Langsung ke konten utama

Kotonoha no Niwa

言の葉の庭

1.
Waktu itu jam tangan menunjukkan 11.30. Aku duduk bersila dan bingung, apa lagi yang bisa dikerjain ya? Sudah berapa kali ornamen masjid kuamati dan memang takkan ada perubahan. Karpet hijau membentang dari depan hingga belakang, dinding yang dihiasi dengan waktu shalat, mimbar Masjid dengan lafadz Allah, dan mikrofon yang belum dikumandangi azan dzuhur. Aku yang datang bersama temanku, dia menolak untuk diganggu dan sedang asik dengan HPnya. Akhirnya aku melihat tumpukan buku dan di antaranya ada kitab Riyadhus Shalihin. Wah lumayan lah baca-baca, daripada bengong.

Tidak sulit mengambil buku itu di antara tumpukan buku yang lain. Bagian sulitnya adalah memahami isi buku tersebut. Setelah melihat daftar isi kuputuskan untuk membaca bab 3. Sabar. Aku heran dengan kata sabar. Sering sekali kata itu muncul dari mulut orang-orang "Sabar ya." Sebenarnya apa sih yang dimaknai dari kata "sabar"? ketika ribuan orang bilang "sabar ya" apakah semua orang tersebut memahami kata yang diucapkannya? ataukah formalitas belaka karena hubungan bisnis atau pertemanan bersamaan dengan kehabisan kata dan hanya bisa bilang sabar.

Ada satu hal yang ingin kuangkat ke permukaan. Ujian kesabaran baru dikatakan benar-benar ujian kalau di dalam prosesnya kita benar-benar ingin pergi, ingin selesai, ingin AH UDAH AH PLIS, atau KENAPA SIH GINI? atau KOK YANG LAIN GAK GINI?. Kalau kata dunia perfilman "kesabaranku sudah habis". Lalu apa yang kita tunggu adalah kebaikan (diniatkan untuk Tuhan). Pernah gak seperti itu? Aku yakin pasti pernah.

Sabar tidak akan menjadi sulit kalau kita mampu menguasainya. Dan itu bukan ujian kesabaran karena toh kita sudah sabar. Nah di bab 3. Sabar itu diterangkan apa yang menunggu di belakang jika kita benar-benar bersabar dan bagaimana mencapai tingkat kesabaran "tanpa batas habis". Sulit banget kecuali bagi orang-orang yang berhasil lulus ujian. Lebih mudah untuk pakai jalur pintas, keluar dari ujian kesabaran, dibandingkan sabar menunggu untuk kebaikan. Ya gak?

Kadang kita sudah tahu, tapi tetap saja memilih yang lebih enak, bukan yang lebih benar.
Semoga kita dapat lebih bersabar, dan lulus ujian-Nya, aamiin.

"Allahuakbar, Allahuakbar"
Wah sudah waktunya

***
2.
Belakangan ini di kosan ada yang kegandrungan ceramah ust. Hanan Attaki. Cara beliau dalam menyampaikan ilmu itu benar-benar ringan, mudah dipahami, dan ngena. Saya sebagai pendengar pasif ya lumayan dapat ilmu gratisan. Gak buka youtube-nya tapi bisa dengerin suaranya. Waktu itu beliau membahas bab sombong

Kurang lebih ya gini (poin-poin) - Buat apa sih kita sombong? Kita tidak pernah tahu akhir dari hidup kita, begitu pula akhir hidup orang lain? Siapatau akhir hidup kita lebih buruk dibanding orang yang selama ini kita sombongi. Dia yang kita anggap lebih buruk malah akhir hidupnya lebih baik.

- Jangan pernah bilang aku lebih baik dari dia. Kalau virus sombong gitu udah nyerang, pikirlah bahwa perbuatan A lebih baik dari perbuatan B. Tidak sama antara aku lebih baik dari dia dengan perbuatan A lebih baik dari perbuatan B.

