Langsung ke konten utama

Curhatan Marwan dan Sebuah Pilihan





23:54 Jumat 6 Desember 2013. Hari ini aku ingin berbagi cerita tentang sebuah perenungan. Cerita yang terinspirasi dari kisah nyata ini terjadi saat aku pulang futsal. Ada seorang temanku yang curhat tentang kehidupannya. Bagiku, ada beberapa buah yang bisa dipetik dari ceritanya. Aku juga sudah meminta izin untuk men-share ini dan ia setuju asal tanpa nama. Begini ceritanya

Temanku anggap saja namanya Marwan: “Gah”
Aku: “yo?”
“gw mau cerita sesuatu”
“ada ape bro?”
“gw lagi deket sama satu cewe”
“cewe mana lagi?”
“sembarangan lo gah. Gak deket-deket amat sih… tapi akhir-akhir ini gw kepikiran terus dan komunikasi terus sama dia”
“terus terus?”
“Jadi… gini ceritanya. Gw gakngerti kenapa gw bisa deket sama dia. Tiba-tiba aja gw nyaman sama dia. Gw sering bercanda bareng, terus kadang cerita bareng. Kadang dia nanggepin, kadang juga cuek. Tapi entah kenapa becandaan gw selalu nyambung padahal jarang orang yang nyambung sama becandaan gw. Entah kenapa kalo lagi bareng sama dia gw mau berbagi terus, tawa, canda, senyum, ledekan. Sekalipun dia kadang cuek, tapi gak jarang juga dia bagi-bagi cerita sama gw”
“Panjang amat bbmlo, bentar ya baca dulu”
“Sok sibuk lo gah, liat aja dulu, tanggepinnya ntar”
“okeoke ….”
“Nah gw sering ketemu sama dia tatap muka. Kadang kita gak sengaja pulang bareng terus ngobrol berdua di jalan. Jarang gw bisa nemu orang yang nyambung diajak ngobrol sama gw. Dengan adanya dia gw jadi ngerasa ada lagi yg bisa diajak cerita, bisa diajak sharing, dan gatakut bilang apa pun sekalipun itu gakjelas atau gaknyambung.”
“Emang dia orangnya gimana, Wan?”
“Baik, cantik, seneng cerita, seneng becanda”
“ish… yang objektif”
“nah itudia gah… sebenernya gw lagi bingung… Dari sisi dia itu seperti apa. Dia itu emang supel sih orangnya, bisa nyambung sama semua orang. Gw kadang ngerasa mungkin emang dia bisa masuk-masuk ke hampir semua obrolan, termasuk obrolan gw. Gw kadang ngerasa minder dan mungkin terlalu ngarep kalo dia cocok sama gue. Gw liat dia banyak temen cowonya dan semua bisa dia ajak ketawa bareng. Tapi pas gw ngobrol lagi sama dia, gw balik lagi seneng. Gw gakpeduli yang penting gw dan dia nyambung dan kita bisa saling ketawa bareng. Kita juga gak jarang ngobrolin hal-hal yang konstruktif, kita saling ngasih saran dan ngasih masukan. Gw jadi ngerasa tinggi lagi, ada yg nyambung, ada yg bisa diajak sharing dan ngasih saran, ada yg bisa diajak becanda bareng. Tapi….”
“Tapi kenapa wan?”
“Tapi… semakin sering gw ngobrol sama dia, semakin gw ngelawan rasa seneng gw.”
“Maksudnya?”
“Pas lagi sama dia, gw emang seneng. Tapi pas gw ngeliat dia dari kejauhan, gw mempertanyakan ‘apakah emang dia yang gw cari selama ini?’ Dia supel banget, deket sama hampir semua cowo. Dia juga cantik, banyak cowo yang deketin dia. Mungkin termasuk gw, dan gw seneng ketika bisa deket sama dia, tapi… apa iya dia yang gue cari?  Dia cantik, apalagi kalo lagi senyum atau ketawa. Tapi tadi dia pake rok pendek, gw kecewa.. Kalo gw menetapkan hati sama dia dan berusaha menjadi yg terbaik buat dia. Apa iya dia itu yang gue cari? Apa nanti gw gak marah kalo dia ngeliatin kakinya ke cowo2 lain. Apa nanti dia gak bakal marah kalo gw saranin pake yang tertutup? Apa iya dia adalah orang yang bisa sama-sama diajak buat berusaha makin deket lagi sama Allah?”
“hmmm mulai serius….. mungkin karna dia emang berada di lingkungan yang menganggap make rok pendek itu wajar”
“Mungkin… hmm… Gw bingung…. Jujur gw merasa bahagia banget pas lagi bareng sama dia. Gw pengen bisa bikin dia bahagia, gw pengen bisa bareng-bareng berusaha jadi yang terbaik. Gw berharap dia mau diajak berubah buat makin baik lagi bareng-bareng. Gw juga bukan orang yang bersih dari dosa, gw juga butuh diingetin. Tapi… apa dia orangnya?”
“Lo galau banget sih wan…”
“kaya lo enggak gah -,-“
“…. Yaudah lo observasi aja dulu. Gw gakbisa komen apa-apa. Tapi gw dapet banyak hal darilo. Gw juga kadang lupa sebenernya orang seperti apa yg gw cari buat diajak hidup bersama nanti. Terkadang dalam perjalanannya gw luput dan cuma ngeliat dari satu sisi. Lupa kalau nanti gw dan pasangan gw bakal meninggal, dan kita sama-sama bakal kembali padaNya. Apakah gw bisa membuat dia selamat dari siksa neraka? Apakah kita bakal saling ngingetin buat kebaikan dan sama-sama mau berubah?”
“Ye dia malah curhat”
“….”
“Gw gakngerti lagi gah, gw bingung”
“yodeh lo lakuin aja yang terbaik. InsyaAllah pria yang baik untuk wanita yang baik. Sementara itu lo bisa sama-sama sharing siapa tau dia mau nurut samalo. Siapatau dia jadi seseorang yang saling ngingetin untuk kebaikan. Siapatau dia jadi seseorang yang bisa membuatlo selalu inget bahwa ada kehidupan setelah dunia. Atau lo menemukan orang lain yang seperti itu.”
-          Sekian –
Obrolan sisanya adalah penutup dan saling menyemangati untuk menjadi yang terbaik dan menemukan yang terbaik. Sebelum kita meminta yang terbaik, jadilah yang terbaik dahulu. Sebelum meminta hak, penuhilah kewajiban. Sebelum berpikir apa yang bisa kita dapat, pikirlah apa yang bisa kita berikan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koas Mata di FK UGM

