Langsung ke konten utama

Nikah Itu Enggak Enak! Bohong!

Izinkan aku tertawa kecil sejenak melihat judul yang tertulis. Karena sesungguhnya ada godaan setan - setan secara KBBI baku loh - berupa kemarahan ketika aku melihat tulisan "NIKAH ITU ENGGAK ENAK!!!". Semangat sekali orang yang membagikan judul huruf kapital seperti itu. Semoga semangatnya dibelokkan menuju kebaikan.

Saudaraku, ada beberapa peraturan yang ingin kusampaikan sebelum kubagikan pengalamanku padamu. Pertama, kalau Engkau tidak memercayaiku, janganlah membaca tulisan ini. Kedua,  kalau Engkau menginginkan referensi pengalaman untuk pernikahanmu, bacalah tulisan ini dan kritisilah. Ketiga dan terakhir, janganlah waktu kita yang berharga terbuang dengan debat kusir, perselisihan tak berdasar, dan melupakan petunjuk1 kita semua.

"Bocah ingusan lo, nikah baru berapa lama aja belaga nulis"
"Entah kamu saudaraku atau bukan, kalau Engkau tidak memercayaiku, cukup jangan membaca tulisan ini2"

"Nikah itu Enggak Enak" aku sebut "Dusta yang Manis"

Tulisan Nikah itu Enggak Enak! (NiEE) diawali dengan panggilan kepada jomblo-jomblo yang galau melihat teman-temannya menikah. Lalu dibumbui kata-kata popular yang beraura kuat sehingga tulisan berbicara kepada kita bahwa pembicara ialah orang yang memiliki tingkat jabatan tinggi di dalam kehidupan sosialnya. Kuat, berwibawa, dan memiliki posisi.

Ketika pembaca tulisan NiEE merasa inferior dibanding penulis, maka penulis melemparkan sebuah umpan yang sulit untuk tak diambil. "Dek, Nikah itu gak enak". Sebuah kesimpulan tulisan yang berani dilempar oleh pembuat plot. Tentunya pernyataan ini sangat menarik karena pasti multi-tafsir. Segala sesuatu yang menarik mengundang kita untuk tertarik.

"Dek, Nikah itu gak enak" Bagi orang yang sudah menikah, minimal ada dua respon yang pasti didapat oleh penulis. Respon pertama, bagi yang pernikahannya bahagia pasti ia membalas "Ngawur lo" atau kalimat yang sejenis. Respon kedua, bagi yang pernikahannya gak enak dan mencari teman, ia membalas "BENER BANGET LO BRO!!!" atau kalimat yang sejenis. Namun bagi yang belum menikah, maka kebimbangan gentayangan di pikirannya. "Apa iya?" "Ah masa?" "Kok kata si anu enggak?" "Eh tapi kok kata si itu iya"

Lalu penulis berargumen dengan dusta yang seakan-akan fakta "Nikah itu bukan haha hihi seperti orang pacaran. Nikah itu bukan keseruan kayak pas main rumah-rumahan. Nikah itu bukan hip-hip hura kayak sama sahabat." Wah, sepertinya penulis baru saja mensyairkan ensiklopedia "Definisi Menikah" menurutnya. Lucunya ini kedustaan yang sangat manis.

Mengapa dusta? Apakah benar orang menikah tidak bisa seperti orang pacaran? Kalau menikah tidak bisa haha hihi seperti pacaran, yang salah dianya atau nikahnya? Soalnya, fakta bercerita bahwa banyak sekali kisah romantis yang dibalut oleh perjanjian suci3. Kalau NiEE bilang "Nikah itu bukan haha hihi seperti orang pacaran" mungkin ia sedang menceritakan kisahnya saja. Karena di kisah yang lain, orang yang menikah haha hihi, bahkan lebih nikmat daripada pacaran.

"Sebutkan contohnya, Gah!"
"Gue sebutin yang deket sama kita, biar lo percaya. Habibi-Ainun"
"emang ada yang jauh?"
"Adalah!3"

Jadi, kalau Anda tidak bisa haha hihi seperti orang pacaran, apakah salah nikahnya atau salah Andanya? Karena sejauh saya belajar, baru pertama kali saya membaca bualan manis ilmu ini "Kalau Anda mau supaya gak bisa haha hihi, nikah!" Ia hanya bersandar pada ceritanya sendiri, teorinya sendiri, tetapi dilontarkan seakan-akan kebenaran yang hakiki. Lalu sekarang letak menariknya, mengapa ini sangat manis? Mengapa - bagi sebagian orang - terlihat begitu nyata? dan benar?

Karena ia mengutip sebagian kecil kehidupan yang dibesar-besarkan oleh setiap insan. Perumpamaan mudah bagi para lelaki, kalau main bola, kiper sudah melakukan penyelamatan banyak tetapi tetap kebobolan, yang mana yang diingat? penyelamatannya yang banyak atau kebobolannya yang satu? Perumpamaan lain, kalau ada orang yang baik kepada Anda, lalu ia melakukan kesalahan satu kali saja. Apakah ketika ia melakukan kesalahan, kita refleks mengingat kebaikannya? atau terpaku pada kesalahannya?

Manusia sesuai fitrahnya adalah sedikit bersyukur.4 Contoh lagi - kesehatan - ketika kita sakit apakah kita teringat mayoritas sehat kita atau larut pada sakit yang baru saja diderita? Ketika kita dikasih kesempitan harta, kita teringat akan luasnya rizki sebelumnya atau kesempitan yang baru saja didapat? Ini (NiEE) pun sama. Sekian banyak waktu bahagia bersama istri, mengapa yang kita ingat hanya waktu tidak bisa haha hihi-nya saja?

