi cerita saat ia sedang itikaf. Untuk yang belum mengenal Alham, dapat di klik di sini
***
Pertama-tama aku ingin minta maaf, karena aku memakai akunnya Amgah. Tapi biarkanlah, toh dia juga lagi sibuk nyari ide buat novelnya. Daripada akunnya melempem, biarkan aku yang mengisi. Kebetulan hobi kami sama, sama-sama suka menulis.
Ramadhan 10 hari terakhir adalah momen berharga untuk mendekatkan diri pada T…

Seorang Remaja Bernama Alham Qobli Altan

Sudah delapan hari aku tak muncul di kompasiana atau pun di blog, kangen juga. Bukannya aku berhenti menulis, tapi aku berpindah menulis. Aku berpindah dari blog menuju novel. Selama enam hari aku berhasil membuat draft dan plot novel secara garis besar. Sisa dua harinya adalah masa berkabung. Karena draft novel tersebut raib diembat pencuri. Draft tersebut belum sempat aku pindahkan ke komputer. Alhasil sirnahlah sudah benang-benang ide yang sedang aku pilin. Plot-plot yang mulai terbentuk kini tercerai berai. 
Lagian si pencuri nyolong tas seutuhnya, bukannya nanya dulu isinya apa aja. Itu tas kan gaada laptopnya. Isinya draft novel, mungkin si pencuri mau melanjutkan novel yang aku buat. Siapatau dia hobi menulis juga. Dan nanti ketika novelnya sudah terbit, aku mendapat beberapa bagian dari royaltinya. Ya... positive thinking saja.
Lupakan kehilangan ide itu. Ide bisa muncul lagi, aku memutuskan untuk menulis kembali dan berhenti berkabung. Selama delapan hari menulis draft novel…

Jadilah Seperti Ban

3 Agustus 2012. Pukul 23 lewat 23 aku menulis ini, sebuah rangkaian kata tentang ban. Hari itu -- hari jumat – aku merasakan di mobilku ada yang ganjil. Menyetirku menjadi was-was dan resah. Cerita ini bukan tentang setan atau hantu. Ini tentang sebuah ban, banku kempes ternyata.
Dari ban yang kempes aku berpikir, Jadilah seperti ban. Mengendalikan tekanan agar dapat berjalan. Menjaga agar tekanan tidak terlalu tinggi atau terlalu redah. Jika tekanan ban terlalu tinggi, ban pecah dan rusak Tapi, bukankah Tuhan telah berpesan bahwa Tuhan tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Jadi... Aku harus percaya bahwa tekanan banku tidak pernah terlalu tinggi. Tekanan banku selalu cukup.
Tekanan ban juga tidak boleh terlalu rendah. Jika tekanan rendah berarti bannya kempes, seperti yang aku alami semalam.
Jika ban kempes, ban berputar sambil merintih melintasi jalanan ibukota yang sangar. Merintih karena tak mampu menahan beban mobilku, mau pun beban bel klakson orang…

Pemberian Sempurna Bernama Waktu

Menurutku, pemberian paling berharga itu bernama Waktu. Karena aku tidak tahu seberapa banyak waktu yang aku punya. Kapan waktumu habis? Ketika aku meninggal. Kapan kamu meninggal? Aku tidak tahu. Jadi berapa banyak waktu yang kamu punya? Aku tidak tahu!
Waktu juga hanya diberikan sekali oleh Tuhan dan waktu yang telah digunakan tidak dapat dikembalikan. Berapa banyak orang menyesal telah menggunakan waktunya dengan salah. Menyesal sampai cucuran air mata berlinang atau marah semarah-marahnya seorang manusia. Bukti dari seberapa hebatnya waktu.
Waktu itu milik Tuhan. Tak ada yang dapat merusaknya, tak ada yang dapat menghentikannya. Tak ada pula yang dapat mengembalikkannya setelah dipakai. Waktu itu sempurna, siapa yang dapat meretakkan waktu?
Pemberian paling menyentuh bernama waktu. Aku tau cerita tentang seorang manusia yang menderita karena merindukan waktu. Padahal kehidupannya yang sangat mewah menjadi dambaan setiap khalayak. Ternyata, ia mendambakan -- hal yang …