Langsung ke konten utama

Belajar dari Ariel Peterpan



Aku lebih suka membahas tentang hikmah di balik sebuah kesalahan. Dibanding mencaci maki, menyumpah, atau menggunjing. Biarlah nafas kebaikan menghembus mengganti udara hitam yang lalu. Mengeyampingkan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan pelajaran hidup. Fokus pada hikmah, hidayah, makna dari sebuah peristiwa.

Puisi Ariel  (video)

“Jika saya bercerita sekarang. Maka itu hanya akan membuat sebagian orang memaklumi saya dan sebagian lagi akan tetap menyalahkan saya. Tetapi itu juga akan membuat mereka memaklumi, dunia yang seharusnya tidak dimaklumi. Dan tidak ada yang dapat menjamin, apakah semua dapat memetik hal yang baik dari kemakluman itu atau hanya akan mengikuti keburukannya. Maka saya lebih baik diam.

Jika saya bersuara sekarang. Maka itu hanya akan membuat saya terlihat sedikit lebih baik dan beberapa lainnya terlihat sedikit lebih buruk sebenarnya. Maka saya lebih baik diam.

Jika saya berkata sekarang. Maka akan hanya ada caci maki dari lidah ini. Serta teriakan kasar tentang kemuakan. Serta cemoohan hina kepada keadilan. Maka saya lebih baik diam

Saya hanya akan berkata pada Tuhan. Bersuara kepada yang berhak. Berkata kepada diri sendiri. Lalu diam kepada yang lainnya. Lalu biarkan seleksi Tuhan bekerja pada hati setiap orang.”
Pada paragraf pertama, aku tertarik pada kalimat-kalimat terakhir. Aku berpendapat bahwa Ariel ingin semua orang dapat memetik hal yang baik, hanya hal yang baik. Namun, tak ada yang dapat menjamin. Ia lebih memilih untuk diam.

Paragraf ke-dua dan ke-tiga, aku tidak terlalu mengerti. Maka aku lebih baik diam.

Paragraf ke-empat, “Saya hanya akan berkata pada Tuhan.” Aku berpendapat inilah kalimat keberserahan diri seorang manusia. Bahwa dalam menghadapi ujian yang berat, selalu ada Tuhan yang membantu. Hanya memohon pertolongan kepada Tuhan, karena Tuhan sebaik-baiknya penolong dan pelindung.

“Lalu biarkan seleksi Tuhan bekerja pada hati setiap orang.” Tuhanlah yang Maha Kuasa. Hanya Tuhan yang dapat membolak-balikkan hati setiap orang. Tuhan memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Dari seluruh puisi, aku belajar bahwa sebelum bertindak berpikirlah. Sebelum berbicara, saringlah. Menghindari hal-hal yang sia-sia dan hal-hal yang tak berguna. Jika tidak bermanfaat, maka saya lebih baik diam.

Wawancara Ariel (video)

“Kita juga melihat ya, waktu persidangan Ariel banyak orang yang teriak-teriak.. mungkin mencaci maki seorang Ariel. Ariel, komentarnya seperti apa?”

“Komentarnya saya gakbisa komentarin lebih banyak karena begini. Banyak yang gaktau, istilahnya apa, fakta ya, apa yang terjadi sebenarnya gitu. Sekalipun yang tau, juga tidak Maha Mengetahui kan.”

“Tapi sedih gak?”

“Sedih. Dalam hati setiap orang kalau dipojokkan pasti sedih.”
Dari wawancara tersebut aku belajar bahwa seberat apa pun ujian yang diberikan aku harus tabah. Cara Ariel menjawab pertanyaan sangatlah tenang. Ariel tidak menggunjing siapa pun, ia tetap berkata seperlunya tanpa menyalahkan apa pun termasuk keadaan. Suatu hal yang sudah sepatutnya aku pelajari. Tidak menyalahkan keadaan, menjaga emosi, tetap tersenyum, tetap berjuang."

Lirik Lagu Ariel (video)

Di dalam penjara, Ariel tetap berkarya. Aku memetik beberapa kata dari karya barunya yang berjudul “Dara.”

“Kurangi beban itu
Tetap Lihat ke depan.”

Kurangi beban itu, tetap lihat ke depan. Aku menutup artikel ini dengan sebuah quote dari buku 5cm.