Saudaraku, jangan mau dibohongi menikah itu gak enak. Menikah itu bahagia karena mendapat ketenangan/ketenteraman hati.5 Bisa banget kita bercanda sama istri tergantung pilihan kita mau dan bisa bercanda atau tidak. Jika kita membagi waktu seperti diagram kue pie maka jadikanlah 99% waktu bersama istri kita sebagai waktu bahagia dan hanya 1% waktu yang tidak bisa haha hihi. Karena ujian pasti datang6 dan ada sebagian waktu tidak bisa haha-hihi itu benar, tetapi mencap bahwa menikah sama dengan tidak bisa haha hihi adalah dusta yang manis!

Hati-hati, jika Engkau mengimani bahwa menikah itu bukan haha hihi, secara tidak sengaja Engkau telah;
- Tidak mensyukuri nikmat waktu haha hihi bersama istri
- Lupa bahwa kita pernah bahagia sama istri (yang memang ingin dinikahi)
- Mengingat yang jelek saja dan melupakan yang baik
-Percaya kepada sesuatu yang lemah, yang bersandar pada manisnya dusta, dan melupakan petunjuk1

Poin Penting:
- Bisa banget kita bercanda sama istri, tergantung kita mau bercanda atau tidak
- dari kemauan datang usaha, sekalipun tak bisa menjadi bisa bercanda, asal mau
- bersyukurlah, dari sekian ada tidak bisa haha hihi, pasti ada yang haha hihi
- ingatlah kebaikan
- dustakan dusta sekalipun ia manis, benarkan kebenaran sekalipun ia pahit

Sekian part #1 dari Nikah itu Enggak Enak! Bohong! (NiEEB). Semoga bisa dilanjut ke part #2, mohon doa dan dukungannya

copyright to amgah.blogspot.com

Referensi
1. Qur'an (Al-Baqarah ayat 2)
2. Al Baqarah ayat 6-7*
3. Kisah Rasulullah - Khadijah, kisah Rasulullah - Aisyah, dan masih banyak lagi
Bacaan lebih lanjut: http://kisahmuslim.com/1777-rasulullah-bersama-istri-istrinya.html
4. Qur'an As-Saba ayat 13
5. Quran Ar-Ruum ayat 21
6. Qur'an Al Fajr 15-16

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koas Mata di FK UGM

15 April 2016, stase THT resmi berakhir. Senang karena telah rampung 1 stase, senang karena semakin dekat dengan kelulusan, senang THT dapat berakhir bahagia. Yeyeyeyeyey akhirnya selesai juga. Namun di saat yang sama, tiba-tiba rindu datang bersama langkah kaki yang menjauhi THT.                 Mata adala stase ke-2ku setelah THT. Jadwal kelompokku adalah jadwal yang terbilang “unik”. Stase-stase kecil (stase 4 minggu) ditaruh di awal, lalu stase besar (10 minggu) semua berderet di akhir. Pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian sama sekali tidak dapat diterapkan pada kasus kami. Peribahasa kami adalah bersenang-senang dahulu lalu berenang tergopoh-gopoh kemudian. Sekarang kita akan masuk ke dalam dunia mata, dunia yang terdiri dari sebuah bola dengan berbagai macam struktur di dalamnya. Tahukah kamu bahwa salah satu struktur di mata bernama iris, iris merupakan bahasa latin yang berarti pelangi. Apakah Jamrud ketika membuat lagu pelangi di matamu dia belajar kedokteran?…

Intermezzo Metafisis, Struktur Tulang dan Analoginya

1. Diafisis: bagian tengah, yang panjang
2. Epifisis: bagian ujung ujung, proximal dan distal (pangkal dan akhir)  3. Metafisis: di antara. Saat tulang masih tumbuh terbentuk metafisis di antara epifisis (ujung) dan diafisis (tengah). Seperti ada celah agar tulang bisa menambah panjangnya. Kalau tidak ada celah tersebut tulang seperti tidak bisa bergerak karena sudah tak ada ruang kosong. “Celah” / ruang di antar tersebut terisi oleh epifisial growth plate. 

Saat tulang sudah berhenti tumbuh, epifisal growth plate akan hilang terganti oleh epifisial line. Lucu ya, epifisial growth plate seperti “memberikan” ruang pada tulang agar ia dapat tumbuh. Namun ketika ia sudah tumbuh, tulang “menggantikan”nya dengan yang lain, yaitu epifisial line. 
Jika dianalogikan dengan kehidupan seperti tak tahu diuntung. Namun jika dilihat dari sisi yang lain, mungkin saja si epifisial growth plate tidak ikut tumbuh bersama tulang. Sehingga tulang menjadi “terlalu baik” unt…

Mengapa Aku Menikah Part 1

Prolog
Berulang kali tulisan ini aku biarkan terkatung dalam daftar draftKenapa harus aku post? orang yang tidak percaya akan menghina minimal mengingkari. Orang yang percaya tak perlu repot-repot baca ini karna sudah percaya. Orang yang bingung? hm. Karena terhenti pada kalimat tanya itu akhirnya memberanikan diri untuk merampungkan Mengapa Aku Menikah.
Cukup banyak yang bertanya "kok bisa sih? gimana ceritanya?" tak sedikit pula yang meminta "di post dong di blog" Pertanyaan bisa kujawab namun postingan blog kadang kutolak.  Modal dari membaca ini mungkin sebuah keraguan. Aku pun menikah berawal dari keraguan, dulu aku ragu karena sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang mainstream aku tak punya penghasilan. Namun waktu berjalan akhirnya menyadari bahwa keraguanku bukan semata-mata karena penghasilan. Keraguanku muncul akibat aku lemah ilmu, tak punya ilmu mengenai pernikahan.
Tak perlu aku jelaskan panjang lebar mengenai pencarian orang, siapa jodohku?. Kare…