- Tapi hati-hati kejebak dengan pikiran "ah lebih baik gue gak usah ibadah aja daripada gue ibadah tapi akhirnya sombong. Mending gue gausah ibadah/gausah ibadah banyak-banyak tapi gak sombong" itu juga contoh sombong

- Karena definisi sombong itu ada 2 yaitu 1. Menolak kebenaran dan 2. Merendahkan orang lain

- Mintalah perlindungan Allah terhadap riya, ujub, dan sombong. Lalu niatkan semuanya hanya untuk Allah

(ini bukan dari ceramahnya ust. Hanan) Waktu itu aku pernah dengar kalimat "berbuat baiklah seperti mau buang kotoran. Abis keluar gak akan kita ingat-ingat lagi."

***
Kotonoha no Niwa

3.
Kotonoha no Niwa (The Garden of Words by Makoto Shinkai)

- Be Passionate about What You Do -

+ Bismillah

copyright to amgah.blogspot.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Koas Mata di FK UGM

15 April 2016, stase THT resmi berakhir. Senang karena telah rampung 1 stase, senang karena semakin dekat dengan kelulusan, senang THT dapat berakhir bahagia. Yeyeyeyeyey akhirnya selesai juga. Namun di saat yang sama, tiba-tiba rindu datang bersama langkah kaki yang menjauhi THT.                 Mata adala stase ke-2ku setelah THT. Jadwal kelompokku adalah jadwal yang terbilang “unik”. Stase-stase kecil (stase 4 minggu) ditaruh di awal, lalu stase besar (10 minggu) semua berderet di akhir. Pepatah berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian sama sekali tidak dapat diterapkan pada kasus kami. Peribahasa kami adalah bersenang-senang dahulu lalu berenang tergopoh-gopoh kemudian. Sekarang kita akan masuk ke dalam dunia mata, dunia yang terdiri dari sebuah bola dengan berbagai macam struktur di dalamnya. Tahukah kamu bahwa salah satu struktur di mata bernama iris, iris merupakan bahasa latin yang berarti pelangi. Apakah Jamrud ketika membuat lagu pelangi di matamu dia belajar kedokteran?…

Mengapa Aku Menikah Part 1

Prolog
Berulang kali tulisan ini aku biarkan terkatung dalam daftar draftKenapa harus aku post? orang yang tidak percaya akan menghina minimal mengingkari. Orang yang percaya tak perlu repot-repot baca ini karna sudah percaya. Orang yang bingung? hm. Karena terhenti pada kalimat tanya itu akhirnya memberanikan diri untuk merampungkan Mengapa Aku Menikah.
Cukup banyak yang bertanya "kok bisa sih? gimana ceritanya?" tak sedikit pula yang meminta "di post dong di blog" Pertanyaan bisa kujawab namun postingan blog kadang kutolak.  Modal dari membaca ini mungkin sebuah keraguan. Aku pun menikah berawal dari keraguan, dulu aku ragu karena sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang mainstream aku tak punya penghasilan. Namun waktu berjalan akhirnya menyadari bahwa keraguanku bukan semata-mata karena penghasilan. Keraguanku muncul akibat aku lemah ilmu, tak punya ilmu mengenai pernikahan.
Tak perlu aku jelaskan panjang lebar mengenai pencarian orang, siapa jodohku?. Kare…

Intermezzo Metafisis, Struktur Tulang dan Analoginya

1. Diafisis: bagian tengah, yang panjang
2. Epifisis: bagian ujung ujung, proximal dan distal (pangkal dan akhir)  3. Metafisis: di antara. Saat tulang masih tumbuh terbentuk metafisis di antara epifisis (ujung) dan diafisis (tengah). Seperti ada celah agar tulang bisa menambah panjangnya. Kalau tidak ada celah tersebut tulang seperti tidak bisa bergerak karena sudah tak ada ruang kosong. “Celah” / ruang di antar tersebut terisi oleh epifisial growth plate. 

Saat tulang sudah berhenti tumbuh, epifisal growth plate akan hilang terganti oleh epifisial line. Lucu ya, epifisial growth plate seperti “memberikan” ruang pada tulang agar ia dapat tumbuh. Namun ketika ia sudah tumbuh, tulang “menggantikan”nya dengan yang lain, yaitu epifisial line. 
Jika dianalogikan dengan kehidupan seperti tak tahu diuntung. Namun jika dilihat dari sisi yang lain, mungkin saja si epifisial growth plate tidak ikut tumbuh bersama tulang. Sehingga tulang menjadi “terlalu baik” unt…