Langsung ke konten utama

Tidak Bisa Lari

Kali ini kita membahas lari. Bukan karena cepatnya Aubameyang ditambah Miki dan Ramsey yang membawa Arsenal menang telak. Bukan pula karena Real Madrid yang diam di tempat. Bukan juga tentang membahas kartu kuning yang sebenarnya tak membawa kita ke mana pun.

Di suatu lampu merah, perempatan ring road utara dan jalan Kaliurang
"oi X, menurutlo kalo gue begini begini begini, orang-orang akan komentar gak? Melanggar norma gak? menurutlo oke-oke aja apa gak oke?"
"lo mau begini begini begini?"
"iya"
"yaudah sih lakuin aja. toh lo gak ngelanggar perintah Allah. kecuali lo begitu begitu nah itu baru. Manusia mah gak akan pernah bisa lari dari omongan orang lain. Rasulullah aja manusia terbaik masih dicela."
"hm bener juga"


Sederhana, tapi aplikasi nya cukup rumit. Meskipun ada beberapa manusia yang cenderung bodo amat, ada sebagian lagi yang masih "duh kalo gini apa ya kata orang? kalo gitu diomongin gak ya". Sesuai kata X, kita tidak akan pernah bisa lari dari omongan orang lain dan pada akhirnya semua dikembalikan kepada Pencipta seluruh alam di mana setiap ubun-ubun manusia berada dalam genggaman Nya.

Ada pertayaan terkait "tidak bisa lari?" contoh; terus kalo kita bodo amat sama orang lain, berarti semua terserah kita dong? terserah gue? Silahkan layangkan komentar atau pesan pribadi melalui line/email/WA. Semoga kita selalu berada dalam petunjuk Allah, membaca, memahami, bahkan menghafalkan Qur'an dengan sebaik-baiknya bacaan, pemahaman, dan hafalan. 

sumber gambar: ih0.redbubble.net/
copyright to amgah.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lima Tips Koas IPD FK UGM

Banyak sekali hal-hal yang tidak tertulis dalam peraturan namun dalam kenyataan sangat dipegang. Contoh; ketuk pintu saat hendak memasuki ruangan. Pastilah kertas peraturan semakin penuh jika setiap peraturan tidak tertulis ikut ditulis. Sayangnya masih ada saja beberapa koas yang mungkin lupa kalau ada hal tersebut. Oleh karena itu kewajiban bagi koas yang ingat untuk mengingatkan. Kalau yang lupa tidak mau mengingatkan, semoga Tuhan mengingatkannya. Namun, kita di sini tidak membahas peraturan tak tertulis melainkan tips tak tertulis. Beberapa tempo lalu -- di sini -- aku telah menuliskan bagaimana koas dituntut untuk memiliki inisiatif. Namun sayangnya, pendidikan kita tidak sinergis untuk mendidik kami menjadi pribadi inisiator. Contoh? Ada bagian dimana salah menginisiasi berakibat fatal, lebih baik manggut-manggut angguk-angguk. Lalu hadirlah artikel ini yang semoga dapat membantu Anda jika ingin IPD lebih bermanfaat. Tentunya pembaca lain sangat diundang untuk berbagi ...

Kepada yang Aku Sayang

Baik yang meyayangi atau pun tidak, dan bukan untuk keluarga karena berbeda ungkapan, mereka lah yang pertama dan utama *** بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Aku memuji Allah Rabb semesta alam yang dengan kuasaNya mempertemukan kita di sini Sholawat serta salam kepada nabi Muhammad ﷺ       Semoga Allah memberikan taufikNya agar kita mampu mengamalkan agamaNya menjadikan kita orang yang ketika diberi nikmat bersyukur, diuji - bersabar, dan menjatuhkan diri dalam maksiat -  meminta ampunan kepadaNya *** Tadi pagi bertemu dengan orang yang sangat was-was karena menderita penyakit X. Ketakutan dengan penyakit yang dialaminya.  Alih-alih menerima, ia panik bukan main, bertanya ini-itu yang tidak diperlukan dan hanya menambah ketakutan. Di satu sisi kita harus memahami ketakutannya. Di sisi lain sampai kapan kita membiarkan saudara-saudara kita terus menjadi manusia yang tidak mampu mengenal Tuhannya? (catatan: penyakit yang ia alami seben...

Intermezzo Metafisis, Struktur Tulang dan Analoginya

1. Diafisis: bagian tengah, yang panjang   2. Epifisis: bagian ujung ujung, proximal dan distal (pangkal dan akhir)      3. Metafisis: di antara. Saat tulang masih tumbuh terbentuk metafisis di antara epifisis (ujung) dan diafisis (tengah). Seperti ada celah agar tulang bisa menambah panjangnya. Kalau tidak ada celah tersebut tulang seperti tidak bisa bergerak karena sudah tak ada ruang kosong. “Celah” / ruang di antar tersebut terisi oleh epifisial growth plate.  Saat tulang sudah berhenti tumbuh, epifisal growth plate akan hilang terganti oleh epifisial line. Lucu ya, epifisial growth plate seperti “memberikan” ruang pada tulang agar ia dapat tumbuh. Namun ketika ia sudah tumbuh, tulang “menggantikan”nya dengan yang lain, yaitu epifisial line.  Jika dianalogikan dengan kehidupan seperti tak tahu diuntung. Namun jika dilihat dari sisi yang lain, mungkin saja si epifisial growth plate tidak ikut tumbuh ber...