"Walaupun manusia tidak akan pernah bisa memutar kembali waktu untuk mengulang kembali semuanya dari awal, Tuhan telah memberikan kebebasan bahwa setiap manusia bisa memulai kembali semuanya dari sekarang. Untuk membuat akhir yang baru. Akhir yang lebih indah" - 5cm.

Tuhan telah memberikan kebebasan bahwa setiap manusia bisa memulai kembali semuanya dari sekarang. Untuk membuat akhir yang baru. Akhir yang lebih indah.
Berjuanglah, berjuang untuk tetap setia kepada yang benar. 


Sumber Gambar: pontianak.tribunnews.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Tips Koas IPD FK UGM

Banyak sekali hal-hal yang tidak tertulis dalam peraturan namun dalam kenyataan sangat dipegang. Contoh; ketuk pintu saat hendak memasuki ruangan. Pastilah kertas peraturan semakin penuh jika setiap peraturan tidak tertulis ikut ditulis. Sayangnya masih ada saja beberapa koas yang mungkin lupa kalau ada hal tersebut. Oleh karena itu kewajiban bagi koas yang ingat untuk mengingatkan. Kalau yang lupa tidak mau mengingatkan, semoga Tuhan mengingatkannya. Namun, kita di sini tidak membahas peraturan tak tertulis melainkan tips tak tertulis. Beberapa tempo lalu -- di sini -- aku telah menuliskan bagaimana koas dituntut untuk memiliki inisiatif. Namun sayangnya, pendidikan kita tidak sinergis untuk mendidik kami menjadi pribadi inisiator. Contoh? Ada bagian dimana salah menginisiasi berakibat fatal, lebih baik manggut-manggut angguk-angguk. Lalu hadirlah artikel ini yang semoga dapat membantu Anda jika ingin IPD lebih bermanfaat. Tentunya pembaca lain sangat diundang untuk berbagi ...

Terima Kasih Dokter Thomas

#Koas FK UGM Ilmu Penyakit Dalam RSUD Banjarnegara Hari ini tugas refleksi kasus kami rampung *yeay*. Namanya dr. Thomas Effendi spesialis penyakit dalam. Konsulen kesayangan kami di Banjarnegara yang sangat kami hormati. Kebaikan hati beliau disimpan oleh puluhan mungkin ratusan koasnya. Sebut saja dr. Endro, residen penyakit dalam yang dulu koas di tempat yang sama, masih menyimpan kesan betapa baiknya dr. Thomas.                 ‘ One of the best consultant and teacher that I ever met’ terkesan berlebihan memang. Namun, kalau kita tanya ke pensiunan koas IPD Banjarnegara, siapa yang tidak mengiyakan? Kebaikan pertama: sudah jadi omongan langit bahwa koas IPD di Banjar benar-benar menjadi dokter muda. Loh kan situ memang dokter muda?. Yes, tapi tidak melulu dokter muda bisa menjadi dokter muda. Di Banjar, kita benar-benar memanajemen pasien, keputusan kita benar-benar dianggap. Kasarnya hidup matinya...

Koas Penyakit Dalam FK UGM

Koas Ilmu Penyakit Dalam FK UGM Halo semua pembaca! lama tidak berjumpa di ruang maya ini. Semoga teman-teman, bapak, ibu, semuanya dalam keadaan sehat. Kali ini aku ingin bercerita tentang stase besar terakhirku. Kisah nano-nano yang tak terlupakan, tentunya tiap bagian hidup kita memiliki keunikan dan spesialnya masing-masing. Ini kisahku Sepuluh minggu tulang punggung dokter umum. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap bagian lain, IPD memang menyumbang peran besar. Sewajarnya punggawa ilmu penyakit dalam (IPD) menginginkan koasnya pintar-pintar. Berbagai program telah disiapkan oleh dosen-dosen kita yang luar biasa. Program pertama adalah bimbingan koas. Aku rasa tidak ada cerita khusus di bimbingan koas. Tips belajar sebelum stase?  Maaf ya menurutku pribadi tidak perlu. Saranku perdalamlah ilmu yang disukai; ilmu jual beli yang baik? ilmu agama? ilmu-ilmu yang bermanfaat yang mau diamalkan. Manfaatnya dobel; manfaat belajar + manfaat mengamalkan. Mengapa tidak perlu bel...