15 April 2016, stase THT resmi berakhir. Senang karena telah rampung 1 stase, senang karena semakin dekat dengan kelulusan, senang THT dapat berakhir bahagia. Yeyeyeyeyey akhirnya selesai juga. Namun di saat yang sama, tiba-tiba rindu datang bersama langkah kaki yang menjauhi THT.                 Mata adala stase ke-2ku setelah THT. Jadwal kelompokku adalah jadwal yang terbilang “unik”. Stase-stase kecil (stase 4 minggu) ditaruh di awal, lalu stase besar (10 minggu) semua berderet di akhir. Pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian sama sekali tidak dapat diterapkan pada kasus kami. Peribahasa kami adalah bersenang-senang dahulu lalu berenang tergopoh-gopoh kemudian. Sekarang kita akan masuk ke dalam dunia mata, dunia yang terdiri dari sebuah bola dengan berbagai macam struktur di dalamnya. Tahukah kamu bahwa salah satu struktur di mata bernama iris, iris merupakan bahasa latin yang berarti pelangi. Apakah Jamrud ketika membuat lagu pelangi di matamu dia belajar kedokteran?…

Mengapa Aku Menikah Part 1

Prolog
Berulang kali tulisan ini aku biarkan terkatung dalam daftar draftKenapa harus aku post? orang yang tidak percaya akan menghina minimal mengingkari. Orang yang percaya tak perlu repot-repot baca ini karna sudah percaya. Orang yang bingung? hm. Karena terhenti pada kalimat tanya itu akhirnya memberanikan diri untuk merampungkan Mengapa Aku Menikah.
Cukup banyak yang bertanya "kok bisa sih? gimana ceritanya?" tak sedikit pula yang meminta "di post dong di blog" Pertanyaan bisa kujawab namun postingan blog kadang kutolak.  Modal dari membaca ini mungkin sebuah keraguan. Aku pun menikah berawal dari keraguan, dulu aku ragu karena sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang mainstream aku tak punya penghasilan. Namun waktu berjalan akhirnya menyadari bahwa keraguanku bukan semata-mata karena penghasilan. Keraguanku muncul akibat aku lemah ilmu, tak punya ilmu mengenai pernikahan.
Tak perlu aku jelaskan panjang lebar mengenai pencarian orang, siapa jodohku?. Kare…

Intermezzo Metafisis, Struktur Tulang dan Analoginya

1. Diafisis: bagian tengah, yang panjang
2. Epifisis: bagian ujung ujung, proximal dan distal (pangkal dan akhir)  3. Metafisis: di antara. Saat tulang masih tumbuh terbentuk metafisis di antara epifisis (ujung) dan diafisis (tengah). Seperti ada celah agar tulang bisa menambah panjangnya. Kalau tidak ada celah tersebut tulang seperti tidak bisa bergerak karena sudah tak ada ruang kosong. “Celah” / ruang di antar tersebut terisi oleh epifisial growth plate. 

Saat tulang sudah berhenti tumbuh, epifisal growth plate akan hilang terganti oleh epifisial line. Lucu ya, epifisial growth plate seperti “memberikan” ruang pada tulang agar ia dapat tumbuh. Namun ketika ia sudah tumbuh, tulang “menggantikan”nya dengan yang lain, yaitu epifisial line. 
Jika dianalogikan dengan kehidupan seperti tak tahu diuntung. Namun jika dilihat dari sisi yang lain, mungkin saja si epifisial growth plate tidak ikut tumbuh bersama tulang. Sehingga tulang menjadi “terlalu baik” unt…